“Kamu menipuku?” tanya Bagas, suaranya nyaris tidak terdengar. “Kamu hanya menjadikan aku pelarian untuk naik status?” “Bukankah itu yang dilakukan para rakyat jelata?” balas Gendis kejam. “Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan yaitu pengalaman Ndalem Suryawinata. Sekarang, aku akan kembali ke kota, membuka salon, dan menjual keahlian meriasku pada bangsawan lain. Kamu adalah batu loncatan yang sempurna, Gusti Bagas.” Gendis lalu melangkah ke samping, mencoba melewati Bagas. “Aku nggak akan membiarkan kamu pergi, Gendis.” Bagas mengancam sambil memblokir jalan Gendis. “Aku nggak punya pilihan.” Gendis mendesis. “Kamu akan segera menikah dan aku akan merias Raden Ajeng Lintang dan kamu, kemudian kita akan melupakan semuanya. Sekarang, permisi. Aku masih harus bekerja.” Gendis be

