Dia lalu mengambil lip balm berwarna natural, mengoleskannya di bibir Bagas yang berwarna merah alami. Tangannya tampak sedikit gemetar, sentuhannya di bibir Bagas begitu lembut dan intim. "Aku merasa... aman saat kamu merias aku," ujar Bagas, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku merasa bisa menjadi diriku sendiri. Tanpa gelar ataupun kasta." Gendis akhirnya selesai dengan riasannya. Wajah Bagas di cermin terlihat lebih hidup, berani, tetapi juga lebih manusiawi. Ada kilau di matanya, bukan lagi kehampaan. Gendis telah berhasil menyulapnya. "Sudah… sudah selesai, Gusti," Gendis berbisik sambil mencoba mundur. Namun, Bagas tidak melepaskannya, laki-laki itu malah memutar tubuhnya dan kini menghadap Gendis sepenuhnya, bukan lagi melalui cermin. Jarak mereka terasa begitu dekat, bahkan

