"Aku kesepian, Gendis," Bagas melanjutkan, suaranya bergetar. "Sangat kesepian. Di Ndalem ini, aku dikelilingi ribuan orang, tapi nggak ada satu pun yang benar-benar melihatku. Mereka melihat gelarku, warisanku, pusakaku." Laki-laki itu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, tatapannya mengunci Gendis. "Tapi kamu... kamu melihat Bagas." Gendis tidak bisa menahan air matanya lagi, dibiarkannya air mata itu mengalir di pipi, air mata yang bercampur antara ketakutan, kebingungan, dan rasa haru yang mendalam. "Dan hal itu membuat aku bertanya-tanya, Gendis," bisik Bagas lirih, ibu jarinya mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Gendis. "Apa... apa yang akan terjadi kalau aku terus menjadi Bagas yang 'biasa' ini? Apa yang akan terjadi kalau aku... aku memilih untuk menjadi diriku s

