Perpustakaan dan lantai rooftop seakan menjadi markas utama aku bisa bertemu Dennis. Pria itu memang banyak menghabiskan waktu di sana. Dennis memang jarang terlihat di tempat keramaian, kecuali bila sedang makan di kantin. Itu pun dia pasti sedang sendirian. Termasuk saat ini, aku sedang bersamanya di belakan gudang yang ada di rooftop. Namun kali ini, Dennis sedang asik bermain game di ponselnya.
"Lo abis pulang sekolah mau ngapain?" tanyaku.
"Emang kenapa?" jawab Dennis tanpa melepaskan pandangan dari layar ponselnya.
Aku melepaskan earphone yang terpasang di telinga sebelah kananku. Aku sedang ingin berbincang dengan Dennis tanpa gangguan suara musik. "Cuma penasaran aja. Kenapa? Gue gak boleh tau ya? Emang rahasia banget?"
Dennis tertawa pelan. "Enggak juga sih. Gue pikir lo mau ajak gue kemana gitu, makanya nanyain jadwal gue. Eh taunya cuma karna penasaran doang."
"Oh! Jadi lo ngarep buat diajak jalan sama gue?!" godaku. Aku tertawa cekikikan sambil mencolek lengan Dennis.
"Dih! Pede banget lo!" sanggah Dennis. Dia menyentil keningku dengan pelan.
Aku hanya tertawa melihat wajah kesal Dennis. "Jadi lo ngapain biasanya abis pulang sekolah?"
"Mau tau banget atau mau tau aja?"
Aku mulai kesal. Dennis tak pernah serius menjawab pertanyaanku. "Den... serius deh!"
Dennis tertawa dengan sorot mata usil khasnya. "Sorry. Gue biasanya ke bengkel abis pulang sekolah."
"Hah? Bengkel?" Jawaban yang diberikan oleh Dennis justru malah semakin membuatku bingung.
"Iya, bengkel. Aku punya bengkel motor. Lebih tepatnya sih motor sport."
"Wah... keren," ucapku, kagum.
"Hati-hati lo jadi suka sama gue!" canda Dennis.
"Dih! Pede banget lo!" balasku tanpa menatap mata Dennis. Aku berusaha menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya. Tentu saja aku menyukainya. Namun aku masih tak mau dia tau.
Dennis hanya tertawa melihat responku. "Lo mau ikut ke bengkel gue?" ajak Dennis.
Mataku terbelalak penuh antusias. "MAUUU!" teriakku.
Denis kembali tertawa melihat responku. "Lo itu kayak gak pernah liat bengkel aja." Dennis geleng-geleng kepala.
"Yah bengkel ini kan beda. Ini bengkel punya lo! Emang lo bisa benerin motor?" Setauku tidak semua orang bisa mengerti mesin dan memperbaikinya. Bila Dennis bisa, maka aku akan berdecak kagum. Apalagi diaa hanya anak SMA yang belum menempuh pendidikan tentang dunia mesin otomotif.
"Belum bisa benerin sendiri sih. Gue masih butuh temen gue buat ngarahin. Dia mahasiswa teknik mesin dan jago benerin motor. Jago ngerjain modif motor juga. Makanya gue jadiin dia partner buat ngurus bengkel."
Aku mengangguk, tanda mengerti. Aku mulai terbayang seperti apa kesibukan Dennis selepas pulang sekolah. Mungkin karena itu Dennis selalu kelelahan ketika di sekolah. Dia terlalu sibuk dengan bengkel dan motornya, sehingga selalu mengantuk ketika sedang berada di sekolah. Aku bahkan menjadi semakin takjub dengan prestasi akademisnya. Di tengah kesibukan itu dia bisa tetap mendapatkan prestasi yang cemerlang di sekolah.
"Keren! Gue jadi gak sabar pengen liat bengkel lo kayak apa," ucapku.
"Yaudah nanti bareng gue aja ke sana pas udah pulang. Lo naik motor gue."
Dengan cepat aku menggelengkan kepala, tanda tak mau. "Gue langsung ke sana aja. Lo kasih tau lokasinya aja ke gue. Biar supir gue tau mau anterin ke mana."
"Kenapa? Lo gak suka naik motor? Iya sih. Mobil pasti lebih nyaman daripada motor, kan?"
Aku bisa menangkap nada sindiran dibalik ucapan Dennis itu. Dengan cepat aku menyanggahnya. "Enggak kok. Gue cuma takut Nyokap gue khawatir aja kalo gue pergi tanpa sepengetahuan Pak Darto, supir gue. Nyokap udah titip pesen buat anterin gue kemanapun. Kalo gue pergi gak bareng dia, terus Pak Darto lapor ke Nyokap... pasti gue dimarahin."
"Oh gitu... baiklah."
Aku menghela nafas lega ketika Dennis tampak percaya dengan alasan yang ku buat. Alasan utamanya memang bukan itu. Aku hanya tak ingin anak-anak membuat rumor tentang diriku dan Dennis. Aku tak mau mereka menggosipkan kami. Bukan karena Dennis pria yang memalukan untuk berada di dekatku. Tidak. Justru sebaliknya. Aku merasa tak pantas, meski hanya sebagai pasangan dalam rumor.
Kasihan Dennis bila bersanding denganku di dalam gosip. Wanita dengan tubuh berlemak dan paras yang tak cantik seperti ku hanya akan membuat namanya menjadi tercoreng bila diperbincangkan denganku. Tidak. Aku tak sampai hati membuat posisi Dennis menjadi sulit. Dia sudah mau menjadi temanku saja... aku sudah sangat bersyukur.
"Share location aja ya. Kasih alamatnya aja. Biar gue kasih ke Pak Darto. Jadi bisa nganterin gue ke sana," ujarku.
"Siap."
"Yaudah. Balik ke kelas yuk. Waktu istirahat mau kelar."
Dennis mengangguk setuju. Aku mulai mengikuti langkah kakinya dari belakang. Kami menuruni tangga, lalu berjalan menuju kelas kami masing-masing.
***
Aku telah sampai di lokasi yang Dennis berikan. Bengkelnya terdapat di dalam perumahan. Lebih tepatnya, lokasi itu berada di ujung gang dan bersebelahan dengan tanah kosong yang dijadikan anak-anak perumahan itu sebagai tempat bermain bola. Dennis mengubah sebuah rumah menjadi sebuah bengkel. Bangunannya tampak sederhana dari luar. Hiasan-hiasan dinding yang kental nuansa otomotif terpajang. Siapapun yang melihat tentu tau bangunan itu telah berubah fungsi dari tempat tinggal menjadi bengkel.
Aku turun dari mobil. Pak Darto lalu mulai memakirkan mobil di tanah kosong itu. Setelah itu, aku mulai melangkah masuk ke dalam. Pintu rumah itu tampak terbuka. Aku tak enak bila masuk begitu saja tanpa ijin. Aku hanya berani melongok ke dalam dan berusaha mencari keberadaan seseorang di sana.
"Den!" teriakku ketika menemukan keberadaan Dennis di dalam. Dia tampak menghentikan aktivitasnya yang sedang memegang ban motor, lalu menghampiriku. Dennis menyapaku dengan senyuman. Ah, senyum itu. Jantungku langsung berdebar karenanya.
"Oh, lo udah nyampe. Ayo masuk!" ajak Dennis.
Aku membalas senyuman Dennis. Kemudian mengikuti langkah kakinya. Aku duduk di sofa yang ada di sana, setelah Dennis mempersilahkanku untuk duduk.
"Lo mau minum apa?" tanya Dennis.
"Ehm... apa aja."
"Lo kalo gue kasih air comberan mau?"
"Dih! Kok ngeselin?!"
"Yah katanya apa aja mau. Gak usah protes dong kalo gue kasih air comberan."
Aku menghela nafas dengan tatapan mata kesal. "Yah gak air comberan juga lah. Gue itu tamu lho!"
Dennis tertawa. "Baiklah. Gue bikinin es teh manis aja kalo gitu."
"Nah! Itu baru minuman normal."
"Yaudah. Lo duduk di sini. Gue bikin minuman lo dulu."
Aku mengangguk. Aku menatap Dennis yang berjalan pergi menuju dapur. Selagi menunggu minumanku tiba, aku menatap ke sekeliling bengkel itu. Penataannya terbilang rapi. Semua barang-barang, perlengkapan, dan peralatan otomotif tak ada yang tampak berantakan. Semua sesuai pada tempatnya. Aku baru tau bila Dennis termasuk orang yang memperhatikan kerapihan dan kebersihan.
Tak berapa lama, Dennis mulai muncul di ruang tamu sambil membawa segelas es teh manis milikku. Aku langsung menerima gelas itu dengan raut wajah senang. Minuman yang sedang aku pegang ini dibuatkan oleh Dennis! Rasanya aku ingin memajang gelas ini dan menyimpannya selamanya. Namun pasti aku akan dipandang aneh oleh Dennis.
"Makasih ya," ucapku.
"Santai."
"Lo sendirian di sini?" tanyaku. Aku tak melihat seseorang selain Dennis di rumah ini. Termasuk orang yang pernah Dennis ceritakan sebagai teman dan partner kerjanya di bengkel ini.
"Iya. Roy mungkin pas sore baru ke sini."
"Roy?" Aku tak pernah mendengar nama itu.
"Iya. Dia temen yang pernah gue ceritain ke lo. Partner gue buat ngejalanin bengkel ini.
"Oh. Namanya Roy. Emang kenapa baru sore ke sini?"
"Dia baru kelar kuliah nanti sore."
"Lo tidur di sini?"
"Ehm... kadang-kadang. Kebanyakan gue tidur di rumah kok. Bokap gue bisa marah kalo gue keseringan gak pulang. Yah, cuma gue nyampe rumah biasanya jam sebelas atau dua belas malam."
"Gila! Malem banget!" Aku menatap Dennis dengan tatapan takjub. Aku tak pernah semalam itu sampai rumah, apalagi untuk bekerja. Aku sekarang benar-benar paham kenapa Dennis selalu merasa mengantuk saat berada di sekolah. Ia menghabiskan banyak waktu di bengkel, sehingga waktu tidurnya pun berkurang.
"Yah begitulah."
"Lo gak capek? Lagian lo ngapain sih sampe semalam itu. Lo kan udah cukup kaya. Terus kenapa lo kerja keras banget di bengkel ini?" tanyaku, penasaran.
"Capek sih memang, tapi gue seneng lakuinnya. Lagian kalo gue gak sibuk di sini, gue mau ngapain di rumah?"
"Emang rumah lo kenapa?" tanyaku balik.
"Rumah gue sepi. Bokap sibuk kerja. Sibuk ngurusin bisnisnya. Nyokap gue? Dia udah sibuk sama keluarga barunya. Gue bakal mati kesepian kalo cuma di rumah doang."
Aku terdiam mendengar jawaban Dennis itu. Aku baru tau kalau orang tuanya telah bercerai. Aku memang tak pernah berusaha menyinggung kehidupan pribadi Dennis. Karena aku pikir itu topik yang sensitif. Aku tak ingin dia merasa tak nyaman hanya karena rasa penasaranku.
Saat ini aku cukup merasa tersanjung dia mau mengungkapkan sedikit kisah kehidupan pribadinya padaku. Bolehkah aku sedikit merasa spesial saat ini?
"Oh gitu. Bagus lo ngisi waktu dengan hal yang bermanfaat kayak gini. Emang lo bener-bener mau seriusin bengkel ini?"
Dennis mengangguk. "Iya. Gue pengen seriusin ini. Gue bahkan berencana ambil kuliah teknik mesin. Gue mau terjun ke ranah bidang otomotif rencananya di masa depan. Lo?"
"Gue mau ambil kuliah manajemen. Terus mau ambil course masak juga. Gue mau terusin perusahaan Nyokap."
"Baguslah. Oh ya, gue mau lanjutin ngerjain motor itu dulu ya. Satu jam lagi bakalan di ambil soalnya."
"Oh gitu. Yaudah gak papa. Kerjain aja sana. Gue tungguin di sini ya. Biar lo fokus kerjanya."
Dennis mengangguk. "Sorry ya. Gue usahain cepet kelar."
"Santai aja," balasku.
Aku menatap Dennis yang mulai fokus mengerjakan perbaikan sebuah motor sport. Dia tampak sedang memasang ban pada motor itu. Aku memperhatikannya dalam posisi dudukku saat ini. Dennis seakan memiliki magnet tersendiri saat sedang bekerja. Mataku terus menatapnya tanpa henti. Mengaguminya dalam diam.
Aku merasa begitu beruntung, bisa melihat seseorang yang aku suka dengan jarak yang begitu dekat. Ini keajaiban! Dennis, yang semula terasa sangat sulit aku jangkau, kini ada di depan mataku. Bahkan aku bisa mengunjungi bengkel miliknya. Bukankah ini keajaiban yang dihadiahkan semesta padaku?
CONTINUED
*******************
Hai ^^ Akhirnya update lagi. Gimana puasa kalian? Semoga lancar ya.
Makasih udah nungguin cerita ini update :) Luv!
Hidup terkadang menyajikan kejutan yang tak tertebak. Kesempatan yang tidak terpikirkan. Sebuah interaksi yang terkadang diluar ekspektasi kita. Hidup memang kadang memberikan alur cerita diluar bayangan kita. Karena itu, terkadang kita juga tak bisa menebak pada akhirnya hati akan berlabuh pada siapa. Bisa saja pada orang baru atau kembali pada orang lama. Siapa yang tau? Karena ada banyak hal diluar kuasa kontrol kita.
Jaga kesehatan ya buat kalian ^^ Selamat istirahat buat kamu-kamu yang baca bab ini sebelum tidur :) Sampai jumpa di bab berikutnya!
Salam,
Penulis amatir yang abis ini mau menata kamar buat punya space nulis dengan tampilan tempat kerja :D