7. Menangis Diam-diam

1702 Kata
Aku datang ke sekolah seperti biasa. Berjalan di lorong dengan kepala tertunduk. Masuk ke dalam kelas tanpa menyapa siapapun. Kemudian duduk di kursiku tanpa mengeluarkan suara. Aku hanya ingin memulai dan menjalani hari dengan ketenangan. Tak perlu perhatian. Tak menginginkan sorotan. Tak mengharapkan interaksi pertemanan di ruangan ini. Aku hanya ingin sendiri, dibiarkan sendiri. Aku mulai mengeluarkan buku geografi dan kotak pensil dari dalam tas. Bel tanda masuk memang belum berdering. Namun aku hanya ingin menyiapkan saja buku-buku yang dibutuhkan, sembari menunggu waktu pelajaran dimulai. Aku lalu memasang earphone dan menyetel lagu kesukaanku. Lagu-lagu yang hits ditahun dua ribuan. Terkadang lagu lama lebih enak untuk didengarkan. "Woy Babon!" Aku kaget ketika earphone milikku ditarik dengan kasar. Aku melirik kesal ke arah Marco yang kini berdiri di sebelahku. Laki-laki itu mengusik ketenangan dan kesenanganku secara mendadak dan tak menunjukan raut wajah bersalah. Marco malah tertawa cekikikan. Wajah terkejutku mungkin dianggapnya begitu lucu. "Apaan sih!" protesku. Ketika aku ingin memasang kembali earphone, Marco justru menahan tanganku. Aku lagi-lagi kesal ke Marco. Laki-laki ini benar-benar menyebalkan! "Gue mau ngomong. Dengerin gue dulu dong," ucap Marco. Kali ini raut wajah laki-laki itu tampak serius. "Mau ngomong apaan?" tanyaku, heran. Marco bukan orang yang sering berbincang denganku. Pria itu bahkan tak pernah menyapaku dengan ramah. Dia selalu meledek dan menjadikanku bahan lelucon di kelas. Karena itu aku merasa aneh dia ingin berbicara denganku. Aku tak merasa ada topik yang harus dibahas dengan laki-laki itu. Aku semakin kebingungan ketika Marco tiba-tiba berpindah tempat. Laki-laki itu memilih duduk di bangku sebelahku yang masih kosong. Aku mulai mengutuki Dina di dalam hati. Teman sebangku itu tak kunjung datang. Marco menjadi bebas leluasa duduk di sebalahku tanpa merasa bersalah sama sekali. Aku menatap heran dengan raut wajah risih. Aku merasa tak nyaman dengan keberadaan dia di sebelahku. Kecurigaan terus menghantui perasaanku. Marco tak mungkin ingin memulai pertemanan denganku. Pasti ada maksud terselubung dibalik perilaku tak biasanya ini. "Bon... gue mau minta tolong dong," bisik Marco. Aku menghela nafas kesal. Benar dugaanku. Marco menginginkan sesuatu dariku. "Apaan?!" "Galak amat sih Babon. Gue baik-baik nih ngomongnya," keluh Marco. Aku tersenyum sinis. Laki-laki ini mau minta tolong padaku, tapi tetap meledekku dengan panggilan babon. Bagaimana aku bisa memiliki niat untuk membantunya? Aku memilih diam sampai Marco menyebutkan permintaannya. "Jadi gini... gue mau minta tolong buat bantuin deketin gue sama Renata. Gue suka dia. Cuma gue gak pede buat deketin dia. Grogi gue!" Aku tertawa dalam hati. Ternyata permintaan Marco adalah itu. Sungguh tak masuk akal. Dia, biasanya meledek dan mentertawaiku, kini bicara baik-baik padaku dengan raut memohon. Seakan aku pasti akan menuruti permintaannya dengan cara begitu. Dia mungkin berpikir aku telah amnesia. Seolah ingatan tentang perbuatannya telah terhapus begitu saja. Aku masih ingat. Rasa sakit itu masih membekas. Otak dan hatiku tidak akan lupa dengan mudahnya. Aku tidak tau dari mana asal keberanian Marco mengucapkan permohonan itu. Mungkin dia pikir perbuatannya padaku hal yang biasa. Karena itu tak ada perasaan bersalah di wajahnya. Dia laki-laki tak baik. Menuruti permintaannya sama saja aku menjerumuskan sahabatku. Renata memang suka berganti-ganti pria. Namun aku tak ingin pria seperti Marco masuk dalam rekam sejarah asmara sahabatku itu. Aku menganggap Renata sebagai temanku. Aku tak menginginkan pria jahat berada didekatnya. Aku tak yakin Marco akan memperlakukan Renata dengan baik. Aku saja tidak dimanusiakan olehnya. Dia sering menjadikanku badut lelucon dikelas. Melemparkan hinaan dan ledekan berbalut candaan. Bagaimana aku bisa percaya Marco bisa memperlakukan Renata dengan baik. Aku sulit mempercayai bahwa lelaki itu akan menyayangi sahabatku dengan penuh ketulusan. Renata adalah sahabatku. Aku tak akan pernah membiarkan laki-laki seperti Marco mendekatinya. "Gue gak bisa. Sorry..." jawabku. Marco tampak terkejut. "Dih... kenapa lo?! Sombong amat lo gak mau bantuin gue!" Seperti dugaanku, laki-laki ini akhirnya menunjukan wajah aslinya. Kemarahan mulai terasa dari nada bicaranya. Dia tak menyukai penolakan yang aku berikan. "Renata udah besar, Co. Lo juga udah besar. Gak perlu lah gue bantuin kalian. Lo tinggal coba hubungin dia, terus ajak jalan. Kalo Renata ada ketertarikan sama lo, dia pasti ngerespon kok," balasku. "Justru buat mastiin dia mau sama gue, makanya gue butuh bantuan lo! Biar gue gak ditolak. Kok lo pelit banget sih!" Aku menatap heran ke arah Marco. Aku merasa Marco terlalu menekan dan memaksaku untuk menerima permintaannya yang sekarang terasa seperti sebuah perintah. Perintah yang seakan tak boleh aku tolak. "Kok lo maksa gue sih?" ucapku, risih. "Manusia kayak lo kok belagu banget sih! Lo tuh siapa berani gak mau bantuin gue?! Sadar diri dong lo!" Aku sangat terkejut mendengar betapa tingginya nada bicara Marco. Sangat tinggi hingga seluruh mata yang ada di kelas kini menatapku. Tatapan mata mereka begitu menusukku. Kalimat yang baru saja dilontarkan Marco juga begitu menyakiti perasaanku. Sikap kasarnya benar-benar mempermalukanku. "Udah gendut! Babon! Muka gak ada bagus-bagusnya. Bentukan badan kayak karung jumbo! Pelit pula! Gak ada bagus-bagusnya lo jadi manusia! Najis," teriak Marco seraya menyunggingkan senyum sinisnya. Ini kasar. Sungguh. Menyakitkan. Aku sangat dipermalukan. Ini hinaan terhebat yang pernah aku terima. Aku diam membisu dalam rasa syok yang begitu luar biasa. Tatapan tajam mata Marco dengan raut kemarahannya begitu menakutkan. Keheningan yang tercipta di ruangan kelas ini terasa begitu mencekam. Aku seketika menjadi seorang tersangka yang patut untuk dipermalukan. Aku tak ingin menangis. Sekuat tenaga aku berusaha menahan air mata. Aku benci harus menangis di depan orang lain. Aku tak ingin mereka menganggapku lemah. Terutama di hadapan Marco. Aku tak mau melihat dia merasa menang karena berhasil menyakitiku. Namun nyatanya situasi ini memang benar-benar menyakitiku. Sangat memukul hebat hatiku. Aku tak bisa menyangkal rasa sakitnya. Marco menghinaku dengan cara terdahsyat. Aku dipermalukan secara tiba-tiba. Aku pun mulai kesulitan untuk membendung air mataku. Pada akhirnya aku memilih untuk bangkit berdiri, membalas tatapan tajam Marco selama beberapa detik, lalu berjalan keluar ruangan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku bisa mendengar beberapa bisikan yang sedang mempertanyakan situasi ini. Namun aku tak tertarik menjawab rasa penasaran mereka. Aku hanya berpikir bagaimana caranya menahan air mata ini dan tak menangis di depan orang banyak. Aku mempercepat langkah kakiku menuju lantai empat. Hanya tempat itu yang terpikirkan saat ini. Lantai empat hanya berisi ruangan laboratorium dan ruang pertemuan. Aku yakin tak akan ada orang di sana. Apalagi jam pelajaran belum di mulai. Aku berlari ke pojokan lantai empat. Duduk lesehan di lantai, depan ruangan laboratorium kimia. Aku membenamkan wajah ke dalam lengan. Kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku menumpahkan seluruh rasa sakit. Mengeluarkan semua kesakitan karna dipermalukan dan dihina tadi. Isakan tangis yang begitu hebat menggambarkan betapa terlukanya aku saat ini. Detik ini aku merasa jadi manusia begitu menyedihkan. Aku tau tubuhku sangat jauh dari kata sempurna. Aku tau lemak ini jauh dari kata normal. Aku tau wajah ini sangat tak cantik. Aku paham betul kekurangan ragaku ini. Namun seburuk rupanya tampilan fisik ini, aku tak merasa layak untuk mendapat perkataan dan perlakuan Marco tadi. Aku masih manusia. Aku memiliki hati. Aku layak diperlakukan sebagai manusia. Namun kenapa semua orang begitu jahat padaku? Aku tak meminta banyak. Aku hanya ingin diperlakukan selayaknya manusia. Sangat sulitkah memanusiakan manusia? Tak bisakah aku diperlakukan baik hanya karna alasan... aku manusia. Apakah hanya karna tubuhku gendut, maka setiap orang bebas menghinaku? Kenapa mereka memperlakukanku seenaknya? Aku bukan seonggok lemak yang tak memiliki hati. Ini sakit. Begitu menyakitkan. Hatiku benar-benar terpukul hebat. Aku hanya bisa menumpahkan rasa sakit itu lewat air mata dan isakan tangis. Namun tiba-tiba pintu laboratorium terbuka dengan keras, hingga membuatku terkejut. Aku berhenti menangis dan melihat siapa yang membuka pintu itu. Mataku terbelalak ketika melihat Dennis keluar dari ruangan laboratorium itu sambil menguap. Dia menatap ke arahku selama beberapa detik. Tatapan itu sanggup membuatku membisu di tempat. Aku bahkan melupakan fakta kondisiku saat ini yang berurai air mata. Fakta dimana Dennis saat ini sedang menatapku, sanggup melumpuhkan otak dan tubuhku. Aku terdiam dalam posisi duduk dan wajah yang masih bersimbah air mata. "Daripada lo nangis di situ... mending lo kasih pelajaran orang yang udah bikin lo nangis kayak gitu. Gak ada gunanya lo bersembunyi kayak gini. Bukan lo penjahatnya, terus kenapa lo yang malah bersembunyi? Kalo lo diam aja, orang yang ngejahatin lo bakalan tetap melakukan hal yang sama. Setidaknya kasih tau ke mereka kalo lo gak suka di gituin." Aku masih diam membisu. Aku seakan membeku dalam posisi duduk. Aku mendengar setiap kata yang baru saja Dennis lontarkan. Namun aku tak tau harus membalas apa. "Yaudah. Lanjutin aja kalo mau terus nangis. Gue cabut. Suara tangisan lo tuh berisik." Dennis lalu berjalan pergi. Laki-laki itu melangkah tanpa membalikan badan. Aku menatap punggung Dennis sampai benar-benar menghilang dari pandanganku. Dia, laki-laki yang selama ini aku tatap diam-diam, tiba-tiba muncul di hadapanku, bahkan berbicara denganku. Aku berusaha mengembalikan akal sehatku kala Dennis telah benar-benar menghilang dari jangkauan mataku. Aku berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja dilontarkan laki-laki itu. Dennis benar. Aku bukan penjahat. Aku tak perlu bersembunyi di sini. Aku tak bersalah. Kenapa harus aku yang menghindari mereka, padahal bukan aku penjahatnya. Aku tak melakukan sesuatu yang layak untuk menerima semua perlakuan itu. Aku menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipiku. Aku merapikan rambutku. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet yang terletak tak jauh dari tangga. Aku membasuh wajah dengan air. Aku tak ingin teman-temanku bisa menebak bila aku baru saja menangis. Aku bersyukur mataku tak tampak sembab. Aku yakin tak ada yang mengira aku baru saja menumpahkan air mata. Aku memeriksa sekali lagi tampilan wajahku lewat cermin, lalu berjalan keluar dari toilet. Aku memutuskan kembali ke kelas. Langkah kakiku beriringan dengan suara bel tanda masuk yang berdering dengan nyaring. Aku terus berjalan sambil menguatkan diriku untuk menghadapi semua teman-teman sekelasku, terutama menghadapi Marco. CONTINUED ***************** Hayo siapa yang suka nangis diam-diam kayak Bonita ..>, Siapa yang gak suka nangis di depan orang lain? Gak papa. Itu wajar kok. Yang penting bisa nangis dan numpahin apa yang dirasa. Biar lega. Daripada dipendamkan? Nanti nyesek. Gak baik ..>,Aku gak tau lagi mau ngomong apa. Aku nulis bab ini sambil berusaha menahan rasa ngantuk dan lelah. Ini keajaiban bisa nulis sekarang. Entah kenapa otakku kayak lagi b**o, apalagi sedang ngantuk dan sakit kepala karna kurang tidur :D Semoga kalian sehat & gak lagi nangis ya. Kalo nangis juga gak papa sih. Asal abis itu lega ^^ Salam, Penulis amatir yang berharap bisa tidur nyenyak malam ini, gak insomnia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN