2. Rumahku

1208 Kata
Renata melenggang masuk ke dalam rumahku seolah itu adalah miliknya sendiri. Aku tak keberatan dengan perilakunya itu. Karena dia memang sahabatku dan sering bermain di rumahku. Renata bukan orang asing bagiku, maupun orang-orang yang ada di rumahku. Tak akan ada yang akan menanyakan alasan kehadirannya di sini. Apalagi ukuran rumahku memang tak bisa dibilang kecil. Rumah ini terbilang cukup besar untuk ditinggali hanya berdua dengan Mamaku. Yah, tidak benar-benar berdua memang. Ada beberapa pembantu, security, tukang kebun, dan supir yang tinggal di sini. Namun rumah ini masih terasa cukup besar. Karena itu, aku justru cukup senang Renata senang bermain bersamaku di rumah. Renata berjalan santai memasuki kamarku. Sahabatku itu langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Sementara aku meletakan tasku terlebih dahulu di atas sofa kamarku, lalu membuka lemari untuk mengambil baju. Kemudian berjalan ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Aku tak terbiasa terus mengenakan seragam bila sudah ada di rumah. Rasanya tidak nyaman ketika berlama-lama mencium bau keringat dari seragam itu. "Ganti di sini aja kali, Bon. Ngapain pake ke kamar mandi segala. Cuma ganti baju doang," usul Renata. Namun aku dengan cepat langsung menolaknya. "Enggak ah. Buat apa ada kamar mandi di kamar, kalo gak dipake. Gak bakal lama juga kok, Ren." "Baiklah," jawab Renata singkat lalu mulai sibuk memainkan ponselnya. Alasan penolakanku sebenarnya bukan karena adanya fasilitas kamar mandi di kamarku. Aku tak percaya diri, bahkan malu menunjukan betapa banyaknya lemak ditubuhku. Aku tak ingin Renata melihat jelas perut buncitku dan paha lebarku. Aku tak ingin Renata melihat betapa banyak selulit di kulitku. Aku malu untuk menunjukannya. Itu bukan sesuatu yang membanggakan untuk ditampakan. Apalagi menampilkannya dihadapan Renata, wanita yang memiliki tubuh begitu sempurna. Lekukan tubuh yang keindahannya tak terbantahkan. Kemulusan kulit yang begitu mengagumkan. Tak bercacat dan tak berselulit. Bagaimana mungkin aku sanggup menunjukan tubuhku di depan makhluk yang tak memiliki kekurangan fisik ini? Kebanggaan apa yang aku punya hingga berani melakukan itu? Tidak. Aku masih punya rasa malu. Aku lebih baik berganti baju di dalam kamar mandi. Setelah selesai, aku meletakan pakaian kotor ke dalam keranjang. Kemudian menghampiri Renata yang saat ini sedang duduk di sofa sambil mengunyah cemilan keripik singkong milikku. "Lucu piyamanya," puji Renata. "Thanks, Ren." Aku memakai baju piyama bewarna pink dengan motif garis merah. Warna kesukaanku memang merah muda. "Cuma kayaknya gak cocok buat lo, Bon. Jangan pake warna pink deh. Nanti ada yang ngatain lo anak babi lagi," ucap Renata. Aku menarik nafas. Namun langsung menampilkan senyuman, meski terkesan dipaksakan. "Kan, cuma lo yang liat. Gak papa dong, Ren," balasku. "Iya sih. Cuma kalo di depan orang, jangan pake warna pink. Cukup di depan gue aja. Gue gak suka ada yang ngatain lo." "Oke, Ren." Aku menghela nafas menatap warna kesukaanku itu. Mungkin apa yang dikatakan Renata memang benar. Warna merah muda bila melekat pada tubuh yang sebesar dan selebarku, akan tampak seperti anak babi. Ungkapan yang menyakitkan memang, tapi aku tak bisa menyanggahnya. Bila bukan Renata yang mengatakannya, pasti akan ada orang lain yang akan mengungkapkannya. Itu pasti jauh lebih menyakitkan. Lebih baik aku mendengarnya dari mulut Renata daripada orang lain. "Bon, ada cowok yang ngedeketin gue lagi nih." Renata menunjukan bukti chat dari layar ponselnya. Aku melihat nama Teddy sebagai pengirim chat tersebut. "Dia siapa?" "Anak SMA Budi Asih. Entah darimana dia dapet nomor gue. Cuma ganteng sih orangnya," ucap Renata sambil melihat foto profile whattsapp laki-laki itu. "Terus lo mau sama dia?" Aku penasaran dengan jawaban Renata. Setauku, dia sedang dekat dengan beberapa pria. Bahkan Deo, anak baru di sekolah yang terkenal tampan juga mengajaknya untuk jalan. Aku jadi ingin tau seberapa banyak pria yang diijinkan Renata untuk dekat dengannya. "Ehm... tergantung seberapa usaha dia deketin gue. Ini kan baru via chat doang. Kalo dia punya nyali, ya temuin gue dong," jawab renata. "Terus kalo dia temuin lo gimana?" tanyaku lagi. "Kalo dia orangnya asik, yaudah gue mau-mau aja jalan atau makan sama dia. Lebih dari itu, ntar dulu... kelebihan apa yang dia punya dibandingin semua cowok yang lagi deket sama gue." Aku terkesima dengan jawaban yang Renata berikan. Terdengar bagaikan cerita dongeng di mataku. Betapa indahnya kisah romansa yang dimiliki sahabatku itu. Renata tak perlu memusingkan hal pria di dalam hidupnya. Dia bisa memilih yang terbaik dari yang terbaik. Tidak sepertiku yang sama sekali tak memiliki pilihan meskipun aku ingin memilih. "Deo itu manis banget, Bon. Dia suka kirimin gue bunga ke kelas. Sony juga keren. Dia suka ajak gue ke club basketnya. Robet juga perjuangannya gue kagum. Dia mau nganterin gue kemanapun dan sejauh apapun." Aku tak bisa menyembunyikan sorot iri dari mataku ketika Renata menceritakan perlakuan yang diterimanya dari pria-pria itu. Aku bukan iri yang jahat. Aku hanya ingin merasakan seperti apa menjadi Renata. Begitu dicintai dan diinginkan, tanpa mengeluarkan usaha apapun. Pria-pria itu langsung menginginkan Renata hanya dengan melihat rupa fisik sahabatku itu. Mereka rela melakukan apapun hanya agar Renata melirik mereka. Sungguh seperti kisah putri yang hanya tinggal menunjuk siapa yang akan menjadi pangerannya. Aku masih terus mendengarkan kisah Renata dengan pria-pria itu, tanpa rasa keberatan. Cerita Renata tak membosankan bagiku. Karena itu aku tak keberatan bila tak memiliki kesempatan untuk bercerita. Lagipula tak ada yang menarik dari kisah hidupku. Tak ada yang bisa aku ceritakan. Karena memang aku tak memiliki kisah cinta apapun. Yah, paling cerita menyukai diam-diam atau perasaan tak terabalas. Apa menariknya? "Bon... lo gak ada cerita tentang cowok gitu? Gak ada yang lagi deketin lo gitu? Coba cerita. Sekali-kali gue juga pengen dengerin," pinta Renata. Aku menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Melihat respon jawabanku, membuat Renata mengerutkan keningnya. "Serius gak ada?" tanya Renata lagi. "Gak ada, Ren. Gak ada yang lagi deketin dan gak ada yang lagi gue suka juga," jawabku. Renata terdiam sambil menatapku beberapa saat. Kemudian menghela nafas. Helaan itu terdengar berat. "Kalo lo mau dapetin cowok, kayaknya emang harus diet deh, Bon. Gue serius." Aku tersenyum getir. Aku paham maksud Renata tanpa dijelaskan lebih dalam lagi. Tanpa Renata bilang, aku paham tubuhku memang tak memiliki daya tarik di mata pria. Namun mendengarnya secara nyata, terasa tetap menyakitkan, meski aku tau Renata tak memiliki niat jahat. "Non, Ibu udah dibawah. Nungguin buat makan bareng," ucap Bibi Surti dari balik pintu. "Iya, Bi. Bilang Mama nanti aku ke bawah bareng Renata," balasku. "Baik, Non." Aku menatap Renata yang saat ini duduk di sebelahku. "Makan yuk." Renata mengangguk antusias setelah mendengar ajakanku. Sahabatku itu memang tak pernah menolak bila diajak makan bersama. Mungkin karena ia tinggal sendirian di kost. Keluarga Renata ada di Manado. Aku juga tak tau persis kenapa Renata memilih tinggal dan bersekolah sendirian di sini. Renata tak pernah mau cerita banyak tentang keluarganya. Aku pun hanya pernah beberapa kali main ke kostan Renata. Namun aku bisa simpulkan bila Renata bahagia bisa makan bersamaku dan juga dengan Mamaku. "Yaudah ayo ke bawah," ajakku. Aku langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ruang makan dengan Renata yang mengikuti langkahku dari belakang. CONTINUED ********************* Hai ^^ Makasih loh udah nunggu cerita updated. Sesuai janji, aku updated hari Sabtu ^^ Semoga bisa terus kayak gini ya :) Oh ya, coba komen dong. Menurut kalian tokoh Renata itu gimana? Sahabat tipe kayak apa? Terus di mata kalian tuh Bonita gimana? Banyak gak sih yang kayak Bonita gitu? Atau ada yang ngerasa kayak Bonita juga? Coba-coba komen! ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN