Jarak

3423 Kata
“Randy Arian, penyanyi solo yang sangat berkharisma dan mampu membuat ribuan wanita terpesona, hingga usianya yang ketiga puluh tahun ini masih menyandang status single. Padahal dengan ketampanannya ia mungkin saja dengan mudah memilih wanita cantik yang ada di sekitarnya. Sebenarnya apakah rahasia yang membuat Randy masih ingin menyendiri?” Suara lantang dari televisi, yang menayangkan acara gosip infotainment sore, memecah keheningan di rumah mewah itu. Bu Dea, wanita yang hampir berusia empat puluh tahun dengan kerutan halus di sudut matanya, duduk terpaku di sofa, matanya tak berkedip. Ia menyimak setiap kata tentang selebriti yang sering digosipkan itu dengan seksama, bibirnya sedikit terbuka karena penasaran. "Aduh, ganteng-ganteng gitu kok masih jomblo? Artis-artis cantik yang dulu dekat dengan dia pada kemana ya?" komentarnya prihatin. Ia terus-terusan menonton hingga lupa mengedipkan mata saking penasarannya dengan Randy Arian. Arkan, putranya, baru saja pulang sekolah bersama sahabatnya, Elvan. Melihat pemandangan familiar itu, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Dengan langkah malas, ia mendekati mamanya, merebut remote TV, dan tanpa basa-basi langsung mematikan layar. Keheningan tiba-tiba merayap di ruang tamu. Bu Dea mendongak, menatapnya kesal. "Arkan! Kamu pulang-pulang bukannya salam sama Mama malah matiin TV!" omelnya, nadanya melengking tinggi. "Habis Mama, hari gini masih nontonin gosip," balas Arkan tak mau kalah, menyilangkan tangan di d**a. "Cari pekerjaan yang lebih baik lagi kek." Elvan, yang berdiri di ambang pintu ruang tamu, hanya bisa tersenyum maklum melihat perdebatan rutin antara anak dan ibu itu. "Mama itu capek habis beres-beres rumah," Bu Dea membela diri, tangannya bersedekap. "Jadi nggak papa dong nonton buat refreshing." "Ah, Mama ngeles aja," cibir Arkan. "Kan Bibi yang tiap hari beres-beres rumah." "Ya udah kalau nggak percaya," Bu Dea mendengus, lalu menyambar kembali remote dari tangan Arkan dan menghidupkan TV. Layar kembali menyala, menampilkan wajah Randy Arian yang tampan. Arkan lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala, tahu ia tak akan memenangkan perdebatan ini. "Ya udah deh, aku ke kamar dulu ya sama Elvan. Mau bikin tugas kelompok," kata Arkan akhirnya, menyerah. Ia berbalik dan melangkah menuju tangga. "Permisi ya, Tante," ucap Elvan seramah mungkin, membungkuk sedikit dan memamerkan senyum penuh kehangatan. Senyumnya selalu tulus, sebuah pelipur lara. "Iya, Elvan. Aduh, maaf ya, tadi," Bu Dea sedikit merasa tak enak dengan Elvan, tahu tingkah Arkan kadang kelewatan. "Si Arkan itu tuh nyari gara-gara sama Tante." Elvan masih tersenyum, berusaha membuat rasa sungkan Bu Dea menghilang. "Nggak papa kok, Tante," ucapnya lembut. "Elvan, ayo!" panggil Arkan dari atas tangga, tak sabar. Ia tak mau meladeni mamanya lagi. Elvan pun hanya menuruti Arkan dan segera mengikutinya menuju kamar. Begitu pintu kamar Arkan tertutup, dan ia meletakkan tas di lantai, Elvan menoleh pada sahabatnya. "Lo kenapa begitu sih ke Mama Lo?" tanyanya, duduk di kursi belajar yang disediakan Arkan. Arkan, yang sedang mengambil pakaian baru untuk mengganti seragam putih birunya, menjawab sebelum masuk ke kamar mandi. "Gue nggak suka aja Nyokap gue nonton gosip." "Yakin alasan Lo itu? Bukan karena beritanya kan?" selidik Elvan, suaranya sedikit melunak. Arkan yang sudah berada di kamar mandi hanya terdiam. Suara gemericik air terdengar pelan. Tak lama kemudian ia keluar dengan pakaian yang sudah berganti, celana training dan kaus oblong. Ia duduk di samping Elvan. "Kan, tenang aja," Elvan melanjutkan perkataannya, menatap Arkan dengan mata yang bijaksana. "Gue udah biasa kok dengan berita begitu. Kalau Lo memang nggak suka Mama Lo nonton gosip ya dibilangin baik-baik, jangan sampai Lo malah jadi bicara dengan nada yang lebih tinggi dari Mama Lo. Gue nggak mau sahabat gue jadi anak yang durhaka." Arkan mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Memang jika ia melakukan kesalahan atau khilaf, Elvan pasti akan menasihati atau menceramahinya. "Iya... Ampun anak kesayangan Bu Ustadzah Kirana," ucap Arkan sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya, pura-pura patuh. "Lo suka ngeledekin Kak Kirana deh," Elvan menggeleng. "Nggak kok, nggak ngeledekin. Kan Kak Kirana memang punya perilaku yang baik dan pintar dalam agama. Hehehe..." Arkan terkekeh. "Ya udah deh, daripada kebanyakan ngobrol, mending kita langsung ngerjain tugas biar cepat selesai," ucap Elvan akhirnya, tak mau memperpanjang perdebatan. "Iya Elvan, maafin gue ya. Maafin Mama gue juga," Arkan masih saja merasa bersalah. "Ya ampun Arkan, gue bilang nggak papa," kata Elvan lagi, memberikan senyuman maklumnya. Ia tahu Arkan tidak bermaksud jahat. "Mama Lo kan gak tahu tentang gue." Akhirnya mereka pun memulai tugas kelompok mereka. Elvan berusaha untuk fokus, otaknya bekerja keras mengabaikan berita yang tadi muncul di TV, yang mau tidak mau membuatnya kepikiran dengan orang yang diberitakan itu. Ada kegundahan yang melandanya, ia mengkhawatirkan orang itu. Tidak ada orang lain yang ia harapkan untuk bisa bahagia selain orang itu. Tidak ada orang lain yang ia harapkan selalu berada di sisinya, selain orang itu. Tapi mau bagaimana pun ia berusaha, orang itu selalu tidak pernah mau untuk melihatnya, memperdulikannya, bahkan mengakui keberadaannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah memendam perasaan sedih dan sakitnya seorang diri. Dan berdo'a akan keajaiban untuk segera datang mengubah nasibnya *** “Eh Ayahnya Elvan udah datang?” ucap bu Dea girang saat Mario datang. Pria yang lebih muda beberapa tahun darinya itu memang cukup tampan, sehingga kedatangannya selalu membuat bu Dea senang karena bisa cuci mata. "Bi Inah, tolong kasih tahu Elvan ya kalau Pak Mario udah datang!" perintah Bu Dea kemudian kepada pembantunya yang sedang lewat. "Baik, Bu," ucap Bi Inah seraya bergegas ke kamar Arkan. "Wah, makasih banyak ya, Bu Dea, saya jadi ngerepotin Bi Inah nih. Padahal biasanya Elvan kan udah di sini nunggu saya." Mario tersenyum canggung. "Ya ampun, Pak, nggak ngerepotin kok! Udah, santai aja! Ayo duduk dulu sambil nunggu Elvan turun," ajak Bu Dea ramah, menunjuk sofa. Mario tersenyum dan mengikuti Bu Dea untuk duduk di sofa ruang tamunya. Televisi masih menyala dari tadi, dan lagi-lagi ada siaran infotainment. Randy Arian kembali menjadi topik gosip di acara itu, foto-fotonya bertebaran di layar. "Duh, Pak, dari tadi ini mulu beritanya. Memang susah ya jadi orang ganteng jomblo," Bu Dea mulai membahas isi berita infotainment itu sambil menyengir. Mario hanya memberikan senyuman samar, berusaha menahan ekspresinya. "Eh... Eh..." Tiba-tiba Bu Dea melihat sesosok orang yang dikenalnya di dalam layar TV-nya. Sebuah arsip lama dari infotainment diselipkan untuk membangun narasi gosip yang sedang diberitakan. "Itu, bukannya Pak Mario ya yang di samping Randy Arian?" tanyanya tak percaya, matanya membesar. Mario terkekeh, menutupi kecanggungan. "Iya, Bu," jawabnya tanpa terdengar membanggakan diri. "Bapak kenal dengan Randy?" Bu Dea bertanya lagi, nadanya penuh rasa ingin tahu. "Kebetulan saya temannya dari SMA." Bu Dea menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena kaget. Namun kemudian ia berseru, teringat sesuatu. "Oh... Saya ingat! Dulu kan Randy sering bangga-banggain sahabatnya yang namanya Mario? Yang katanya sahabat nomor satunya, yang kayak udah saudaranya sendiri? Kenapa saya nggak ngeh kalau orang itu Bapak?!" Mario tersenyum geli melihat reaksi Bu Dea yang berlebihan. "Ih, Pak! Saya itu ngefans lho sama Randy Arian! Kenapa nggak bilang dari dulu? Ya ampun... Bisa kali kapan-kapan ajak saya ketemu sama Randy Arian?" Ucap Bu Dea dengan semangat sambil mencolek lengan Mario. "Hahaha... Randy selalu sibuk, Bu. Saya aja udah jarang ketemu." "Lah, iya ya. Bapak juga pasti sibuk dengan urusan Bapak sendiri. Ngurusin hotel, ngurusin anak. Eh, tapi kapan Elvan punya Mama baru nih? Biar Bapak nggak ngurusin anak sendirian mulu." Bu Dea terkikik. Mario terkekeh, "Elvan udah besar, Bu. Dia udah bisa ngurusin dirinya sendiri." "Ya kalau gitu, cari orang buat ngurusin Bapak dong. Hehehe..." "Do'ain aja ya, Bu, semoga saya bisa ketemu orang yang tepat suatu hari nanti," ucap Mario sambil tersenyum penuh arti, pandangannya sedikit menerawang. Di tengah perbincangan mereka, Elvan sudah turun dari lantai dua, tampak Arkan menemaninya, berjalan di belakangnya. "Dih, Mama, masih juga nontonin gosip!" Arkan kembali mengomeli Bu Dea begitu sampai di ruang tamu. "Lah, salahin channel-nya dong, kenapa nayangin gosip mulu?" Bu Dea tidak mau disalahkan, mengangkat dagu. Arkan rasanya ingin kembali mematikan TV itu, tapi ia merasa segan dilihat Mario kalau ia bertindak cukup tidak beretika kepada orang tua. Ia pun mengurungkan niatnya. "Eh, Elvan, kamu kok nggak pernah bilang kalau Ayah kamu itu temannya Randy Arian?" Tanya Bu Dea kemudian kepada Elvan. Ia menatap Elvan dengan mata berbinar dan penuh semangat, seolah Elvan adalah kepingan teka-teki baru yang menarik. Elvan dan Arkan sedikit terkejut karena Bu Dea mengetahui hal itu. Mereka berdua serempak memandang Mario dengan tatapan minta diberi penjelasan. "Hahaha... Tadi Bu Dea nggak sengaja tahu karena ada Ayah di cuplikan gosip tadi," Mario menjelaskan, berusaha terlihat santai. "Ooh... Hehe... Iya, Tante. Ayah memang temannya... Randy Arian," ucap Elvan, sedikit kikuk dan ragu saat nama itu meluncur dari bibirnya. Ia menunduk, menghindari tatapan Bu Dea yang ingin tahu, merasakan debaran tak nyaman di dadanya. Ada sesuatu yang tak terucap, sebuah rahasia yang ia tahu tak seharusnya keluar dari bibirnya. Mario tertegun. Detak jantungnya berpacu. Bu Dea mungkin tidak menyadari implikasi dari kekikukan Elvan, tapi Mario sangat tahu. Ia menatap Elvan, yang kini mendongak, menatapnya dengan pandangan penuh harap dan kepolosan, tidak tahu betapa rapuhnya dinding yang selama ini melindungi identitas dirinya. Di dalam benak Mario, sebuah pertanyaan menamparnya, tajam dan dingin: Apakah orang-orang nanti akan mengetahui bahwa ia bukanlah ayah kandung dari Elvan dan Elvan sebenarnya adalah… Anak yang selama ini disembunyikan Randy Arian dari publik? *** Elvan terjaga dari tidurnya, mengerjapkan mata. Suara samar dari ruang tamu menarik perhatiannya. Sebuah insting. Ia berpikir itu pasti Randy. Selama tinggal bersama Randy enam bulan terakhir ini, mereka jarang sekali bertemu, seolah hidup dalam dua dimensi berbeda. Randy selalu pulang saat Elvan sudah terlelap, dan masih terlelap saat Elvan hendak pergi ke sekolah. Elvan tak ingin menyia-nyiakannya. Walaupun hanya sebentar, ia ingin melihat sosok ayahnya itu, dan mungkin bisa bertukar beberapa kata. Sambil melawan rasa kantuk yang bagai hendak menariknya kembali, ia segera bangkit dari kasur dan melangkah keluar, napasnya tertahan. Elvan sudah berada di ambang pintu ruang tamu, matanya menyapu ke seluruh ruangan, segera mencari sosok Randy. Namun, ia terkesiap. Yang ia lihat adalah Randy, tergeletak tak berdaya di sofa, terhuyung dalam tidurnya yang mabuk, dan... seorang wanita. Wanita itu, bergaun ketat, tampak memanfaatkan momen tak berdayanya. Senyum licik terukir di bibirnya saat tangannya yang panjang dan lentik meraba d**a bidang Randy, bersiap membuka kancing kemeja. Kemarahan membakar mata Elvan, bercampur dengan ketidakpahaman. Melihat papanya berada dalam situasi yang begitu memalukan dan tidak pantas di hadapannya, ia merasakan campuran emosi yang sulit dijelaskan. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia segera melangkah maju, memutus jarak, sebelum wanita itu bertindak lebih jauh. "Berhenti, Tante! Jangan macam-macam dengan Papa!" ucap Elvan, suaranya kecil namun tegas, menusuk keheningan. Wanita itu terperanjat, tubuhnya menegang. Ia menarik tangannya seolah tersengat listrik, sedikit menjauh dari Randy, lalu menatap Elvan dengan kebingungan yang bercampur jengkel. "Siapa yang kamu panggil papa? Randy?" dia bertanya dengan nada sinis, lalu tertawa mengejek, tawa yang menusuk telinga Elvan. "Kamu bukannya anak Mario, ya? Kenapa kamu bisa di sini? Eh, tapi aku bingung, kok Mario bisa ya punya anak udah gede? Apa dulu pas SMA dia ngehamilin cewek?" Kata-kata wanita itu seperti tamparan keras bagi Elvan. Meskipun ia tahu wanita itu salah mengira orang tuanya, sakit hati menyerangnya. Dia selalu berjuang dengan fakta bahwa ia adalah hasil dari hubungan yang rumit, terlarang—hubungan antara Randy dan Sheilla, ibunya. Setiap kata merendahkan dari wanita itu terasa menembus hatinya, membangkitkan rasa marah dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. Randy, yang mulai mendapatkan sedikit kesadarannya sejak Elvan datang, samar-samar mendengar cemoohan yang dialamatkan pada Elvan. Hatinya terasa berdenyut nyeri, sebuah rasa bersalah yang akrab mulai merayap. Dengan susah payah, kelopak matanya terbuka, menatap wanita di hadapannya dengan wajah dingin, tatapan yang tak menyisakan kehangatan. "Viona, pergi dari sini!" ucap Randy tegas, suaranya serak namun penuh perintah. Pandangan Viona beralih kembali ke Randy. Dengan ekspresi sok manja yang dibuat-buat, ia berusaha untuk menahan Randy agar tidak mengusirnya. "Tapi tadi kan kamu minta aku ngantarin kamu pulang, Sayang? Bukannya kamu mau bersenang-senang di sini sama aku?" ujarnya genit, kembali meraba d**a Randy. Randy segera menepis tangan wanita itu dengan kasar, tatapan jijik terpancar jelas di matanya. Elvan merasakan kemarahan meluap melihat papanya diperlakukan seperti itu. "Papa nggak butuh Tante! Dia nggak butuh wanita seperti Tante!" jerit Elvan, menantang Viona dengan tatapan tajam dan penuh keberanian. "Jangan bercanda, anak kecil," Viona menanggapi dengan sikap meremehkan, tawa sinis kembali keluar dari bibirnya. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidup ini. Randy di sini justru butuh lebih banyak cinta, dan aku bisa kasih itu." Randy mengerutkan kening, merasakan perasaan campur aduk di dalam dirinya. Dia tidak ingin Elvan terlibat dalam pertikaian kotor ini, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan wanita itu berbicara tentang mereka dengan cara yang begitu merendahkan. "Elvan, pergi ke kamar!" perintahnya, suaranya tegas, tetapi ada nada putus asa yang terselip di dalamnya. "Nggak, Pa! Aku nggak akan pergi! Aku nggak akan biarin dia berbuat jahat ke Papa!" Elvan bersikeras, tetap berdiri dengan berani, tubuh kecilnya menantang bayangan besar Viona. Randy merasakan kepedihan di hatinya, mengetahui bahwa situasi ini sangat tidak sehat dan merusak Elvan. "Tolong, Elvan. Ini bukan cara kita menyelesaikan masalah," ia mencoba membujuk, suaranya sedikit melunak. Elvan menatap papanya, ada keraguan di matanya. "Tapi, Papa..." ucapnya, merasa bingung antara rasa ingin melindungi dan rasa hormat terhadap perintah Randy. "Elvan, ini bakal lebih buruk kalau kamu tetap di sini. Ini urusan orang dewasa," Randy menekankan, matanya menatap dalam ke mata Elvan, mencoba mengirimkan pesan tanpa kata. Viona tersenyum lebar, tampak puas melihat pertikaian di antara Randy dan Elvan, seolah menikmati drama yang disaksikannya. "Oh, lihatlah. Ada drama keluarga di sini. Ini bahkan lebih menarik daripada yang aku duga," ujarnya, suaranya dipenuhi ejekan, memperhatikan ketegangan di ruangan. Hati Elvan hancur. Namun, mendengar nada putus asa yang dalam dalam suara Randy, dan melihat tatapan memohon itu, membuatnya menyadari bahwa mungkin, dia harus memberi sedikit ruang, mundur selangkah demi papanya. "Fine!" Elvan akhirnya berbalik, tetapi bukan tanpa melemparkan satu tatapan tajam terakhir kepada Viona. "Papa nggak butuh orang seperti Tante!" Lalu ia menghilang ke dalam kamarnya. Setelah Elvan pergi, ruang tamu terasa semakin sepi, diselimuti ketegangan yang tertinggal. Randy mengalihkan pandangannya ke Viona. Saat matanya bertemu, ia merasakan kemarahan yang mendidih. Alkohol masih mengaburkan pikirannya, tapi kesadaran mulai kembali. "Kamu apa-apaan sih, Viona? Apa yang mau kamu lakuin tadi?!" ucapnya dengan tegas, berusaha untuk menunjukkan batasannya. "Lho, aku pikir kamu ngajak aku ke apartemen kamu karena kamu mau bersenang-senang sama aku?" jawab Viona dengan nada menggoda, seolah-olah mengabaikan semua yang baru saja terjadi, senyum genit kembali di bibirnya. "Oke, makasih kamu udah ngantarin aku pulang," Randy menghela napas, mencoba menahan emosi. "Tapi kamu jangan berpikir aku mau sesuatu yang lebih dari kamu. Kita nggak ada hubungan apa-apa." Viona tertawa terkekeh, lalu dengan berani duduk di samping Randy, menyenderkan kepalanya di samping lengan Randy. "Ya makanya kita coba pendekatan dulu," ucapnya sambil mengusap pelan lengan Randy. Randy, kini semakin jijik dan marah. Ia bangkit cepat dari duduknya, menciptakan jarak. "Tolong pergi. Aku nggak mau lihat kamu lagi!" "Kenapa harus aku yang pergi? Kenapa nggak anak kecil itu aja yang pergi? Ngangguin aja. Kita jadi nggak bisa berduaan kan?" gerutu Viona, matanya melirik ke arah kamar Elvan. "Lagian ngapain sih dia panggil kamu Papa? Sampai dia bisa tidur di sini? Emang kalian sedekat itu ya?" "Kamu nggak usah pikirin Elvan. Sekarang aku mau kamu pergi!" Randy mendekati pintu apartemennya, membuka dengan lebar. "Silakan," ucapnya tegas, matanya menuntut Viona untuk segera pergi. "Ck... Pasti karena ada anak kecil makanya kamu nggak mau senang-senang sama aku. Ya udah, kapan-kapan aja kalau gitu," ucap Viona akhirnya, bangkit dari duduknya dengan malas. Ia lantas mengambil tasnya dan berlalu melewati Randy, dengan sengaja menyenggol bahunya. Setelah Viona pergi, suasana di ruang tamu kembali sunyi, hanya ada gema dari pertikaian barusan. Randy memegangi kepalanya yang masih terasa berat akibat terlalu banyak meminum alkohol. Ia kembali menuju sofa, duduk untuk memulihkan diri. Otaknya berdenyut, dan perutnya bergejolak. Tanpa ia duga, Elvan kembali keluar dari kamarnya, berdiri di ambang pintu, menatapnya. Randy menghela napas berat, merasakan tatapan Elvan yang penuh rasa sakit dan kemarahan. Ia tidak ingin berhadapan dengan Elvan dalam situasinya yang sedang kacau ini, tidak ingin melihat tatapan itu. "Papa!" Elvan memanggil, suaranya bergetar, penuh tuduhan. "Apa yang barusan itu?" Randy menoleh sebentar, ekspresinya menunjukkan ketidakpedulian yang dipaksakan, tetapi dalam hatinya, dia tertekan dan merasa bersalah. "Nggak ada yang perlu kamu khawatirin. Ini bukan urusan kamu," jawabnya dingin, mencoba menjauhkan diri dari kenyataan yang memalukan. "Bukan urusan aku?! Dia memperlakukan Papa kayak gitu!" Elvan melawan, mencoba mempertahankan keberanian yang tersisa dalam dirinya. "Apa Papa benar-benar mau diperlakukan seperti itu?" Randy kembali menghela napas berat. Dia tahu Elvan berhak merasa marah dan kecewa. Namun, dia juga merasa terjebak dalam dunia yang tidak bisa dia jelaskan, dalam kegelapan yang tak bisa ia bagi. "Kamu nggak akan ngerti. Ini adalah hidup Papa. Dan itu nggak ada hubungannya sama kamu," balas Randy, suaranya semakin tegas, membangun tembok. Elvan merasa hatinya tertegun, seolah semua harapannya untuk mendekatkan diri dengan papanya sirna dalam sekejap. "Kalau itu benar, kenapa Papa nggak bisa bersikap lebih baik? Kenapa harus terjebak dalam hidup seperti ini?" Randy terdiam sejenak, kata-kata Elvan menusuk hatinya, tepat di ulu hati yang paling dalam. "Kamu cuma anak kecil yang nggak mengerti. Hidup Papa bukan seindah yang kamu bayangkan. Papa berjuang dengan banyak hal," Randy berkata, tetapi suaranya mulai bergetar, menunjukkan kerentanan yang jarang ia perlihatkan. "Kalau Papa berjuang, kenapa nggak bisa berbagi dengan aku?" Elvan merasa air mata mulai menggenang di matanya, suaranya bergetar menahan tangis. "Kenapa harus menghadapi semua ini sendirian? Aku mau bantuin Papa, tapi Papa selalu menjauh." Mendengar kata-kata Elvan, Randy merasa terpukul. Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam jiwanya, membangkitkan rasa bersalah yang telah ia kubur dalam-dalam. Tapi ia tidak bisa meruntuhkan tembok yang sudah mengisolasinya bertahun-tahun. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan anaknya itu. Ia tidak ingin merasakan lebih banyak rasa sakit lagi. Elvan, bagi Randy, adalah cerminan dari semua yang salah dalam hidupnya. "Kamu harus tidur. Kita bicara kapan-kapan," ucap Randy, suaranya penuh kelelahan, berusaha menutup percakapan yang menyakitkan ini. Berusaha lari dari Elvan yang terus-terusan mengingatkannya dengan luka masa lalunya. Elvan mengangguk, matanya berkaca-kaca. Dalam hatinya, dia merasakan jurang yang semakin dalam antara mereka. Dia ingin lebih dekat dengan papanya, ingin menjadi pelipur lara, tetapi Randy selalu menutup diri, mengisolasi dirinya dari kasih sayang yang tulus. "Selamat malam, Papa," ucap Elvan pelan, sebelum berbalik, langkahnya gontai menuju kamarnya, meninggalkan Randy sendirian dengan semua perasaan yang terpendam, semua penyesalan yang membakar. Setelah percakapan dingin dan menyakitkan dengan Elvan, Randy masih duduk diam di sofa ruang tamu yang sunyi. Pikirannya berputar tentang semua yang baru saja terjadi, namun dia dengan cepat menepis perasaan bersalah yang mulai merayap ke dalam dirinya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini yang terbaik. Bahwa mengabaikan Elvan, mengabaikan semua perasaan yang terpendam, adalah satu-satunya cara agar dia bisa terus menjalani hidup tanpa harus merasa hancur, tanpa harus menghadapi kebenaran pahit yang selalu mengintai. Randy merebahkan kepalanya di atas senderan sofa. Ia memejamkan mata dalam-dalam, meletakkan lengan kirinya di atas mata, seolah ingin menghalau dunia. Rasa bersalah, rasa sakit, dan ego yang mengisolasi dirinya bertahun-tahun terus memperjauh jaraknya dengan Elvan. Tapi ia bagai tak berdaya, terikat oleh rantai masa lalu. Elvan tak akan mengerti bagaimana rasa sakitnya setiap kali melihat anak itu berada di dekatnya. Elvan tidak akan pernah mengerti bahwa ia akan selalu mengingatkan Randy pada Sheilla, orang yang sangat ingin Randy lupakan, tetapi juga tak bisa ia lupakan seutuhnya. Akhirnya Randy memutuskan bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur, mencoba mengalihkan pikirannya, mencari ketenangan di antara piring-piring dingin. Namun, setiap sudut apartemennya, setiap benda, setiap bayangan, mengingatkan dia pada masa lalu, pada Sheilla, dan pada kenyataan pahit bahwa Elvan adalah anak dari cinta terlarang mereka. Cinta yang seharusnya tidak pernah ada. Cinta yang, dalam benaknya, membuatnya kehilangan Sheilla. Sheilla. Nama itu menyayat hatinya setiap kali muncul dalam pikirannya, bagai luka yang tak kunjung sembuh. Randy tidak bisa melupakan hari-hari saat mereka bersama, tawa dan kebersamaan mereka, dan bagaimana Sheilla pergi begitu saja, meninggalkannya dengan luka yang mendalam, sebuah kehancuran yang tak tergantikan. Dia berusaha keras untuk meyakinkan dirinya bahwa semua ini adalah kesalahan Sheilla. Bahwa dia tidak pantas mencintai Sheilla lagi, bahwa perasaan cinta itu harus dia kubur dalam-dalam, dibiarkan membusuk. Randy menepis kenangan itu, berusaha keras mengusirnya dari benaknya yang kacau. Dia tidak ingin mengingat Sheilla, tidak ingin merasakan lagi bagaimana hidupnya hancur saat Sheilla pergi. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memutuskan semua koneksi yang pernah ada, membuang semua yang mengingatkannya pada wanita itu. Termasuk Elvan, anak yang seharusnya dia cintai, tetapi malah menjadi pengingat paling menyakitkan tentang Sheilla, tentang kehancurannya. "Elvan bakal baik-baik aja tanpa gue," pikir Randy, mencoba meyakinkan dirinya, mencari pembenaran atas kekejamannya sendiri. "Dia punya Mario. Mario bisa mengurusnya. Gue nggak perlu terlibat." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN