bc

Lagu Pengantar Tidur Yang Layu

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
arrogant
independent
single mother
drama
tragedy
bxg
no-couple
highschool
rejected
sassy
like
intro-logo
Uraian

Elvan seorang remaja 12 tahun yang dikenal cukup tertutup, dengan tubuh yang terlihat lemah. Ia hidup dalam kesendirian meski berada di dekat ayahnya, Randy Arian-seorang penyanyi terkenal yang selalu disorot publik. Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik ketenaran itu, Elvan adalah rahasia yang disembunyikan. Tatapan dingin dan penuh luka dari ayahnya membuat Elvan bertanya-tanya, mengapa ia tidak pernah diakui?

Dalam upaya untuk memahami kebencian tersembunyi dan kesedihan yang membekap ayahnya, Elvan mulai menggali masa lalu kedua orang tuanya. Tapi, semakin dalam ia mencari jawaban, semakin banyak luka lama yang terkuak. Rahasia yang selama ini terkubur kembali hidup, menyeret Elvan dalam kisah kelam, sebuah penyesalan yang tak pernah termaafkan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Kepala Randy terasa berat. Dunia di sekelilingnya berputar pelan, diliputi kabut dari alkohol yang baru saja ia habiskan. Lampu di apartemennya redup, dan malam seharusnya bisa ia lewati dalam keheningan dan kesendirian seperti biasa. Tapi suara bel itu datang—nyaring, mengganggu, menembus kesadarannya yang hampir padam. Dengan langkah gontai, ia menyeret tubuhnya menuju pintu. Matanya yang separuh tertutup karena kantuk dan mabuk, mendadak terbelalak. Di hadapannya berdiri seorang pria—Mario, sahabat lamanya sejak SMA. Tapi bukan hanya itu. Di samping Mario berdiri seorang anak laki-laki dengan koper di tangannya. Dan matanya... mata itu menatap Randy dengan ragu dan harap yang rapuh. Elvan. Anak yang sudah bertahun-tahun tak dilihatnya. Anak yang tidak pernah ingin ia lihat lagi. Randy nyaris menutup pintu tanpa sepatah kata, seolah kehadiran mereka adalah halusinasi yang ingin ia singkirkan. Namun, Mario menahan daun pintu dengan lengannya yang kuat. "Lo mabuk, Ran?" tanya Mario, suaranya sarat keprihatinan, matanya menyapu penampilan Randy yang berantakan. "Bukan urusan Lo. Pergi sana!" Randy mengusir, nada suaranya dingin, setajam pisau. Aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya semakin memperjelas kondisinya. Randy terhuyung lagi, hampir kehilangan keseimbangan. Tanpa menunggu izin, Mario membuka pintu lebih lebar, melangkah masuk bersama Elvan yang terdiam, seolah-olah Mario adalah pemilik sah tempat itu. "Gue suruh Lo pergi," ulang Randy, suaranya lebih keras, namun kehilangan kekuatannya karena efek mabuk. Mario tak memperdulikan ancaman itu. Ia menutup pintu apartemen di belakangnya, lalu menahan bahu Randy yang mulai limbung. Randy menepis sentuhan itu kasar, menatap Mario dengan pandangan murka. "Gue tahu Lo gak mau Elvan lihat Lo kayak gini, makanya Lo suruh kami pergi, kan?" kata Mario, matanya menembus topeng kemarahan Randy. Randy mendecak kesal, seolah perkataan Mario adalah hal paling menjengkelkan yang ia dengar. Ia berjalan gontai ke sofa, lalu menjatuhkan diri di sana, memijat pelipisnya yang terasa berputar. Dunianya serasa bergoyang. Elvan hanya berdiri diam, menggenggam koper erat-erat. Harapannya untuk disambut hangat telah pupus sejak langkah pertama. Ia bahkan tak tahu harus melangkah atau mundur. "Kenapa bawa koper segala? Mau nginap?" Randy masih terdengar tak ramah, nada suir di setiap katanya. Ia bahkan tak repot-repot menoleh ke arah Elvan. "Mulai hari ini, Elvan tinggal di sini," ujar Mario, suaranya mantap, penuh tekad yang tak bisa diganggu gugat. Perkataan Mario membuat Randy menoleh cepat, tatapan tak percaya menusuk tajam. Sorot matanya dipenuhi kemarahan dan penolakan. "Lo gila?" "Elvan yang minta. Dia bilang dia mau tinggal sama lo. Dia tahu Lo sibuk banget. Tapi lihat Elvan sekarang. Dia udah gede. Udah SMP, Ran. Dia udah bisa mandiri sekarang. Jadi Lo nggak perlu khawatir kalau Lo kurang bisa merhatiin Elvan, atau kurang bisa ngurusin Elvan. Karena Elvan udah bisa ngurus diri sendiri," Mario mengacak-acak rambut Elvan, tersenyum bangga, berusaha menyakinkan Randy dengan kelebihan Elvan, “dia cuma mau dekat sama Lo.” "Gue nggak mau," ucap Randy, suaranya tegas, dingin, tak menyisakan celah untuk negosiasi. Elvan menggenggam gagang kopernya lebih erat, buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit karena tertolak menusuk hatinya dalam. Mario terkekeh pelan, tawa yang terdengar canggung dan dipaksakan. "Hahaha... Apaan sih Lo, Ran? Lo kalau mabuk suka ngawur! Udah Elvan. Kamu langsung aja masuk kamar yang itu," ia menunjuk sebuah kamar kosong di apartemen Randy. "Beresin barang-barang kamu dan langsung istirahat biar besok nggak kesiangan bangunnya. Besok pagi Ayah bakal ke sini jemput kamu sekolah." Mario mendorong pelan tubuh Elvan, membimbingnya ke kamar yang ditunjuk. Elvan terlihat ragu, pandangannya beralih antara punggung Mario dan Randy yang masih terdiam, penuh kemarahan. Hatinya berteriak ingin mundur, namun ia bahkan tidak tahu bagaimana mengurungkan niatnya untuk tinggal di sana. Ini adalah impiannya sejak dulu, impian yang kini terasa begitu menyakitkan. Ia menoleh ke belakang sebentar, dan mendapati Randy masih terlihat tak senang, raut wajahnya terpahat jelas menunjukkan penolakan. Mario meninggalkan Elvan sendirian di kamarnya, menutup pintu perlahan, lalu kembali ke hadapan Randy. "Gue titip Elvan," ucapnya, suaranya kini lebih serius. "Bawa dia pergi, Mar! Gue nggak mau lihat dia!" Randy masih bersikukuh, matanya merah, tubuhnya bergetar, ia jelas tidak baik-baik saja. "Ran... Udah terlalu lama Lo menghindar. Udah terlalu lama Lo larut dalam luka Lo. Cukup, Ran. Sekarang saatnya Lo menghadap kenyataan, menerima hidup Lo, menerima Elvan..." Mario berusaha mendekat, namun Randy menarik diri. "Gue nggak pernah mau dia ada!" suara Randy meninggi, penuh emosi yang tak mampu ia bendung. Hati Mario terenyuh mendengar pengakuan itu. Ia berpikir, sekarang bukan saat yang baik untuk bicara dengan Randy. Ia tidak ingin Elvan mendengar ini. Namun, Randy masih berbicara, suara penuh kepedihan yang tak tertahan. "Kenapa Lo bawa dia ke sini?! Dia cuma ngingetin gue dengan semua luka yang ada di hidup gue! Gue nggak bisa tinggal sama dia, Lo tahu itu! Hidup gue hancur, Mar!" "Justru itu, Ran," Mario mencoba bersabar, suaranya lembut, "gue yakin Elvan bisa memperbaiki hidup Lo..." Randy tertawa getir, tawa yang penuh rasa sakit. "Gimana bisa dia memperbaiki hidup gue kalau dia cuma bawa balik trauma gue?!" "Bukan dia yang bikin Lo trauma, Ran. Tapi masa lalu Lo," Mario mencoba menjelaskan dengan tenang. "Dan dia itu bagian dari masa lalu gue!" Randy memotong perkataan Mario dengan bentakan, seolah membela diri dari kenyataan. "Ran, percaya sama gue. Elvan bisa bantu Lo jadi lebih baik lagi. Dengan menerima keberadaan dia, Lo pasti bisa memperbaiki hidup Lo," Mario berkata dengan keyakinan penuh, tatapannya lekat pada Randy, berharap pesannya sampai. Namun Randy tak mendengarkan. Ia meraih botol wine di meja, menuangkan isinya lagi ke dalam gelas, lalu menenggak habis. Ia berharap kejadian sekarang hanyalah efek dari mabuknya, sebuah mimpi buruk yang akan berakhir. Dan besok, ketika ia sudah sadar sepenuhnya, tidak ada Elvan di apartemennya, tidak ada koper yang membawa masa lalu, tidak ada Mario yang memaksa kenyataan pahit itu. "Gue pergi dulu. Jangan minum lagi," Mario menepuk pundak Randy pelan, tatapannya masih penuh kekhawatiran. Ia bangkit, dan bergegas pergi, meninggalkan Randy di apartemen yang hening, dengan satu kamar yang kini tak lagi kosong. Dan dengan seorang anak di dalamnya, yang hanya ingin satu hal: diakui. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook