Bukan Mimpi

1645 Kata
Suara alarm handphone membangunkan Riska dari tidurnya. Ia meraih handphone di meja kecil samping ranjang dan melihat jam menunjukkan jam setengah enam pagi.  Bias matahari masuk melalui celah jendela, semilir angin pagi membuat matanya makin terbuka walau kantuk masih menderanya sekarang. Riska menoleh kesamping melihat Ryan yang masih tertidur pulas. Pria itu mendekapnya semalam. Setengah sadar ia merasakan dekapan hangat Ryan dan sengaja membiarkannya. Karena ia tahu Ryan hanya sekedar mendekap tak lebih dari itu. Riska beranjak dari kamar menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah dan menggosok giginya, menggunakan sikat sikat gigi yang sudah disediakan oleh villa. Sesudahnya menuju dapur, membuat secangkir s**u hangat dan menyantap biskuit kemasan yang masih tersisa banyak di atas meja. Riska menyibak gorden dan membuka sebagian jendela. Ia membiarkan angin pagi dan sinar mentari masuk kedalam ruangan.  Kicauan burung bersahut-sahutan di atas ranting, seakan menyapa Riska dipagi ini.  Ia tersenyum bahagia, hatinya serasa tetesan air hujan yang terjatuh dari tiap helai daun akasia membasahi tanah diluar sana. Terasa sejuk dan tak akan melupakan satu malam panjang bersama Ryan. Suara mesin mobil membuyarkan lamunannya di pagi hari. Tanpa pikir panjang ia berlari ke arah pintu dan membukanya. Senyum Riska mengembang melihat Ardi, Jane dan Hendi dalam keadaan baik-baik saja. Mereka beruntung tidak terkena longsoran dan pulang dengan selamat. "Pagi, Ris," sapa Jane berjalan ke arahnya. Ardi dan Hendi mengikuti dari belakang. "Kalian baik-baik saja?" suara Riska bergetar, membayangkan pagi ini tak bisa bertemu dengan mereka lagi. Jane mengangguk sementara Ardi tersenyum. "Kalau saja papamu tidak banting setir mungkin sudah tertimbun tanah seperti mobil di depan." jawab Jane melirik ke arah Ardi sebentar lalu memperhatikan baju yang Riska kenakan. Riska menghela nafas lega. Tuhan masih mengijinkannya untuk berkumpul bersama ayah dan adiknya. Ia tak ingin berpisah seperti lima tahun yang lalu, saat ibunya meninggal karena menderita suatu penyakit. Saat usianya baru 13 tahun, ayahnya harus menjadi duda dan membesarkan kedua anaknya seorang diri, hingga saat ini. Jane mengangkat dua kotak makanan yang dibungkus dengan styrofoam. "Kami bawakan kalian sarapan," ia memberi Riska lalu melangkah masuk kedalam. Pandangan Jane menyusuri ruangan seperti mencari sesuatu. "Ryan mana? Belum bangun?" tanyanya, tak menemukan di sofa. "Masih tidur, Tante." Riska mengikuti Jane lalu langkahnya terhenti di sofa. Ia menaruh sekotak bungkusan yang berisi bubur ayam di atas meja sofa. "Mau kubuatkan teh atau s**u?" tawarnya. Jane menggeleng, ia duduk dan menyandarkan punggung di sofa. "Gak usah, Ris. Kami sudah sarapan dan minum tadi," tolaknya. Ia melirik ke arah Ardi, "Jam berapa kita pulang, Mas?" Ardi melihat arloji, "Jam sepuluh saja, Jane. Kau masih ada waktu untuk beristirahat. Tadi malam kau tidak tidur sama sekali." sahutnya, mengingat Jane sibuk menerima panggilan di handphone dari sutradara dan artis untuk projects FTV yang akan ia garap sebentar lagi. "Aku ke sebelah dulu, sebaiknya kau tidur. Aku dan Hendi juga harus tidur." pamit Ardi. Jane mengangguk dengan mata sayu dan merah. "Oke, Mas. Maaf aku tak bisa mengantarmu keluar." ia bangkit dari sofa. "Tidak perlu, Jane. Kami pergi dulu." Ardi dan Hendi berbalik, Riska mengikuti belakang. "Aku pergi dulu, Tante," pamit Riska. Jane memberi ibu jarinya. "Oke, Ris." Pandangan Jane tertuju pada bungkusan kantong plastik hitam dibawah sofa. Ia membukanya. "Apa ini?" ❤❤❤ Jam sepuluh pagi Riska mengemasi dua tas travelnya. Mereka akan segera kembali pulang menuju Bekasi dan harus mengakhiri liburan serta pertemuan dengan Ryan hari ini.  Riska membuka garasi mobil lalu memasukkan tasnya. "Ris, tolong kamu ke villa sebelah. Tante Jane memanggilmu tadi," pinta Ardi, mendekati mobil lalu menyalakan mesin. Riska menoleh ke arah villa sebelah, tak ada seorangpun terlihat di terasnya. "Baik, Pa," ujarnya. "Dia kemana, ya?" Riska celingak-celinguk mencari sosok Ryan begitu tiba di teras villa, tapi tak ada. Jane keluar membawa tas travel. "Bisa kubantu, Tante?" Riska menawarkan diri, melihat Jane susah payah membawa tas yang berukuran agak besar. Jane berhenti melangkah dengan nafas terengah-engah. "Gak perlu, Ris. Coba kamu ambil plastik hitam di kamar lantai dua. Itu buat kamu."  Riska mengerutkan dahi. "Apa itu, Tante?" ia menjadi penasaran. "Kamu ambil aja dulu. Nanti kamu juga tahu kok." Riska mengangguk. "Ok, kalau begitu aku kedalam dulu, Tante." ucapnya lalu melangkah masuk kedalam. Riska mengedarkan pandangannya menyusuri sekeliling lantai bawah lalu bergumam, "Gak ada." kemudian ia melanjutkan langkah menaiki tangga, membuka pintu kamar yang paling ujung. "Aduh." Tubuh Riska terdorong ke dalam setelah seseorang menarik tangannya. Riska melihat Ryan tersenyum lebar menggenggam tangannya. Ia mendekat lalu memeluknya dari belakang. "Kenapa kamu gak bangunin aku tadi pagi?" tanya Ryan sambil menyandarkan dagu di bahunya. Riska menoleh kebelakang, pipinya terbentur dengan hidung Ryan, "Kamu tidur pulas, aku gak tega bangunin kamu, Yan?" jawabnya, memegang kedua lengan Ryan yang melingkar di pinggangnya. "Aku kangen, Ris." Ryan berbisik. Riska tertawa, baru saja beberapa jam mereka berpisah ia sudah menggombal dipagi hari. "Kamu gombal!" tolaknya sambil melepaskan kedua lengan Ryan. "Itu benar, Ris. Aku--" Ryan memegang kedua bahu Riska dan membalikkan tubuhnya. "Apa?" Riska mengangkat dagu. Ryan menyeringai, naluri laki-lakinya merasa tertantang. "Ingin menciummu lagi," bibirnya menempel dan melumat bibir Riska lagi. Ia tak sendiri, Riska membalasnya. Tubuh gadis itu membentur dinding setelah Ryan mendorongnya pelan. Kedua tangan Riska melingkar di leher Ryan dan mendongak membalas tiap kuluman yang terasa lembut dan manis. Tentu saja beraroma rokok.  Deru nafas mereka saling berkejaran, Ryan mendekap erat tubuhnya hingga Riska bisa merasakan batang p***s Ryan menegang tepat di atas perutnya. Riska terbuai, ia makin mendongak pasrah ketika ciuman itu mengarah ke lehernya. Tanpa sadar kata 'Aaah' terlontar dari bibirnya yang terbuka. "Riska--" Riska mendorong tubuh Ryan setelah mendengar Jane memanggil namanya. Suara itu terdengar dekat, berada di balik pintu yang terbuka sebagian. "Riska?" Kepala Jane menyembul dari balik pintu. "Y-ya, Tante?" Riska tersenyum kecut, ia menjadi salah tingkah. Tanpa sadar tangannya merapikan bajunya yang sedikit kusut. Ryan berpura-pura mengambil plastik hitam di bawah ujung ranjang. "Yan, kamu kasih ke Riska yang plastik hitam besar itu." perintah Jane. Ryan kembali mengambil bungkusan plastik yang satunya lagi. "Baik, Ma." sahutnya, sempat mengedipkan mata ke arah Riska. Jane merasa suasana ganjil antara mereka berdua. "Baik. Mama tunggu di bawah. Jangan lupa tas travel yang itu," Jane menunjuk satu-satunya tas di atas ranjang, berwarna coklat merk Fendi. Ryan mengangguk lagi. "Siap, Bu produser," sahutnya lagi. "Oke, Mama kebawah dulu," Jane beranjak dari balik pintu lalu menuruni tangga lagi. Ryan dan Riska saling berpandangan sambil menghela nafas lega aksi mereka tak diketahui Jane, hampir saja mereka tertangkap basah sedang berciuman walau bagi Ryan itu bukanlah masalah besar, karena cepat atau lambat ia akan mengenalkan Riska sebagai wanita pertama yang akan ia kenalkan pada Jane sebagai kekasih, bukan sebagai anak kawannya. Ryan mendekati Riska lagi sambil tersenyum penuh makna.  Ia menarik pinggang Riska sambil memiringkan wajahnya. "Hentikan, Yan," cegah Riska, mendorong pelan tubuh Ryan sementara pandangannya ke arah pintu yang masih terbuka. "Aku gak mau Mama mu melihat kita seperti ini." ia memohon dengan wajah cemas. Ryan menggubris ucapan Riska . Ia melangkah mendekati pintu lalu menutupnya dan kembali mendekap tubuh Riska lagi. "Aku masih kangen kamu, Ris," kalimat itu lagi yang terlontar. Jakunnya naik turun melihat belahan d**a Riska dari celah kemeja yang ia kenakan. "Aku harus pergi, Yan." Riska menepis kedua tangan Ryan dari pinggangnya. "Tunggu, Ris!"  Langkah Riska terhenti, Ryan menarik tangannya lagi.  Ryan menengadahkan tangan, "Mana handphonemu?" pintanya, sedikit memaksa. "Untuk apa?" Riska merogoh ke dalam tote bag yang ia sandang, setelah menemukan ia memberi nya. Ryan memencet tombol pada handphone Riska lalu memberikannya lagi. Riska mengecek handphonenya, sebuah nomor baru di panggilan keluar. Ia save nomor itu di daftar kontak dan memberinya nama. "Kau beri nama apa?" tanya Ryan sembari mengintip. Riska memasukkan handphone itu lagi ke dalam tas lalu  mengangkat dua jarinya. "Rahasia," ujarnya, sambil tersenyum genit lalu bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga. Ryan tertawa kecil lalu memanggil sambil mengejar, "Riska..," ia mengangkat bungkusan plastik hitam didepan pintu kamar. Riska mendongak lalu menaiki anak tangga lagi. Tangan Riska berusaha meraih plastik hitam tapi sebuah kecupan mendarat di pipinya.  "Aww--" Ryan meringis setelah sebuah cubitan hinggap di perutnya. "Kalau ada yang lihat gimana?!  Aku malu, Yan." ujarnya tersipu malu sambil menengok ke lantai bawah, memastikan Jane tak melihat adegan tadi. Ryan menggodanya. "Kau mau lagi?" "Tidak!" Riska menuruni anak tangga lagi dan Ryan mengikutinya dari belakang sambil tersenyum puas. ❤❤❤ Riska menaiki mobil, Ia duduk di belakang Ardi dan ditemani Hendi disampingnya. Didepan mobil mereka, mobil sedan Jane mulai melaju pelan. Ryan duduk di kursi kemudi.  Dua mobil itu meninggalkan villa untuk kembali menuju Bekasi.  Lalu lintas mulai padat, tepat di depan pasar Cibadak. Ryan menghidupkan tape player. Ia memutar lagu Westlife berjudul My love. Ia mengendarai mobil sambil bersenandung mendengar alunan lembut suara Shane cs. Tiada tiada henti bersenandung dan tersenyum sendiri semenjak membawa mobil dari villa, membuat Jane terheran melihat tingkahnya yang tak seperti biasa. Jane menyampingkan tubuh, ia menoleh melihat Ryan dengan terheran, "Ada apa? kayaknya kamu lagi senang banget, Yan?" tanya Jane. Ia melekatkan kacamata hitam ke atas kepala. Ryan masih fokus membawa mobil, ia mengedipkan matanya. "Rahasia, Ma," jawabnya sambil terkekeh. Jane menggeleng kepala mendengar jawaban Ryan, yang ia tahu Ryan sedang bahagia pada suatu hal yang tak ia ketahui. Sesuatu yang makin membuatnya penasaran. Setelah beberapa jam perjalanan dan masuk area Jakarta, Ryan membelokkan mobilnya ke arah Jakarta selatan. Ia akan mengantarkan Jane menuju apartemennya, sementara mobil Ardi terus berjalan lurus menuju arah Bekasi. Lalu Lintas agak macet di sore minggu. Satu jam kemudian tibalah Riska di rumahnya, Bekasi. Ia melangkah pelan ke kamar lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang.  Tak lama ia tertidur karena tubuhnya terasa lelah selama di perjalanan pulang. Riska bermimpi. Di Dalam mimpinya ia asyik duduk bersama Ryan di tepi pantai sambil memandangi suasana sunset. Burung camar beterbangan di sekitar mereka, angin laut mengibarkan rambutnya yang panjang. Tapi tubuhnya hangat ketika Ryan merangkul bahu Riska, sambil  memandang matahari yang perlahan mulai tenggelam. "Riska... Riska..." panggil Ryan dalam mimpinya. Riska menoleh. "Ya," jawabnya. Wajah Ryan mendekatinya seakan ingin menciumnya. Riska memonyongkan bibirnya. "Muach," Sayup-sayup Riska masih mendengar suara Ryan memanggilnya. Ia tersadar lalu membuka kedua matanya dan langsung terbangun. Riska mengucek kedua mata dan menunggu pikirannya loading dengan alam nyata. Samar-samar dia melihat seorang pria di sampingnya. Ia mengucek kedua matanya lagi memastikan apa yang dilihatnya adalah benar seperti yang ia duga. Ternyata Ryan berada disampingnya sekarang ! Bukan mimpi ! "Kamu kenapa ada disini?!" tanyanya, spontan tubuhnya bangkit dan terduduk. Ia menunjuk Ryan dan terkejut. Ryan cengengesan melihat tingkah Riska yang terkejut melihat kehadirannya. Ia tersenyum, tatapannya berubah menjadi serius sambil mendekatkan wajahnya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN