Satu Malam Hanya Denganmu

1506 Kata
"Adegan ranjang?! Oh, No! I'm not ready, Yan!" "Apa?!" Riska menepis tangan Ryan begitu sampai di sofa, ia mengerutkan dahi dan sedikit kesal mendengar jawaban Ryan. "Apa maksudmu?" Ryan menggenggam tangannya lagi. "Kamar. Kamu ngantuk kan?" ucap Ryan lagi. Ia tahu Riska ketakutan setelah mendengar ucapannya tadi. "Oh..kupikir." "Gak mungkin kamu tidur disini. Sebaiknya kamu tidur dikamar biar aku disofa." Ryan mengambil lilin lalu menarik tangannya lagi. "Tapi--" Riska tak bisa menolak, ia memang mengantuk dan butuh tempat untuk berbaring. Ryan membuka pintu dan melepaskan genggamannya. Ia menaruh lilin di atas meja rias. "Tidurlah," ia mendekati ranjang lalu membuka tas untuk mengambil jaket, "Aku tahu kamu kedinginan. Pakailah jaket ini." ia menyodori jaket model sweater bahan fleece tebal berwarna abu. Ryan menunjuk ujung ranjang. "Selimutnya ini. Sekarang tidurlah. Sudah jam setengah dua belas. Kamu pasti biasa tidur sore." ledeknya lalu terkekeh. Riska mencibir. "Gak juga kok," ia membela diri, walau yang Ryan katakan memang benar. "Tidurlah. Kalau kau takut padaku, kau bisa mengunci pintunya. Panggil aku kalau kau sudah siap memberi jawabanmu." Sekali lagi Ryan meledeknya sambil mengedipkan mata. Ia kembali melanjutkan langkah untuk beranjak dari ranjang. "Tunggu!" Riska menarik tangannya, "Maukah kau tidur denganku?" pinta Riska, wajahnya memelas. "s**t! Kenapa aku yang minta?!" pekik Riska dalam hati. Mulut dan hatinya tak sinkron. "Ehm maksudnya...aku gak berani tidur sendirian gelap-gelapan seperti ini," Riska membuat alasan, "Kau bisa tidur di atas biar aku tidur dibawah." ujarnya lagi sembari menunjuk lantai. Ryan terdiam sebentar dan tak lama senyumnya mengembang. "Sebentar." ucapnya, beranjak dari kamar menuju sofa untuk mematikan lilin. Ia kembali ke kamar lagi dan melihat gadis itu masih berdiri di samping ranjang dengan tangan memegang bantal. Riska menaruh bantal di lantai tapi dengan cepat Ryan mengambil bantal lalu memindahkan lagi ke atas ranjang. "Selimutnya cuma satu, tidurlah denganku disini," ia menarik tangannya lagi untuk duduk di bibir ranjang, "kau bisa mati kedinginan jika tidur dibawah, Ris." Ryan berjalan menuju sisi ranjang sebelahnya lalu berbaring. Ryan menepuk ranjang. "Tidurlah, sampai kapan kamu duduk seperti itu? Bukannya kamu ngantuk?"  Riska mengangguk. Jantungnya berdebar sangat kencang melihat Ryan berbaring di ranjang tepat di sebelahnya. Dan malam ini ia harus melalui satu malam panjang bersama Ryan. Pria yang akan menjadi kekasihnya. Riska merebahkan tubuh memandang Ryan yang berbaring memunggunginya. "Bukankah itu bagus? Setidaknya ia tidak melihat wajahku yang merah padam dan jantung ku berdebar kencang sekarang. Tapi mengapa aku ingin memandang wajahnya lagi? Ia selalu aku nanti setiap pagi tapi malam ini kami satu ranjang. Bahkan ia telah mencium bibir dan menembakku. Kumohon berbaliklah, Yan." Riska meminta dalam hati. Ia tak dapat menutupi perasaannya jika memang benar-benar suka padanya. Dan menurutnya inilah waktu yang tepat. "Yan.." "Ris.." Mereka memanggil secara bersamaan ketika Ryan membalikkan tubuhnya. "Kau duluan.." pinta Ryan. Riska menggeleng, "Gak. Kamu aja yang duluan ngomong." ia menolak. Melihat wajah Ryan berbaring di sampingnya membuat nyalinya kembali ciut untuk memberi jawaban. Ryan bangkit terduduk. Ia menarik selimut dan menutupi Riska sampai batas d**a. "Kau harus memakainya. Jaket itu tidak bisa menghangatkan kakimu. Aku gak mau papa mu marah karena aku gak menjagamu dengan baik malam ini," ucapnya dan kembali berbaring dan menatap Riska yang tersenyum tipis. "Terima kasih," Riska menggigit bibir bawahnya, "Aku--" "Stop, Ris. Gak perlu kamu beri jawaban malam ini. Apa kamu mau malam ini dia menyentuhmu?" ujar batin Riska. "Udah..ngomong aja. Ngapain juga ditahan-tahan. Kamu mau Ryan direbut cewek lain? Kesempatan gak datang dua kali, Ris. Ayo..kasih dia jawaban!" sisi batin Riska yang lainnya juga bicara dan bertentangan dengan yang tadi. Riska dilema. Mulutnya seakan terkunci. Tapi melihat tatapan Ryan yang serius membuatnya yakin jika pria yang berbaring di sampingnya memang bisa di percaya. Dan ia tak mau melepaskan kesempatan malam ini, karena takkan ada kesempatan kedua. "Kamu kenapa?" sambung Ryan. Riska tertegun Ryan menanti kelanjutan ucapannya barusan. "Aku--" "Kamu?" "Ngantuk." sambung Riska lagi. Bodoh..bodoh..bodoh! Kenapa aku ngomong itu?! Ryan tertawa kecil walau terlihat kecewa, pikirnya Riska akan mengatakan sesuatu yang ia tunggu dari tadi, ternyata tidak. Ryan belai rambut Riska. "Tidurlah. Goodnight, Ris," ia berbalik dan memunggungi Riska lagi. "Aku mau." Ryan tertegun. Senyumnya mengembang. "Aku mau jadi pacarmu, karena aku sudah lama--" Ryan berbalik dan spontan membuat tubuhnya setengah berbaring di atas tubuh Riska, "Sudah lama apa?" ia menagih lagi. 'Glek..' Riska menelan air liur melihat wajah Ryan sejengkal di atas wajahnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Ryan menjadi cepat dan  matanya memerah. "Menyukaimu.." sambung Riska lagi. Ryan memiringkan wajahnya. "Aku tahu itu, Ris," ucapnya, ia melanjutkan dengan sebuah ciuman di bibir Riska lagi. Mengulumnya pelan dengan lembut dan penuh hasrat. Riska tak kaget dengan serangan kissing dari Ryan, ia sudah menduganya sejak tadi. Dan benar saja, Ryan mengulum bibirnya lagi. Tapi tak seperti ciuman pertamanya beberapa menit lalu.. Mata Riska terpejam. Kali ini ia tak diam. Kedua tangannya spontan melingkar dileher Ryan dan membalas kulumannya juga.  Ia mengulum bibir atas Ryan yang terasa manis dan berkali-kali menggigitnya pelan. Sayangnya Ryan tak ingin kalah, ia melakukan hal sama. Mereka sempat tertawa dan kembali melanjutkannya lagi. Decap suara kedua bibir mereka hampir mengalahkan suara hujan yang perlahan berhenti. Sesekali Riska mengambil nafas karena hidungnya beradu, ia juga tak lagi merasa tubuhnya dingin. Jaket yang ia kenakan terasa panas. Tanpa menghentikan ciumannya, Riska membuka jaket dan melemparnya ke lantai. Darah Ryan berdesir kencang setelah menindih dua buah d**a Riska yang kenyal dan empuk. Penisnya menegang dan beberapa bisikan dihatinya menyuruhnya untuk melakukan lebih dari sekadar ciuman. Ia melakukannya. Bibir Ryan mulai berjalan menuju leher Riska yang jenjang dan menciumi leher itu dengan lembut dan perlahan seperti film Hollywood yang biasa ia tonton. "Kau menggairahkan, Ris!" ujar batinnya. Tak ada gadis semenggairahkan Riska selama ini. Dan Riska  yang pertama. Merasakan Ryan telah membangkitkan hasrat liarnya, Riska mendongak ketika bibir Ryan tiba di lehernya. Deru nafasnya menjadi tak beraturan, matanya kembali terpejam.  "Yan.." Riska memanggil namanya setengah berbisik. ia menggigit bibir bawahnya ketika merasakan sebuah rasa geli dan nikmat ketika bibir Ryan mengecup lehernya berkali-kali. Ryan menggubris, hasrat liarnya terus memaksa untuk menciumi leher Riska dan singgah di ceruk lehernya yang jenjang. "Aaahh.." Desahan itu keluar dari mulut Riska, dadanya membusung, kepalanya tak lagi berada di atas bantal tapi sudah berada di bibir ranjang. Entah karena nuraninya sebagai pria normal, Ryan menyukai suara itu.  Desahan dan namanya yang disebut. Berulang kali Riska mengatakan 'Aaah' membuat penisnya menegang. Apalagi dua bulatan empuk kenyal itu menempel dan membuatnya penasaran. Ya, iblis sudah merasuki tubuh dan otaknya sekarang. Tapi anehnya itu hanya berlaku pada Riska tidak dengan wanita lain. Apalagi Tari yang kerap mendatangi rumah untuk bertamu dengan mengenakan pakaian seksi. Jangankan untuk menjamah, kissing saja ia tak ada hasrat. Aneh memang, tapi itulah yang sudah terjadi. "Yan.." Sekali lagi Riska memanggilnya dengan suara sangat pelan. Ryan menghentikan ciumannya lalu menatap Riska yang perlahan membuka matanya. "Ada apa?" tanyanya, sekejap ia memejamkan mata sambil berusaha menormalkan deru nafas dan laju darahnya yang sejak tadi tak karuan. Tangan Riska memegang kedua pipinya. "Apa sekarang kita sudah pacaran?" tanyanya, naif. Ryan tertawa. Ia tak menyangka jika Riska se naif itu. Sangkanya Riska sudah mempunyai jam terbang tinggi dalam percintaan, ternyata ia tak jauh beda dengan dirinya. Terlalu naif. 'Muach' Ryan mengecup dahinya dan tersenyum menang. "Tentu, Ris. Kita pacaran sekarang. Kau milikku dan aku milikmu," ia meyakini Riska jika kini mereka adalah sepasang kekasih bukan sebagai teman, kenalan atau penumpang yang sama pada sebuah angkot. "Sebentar. Aku ke kamar mandi dulu." Ryan mengangkat tubuhnya dan bangkit dari ranjang. Ia beranjak dari kamar setelah membawa korek api yang ia gunakan untuk menyalakan lilin. Riska mengambil jaket dan mengenakannya lagi. Udara dingin ia rasakan lagi setelah Ryan membuka lebar pintu kamar.  Riska kembali berbaring. Matanya mengantuk tapi hatinya bahagia bukan kepalang. Tak sabar rasanya ia menceritakan pada kedua sahabatnya tapi ia juga tak ingin malam ini cepat berlalu. Karena mungkin tak ada malam seperti ini lagi. Ryan membasuh wajahnya. Air yang mengalir dari kran telah menormalkan deru nafas dan hasratnya yang hampir saja membuatnya hilang kendali. Jika saja Riska tak memanggil namanya mungkin malam ini ia lalui seperti sahabatnya pernah lakukan. Sex. Riska memang wanita pertama yang ia ciumi dan cumbu tapi ia tak ingin merusak hubungan yang baru saja mereka rajut dengan hal yang terlalu intim. Bukan Ryan tak ingin melakukannya. Ia pria normal dimana naluri laki-lakinya menginginkan itu. Tapi tidak untuk sekarang. Ia butuh waktu yang tepat dan sama-sama menginginkannya. Menjadi siswa kelas 3 SMA yang tak lama lagi melaksanakan ujian kelulusan adalah prioritas utama. Belum lagi mendaftarkan diri pada sebuah kampus yang menjadi tujuan dari cita-citanya, menjadi desainer interior.  Menjalin hubungan secara santai adalah yang ia inginkan sekarang. Ia takkan tergiur dengan bisikan sahabat dan kawannya yang selalu menyuruh untuk segera menghilangkan keperjakaannya. Karena ia yakin Tuhan telah menyiapkan jodoh yang baik untuknya kelak. Walau tak tahu wanita yang akan ia nikahi nanti. Ryan kembali ke kamar. Ia terkejut Riska belum tertidur dan teringat jika gadis itu takut akan gelap. Walau kamar hanya diterangi dengan cahaya lilin itu tak mengubah raut wajah Riska yang terlihat ketakutan. "Kenapa? Apa kamu takut?" Riska mengangguk dengan wajah melasnya, "Ya.." Ryan menutup kamar lalu berbaring di sampingnya lagi, "Tidurlah. Aku menemani mu malam ini." Riska menurut dan membaringkan tubuhnya lagi.  Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Ryan menggenggam tangannya, "Kau tahu, Ris?" "Apa?" Riska bertanya setengah berbisik. "Aku sudah lama menyukaimu. Aku.." Ryan berhenti bicara melihat mata Riska sudah terpejam. Ia langsung tidur terlelap. Ryan menghela nafas sambil tersenyum menatap wajah tenang Riska, "Seandainya kau tahu siapa aku yang sebenarnya, Ris.." ia menutupi separuh tubuh Riska dengan selimut lalu mendekapnya, "Mungkin sudah lama kita pacaran." sambungnya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN