Be My Girlfriend, Please

1402 Kata
Hangat… Bibir Riska terasa hangat.. Dua kali.. Ya, dua kali Ryan mengulum bibirnya.. Riska membuka mata perlahan. Ia bisa menghirup hembusan nafas aroma rokok  dengan jelas dari hidung mancung yang beradu dengan hidungnya. Bibirnya menjadi basah dan terasa manis. Berkali-kali jantungnya berdetak kencang dan wajahnya memerah, tapi kali ini dibarengi laju darahnya yang mengalir cepat seperti bom waktu. Seandainya saja ia bisa menghentikan waktu sekarang, ia ingin merasakannya lagi.  Ciuman pertamanya.. "I want more, Yan." Riska meminta dalam hati. Dengan penuh kesadaran ia menginginkan ciuman itu lagi. Ryan berbisik. "Aku menyukaimu, Ris,"  Riska tersadar.  Ryan tengah memandangnya sekarang dengan hasrat yang sama. Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. Mereka terdiam terpaku. Saling berusaha menormalkan laju darah dan detak jantung walau wajah mereka merah dan masih bersentuhan. 'Kring..kring..kring..' Dering handphone mengejutkan mereka dan membuat Riska menjadi salah tingkah. Ia spontan bangkit dari sofa dan berjalan mendekati jendela lalu menerima panggilan yang masih berdering dari saku celana trainingnya. "Hallo, Pa?" Riska memulai percakapan bersama Ardi. Wajah Riska memucat, tangannya sedikit bergetar mendengar kabar yang sedikit tak mengenakkan malam ini. "Tapi kalian baik-baik aja, kan? Gak terluka? Lalu, apa kalian gak pulang?" Riska mencecar beberapa pertanyaan pada Ardi seperti seorang jurnalis kepada narasumbernya. Ryan yang memperhatikan sejak tadi menjadi penasaran. Ia mendekati Riska, "Ada apa, Ris?"  Riska memberikan handphone. "Papa ku mau bicara denganmu, Yan." suaranya bergetar, ia melangkah lemah ke sofa dan duduk terdiam. "Hallo, Om?"  Riska memperhatikan Ryan berbicara pada Ardi dengan santai. Tak ada kecemasan sama sekali, bahkan terdengar mereka sempat tertawa.  "Ok, Om. Jangan khawatir, disini aman," “Aku akan menjaganya. Dia baik-baik saja kok.” "Ok..ok." Ryan mengakhiri panggilan kemudian memberikan handphone pada Riska lagi, "Kamu gak usah khawatir. Besok pagi mereka pasti pulang kok." ia duduk disamping Riska yang terlihat cemas, "Mereka beruntung gak kena longsor, tapi jalan ke arah kesini tertutup. Jadi mau gak mau, harus nunggu alat berat dulu buat bersihin jalan." Ryan menatap Riska lagi yang masih tertunduk dengan mata mengembang. Ia merangkul bahunya sambil mengusap pelan. "Sudah..gak usah sedih. Mereka baik-baik aja kok, Ris," sekali lagi ia menenangkan Riska. Tapi kali ini air mata gadis itu menetes. Ryan yang melihatnya terheran, ia merasa tak salah bicara atau menyinggung perasaan Riska hingga membuatnya menangis. "Loh kok kamu malah nangis? Aku salah ngomong ya?" Ryan mengangkat wajah Riska. Riska menggeleng. Yang Ryan katakan memang tak ada yang salah hanya saja hatinya menjadi sedih. "Gak. Kamu gak salah ngomong, Yan. Aku...aku cuma gak mau kehilangan mereka," ia mengusap pipinya yang basah, "Hanya mereka yang aku punya sekarang. Keluarga Mama di bandung semua, sementara Papa, yatim piatu dan gak punya saudara dekat lagi. Aku gak bisa bayangin kalau aku sendiri. Aku--" "Sstt--" Ryan menaruh telunjuk pada bibirnya. Ia menggeleng dan menatap serius, "Kamu gak kehilangan mereka, jika 'Ya', kamu masih punya aku."  Ucapan Ryan membuat Riska  terdiam, tatapannya serius. Riska tak tahu apakah ucapan itu hanya sebuah motivasi atau tulus dari hatinya. Ia tak mau Ryan berkata seperti itu hanya karena sebuah ciuman tapi sebuah ketulusan. "Benarkah?" Riska memastikan ucapan Ryan lagi. Pria itu mengangguk dan memang terlihat tulus. Ryan membenamkan wajah Riska di dadanya. Ia menepuk punggungnya pelan, "Ya. Mulai hari ini, aku akan menemanimu setiap kali aku ada waktu." "Eh?" Riska tercengang, mendongak melihat Ryan, "Maksudmu?" ia menghentikan tangis dan menanti jawaban. Ryan tersenyum tapi membisu. Ia melepaskan rangkulannya lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu utama. 'Ctek' Ryan mengunci pintu.  'Deg...deg...deg…' Jantung Riska berdebar kencang, "Oh my God. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Malam ini aku berdua dengannya?"  Rasa sedih Riska berganti menjadi ketakutan. Bagaimana tidak ? selama 18 tahun ini ia tak pernah satu rumah dengan pria selain ayah dan adiknya. Tapi malam ini bersama pria yang baru saja menciumnya dan berjanji akan selalu menemaninya, walau ia adalah Ryan, pria yang ia idamkan sejak dulu.. Hujan masih turun deras tapi tidak dengan suara petir yang perlahan menghilang. Udara semakin dingin membuat Riska memeluk dirinya sendiri sambil melihat Ryan berjalan pelan setelah mengunci pintu. Tak ada senyum dari wajah tampan itu, pandangannya dingin. Tidak seperti tadi. Ryan kembali duduk di sofa. Kali ini ia mengosongkan bagian tengahnya, membuat Riska terheran dengan sikap Ryan cepat berubah. "Apa maksudmu?" tanya Riska, terheran. Ryan menoleh, tangannya mengeluarkan sebatang rokok. "Apa?" "Ucapanmu tadi." "Yang mana?" "Yang kau bilang akan menemaniku mulai hari ini." Ryan menyelipkan rokok di mulutnya. "Oh itu. Kamu mau?" "Eh?" Ryan menyulut rokok dan menghisapnya pelan, "Jadi pacarku." pinta Ryan, santai. Riska terdiam. Hatinya seakan telah di bombardir dengan sebuah bom atom yang memberinya sejuta rasa. Kata itulah yang ia nanti dari bibir Ryan, bukan dari pria lain yang selama ini ia dengar. Dan malam ini...ia sedang beruntung. Ya, Dewi Fortuna sedang memihaknya sekarang. Ryan sudah 'menembaknya' sekarang ! Tanpa Riska sadari bibirnya tersenyum lebar, tapi ia bingung memberi jawaban. Jika ia menjawab 'Ya' sekarang, takut disangkanya terlalu cepat dan gampangan. Jika 'Tidak' itu tak mungkin karena ia memang sudah lama menunggu hari ini, hari dimana Ryan menembaknya. Riska mengambil sebatang lilin dan menyulutnya pada lilin yang sudah menyala. Ia bangkit, "Aku ke kamar mandi dulu." "Perlu aku temani?" "Tidak!" Wajah Riska memerah, ia bergegas menuju kamar mandi yang terletak di sebelah kamar. Sementara Ryan terkekeh melihat sikap Riska yang malu-malu, tapi itulah nilai lebih dari gadis itu. Pemalu. Riska menaruh lilin di wastafel sambil bercermin. Ia menyentuh bibir dengan jari telunjuknya,"Manis…" ia bergumam lalu mengatupkan kedua bibirnya. Wajahnya memerah lagi mengingat kejadian saat mereka berciuman. Sebuah rasa yang unik. Lembut, manis, hangat dan beraroma rokok.  Riska tersenyum sendiri, rasa bahagianya berlipat ganda. Setelah merasakan ciuman pertama, Ryan meminta untuk menjadi kekasihnya. Ya, kekasih dari pria yang tidak pernah mengenalkan gadis lain pada Jane dan ia lah yang pertama masuk daftar wanita yang akan Jane ketahui sebagai kekasih. Bukan sebagai anak dari kawan lamanya. Satu-satunya yang Riska pikirkan sekarang adalah cara menjawab perasaan Ryan dengan cara yang tak terlihat terburu-buru, agar tak dinilai sebagai w**************n. Tapi sayangnya.. ia buntu ide. Melihat lilinnya semakin memendek Riska bergegas keluar dari kamar mandi. Ia kembali melangkah menuju sofa dan menemukan Ryan sudah berbaring disana. "Sudah tidurkah?"  Riska berjalan dan melihatnya lebih dekat lagi. Mata Ryan terpejam, wajahnya terlihat naif dan tenang.. "Aduh.."  Riska terjatuh di atas tubuhnya setelah Ryan berhasil menarik tangannya. Ia meringis kesakitan dadanya beradu dengan d**a bidang Ryan lagi. Dan jantungnya berdetak kencang melihat Ryan membuka mata lalu tersenyum. "Disini aja." pinta Ryan, melingkarkan kedua lengan di punggung Riska dan memeluknya erat. 'Deg..deg..deg..' Riska memohon, "Lepaskan, Yan." "Apa jawabanmu?" "Eh? Jawaban apa?" Riska pura-pura tak tahu. "Kita pacaran." Ryan mengendurkan pelukannya. Riska bangkit lalu berdiri memunggunginya agar Ryan tak bisa melihat wajahnya yang memerah. "Duduklah," Ryan menariknya lagi agar duduk disofa, lebih tepatnya mengapit tubuhnya dari belakang. Ia memeluk dan menyandarkan dagu di bahunya, membuat Riska bergidik merasakan hembusan nafasnya yang hangat. "Lepaskan, Yan," Riska sedikit meronta tapi Ryansemakin mengeratkan pelukannya.  "Tidak, Ris. Sebelum kamu menjawab perasaanku." ancamnya, walau tidak serius. "Bukankah kamu sudah punya pacar?" tuduh Riska, berpura-pura tak mengetahui status jomblo Ryan. "Gak punya," Ryan menggeleng, "Kalau kamu terima, kamu yang pertama." "Apa?" Riska menoleh tapi pipinya beradu dengan hidung mancung Ryan, "Kamu kan ganteng, mana mungkin kamu gak punya pacar." "Itu benar kok. Kalau kamu gak percaya tanya aja Mama ku atau.." Ryan merogoh saku dan menyodori handphonenya, "Sahabatku." Menyakini Riska. Senyum Riska mengembang, sepertinya ia tak perlu menunda waktu untuk memberi jawaban. Dari jawaban Ryan dan ucapan Jane sudah meyakini jika ia memang jomblo. "Santai, Ris. Kamu harus jual mahal dulu," ucapnya dalam hati, berusaha tenang walau rasanya ia ingin menari lagu baby dari Justin Bieber sekarang. "Kalau aku nolak kamu gimana?" tanya Riska, mengetes kesungguhan Ryan lagi. Ryan tertawa dan mengeratkan pelukannya, "Aku akan nembak kamu terus, sampai kamu bilang 'Ya'." jawabnya, ia tahu Riska menyukainya juga. Bahkan sejak lama. Gadis itu hanya pura-pura jual mahal sekarang. Riska tertawa kecil. Tak menyangka jika Ryan yang terlihat cuek pada wanita ternyata bisa juga bertingkah flamboyan layaknya seorang perayu ulung.  "Jika aku menerimamu?" Tanya Riska lagi, tersipu malu. Secara tidak langsung mengutarakan jawaban.  "Kita resmi jadian hari ini. Aku jadi pacarmu." ucap Ryan. Ia yakin Riska menerima cintanya malam ini. Dari bahasa tubuh, Riska tak menepis pelukannya semenjak adegan ciuman tadi. Sikap Riska welcome walau berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya, dan ia tahu alasan Riska bersikap demikian. Dan ia menyukainya.. Riska bangkit dan melepaskan kedua lengan Ryan yang melingkar di perutnya. Ia merasakan suhu tubuhnya naik satu derajat. “Tidak, aku harus bisa mengontrol pikiran dan tubuhku!” ucapnya dalam hati. "Kau mau kemana?" Tanya Ryan yang terheran. Riska terdiam tak menjawab dan berjalan ke arah jendela dan menyibak gorden. Gelap.  Hujan mulai reda walau tak sederas tadi. Udara semakin dingin, ia butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya. Cardigan? Kaos dan cardigannya basah begitu juga celana jeansnya. Sedangkan jaket ia simpan di kamar villa, tentu saja tak bisa mengambilnya sekarang. "Apa jawabanmu, Ris?" Ryan mendekap dari belakang dan kembali menagih jawaban.  Riska menguap lalu berbalik, "Bersabarlah, Yan."  "Ayo ikut aku," Ryan menarik tangannya. "Hei kau mau membawaku kemana?" Ia mengikuti langkah Ryan yang tergesa-gesa. "Kamar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN