My first Kiss

1040 Kata
Ryan berulang kali mengedipkan bulu matanya. Ada sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya ketika buah d**a Riska terasa hangat menyentuh kulitnya yang dingin. Horny ! Bagaimanapun juga ia adalah pria normal yang bisa h***y sewaktu waktu. Seperti sekarang. Seketika penisnya menegang, darahnya melaju cepat dan nafasnya mulai terasa tak beraturan. Mereka saling berpandangan. "Sorry." Riska bangkit dari tubuhnya. Ia mengambil handuk kecil itu lagi dan berjalan ke arah jendela. Ia menggigit bibir bawahnya, kali ini terasa sakit. "Aduh..kenapa aku bisa jatuh di atas tubuh dia sih?! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Riska mengutuk dirinya telah terjatuh diatas tubuh Ryan. Ia tak menyangka, niatnya untuk mencubit malah membuat mereka seperti pasangan yang sedang b******u. Untung saja bibirnya tak beradu, jika itu terjadi ia tak menjamin malam ini bisa melewatinya dengan baik. Setidaknya sudah terjadi beberapa adegan ciuman seperti pada novel yang sering ia baca.  Ryan masih dalam keadaan terlentang di atas sofa. Ia meraba dadanya yang perlahan dingin. Sesuatu yang terasa kenyal dan hangat tadi hampir membuatnya mabuk kepayang. Laju darah dan nafasnya kembali normal. Kecuali satu. Penisnya masih menegang. Ia melirik ke arah Riska yang masih berdiri didepan jendela dekat pintu utama sambil mengusap-usap rambutnya lagi. Ia tahu jika gadis itu pasti merasakan hal yang sama. Bibir ranumnya sempat terbuka, seakan siap untuk ia kulum. Ryan menggeleng beberapa kali untuk tak terlalu membayangkan hasrat liarnya yang mulai menggoda untuk melakukan sesuatu yang pernah kawannya lakukan. Sex. Ryan bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar sebelah tangga. Tiba disana ia push up untuk menormalkan 'hormonnya', tidak mungkin ia menemui Riska dalam keadaan p***s yang menegang seperti itu, walau nurani pria nya menginginkan hal yang lebih dari tadi. Gadis itu terlalu menggoda hatinya dan buah dadanya yang hangat… Ryan menambah kecepatan push up nya karena teringat dan membayangkan hangat dan besarnya p******a Riska. Setelah merasa mulai normal, ia berhenti dan bangkit lagi, melirik ke arah tas yang berisi pakaiannya. Ryan mengambil dua kaos, satu celana training dan celana pendek. Ia mengganti celana jeansnya yang setengah basah dengan celana pendek lalu mengenakan kaos berwarna putih. Sesudahnya Ryan beranjak keluar kamar menemui Riska lagi. Gadis itu duduk di sofa, masih seperti tadi. Dengan wajah tertunduk. Ryan melempar training dan kaos biru. "Gantilah bajumu. Aku harap celana itu muat," pinta Ryan. Riska mengangkat wajah dan menerima setelan baju itu. Ia memang membutuhkannya sekarang. Ryan menunjuk kamar dengan jempolnya. "Kamu bisa menggantinya di kamar aku," ucap Ryan lagi. "Baiklah. Thanks bajunya," Riska mengangkat setelan itu sambil berjalan menuju kamar. "Oya, Ris--," Riska menoleh, "Ya?" "Kamu bisa taruh bajumu yang basah di kantong plastik warna hitam dekat ranjang. Itu sudah aku siapin buat kamu," Riska mengangguk dan tersenyum. "Oke, Thanks, Yan." Kembali berjalan menuju kamar. Tiba dikamar Riska membuka seluruh pakaiannya. Celana training itu memang pas hanya saja kepanjangan, dan itu wajar karena Ryan lebih tinggi darinya. Mungkin dengan selisih tujuh sentimeter. Riska mengamati kaos biru yang mengeluarkan aroma parfum ciri khas Ryan. Entah mengapa ia menyukai parfum itu walau sebelumnya ada aroma parfum lainnya yang pernah membuat hatinya berdebar kencang juga. Seseorang yang sudah lama tak ia temui. Setelah mengenakan pakaian, ia keluar menenteng pakaian basahnya yang sudah dibungkus dengan kantong plastik lalu menuju sofa lagi.  Ryan berjalan dari arah dapur membawa dua mug berisi s**u hangat dan menaruhnya di atas meja. "Kamu pantas pakai baju itu," pujinya, sempat tertawa melihat Riska mengenakannya dengan cara menggulung celana trainingnya. Riska menaruh bungkusan bajunya di bawah dekat sofa. "Celananya kepanjangan, aku harus menggulungnya biar enak dipakai." Memberi alasan. Ryan duduk dan menepuk sofa. "Duduklah. Aku sudah buatin s**u hangat buat kamu dan ini--" Ryan membuka kantong putih berisi beberapa biskuit. "Buat cemilan kita malam ini." Riska menuruti ucapan Ryan. Entah sejak kapan ia menjadi penurut pada pria yang baru saja ia kenal walau sudah dua tahun lamanya mereka saling bertemu.  Ia duduk di sofa three seater tak jauh dari Ryan, hanya mengosongkan bagian tengahnya. "Kamu gak perlu repot-repot buatin aku s**u, Yan. Aku bisa buat sendiri kok," ucap Riska, memegang mug dengan kedua tangannya dan menyeruputnya pelan. Ryan tertawa kecil mendengar ucapan Riska. "Anggap aja itu ucapan permohonan maafku sudah ngacak-ngacak rambutmu, Ris." Sambil membuka biskuit kemasan. "Lagi pula dingin begini enak minum yang hangat-hangat." Riska mengambil biskuit dari sodoran tangan Ryan lalu mengunyahnya pelan. 'Deer' Suara petir membuat Riska terlonjak kaget dan spontan menutup kedua telinganya dengan mata terpejam. "Aakh!" Riska berteriak mendengar suara petir itu lagi dan kali ini mereka bersahut-sahutan. 'Tep' Gelap.. Ruangan menjadi gelap setelah petir kencang tadi menggelegar. 'Ctik...ctik'  Ryan menyalakan korek api gas. Riska membuka mata walau kembali memejamkan  melihat kilatan cahaya petir dari luar. Ryan bangkit, "Kamu tunggu disini dulu ya, aku ke dapur dulu cari lilin." "Baiklah. Tapi jangan lama-lama, Yan," Riska memohon dengan suara melas. Ia memang banyak menakuti sesuatu, termasuk suara petir dan ruangan gelap gulita. "Iya..Sayang," sahutnya sambil tersenyum nakal berjalan menuju dapur. What? Sayang?! Wajah Riska memerah sambil memutar kepala mengikuti arah Ryan ke dapur. Ryan membuka kitchen set. Dari sekian banyak pintu lemari kecil itu, hanya menemukan 3 batang lilin saja itupun sudah terpakai sebatang. Ia menyalakan satu dan membawa yang lainnya ke meja sofa. Riska duduk dalam keadaan menutup kedua telinganya setiap kali petir itu kembali menggelegar di atas villa mereka. Ryan yang melihatnya, menggeleng terheran. Bukan kepada Riska saja tapi hampir setiap gadis yang menakuti suara petir, begitu juga dengan Jane, ibunya. Ryan kembali duduk, kali ini tepat di sampingnya.  Ia meraih kedua tangan Riska dan menggenggamnya.  "Eh?" Riska terheran dengan Ryan yang tiba-tiba menggenggam kedua tangan dengan pandangan serius. 'Deg..deg..deg…' "Kamu gak usah takut. Aku disini," ucap Ryan berusaha menenangkan. Tangan gadis itu perlahan menjadi hangat tak sedingin tadi. Riska menggeleng lemah, matanya memicing ketika suara itu datang lagi. "Aku takut dengarnya, Yan." 'Deer' Ryan menutup kedua telinga Riska dengan telapak tangannya. "Sekarang gimana? Masih takut?" Riska menggeleng. "Lebih baik," sahutnya yang hanya samar-samar mendengar suara petir. Begitu juga dengan suara Ryan. Riska memang merasa lebih baik tapi tidak dengan jantungnya yang sejak tadi berdebar kencang. Mungkin Ryan bisa mendengarnya walau suara hujan semakin deras. Ryan melepaskan tangannya. Ia mengusap bibir Riska dengan ibu jarinya pelan. "Ada sisa biskuit di bibirmu." "Eh?" Riska sempat mengatupkan bibirnya sebentar. Pandangannya masih tertuju pada Ryan tak lepas memandangnya sejak tadi. Ryan kembali menyentuh wajahnya tapi kali ini bukan menutupi telinga melainkan kedua pipinya.  Riska mengerutkan dahi. "Ada apa? Aku--" "Aku menyukaimu, Ris." Ryan memiringkan wajah dan mendekatkan bibirnya pelan. Mata Riska spontan terpejam. Baru kali ini ia merasakan sesuatu hangat dan mengulum bibir bawahnya. Selain hangat ada sedikit rasa kenyal dan aroma rokok. Dan ia tersadar bahwa yang ia rasakan sekarang adalah kissing.  Sebuah ciuman pertama dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN