Takdir Allah 31 - Cafe 1

1844 Kata
Ezra dan Aisyah sedang duduk di sebuah kafe di Itaewon, Korea Selatan. Ini peretemuan kesekian untuk mereka. Ezra telah memesan makanan dan minuman untuk mereka sebelum Aisyah sampai. Gadis itu tampak cantik, dengan cardigan tebal serta celana panjang miliknya. Ezra mengamati wajah Aisyah, dimulai dari alis gadis itu, hingga dagu. “Maaf aku terlambat, ada badai salju tadi.” Aisyah masih menepuk-nepuk pelan salju yang berada di cardigannya. Aisyah baru saja tiba dua menit yang lalu, ia bersyukur bisa sampai di tengah badai salju. Cuaca hari ini berubah-ubah, dari balik jendela kafe salju turun sangat deras padahal dua jam lalu masih sangat cerah. “Tidak masalah, salahku karena mengajak beretemu hari ini.” Ezra ikut menatap salju yang jatuh di luar jendela.. Aisyah terkekeh, “Kalau begitu, salahkan saljunya yang tiba-tiba turun.” Ezra tertawa lepas mendengar ucapan Aisyah, lagi-lagi pria itu menatap wanita di depannya lekat, pandangannya terkunci di bibir Aisyah. Bibir yang merah merekah yang membuatnya salah fokus sejak tadi. Pria itu segera mengalihkan pandangannya, ia melihat beberapa salju masih berada di beberapa helai rambut Aisyah, refleks menepuk-nepuk puncak kepada Aisyah agar salju itu jatuh. “Eh,” Aisyah terkaget dengan tindakan Ezra yang tiba-tiba. Jantung Aisyah tiba-tiba berdetak kencang, buru-buru merapikan rambutnya. Sementara, Ezra menarik tangannya dari kepada wanita cantik itu, suasana tiba-tiba menjadi canggung akibat tindakan Ezra. Pria itu berdehem untuk mengalihkan perhatian Aisyah. Sementara, Aisyah sibuk mengendalikan detak jantungnya takut jika Ezra mendengarnya. Getar bel meja mengalihkan perhatian keduanya, Ezra mengambil bel meja itu lalu menuju kasir, mengambil pesanan lalu kembali ke meja mereka. “Hot chocolate and cheese cake.” Ucap Ezra yang mengetahui makanan favorit Aisyah. “Thanks,” Aisyah berterima kasih lalu menyeruput pelan coklat panasnya. Ezra tersenyum, “My pleasure, dear.” Aisya mendengkus pelan, lagi-lagi jantungya berdetak tidak normal akibat perkataan pria itu. “Sebenarnya, ada apa kau meminta bertemu hari ini?” tanya Aisyah sembari menyendok potongan kue. Ezra menatap Aisyah, sebenarnya dia agak ragu menanyakan hal yang saat ini terus berputar dibenaknya. “Apakah aku boleh bertanya sesuatu? Sepertinya pertanyaaku ini tergolong tentang privasi.” Aisyah megangguk, mempersilahkan pria itu untuk mengajukan pertanyaan. “Apa kamu percaya tuhan?” Aisyah tersedak coklat panasnya ketika mendengar pertanyaan Ezra. Matanya membulat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia pikir pria itu akan mengajukan pertanyaan biasa, seperti pembahasan-pembahasan mereka kemarin. Ezra ikut panik ketika melihat Aisyah terbatuk, pria itu membantu Aisyah dengan menepuk-nepuk leher gadis itu. Sedikit merasa bersalah karena menanyakan pertanyaan itu. “Tentu saja, Ezra. Aku percaya dengan adanya Tuhan.” jawab Aisyah ketika batuknya reda. Perlahan, Ezra menghembuskan napas panjang. “Sebenarnya, aku juga nggak tahu kenapa aku bisa bertanya seperti ini. Tetapi, aku selama ini pergi ke berbagai negara untuk mencari sesuatu yang penting di dalam hidupku, aku juga nggak tahu apakah pertanyaanku ini akan membawaku kepada kesempurnaan hidup yang sebenarnya.” “Tapi, apakah perasaanmu menuntunmu untuk menanyakannya?” tanya Aisyah. Ezra menganggukkan kepalanya dan membuat Aisyah sempurna tersenyum. Aisyah melupakan coklat panas dan kuenya, ia lebih tertarik dengan pembahasan Ezra. Pria itu terdengar sangat serius, sepertinya Ezra akan menceritakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. “Aku ragu akan mendapatkan hal yang kucari, tetapi kenapa tidak mencoba. Setelah berpikir aku memutuskan untuk berbicara kepadamu terlebih dahulu.” Aisyah menatap mata Ezra lekat, menilai apa yang baru saja dikatakan pria itu jujur atau tidak. Ketika mendapatkan kejujuran di mata pria itu, Aisyah hanya bisa terdiam. Pria ini, sudah kesekian kalinya membuatnya terkagum. “Apa kau ingin berbicara di tempat yang lebih nyaman? Maksudku kita pindah dari café dan membicarakannya dengan santai di tempat yang tidak ramai.” Tanya Aisyah. Ezra menyapu pandangannya ke sekitar kafe, tempat itu dipenuhi pengunjung dari segala usia lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, aku suka tempat ini. Suasananya sangat mendukung apalagi dengan musik yang mengalun lembut.” Aisyah melebarkan senyum, dia kembali meminum cokelatnya. Lagipula tidak ada yang bisa mengerti apa yang mereka bicarakan. Mengingat mereka berada di Korea dan mereka berbicara dengan bahasa Indonesia. “Bagiku ini sangatlah rumit, Aisyah. Aku cukup terbebani dan membuat semua pekerjaanku terlantar hanya untuk melakukan ini dan setelah beberapa lama mencari, hidupku masih terasa sama.” ucap Ezra jujur. Aisyah tersenyum, “Sebenarnya tidak rumit, Ezra.” “Hah?” Ezra tidak setuju dengan ucapan Aisyah, bagaimana wanita cantik di depannya ini menyepelekan hal yang selama ini sangat susah untuknya. “Sama sekali tidak akan rumit, jika kau menemukan orang yang tepat untuk menjelaskan kepadamu tentang semua pertanyaan yang kau ingin ketahui jawabannya.” Ezra menatap meja dengan pandangan penuh arti, “Aku sudah bertanya kepada banyak orang, bahkan mendatangi beberapa tempat ibadah di beberapa negara yang aku singgahi, tetapi aku tidak puas dengan jawaban mereka.” “Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu menanyakan hal ini?” Ezra memandang Aisyah, ini sudah ia lakukan beberapa kali sejak mereka berada di dalam café itu. Sementara diluar, badai salju sudah mereda, menyisakan butiran putih yang turun secara perlahan. Entah kenapa, Ezra bertanya tentang ini kepada Aisyah, ia hanya merasa nyaman berada di dekat gadis itu, padahal awalnya mereka hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertemu. Ezra memang sempat ragu bertanya tentang hal ini kepada Aisyah, karena takut akan membuat gadis itu menjauh. “Aku ingin mengetahui apakah tujuan manusia hidup di dunia, apakah hanya hidup seperti ini lalu mati? Seolah-olah semua manusia hanya menjadi boneka.” “Bukankah itu dasar-dasar kehidupan yang harus di ketahui. Maaf, tapi apakah kamu pernah menganut agama sebelumnya? tanya Aisyah dengan lembut. Ezra mengangguk, “Dulu aku sempat mempunyai agama, tetapi berhenti menganutnya karena tidak mau di atur. Dulu menurutku, agama hanya membuat hidup susah, sementara aku tidak pernah mendapatkan pembelajaran apa-apa dari melakukan ajaran agama itu, aku merasa hampa. Aku tahu ada yang menciptakan dunia ini dan isinya tetapi aku belum mendapatkan jawaban pasti, pasti ada tujuan kenapa aku diciptakan.” Aisyah mengangguk-angguk, sedikit lama mencerna apa yang Ezra katakan. “Semangat kamu ingin mengetahui segalanya itu sangat bagus, kamu tinggal mencari orang yang tepat Erza dan semua apa yang membuatmu penasaran akan terjawab.” Alis Ezra terangkat mendengar ucapan Aiysah, “Benarkah? Tetapi, sangat sulit untuk menemukan orang yang bisa menjelaskannya Aisyah. Sekarang, bahkan untuk berbicara denganmu aku harus mengumpulkan keberanian.” “Karena sebenarnya kamu sudah tahu, Za. Cuma kamu butuh untuk mencari bukti dan penjelasan yang menurutmu masuk akal. Manusia hidup di dunia ini bukan untuk menjadi boneka. Semua ada tujuannya dan aku hidup dengan kepercayaan itu.” “Bagaimana itu bisa terjadi, aku sama sekali belum menemukan jawaban dari hal itu?” tanya Ezra. “Tentu saja! Itulah kenapa kau mencarinya.” Aisyah sangat kaget ketika intonasi suaranya ternyata sangat tinggi, ia sepertinya terlalu bersemangat. Aisyah tersipu malu ketika beberapa orang menoleh ke arah meja mereka, ia menunduk malu dan kembali meminum coklatnya yang telah dingin. Sementara Ezra hanya menggaruk kepala yang tidak gatal, merasa salah tingkah karena orang-orang memperhatikan mereka. “Baiklah, Ay.” Ezra melebarkan matanya, sepertinya ia sudah mendapatkan panggilan yang cocok untuk gadis itu, lidahnya belum terbiasa menyebut nama Aisyah. “Aku juga bertanya-tanya kenapa kita harus hidup di dunia ini dengan melewati aturan yang telah di tetapkan sebelumnya?” Aisyah bingung, “Aturan apa?” “Aturan tentang adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, kehidupan dan kematian, adanya proses kehidupan dari kehidupan sampai kematian?” Ezra mengungkapkan pendapatnya. “Itu semua bukanlah siklus yang dibuat secara ajaib oleh manusia. Walaupun banyak ilmuwan  yang sudah membahasanya tetapi menurutku teori mereka sangat tidak tepat.” “Apa kau sudah mencoba mencari jawaban dari pertanyaanmu dari berbagai narasumber?” Aisyah bertanya kembali. Ezra mengangguk, “Tentu saja, aku membaca beberapa artikel tapi yang ku dapatkan hanya tentang beberapa orang yang mengaku sebagai tuhan atau bahkan nabi. Tapi, dari artikel itu aku tahu, jika orang-orang itu tidak memiliki sifat seperti tuhan, mereka adalah manusia. Tidak akan bisa menciptakan dunia ini.” “Ucapanmu memang benar, selama ini kau sudah tahu lebih dari sedikit. Itu sudah sangat bagus Ezra. Sekali lagi aku sangat kagum dengan ketekunanmu dalam mencari tahu.” Aisyah memandangi sekitar, merasa pelanggan jika silih berganti sudah datang dan meninggalkan café, kecuali mereka. “Kamu muslim, bukan?” tanya Ezra, merasa kagum. Tidak menyangka berbicara dengan gadis yang berbeda beberapa tahun darinya cukup menyenangkan bisa berbagi pikiran. “Benar, agamaku islam dan aku orang muslim. Tetapi, aku masih sangat jauh untuk melakukan semuanya dengan baik dan benar.” Jawab Aisyah sembari menatap jendela dengan tatapan menerawang. Dia berkata jujur, Aisyah belum memiliki banyak pengetahuan tentang agamnya. Selama ini, dia hanya tahu sholat 5 waktu itu wajib dan beberapa aturan dasar lain. Bahkan hanya sekedar tahu, dia melakukan shalat juga terkadang ketika ingat atau ketika sedang takut kepada Tuhan. “Walaupun aku beragama islam sejak lahir, tetapi aku terus mengingkarinya Erza. Dulu bahkan sampai beberapa hari yang lalu aku selalu melakukan banyak kesalahan tanpa menyadarinya dan itu bertentangan dengan agamaku, termasuk hal-hal kecil. Kita berpegangan tangan, atau aku yang tidak memakai penutup kepala.” Aisyah beristigfar, merasa benar-benar bodoh karena sempat memikirkan hal itu. “Tapi, aku sudah belajar dan akhirnya ikhlas setelah berpikir jernih jika kehidupan ini hanya sebentar dan kita tidak ada apa-apanya di dunia ini.” Ezra menatap Aisyah, “Kamu terlihat sangat mudah mengatakannya, Ay. Apakah kamu sanggup menjalankan semua aturan itu? Aku pikir sangat susah melakukannya, kehidupan kita tidak akan pernah bisa bebas.” “Awalnya memang aturan itu sangat membebaniku, Za. Lihat saja bertahun-tahun aku tidak melirik atau bahkan melakukannya dengan benar. Tetapi, mungkin aku diberikan kesadaran oleh Tuhan. Di dalam Islam semuanya indah Za. Semua aturan membuat manusia hidup lebih baik.”  “Bagaimana bisa? Itu sangat mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.” Ezra membantah ucapan Aisyah. “Tentu saja tidak, aku hanya butuh beberapa menit istirahat untuk beribadah dan ketika sudah terbiasa, itu akan menyatu dengan aktivitas. Tidak ada keterpaksaan untuk melakukannya lagi, bahkan akan terasa janggal jika tidak melakukannya.” Sejak awal pembahasan seperti ini memang pelik, apalagi mereka berbeda keyakinan. Aisyah melirik jam tangannya, hampir pukul tujuh, itu berarti mereka hampir duduk di kafe ini selama tiga jam. Aisyah merasa kepalanya pening, ia tidak pernah berdebat dengan orang seperti Ezra. Bahkan, teman-teman sekantornya pun pernah berdebat dengannya tetapi tidak sampai menghabiskan energi seperti ini. “Fungsi agama bukan untuk memperbudak, tapi untuk menjaga manusia. Menurutmu bagaimana jika semua apa yang terjadi dikehidupan kita ini tergantung pandangan dan pendapat masing-masing tanpa aturan berlaku? Contoh kecilnya di café ini Za? Bagaimana jika aturan duduk di kursi tidak ada? Kita akan duduk di mana saja, di atas meja atau di lantai, keadaannya akan kacau sekali. Sekali lagi, aturan itu bukan membuat kita di perintah seolah menjadi boneka, tetapi membuat kita terjaga dan hidup selayaknya manusia.” Ezra terdiam, dia memikirkan perkataan Aisyah. Sedikit banyak apa yang gadis itu katakan itu masuk akal. Logika manusia memang tidak sama satu sama lain, mereka masing-masing punya pendapat, keperluan dan kebutuhan yang berbeda. Ezra merasa prinsip yang ia pegang selama ini runtuh seketika mendengar pendapat Aisyah. Penjelasan yang Aisyah katakana mudah di terima dan tidak bertele-tele. …  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN