Takdir Allah 32 - Cafe 2

1608 Kata
Bersamaan dengan itu, mereka mendengar suara azan dari ponsel tetangga meja mereka. Mereka berdua menoleh dan mendapati ada sebuah keluarga tengah bercengkrama bersama. Aisyah melihat seorang wanita berhijab sedang menggedong anaknya, sementara sang pria buru-buru mematikan bunyi ponsel itu, takut mengganggu pelanggan lain. Mereka membersihkan meja lalu meninggalkan kafe itu. Ezra menatap Aisyah, “Bisakah kau jelaskan apa perbedaan antara islam dan muslim? Kupikir keduanya memiliki arti yang berbeda.” “Sangat jelas berbeda. Islam dan Muslim memiliki makna berlainan. Islam itu penuh kerahmatan, kedamaian, dan keindahan. Sementara Muslim adalah pemeluk agama Islam yang belum tentu memiliki makna sebagaimana Islam itu sendiri.” Ucap Aisyah. “Seseorang bisa disebut Muslim jika ia mengucapkan dua syahadat yaitu : Asyhadu al-la ilaha illa Allah, wa Asyhadu anna Muhammada (r) Rasulullah. yang dibarengi dengan keyakinan dalam hati dan melakukannya dalam perbuatan. Seseorang mengucapkan dua kalimat sayahadat namun tidak ada keyakinan tentang apa yang ia ucapkan, tidak disebut muslim. Seseorang yang mengucapkan syahadat dan menyatakan kepada orang banyak bahwa dia muslim, tapi hatinya tidak berkeyakinan demikian, disebut munafik. Seseorang yang mengucapkan syahadat, hatinya yakin apa yang dia ucapkan tapi ia belum mau melakukan 4 rukun Islam selajutnya (shalat, zakat, puasa dan haji) berarti imannya masih lemah. Seseorang yang mengucapkan syahadat, hatinya yakin dengan apa yang dia ucapkan, kadang-kadang melakukan ibadah tapi segala maksiat dia lakukan meskipun dia sadar bahwa perbuatannya itu adalah dosa/maksiat, para ulama menyebutnya Fasiq.” Aisyah menjawabnya dengan perlahan-lahan agar Ezra mudah memahaminya. Karena banyak istilah-istilah yang belum Ezra ketahui dan tentunya pasti membuat pria itu agak sedikit bingung. Ezra sebelumnya yang terlihat kaget mendengar ucapan Aisyah akhirnya dapat mengendalikan ekspresinya. Ia masih mencerna ucapan Aisyah, memikirkan apakah itu bisa diterima logikanya atau tidak. Beberapa menit kemudian, Ezra mengangguk pelan. Merasa penjelasan Aisyah sangat gampang untuk dipahami. Tetapi, perhatiannya malah ke arah lain. Ezra menatap sebuah keluarga yang baru saja keluar dari café, dan lewat tepat di depannya. “Aku beberapa kali melihat orang berpakaian seperti itu di negara ini? Bukankah itu pakaian dari timur tengah?” “Hah? Apa?” tanya Aisyah masih tidak mengerti dengan pertanyaan Ezra. “Aku tidak tahu apa sebutannya, tapi hampir mirip dengan pakaian yang digunakan wanita tadi.” terang Ezra. “Ah,” Aisyah mengangguk paham. “Itu bukan pakaian dari timur tengah, itu pakaian semua perempuan muslim. Pakaian yang dikenakan menutup aurat, yang dikenakan dari kepala sampai ujung kaki, kecuali wajah dan telapak tangan.” Ezra mengerutkan keningnya. “Apakah ada waktu tertentu untuk memakainya? Seperti hari sepsial?” “Tidak, malah di anjurkan untuk di pakai setiap hari apalagi ketika akan keluar dari rumah. Kamu mungkin heran, kenapa aku tidak menggunakannya, bukan?” tanya Aisyah. Ezra mengangguk, “Iya, tapi aku tidak bisa membayangkan jika kamu memakai pakaian seperti itu. Rambut kamu nanti tidak akan terlihat lagi.” Aisyah tertawa, “Memang tujuannya seperti itu, Erza. Tapi, aku hanya belum siap untuk menggunakannya. Mungkin nanti, atau aku perlu dorongan motivasi yang lebih agar bisa memantapkan hati untuk segera memakainya.” Aisyah sama sekali tidak ingin membela diri, itu memang salahnya. Ia lalai mengikuti perintah Allah. swt, bahkan mengabaikannya menjadi hal yang tidak penting dalam urutan ke sekian. “Aku pernah mengenakannya dulu, sudah lama sekali. Mungkin sebelum aku pindah ke negara ini. Saat masih bersekolah, yah sudah bertahun-tahun yang lalu.” Aisyah berkata jujur, ia memang pernah mengenakan jilbab tapi buka tutup serta ia juga sering memakai pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Perlahan Aisyah menenangkan dirinya, tiba-tiba ia merasa sangat bersalah. Rasa sedih tiba-tiba melingkupi hatinya, Aisyah ingin menangis. Selama ini, ia munafik, berpura-pura mengatakan apa yang ia yakini padahal di hati dan pikirannya tidak sejalan. Seperti saat ini, ia mengatakan hal tentang agama kepada Ezra padahal ia sendiri tidak menjalankan aturan dan kewajiban di dalam agamanya sendiri. … Aisyah membuka mukenahnya, ia baru saja selesai melaksanakan shalat isya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, itu karena ia sedikit terlambat pulang dan memutuskan makan malam di luar, tanpa Ezra tentunya. Mereka berpisah setelah keluar dari café, mungkin Ezra ada urusan. Aisyah masih memikirkan ucapannya tadi saat di café, merasa ia sangat berwawasan dan memiliki banyak pengetahuan, padahal kenyataannya sama sekali tidak. Aisyah juga masih sedang belajar, ia mencari tahu melalui buku yang ia beli secara online dan dari beberapa yang dibuat oleh orang di internet. Atau terkadang ia berdiskusi singkat dengan kakaknya. Aisyah : Assalamualaikum kak, ada waktu ngak? Abimanyu : Waalaikumsalam, dek. Iya, kebetulan kakak baru selesai shalat isya. Perbedaan waktu Indonesia dan Korea sedikit dekat. Hanya berbeda dua jam untuk wilayah Indonesia barat, satu jam untuk Indonesia tengah dan waktu yang sama untuk Indonesia timur. Itu yang membuat Aisyah masih normal untuk shalat isya di jam 10 malam karena waktu magirb di Seoul sekitar jam tujuh atau setengah delapan. Aisyah naik ke tempat tidurnya, ia menghubungi Abimanyu melalui panggilan video. “Assalamualikum, kak.” Sapa Aisyah begitu terhubung dengan Abimanyu. Abimanyu terlihat masih memakai kopiah berwarna hitam. “Waalaikumsalam, dek. Kenapa? Kok tumben malam-malam nelpon kakak? Biasanya kakak yang duluan yang telepon kamu.” Tanya Abimanyu. “Hm…sebenarnya Aisyah mau cerita kak.” Aisyah tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya. Abimanyu terlihat tertarik, jarang sekali adiknya ingin bercerita jika tidak ia yang bertanya. Abimanyu terlihat mengambil posisi duduk dengan besandar di kepala ranjang. “Boleh, kamu mau cerita apa?” Aisyah tampak berpikir, “Kak, Aisyah tadi ngobrol-ngobrol sama teman. Dia nanya-nanya tentang agama islam, kayaknya sih penasaran. Aisyah sudah sedikit menjelaskan tapi tidak banyak.” Abimanyu terkejut dengan ucapan Aisyah. “…tapi aku sudah jelaskan. Kalau di dalam agama, terutama Agama Islam, semua peraturan itu untuk membuat kita sebagai umat punya petunjuk hidup yang mengantar kepada kebaikan.” Tiba-tiba Aisyah menghela napas panjang seketika mengingat ucapan Ezra yang mengatakan kenapa ia tidak ikut memakai pelindung kepala juga. Abimanyu hanya diam, ia memberikan waktu untuk Aisyah bercerita. “Kebetulan pas bahas itu lagi mau masuk waktu magrib kak, terus ada satu keluarga lewat yang pakai hijab. Orang itu pasti berpikir kalau Aisyah tidak nyaman mengikuti aturan yang ada, jadi aku hanya bilang kalau belum siap untuk memakai hijab. Sekarang rasanya janggal, kak. Seperti ada yang salah.” Abimanyu tersenyum, “Pertama kakak mau bilang, Alhamdulillah, kamu sekarang bisa berbagi ilmu kepada orang yang belum memahami. Kakak aja belum tentu bisa kayak kamu dek, dari yang kakak tangkap, teman yang kamu ceritakan itu masih ada salah pemahaman tentang agama dan tentang agama Islam dan belum memahami apa indahnya menganut agama islam, makanya dia langsung bilang kayak gitu.” Abimanyu menjeda perkataannnya, “Nah, untuk yang masalah kedua. Kakak tahu, pasti kamu sedikit tersinggung pas teman kamu bilang ‘kenapa kamu nggak pake jilbab padahal sama-sama orang islam’, mungkin itu sinyal dari Allah buat kamu dek, cuma penyampaiannya dari teman kamu. Padahal dia cuma bertanya tanpa bermaksud menyinggung.” “…memakai jilbab dan hijab untuk menutupi diri itu wajib. Sangat banyak orang yang masih salah paham tentang jilbab, mereka mengatakan jilbab adalah budaya arab. Padahal sama sekali tidak, menutup aurat baik bagi pria dan wanita tertulis di dalam Al-Qur’an.” Abimanyu membaca surah QS. Al-A'raf ayat 26, Al-Ahzab Ayat 59 dan surah An-Nur ayat 31. “…yang artinya; Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” “…dan yang terakhir Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan k*********a, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau b***k-b***k yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Abimanyu menatap adiknya, “Kamu tahu jelas dek, menutup aurat itu hal yang wajib dan perintahnya sangat jelas di dalam Al-Qur’an. Menurut kakak, kamu bukan tidak siap untuk memakainya. Kamu takut, karena akan dilihat aneh jika kamu keluar rumah, iya bukan? Muslim di korea termasuk sangat minoritas, penganutnya sangat sedikit. Kamu takut teman-teman kamu yang lain akan menganggap aneh dan menjauhi kamu.” “…saran kakak, kamu coba dulu. Kalau memang kamu masih terpaksa, kalau keseringan suatu saat itu akan menjadi kebiasaan dan kamu akan merasa aneh jika tidak melakukannya. Sama halnya seperti shalat, awal-awal kamu melakukannya hnay karena terpaksa, takut sama Allah dan membayangkan siksaannya kelak. Sekarang? Kamu sudah kebiasaan dan melaksanakannya setiap hari dan tidak pernah bolong-bolong lagi.” Aisyah merenung, ia menghela napas pelan. setelah saling bertukar kabar satu sama lain. Aisyah memutuskan sambungan, pikirannya sangat kacau. Apalagi saat mendengar nasehat Abimanyu. Aisyah turun dari tempat tidur, ia melihat jilbab yang ia beli beberapa bulan yang lalu. Entah kenapa, hatinya tergerak untuk memakainya. Aisyah melihat pantulan wajahnya di cermin, perasaannya kacau, ia ingin memakainya tapi hatinya bimbang. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tidak ingin memakai jilbab. Bagaimana jika aku terlihat aneh? atau orang akan menganggapku sebagai penjahat?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN