Aisyah menyusuri jalana ramai di Itaewon yang di penuhi turis lokal ataupun turis mancanegara. Kepadatan Itaweon tidak sama seperti kota lain di daerah Seoul, orang-orang di sini kebanyakan berasal dari negara asing, ada yang memang menetap ataupun hanya turis.
Lihat, di sekeliling Aisyah banyak sekali orang asing. Mereka bahkan ada yang fasih berbahasa korea dengan sangat lancar, mungkin sudah lama tinggal di sini. Aisyah berjalan dengan gugup dan melihat kesana-kemari.
Cukup lama tinggal di Seoul, Aisyah mengetahui bahwa kebanyakan orang yang tinggal di sini termasuk orang asli terlihat sangat cuek, jarang tersenyum kepada orang asing yang tidak mereka kenal.
Aisyah masuk di sebuah restoran dengan jantung berdebar, ia dilirik oleh banyak orang yang sedang berada di dalam restoran itu. Kebetulan restoran itu memiliki tempat makan yang duduk di lantai dengan meja panjang.
Seseorang langsung menghampiri Aisyah, sepertinya itu pemilik restoran. “Permisi, saya minta maaf tapi kamu tidak boleh makan di sini. Silahkan cari restoran dengan logo halal.” Ucapnya dengan ramah.
Aisyah kagum dengan reaksi pemilik restoran itu, ia memang hanya mencoba-coba masuk dan hasil yang ia dapat tidak seperti dugaaannya. Aisyah pikir, ia akan diterima saja dan langsung di persilahkan memesan makanan.
Tetapi, pemilik itu menyuruhnya pergi dan mencari restoran lain. Pemilik restoran itu bahkan langsung tahu jika ia tidak bisa makan di restoran miliknya. Aisyah akhirnya keluar dari restoran itu dengan melempar senyum kepada pemilik restoran.
Aisyah bersyukur masih ada orang baik, ia sedang memakai jilbab. Setelah berpikir cukup lama, Aisyah memberanikan diri keluar untuk berjalan-jalan di pusat Itaewon, dan sekarang ia berada di luar restoran yang baru saja menyuruhnya untuk makan di tempat lain.
Ternyata, semua yang ada di bayangannya salah. Orang bahkan hanya cuek dan tidak memandanginya sebagai sesuatu yang aneh ketika berpapasan. Aisyah sangat lega, ia juga memakai baju yang cukup longgar dengan dipadukan dengan jilbab serta celana kain yang cukup simple untuk musim dingin.
Aisyah ingin menyebrang jalan, tapi dia sedikit takut karena padatnya kendaraan yang lewat. Namun, ia terkejut begitu ada seorang pria paruh baya yang membuat kendaraan berhenti dan mempersilahkannya untuk menyebrang.
“Terimakasih,” ucap Aisyah sebelum menyeberang.
Walaupun hanya kebaikan kecil, itu sangat membuat hati Aisyah hangat. Siapa yang sekarang mau menolong orang, apalagi orang yang tidak dikenal? Orang-orang seperti itu bisa dihitung dengan jari, karena lebih banyak yang tidak memperdulikan.
Aisyah sangat berterimakasih, ia berhasil sampai di seberang jalan dengan selamat. Ia menganggukkan kepala kepada pria paruh baya yang menolongnya, dari jauh pria itu melambai dan tersenyum.
Aisyah tidak ingin membandingkan, tetapi dari beberapa daerah yang ia kunjungi di Seoul hanya beberapa tempat yang membuatnya terasa aman dan nyaman. Tidak banyak terdengar suara klakson mobil, kendaraan yang saling mendahului dengan kecepatan tinggi dan tidak ada di antara pengemudi yang saling memaki, melainkan saling sabar dan berkendara dengan aman untuk sampai di tempat tujuan.
Aisyah ingin negaranya terus berkembang dan bisa menjadi negara maju seperti negara-negara yang lain. Bukan melihat mayoritas masyarakatnya hampir setiap hari saling melempar makian di media sosial, sibuk mengomentari orang lain ataupun melihat tayangan televisi yang isinya sama sekali tidak bermanfaat.
Saat ini, di jaman yang sudah diberada di era tehnologi yang sangat berkembang. Anak-anak tidak lagi bermain dengan teman sebayanya melainkan hanya menikmati bermain ponsel yang memberi dampak yang sangat buruk bagi tumbuh kembang anak. Apalagi anak yang dibebaskan orangtua untuk mengakses apapun di dalam Internet.
Semestinya, para orangtua memberikan perhatian lebih agar anak-anak tidak terjerumus kedalam hal-hal negatif yang bisa mempengaruhi anak dalam berprilaku. Sekarang, sangat banyak pemuda atau bahkan anak-anak SD yang dijumpai di jalan sudah berkelakuan di luar norma. Dimana banyak sekali tindak kejahatan, ataupun pergaulan yang sangat bebas mengakibatkan hancurnya impian dan hingga berhenti bersekolah.
Ia sangat ingin anak-anak bangsa yang kelak menjadi pemimpin di Indonesia menjadi seseorang yang sukses dan merubah Indonesia menjadi negara yang lebih baik dan maju, dengan memanfaatkan tenaga dari penduduk dan tidak lagi membawa tenaga kerja asing untuk bekerja di Indonesia.
Aisyah merasa hatinya ringan, beban berat yang sudah ada di dalam benaknya sejak tadi malam menguap begitu saja. Entah kenapa, ia senang dan lega ketika memakai jilbab, tidak ada lagi lirikan aneh dari pria ketika berpapasan.
“Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.” Gumam Aisyah pelan.
…
Ezra berjalan mengikuti Aisyah yang sedang berjalan di depan area pertokoan di pusat Itaewon. Tangan gadis itu menunjuk kesegala arah yang menarik untuknya. Ezra juga melihat Aisyah terkadang berbicara sendiri. Hal lucu lain yang diketahuinya setelah berkenalan dengan Aisyah.
Ezra baru saja keluar dari sebuah tempat untuk mengantar paket. Ada salah satu dokumen penting yang tidak sengaja tertinggal, untung saja dokumen itu tidak hilang, dan sekarang ia baru mengirimkannya ke London dalam bentuk paket.
Sebenarnya tadi, Ezra tidak yakin jika itu adalah Aisyah. Rambut bergelombang yang selalu menjadi hal yang paling Ezra sukai mendadak hilang, digantikan dengan balutan kain berwanra coklat muda yang terasa sedikit familiar untuknya.
Ezra yakin jika gadis yang ia lihat benar-benar Aisyah setelah gadis itu tidak sengaja berdiri tepat di depan toko sembari memperbaiki kain yang membalut kepalanya. Ezra memutuskan untuk mengikuti gadis itu dari jarak yang cukup jauh.
Ezra terus mengikuti Aisyah hingga gadis itu masuk ke salah satu mall besar di Itaewon. Gadis itu tampak melihat kesegala arah, mudah sekali tertarik kepada hal-hal yang baru ia lihat. Ezra tersenyum diam-diam melihat tingkah Aisyah.
Ezra berhenti melangkah ketika Aisyah berhenti dan bertanya kepada salah satu petugas keamanan. Gadis itu tersenyum sebelum melangkah menjauh. Ezra mengikuti Aisyah sampai gadis itu tiba di lantai enam, sebenarnya ia ingin sekali menghampiri gadis itu dan mengobrol tapi ia menahannya.
Aisyah melihat ke segala arah sebelum, seseorang yang memakai pakaian arab berpapasan dengannya. Mereka mengobrol sebentar lalu Aisyah masuk ke sebuah ruangan.
Ezra mengamati dari jauh, ia panik ketika tidak melihat Aisyah di dalam ruangan itu padahal tadi ia melihat dengan jelas gadis itu masuk ke sana. Ketika Ezra ingin menyusul, Aisyah keluar dengan wajah sedikit basah.
Ezra mengamati terus mengamati Aisyah, hingga gadis itu selesai memakai mukenah. Di dalam ruangan itu banyak orang yang memakai pakaian yang sama. Mereka bergerak seperti yang pernah ia lihat ketika sedang berada di apartemen Aisyah.
Lalu, pandangan Ezra pindah ke arah pria di depan, barisan itu dibatasi dengan sekat kayu. Ezra terhanyut dengan apa yang ia lihat ketika tidak sadar jika Aisyah sudah keluar.
“Ezra?”