Aisyah masuk ke dalam sebuah mall yang sangat megah, banyak sekali hal-hal yang baru ia lihat. Sudah cukup lama ia tidak menginjak mall ini, padahal jarak antara apartemennya hanya dua puluh menit.
Aisyah asyik melihat ke segala arah, sedikit lupa dengan tujuannya masuk ke mall ini. Ia mencari mushollah, karena hanya berjalan kaki, Aisyah tidak kuat untuk ke masjid, lagipula waktunya tidak akan terkejar. Ia tidak menyangka jika waktu cepat berlalu dan sekarang waktu hampir memasuki shalat ashar sementara ia belum shalat duhur karena terlalu asyik melihat-lihat.
Aisyah berhenti betanya kepada salah satu petugas keamanan yang terlihat berdiri sembari mengawasi satu-persatu pengunjung mall. Ia sedikit lupa dimana tepatnya letak musholla itu berada.
“Permisi, Pak. Saya mau tanya, ada masjid di dekat mall ini?” tanya Aisyah menggunakan Bahasa Hangeul yang fasih.
Petugas keamanan itu mengarahkan Aisyah untuk keluar melalui pintu smaping mall, masjid itu terletak di belakang gedung mall tetapi dia harus berjalan sepuluh menit untuk sampai di sana. Aisyah tersenyum ketika menemukan masjid yang di maksud.
Aisyah cukup direpotkan untuk berjalan sedikit untuk turun ke bawah lalu berjalan beberapa menit dan membuatnya berkeringat. Walaupun begitu, ia sangat menikmatinya. Ketika sampai di dalam masjid, Aisyah langsung menuju ke sisi bagian kanan mall, ia juga sudah melihat petunjuk arah yang telah di sediakan.
Setibanya di sana, Aisyah berpapasan dengan wanita muslim. Ia bertanya, apakah benar ini masjid dan gadis itu menjawab benar dan mengatakan dimana tempat wudhu untuk perempuan karena tempat berwudhu di masjid ini dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
“Terimakasih,” ucap Aisyah lalu masuk ke dalam.
Aisyah memposisikan tasnya di depan, ia menggulung kaos kaki dan juga celananya sampai betis ketika sudah masuk di tempat wudhu. Tempat itu cukup tertutup sampai tidak ada yang bisa melihat ke dalam.
Aisyah melepas jam tangan dan memasukkannya ke dalam tas. Ia juga melepaskan peniti di dagunya, melonggarkan sedikit jilbab dan juga pelapis jilbab yang ia gunakan.
Ketika ia mengambil air wudhu, Aisyah teringat perkataan Abimanyu.
“Masih banyak yang keliru saat mengambil wudhu, banyak juga yang melakukannya asal-asalan dan tidak sesuai dengan contoh yang telah diperlihatkan, seperti saat terburu-buru untuk shalat maka berwudhu asal basah saja.”
“…semua hal dalam berwudhu harus sangat di perhatikan, jika tidak maka shalat yang dilaksanakan akan sia-sia. Pertama, niat wudhu. Segala hal harus dimulakan dengan niat, dalam mengerjakan pekerjaan dan beribadah. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Bukhari dalam hadits, "Rasulullah SAW menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya..." Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48. Kedua, membaca basmalah saat membasuh kedua tangan, sesudah membaca niat, maka selanjutnya membaca basmalah saat membasuh kedua tangan, tetapi jika lupa membaca basmalah maka wudhu akan tetap sah.
“…ketiga, berkumur-kumur. Di sini juga banyak yang keliru, beberapa orang hanya memasukkan air lalu mengeluarkannya begitu saja. Padahal, yang benar adalah memutar air dalam rongga mulut untuk membersihkan gigi dari sisa makanan dan mengeluarkannya.”
Aisyah juga dulu melakukan hal yang salah, sekarang ketika bewudhu kata-kata Abimanyu terngiang di benaknya dan membuatnya melakukan dengan benar.
“…kelima, membersihkan lubang hidung. Kebanyakan orang, ketika membersihkan hidung hanya membasuhnya dengan air, itu juga sesuatu yang keliru. Untuk membersihkan lubang hidung, di sunnahkan dengan cara menghirup air, kemudian mengeluarkannya dan dipencet hidungnya. Ya, walaupun perih karena terkadang air masuk ke lubang hidung, itu cara yang efektif untuk membersihkan lubang hidung saat berwudhu.”
“Semoga kamu nggak bosen dengar penjelasan ini, kakak tahu ini sepele tapi penting banget loh. Walaupun shalat kamu kusyuk pun tidak akan sah jika ini tidak kamu lakukan dengan benar.” Ucap Abimanyu.
“Iya kak, nggk kok. Malah dari tadi Aisyah nyimak. Ayo lanjut kak.”
“Oke. Selanjtunya, keenam, membasuh kedua lengan sampai siku, kalau yang ini pasti kamu paham. Ketujuh, mengusapkan kepala dari depan hingga ke belakang sebanyak satu kali, bukan hanya mencolek-colek rambut bagian depan saja.”
“…Ali bin Abi Thalib berkata, "Aku melihat Nabi SAW mengusap kepalanya satu kali." Hadits riwayat Sahih Abu Dawud no.106. Ada yang memperbolehkan dengan cara membasuh kening hingga ujung kening atau sebagian kepala sebanyak 3 kali. Keduanya sama-sama termasuk tata cara wudhu yang benar.”
“…kedelapan. Membasuh kedua telinga, caranya membersihkan kedua daun telinga, dilakukan secara bersamaan antara kanan dengan kiri. Cara membasuhnya, masukan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusapkan kedua daun telinga dari bawah ke arah atas sebanyak 3 kali.”
“…yang kesembilan. Membasuh kaki hingga atas mata kaki sebanyak 3 kali. Dimulai dari kaki bagian kanan terlebih dahulu, baru kaki kiri. Dalam haditst lain oleh Bukhari, dahulukan kaki kanan hingga tiga kali kemudian kaki kiri. Dan saat membasuh kaki, Rasulullah menggosok jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki HR. Bukhari; Fathul Baari, dan Muslim. Pastikan setiap lipatan di sela jari dan tumit belakang seluruhnya terkena basuhan air. Gosoklah kaki Anda supaya seluruh telapak kaki basah sempurna.”
“Selanjtunya yang terakhir, sehabis wudhu jangan langsung lari. Apalagi baca do’a setelah wudhu sambil jalan. Baiknya langsung membaca do’a lalu masuk ke dalam masjid untuk shalat.”
Aisyah mengingat semua itu dengan sangat jelas, selesai bewudhu, Aisyah masuk untuk shalat sunnah lalu melaksanakan shalat duhur. Ia bersama beberapa orang gadis lain mengambil satu saf yang berdekatan.
Selesai melaksanakan shalat, Aisyah melipat mukenah lalu ia masukkan ke dalam tas. setiap keluar, Aisyah selalu membawa mukenah ini agar mudah ia pakai karena ia agak sedikit risih jika menggunakan mukenah yang disediakan oleh masjid.
Bukan karena tidak mensyukuri, tetapi ia sedikit ragu apakah mukenah itu benar-benar bersih setelah dikenakan oleh orang lain, atau apakah mukenah itu sudah dicuci.
Ketika sedang memakai sepatu, Aisyah dikejutkan dengan sosok Ezra yang sedanng mengamati mushollah, pria itu tampak serius melihat barisan saf pria. Aisyah baru menegur Ezra ketika ia sudah selesai memakai sepatu.
“Ezra?”
Ezra terkaget karean kedatangan Aisyah yang tiba-tiba. Ia mengalihkan tatapannya ke bawah untuk melihat gadis itu, tinggi Aisyah yang tidak sampai di bahunya membuat gadis itu terlihat sangat mungil jika berdiri tepat di sebelahnya.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Aisyah bingung.
Ezra tidak tahu harus mengatakan apa, “Maaf, tapi dari tadi aku liat kamu dan memutuskan untuk mengikuti kamu. Siapa tau ada yang berniat jahat apalagi sejak tadi kamu jalan sendiri di tempat yang tidak terlalu ramai.” Jawabnya jujur.
Aisyah antara heran dan merasa Ezra lucu, pria itu kenapa langsung menjawab jujur. Seharusnya beralasan jika dia sedang berbelanja atau mengatakan sesuatu yang lain.
“Tapi, pasti ada sesuatu yang membuatmu mengikutiku sampai disini, bukan?” tanya Aisyah.
Ezra merasa sangat bodoh karena mengatakan hal yang sebenarnya, ia tidak bisa berpikir ketika sorot mata Aisyah menatapnya. Agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian mereka duduk di tempat duduk dekat sebuah toko buku.
Ezra menjelaskan kepala ia mengikuti Aisyah, begitu melihat gadis itu mengangguk dan tidak bereaksi yang lain seperti marah, ia menghela napas panjang.
Ezra menatap Aisyah secara terang-terangan, ia merasa ada yang kurang karena tidak lagi bisa melihat rambut bergelombang milik gadis itu. Tidak ada lagi yang bisa ia sentuh jika gemas dengan Aisyah.
Ketika tangan Ezra begerak untuk menyentuh jemari Aisyah, gadis itu menarik tanannya mundur membuatnya sedikit kaget. Ezra menatap Aisyah penuh tanda tanya. Ada apa? Apa Aisyah sudah tidak mau disentuh denganku?
Ezra mengerutkan kening, merasa Aisyah begitu banyak berubah. Ia merasa Aisyah menjadi lebih tertutup dan menjauhinya. Ezra bangkir berdiri, ia pergi dari tempat itu begitu saja.
Aisyah seketika bangun, “Ezra!”
“Ezra…”
Panggilan Aisyah membuat Ezra menoleh. Aisyah tampak berjalan dengan cepat, untuk menyusul langkahnya. Kening gadis itu berkerut, matanya menatap Ezra dengan tajam dan napasnya sedikit lebih cepat, senyum Aisyah seketika lenyap.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Aisyah.
Ezra berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukan kepala tanda setuju. Mereka bicara di sebuah sebuah fast food di dalam mall. Mereka duduk berhadapan, Aisyah menyesap jus alpukat yang ia pesan, sementara Ezra memesan es kopi. Entah kenapa, mereka hanya memesan minuman, apakah tanda jika mereka tidak ingin berbicara lama-lama?
“Kamu mau ngomong apa?” tanya Ezra.
Ia merasa Aisyah seperti orang asing setelah menolak sentuhannya. Entah kenapa, egonya terluka akibat sikap gadis itu. Apakah Aisyah tidak ingin lagi di sentuh olehnya karena ia memiliki banyak sekali kesalahan. Tiba-tiba Ezra teringat ucapan ibunya beberapa hari yang lalu.
Aisyah memandangi Ezra, merasa jika sikapnya yang tiba-tiba tadi menyinggung perasaan Ezra. Padahal pria itu pasti tidak memiliki maksud apa-apa ketika ingin memegang tangannya.
“Maafkan aku, jika aku sudah menyinggungmu dengan sikapku barusan.” Ucap Aisyah setengah berbisik. “…aku tidak bermaksud apa-apa, Za. Sebenarnya, aku sudah ingin melakukannya sejak lama. Tapi, baru ikhlas melakukannya sekarang.”
“Melakukan apa?” tanya Ezra tanpa minat.
Aisyah tersenyum maklum, “Menjalankan salah satu hal yang dilarang dan dapat menimbulkan dosa besar, bersentuhan dengan lawan jenis terlebih jika memiliki syahwat.”
“Syahwat? Apa itu?”
“Syahwat bisa diartikan sebagai nafsu atau keinginan untuk memiliki, yang pasti ada di antara kita berdua. Aku mulai melakukannya perlahan-lahan, Za. Aku juga masih belajar, maafkan aku tentang yang tadi.”
Ezra mengangguk paham, “Memangnya orang muslim tidak boleh saling menyentuh?”
“Bisa, tapi hanya dalam lingkup keluarga. Antara suami kepada istri dan anaknya, saudara dekat dan keturunannya, sepersusuan dan hubungan perkawinan sehingga di antara mereka tidak bisa menikah. Sepersusuan itu, seorang anak yang disusui oleh satu orang ibu tetapi tidak bersaudara satu sama lain. Semua hubungan ini dibolehkan untuk bersentuhan ketika tidak memili syahwat di antara satu dengan yang lain.”
“…itu adalah dosa. Bahkan masuk ke dalam perzinahan. Zina adalah perbuatan b*********a antara laki-laki dan seorang perempuan yang tidak terikat pernikahan. Jadi, di dalam islam, pernikahan itu sangat penting, selain untuk beribadah, menikah juga menjauhkan diri dari perbuatan zina.”
Ezra menatap Aisyah, semakin lama ia menatap Aisyah dengan kepala terbalut kain, kenapa terlihat semakin cantik. Entah kenapa perasaannya tentram melihat Aisyah berpakaian seperti itu, gadis itu jadi tidak dilirik oleh orang lain.
“Jadi, kamu sudah tidak bisa disentuh?”
Aisyah tersenyum kecil, “Bisa…”
“Caranya?” tanya Ezra bersemangat.
“Menghalalkanku.” Tawa Aisyah pecah, “…aku hanya becanda. Iya, mulai sekarang kamu tidak bisa menyentuhku sembarangan lagi. Aku hanya menjaga diri, Za. Perbuatan dosaku sudah sangat banyak, dengan ini aku harap, aku bisa memperbaiki diri dan tidak menyusahkan kedua orangtuaku di suatu hari nanti.”
“Bukannya menghalalkanmu itu sama dengan menikahimu, iya bukan?” tanya Ezra.
Mata Aisyah membulat, ia terkejut. Kenapa Ezra bisa tahu istilah itu? dari mana pria itu mengetahuinya?
“Terkejut karena aku tahu?” tanya Ezra dengan menaik turunkan kedua alisnya, “…aku juga mencari informasi, Ay. Eh, kalau yang ini, aku masih tetap bisa memanggilmu dengan itu, bukan?”
Aisyah tersenyum lalu mengangguk, “Tentu saja.”
“Aku kira tidak boleh,” Ezra mengambil ponsel dari sakunya, mencari kata-kata yang tadi diucapkan Aisyah dan masih teringat olehnya. Salah satunya haram dan zina.
Setelah mencari tahu, Ezra mengerti. Kenapa banyak sekali peraturan di agama yang di anut oleh Aisyah? Tapi, ia heran kenapa Aisyah tidak menganggap hal itu suatu beban? Atau sesuatu yang terpaksa ia kerjakan?
“Ay, boleh aku tanya sesuatu?”
Aisyah mengangguk, mempersilahkan Ezra untuk betanya kepadanya.
“Apakah kamu pernah merasa terpaksa atau terbebani?”
Aisyah berpikir sejenak, “Hm…pernah, malah kadang terpikir setiap hari. Aku baru pertama kali ini memakai jilbab, Za. Sebelum keluar rumah, aku merasa sangat terbebani, merasa aneh kepada diriku sendiri. Tapi, setelah berjam-jam aku mamakainya, ada rasa kepuasan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa nyaman dan tenang.”