Ezra melangkah masuk bersama dengan CEO agensi, sebelumnya ia terlebih dahulu masuk ke ruangan yang kemarin digunakan untuk menyambutnya sebelum pindah ke ruang rapat.
Hari ini, Ezra menjadi wakil perusahaannya untuk menandatangani kontrak kerja sama serta akan menjelaskan kembali apa manfaat dari bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Ezra naik di podium, ia membungkuk hormat kepada orang-orang yang ikut hadir di ruang rapat. Ezra menjelaskan bagaimana perusahaannya yang telah bekerja sama untuk menyiarkan siaran langsung ke seluruh dunia yang rencananya akan digunakan untuk menanyangkan konser langsung di stadium.
Rapat berakhir dua jam kemudian, Ezra keluar dari ruang rapat masih bersama para petinggi perusaahaan. Sementara, Aisyah cemberut melihat kerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.
Akibat kerjasama baru itu, tugasnya yang menangani social media menjadi bertambah. Aisyah harus menyesuaikan jadwal siaran dengan menggunakan tehnologi yang baru saja masuk ke server mereka.
Mereka tidak bertemu setelah itu, Aisyah sementara menginap di apartemen milik Rere yang bada persis di seberang jalan. Ia lagi-lagi pulang malam demi menyelesaikan pekerjaannya.
Mereka sampai tepat pukul satu malam di apartemen Rere. Ketika Aisyah masuk ke apartemen sahabatnya, tiba-tiba ponselnya bordering. Polisi menghubunginya dan mengatakan berhasil menagkap orang yang menerobos masuk ke rumahnya saat ingin melakukan aksi kepada korban selanjutnya.
Polisi sudah mewawancari beberapa orang yang ikut menjadi korban sama sepertinya. Hingga akhirnya berhasil mendapatkan pelaku yang melakukannya. Aisyah dan Rere tidak jadi beristirahat, mereka kembali ke luar apartemen setelah berganti pakaian.
Ketika berada di dalam mobil, Aisyah kembali mengambil ponselnya dari saku lalu menghubungi Ezra. Aisyah menjauhkan ponselnya dari telinga ketika mendengar suara bising saat Ezra menerima panggilannya.
Butuh waktu lima menit hingga Aisyah dapat mendengar suara Ezra tanpa suara bising.
“Hallo, Aisyah.” Ucap Ezra.
Suara Ezra terdengar lebih berat daripada biasanya. Aisyah ragu ingin mengajak pria itu ke kantor polisi atau tidak.
“Are you drunk?” tanya Aisyah.
“Hanya sedikit, ada apa?”
Aisyah menghela napas, “Aku sedang menuju kantor polisi. Orang itu sudah tertangkap! Ku pikir kau ingin melihat pelakunya karena kau sempat berpapasan dengan orang itu kemarin. Tapi, kau tidak perlu ke sana kalau sedang mabuk.”
“Aku akan ke sana. Kirimkan aku lokasi kantor polisinya.” Ucap Ezra.
Aisyah menutup telpon lalu mengirimkan Ezra alamatnya melalui aplikasi chatting. Ezra membalas pesannya dengan ‘sampai jumpa disana’. Aisyah hanya berharap Ezra tidak mengemudikan mobil dengan keadaan mabuk, akibatnya bisa berbahaya.
Korea Selatan memberlakukan pengetatan level terhadap batas mengendarai mobil dibawah pengaruh alkohol.
Hingga saat ini, jika kadar alkohol dalam darah mencapai 0,05% ke atas, surat izin mengemudi (SIM) dihentikan, namun levelnya diperketat menjadi 0,03% ke atas. Jika kadar alkohol dalam darah mencapai 0,08%, maka SIM dibatalkan.
Pengemudi yang melanggar hukuman tersebut dapat dipenjara maksimal selama 5 tahun atau denda maksimal 20 juta won atau sekitar 256 juta rupiah.
Kejaksaan Korea Selatan juga mengetatkan level penjatuhan hukuman terkait kecelakaan akibat mengendarai mobil dibawah pengaruh alkohol, sampai ke level tertinggi yaitu hukuman penjara seumur hidup dari yang sebelumnya 4 tahun 6 bulan.
Apabila seseorang menimbulkan kecelakaan yang menewaskan atau mencederai seseorang dengan kadar alkohol dalam darah melebih 0,08%, maka dia akan diselidiki dalam kondisi penahanan.
Kejaksaaan Korea Selatan akan memberikan hukuman berat kepada pengemudi yang pernah berkendara dalam kondisi mabuk sebanyak dua kali lebih dalam kurun waktu 10 tahun.
Jika yang melakukannya orang asing, kemungkinan besar akan di deportasi ke negara asalnya dan tidak diijinkan mengunjungi selama batas waktu yang ditentukan.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kantor polisi. Aisyah dan Rere seketika keluar dari mobil menaiki tangga kemudian mencari ruangan kekerasan dan kejahatan.
Mereka menemukan ruangan itu cukup sepi, walaupun masih ada beberapa polisi yang berlalu lalang tetapi tidak sebanyak saat siang hari. Ketika masuk mereka dibawa ke ruangan introgasi.
Tujuan mereka dibawa ke ruangan itu untuk melihat pelaku itu. Di sana juga terdapat seorang korban yang ternyata juga bekerja di perusahaannya. Setelah, melihat lebih jelas, ia mengenal perempuan yang juga menjadi salah satu korban.
Perempuan itu adalah stylish sekaligus makeup artis yang menangani idola yang juga ia tangani. Satu kemungkinan besar dari semua ini adalah karena pelaku itu tidak suka melihat mereka dekat dengan idola mereka.
Ezra sampai lima belas menit kemudian. Ezra sempat melihat sekilas pelaku yang merupakan seorang perempuan sebelum di suruh keluar untuk di tes kadar alkohol. Beberapa menit kemudian, Rere keluar dan hanya tersisa Aisyah serta beberapa petugas polisi yang sedang berada di ruang kontrol.
Aisyah terus mendengar jawaban-jawaban dari pelaku yang sedang di introgasi.
“…mereka pantas mendapatkannya! Jalang sialan yang dekat dengan idola harus merasakan akibat karena sangat dekat dengan artis.”
“Mereka juga harus ditangkap karena menyalahgunakan pekerjaan untuk dekat dengan para artis!”
Aisyah keluar dari ruang control ia memijit belakang lehernya pelan. Ketika berada di luar, ia bertemu Rere dan juga Erza. Mereka sedang mengobrol sembari minum kopi.
Aisyah menghampiri mereka, ia menguap cukup lebar lalu menyandarkan tubuh di dinding. Ia sangat lelah dan juga mengantuk, pelaku itu sudah mengakui semua kejahatannya jadi proses hokum akan berjalan dengan cepat belum lagi bukti rekaman CCTV yang diperoleh saat dia akan melakukan aksi teror selanjutnya terekam dengan baik.
“Mau pulang?” tanya Rere.
Aisyah mengangguk pelan, ia sangat lelah hingga merasakan sekitarnya berputar saat ia melangkah.
Rere menyetujui, “Baiklah, ini sudah terlalu larut malam untuk berdiskusi.”
Mereka sama-sama keluar dari kantor polisi setelah pamit kepada polisi yang bertugas, sebenarnya mobil patrol berbaik hati ingin mengatar karena kondisi Ezra yang sedikit mabuk, tetapi Aisyah dengan rendah hati menolaknya karena dua dari mereka masih sadar walaupun sedikit mengantuk.
“Sebaiknya kita besok bertemu di café, mumpung weekend. Sekalian jalan-jalan.” Usul Rere saat telah berada di depan gedung apartemen Ezra.
Pria itu mengangguk setuju lalu keluar dari mobil Rere, setelah mengucapkan terimakasih pria itu turun dari mobil dan menghilang di dalam lift. Rere mengemudikan mobil ke gedung apartemennya, dengan energy tersisa, mereka sampai di apartemen Rere dan masuk ke kamar masing-masing.
Aisyah menempati kamar tamu Rere, apartemen ini lebih besar dari miliknya yang memuat dua kamar tidur dengan segala perlengkapan lain yang lebih lengkap. Aisyah mengganti baju dengan baju yang sudah ia beli sebelumnya saat jam istirahat kantor.
Sebelum tidur, Aisyah mengatur alarm agar bisa membangunkannya saat masuk waktu subuh. Jika tidak, ia pasti akan tertidur sampai pagi akibat kelelahan. Sebelum tidur, ia menyempatkan berdoa agar dilindungi oleh Allah.
…
Ezra duduk di tepi ranjang, ia melepas dasinya dengan satu tarikan. Melepas kancing kemeja dan juga celana kainnya. Ia berganti baju dengan baju kaos dan juga celana pendek.
Kepalanya pening akibat meminum alkohol, walaupun tidak banyak itu cukup membuatnya berkali-kali harus tetap sadar apalagi saat di kantor polisi. Ia sudah di tes alkohol dan kadarnya masih di batas normal, apalagi ia juga tidak mengemudi.
Ezra sebelumnya hanya diundang ke acara makan malam oleh para direksi perusahaan dan berakhir dengan menikmati alkohol. Ia sudah akan pamit untuk pergi ketika Aisyah menghubunginya dan itu menjadi penolong agar ia bisa pergi dari tempat itu.
Hari ini ia juga pertama kali meraskan alkohol korea yang bernama Soju. Minuman Soju berwarna bening, memiliki rasa mirip vodka, namun lebih lembut dan manis. Karena baru mencobanya, rasanya belum familiar dilidah Ezra.
Baru saja ingin terlelap, tiba-tiba ada suara notivikasi masuk ke ponselnya. Seketika Ezra kembali membuka mata, ia bangun lalu menyalakan lampu kamar. Mata Ezra sempurna terbuka ketika melihat informasi yang baru saja tiba di ponselnya. Dugaannya benar, jika orang yang ia lihat di kantor polisi tadi bukanlah orang yang sama dengan orang yang berpapasan dengannya dua hari yang lalu.
Ezra lalu menyimpan ponselnya kembali di atas nakas, lalu memejamkan mata dengan semua pikiran yang membuat ia semakin mengantuk. Informasi yang di dapatkan Ezra adalah hasil dari orang kepercayaannya yang selam ini mengurus sesuatu yang berkaitan dengan kejahatan.
Orang itu segera melakukan apa yang diminta oleh Ezra dan berhasil mendapatkan jika kedua orang yang ia temui itu adalah orang yang berbeda. Ezra mengetahuinya dengan cara meminta rekaman CCTV dimana ia sempat berpapasan dengan seseorang yang memakai pakaian hitam saat tengah malam lalu saat ia ke kantor polisi.
Walaupun mengambil rekaman diam-diam itu sangat ilegal, tetapi di amembutuhkannya untuk memberitahu Aisyah jika firasatnya yang mengatakan dua orang itu berbeda adalah benar.
Ezra bangun dengan wajah lebih segar dari pada semalam, ia langsung ke dapur untuk mengambil air minum. Ezra menenggaknya hingga tersisa separuh. Ia lalu duduk di ruang tamu, menyalan tv.
Saat Ezra menyalakan tv, tiba-tiba semua saluran tv menayangkan berita tentang kejadian semalam. Tidak hanya tv, bahkan artikel pun sangat banyak ketika Ezra mengecek artikel hari ini di ponselnya.
“Wow, sepertinya permasalahan ini sangat serius.” Gumam Ezra pelan lalu memelankan suara tv sebelum menghubungi Aisyah.
“Hallo, Za.” Suara Aisyah terdengar masih mengantuk ketika mengangkat panggilannya.
Ezra menyelipkan ponsel diantara bahu dan juga telinganya. Ia sedang mengocok telur dadar untuk sarapan.
“Masih tidur?” Ezra melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi.
Terdengar suara air keran di nyalakan, “I’m wakeup now. Ada apa?”
“Ada yang harus kau dengar nanti, mungkin sedikit serius. Tentang penguntit itu.” Ucap Ezra.
“Okay. Itu pasti sangat penting karena suaramu sangat serius.”
Ezra tertawa kecil, ia sibuk membalik telur di atas wajan. Ketika kemudian ia telah melupakan sesuatu. Ia tersentak kaget karena tiba-tiba mengingatnya. Tepat sebelum Aisyah mendapati kamarnya di masuki oleh orang, mereka menemukan sebuah paket di depan kamar gadis itu.
“Wah, sepertinya kau sedang memasak.”
Ezra tersadar ketika mendengar suara Aisyah, ia buru-buru memindahkan telurnya ke piring ketika warnanya telah berubah kecoklatan. Aktivitas Ezra belum selesai, ia mendidihkan air lalu memasukkan rumput laut kering ke dalamnya, ia akan membuat sup Pereda mabuk yang bisa enak disantap saat sarapan.
“Ya, aku sedang berusaha keras membuat sarapan.”
Ezra dapat mendengar Aisyah terkekeh, “Baiklah. Sampai jumpa satu jam lagi. Aku akan mengirimkanmu dimana lokasi kita bertemu.”
Ezra menaruh ponselnya ketika Aisyah memutuskan panggilan, ia kembali fokus membuat sarapan. Pria itu memanaskan oven lalu memasukkan tiga buah nasi instan ke dalamnya.
Ezra makan dengan lahap, ia pertama kali mencicipi sup rumput laut. Ternyata rasanya sangat enak, ia hanya tinggal mengikuti resep yang sangat mudah di dapatkan di internet.
Setelah sarapan, Ezra menaruh piring kotornya di wastafel lalu meninggalkannya begitu saja untuk membersihkan diri. Ia terlebih dahulu menyewa orang melalui aplikasi untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di salah satu tempat karaoke karena semalam ia menaiki taxi untuk sampai di kantor polisi.
Setelah memberikan kunci mobil, ia kembali menunggu di apartemen. Aisyah telah mengirimkannya pesan berisi alamat tempat mereka akan bertemu. Ezra tidak lupa membawa paket yang mereka temukan.
Ketika anak muda yang berhasil mengambil mobilnya tiba, Ezra segera mencari lokasi café itu di maps dan menemukannya tidak terlalu jauh dari apartemennya.
‘20, Itaewon-ro 16-gil, Yongsan-gu, Seoul 04391 Korea Selatan.’
Kafe itu hanya berada 2,1 km dari menara Namsan Seoul. Setelah merasa ia tidak melupakan barang apapun. Ezra turun ke tempat parkir lalu mengemudikan mobil menuju kafe yang bernama Plant itu.
…
Aisyah duduk di dalam kafe dan sudah memesan makanan. Ia juga baru pertama kalinya mengunjungi kafe ini. Mereka menyewa ruangan private karena takut pembicaraan mereka akan membuat pelanggan lain terganggu.
Rere sedang pergi ke toilet ketika pesanan mereka datang, Aisyah yang memang tidak sarapan langusng menyantap burger alpukat. Ketika menggigitnya ada sensasi aneh karena ia sering memakan burger daging.
Tempat ini menyajikan makanan vegetarian, yang tidak banyak menyediakan makanan daging. Aisyah meminum thai tea, ia takjub dengan rasanya, mungkin ini thai tea yang terenak yang pernah ia minum sebelumnya.
Rere datang bersamaan dengan Ezra, pria itu langsung duduk di depan Aisyah. Ia membawa benda yang membuat Aisyah sukses melebarkan matanya.
“Itu, kan.” Ucap Aisyah refleks menunjuk paket yang dibawa Ezra.
Ezra mengangguk, “Ini benda yang dilupakan karena kejadian malam itu.”
“Apa itu?” tanya Rere tidak mengerti.
“Itu paket misterius yang berada di depan pintu sebelum aku mendapati apartemenku di masuki oleh orang asing.” Jawab Aisyah pelan.
Rere melotot lalu mengambil paket itu dan membukanya. Mereka penasaran apa isi paket itu, ketika berhasil membukanya dengan bantuan kunci mobil. Rere ragu-ragu saat membuka bagian atas paket itu.
Mereka terkejut begitu melihat isinya, Aisyah bahkan tidak mengerti kenapa benda itu ada di dalam paket misterius itu. Mereka pikir itu adalah paket menyeramkan yang mungkin berisi teror lagi, tetapi begitu melihat isinya sukses membuat mereka tercenang.
Paket itu berisi, gaun bermerek dior yang mungkin harganya puluhan juta. Aisyah mengambil alih paket itu, terdapat kartu yang membuat gaun itu benar-benar asli.
“Siapa yang memberiku baju mahal seperti ini!” gumam Aisyah, ia sedikit bingung.
Ketika Aisyah mengangkat lipatan gaun itu, ada pesan yang ia lihat tepat di bawahnya. Rere sigap mengambil pesan itu, membacakannya pelan.
“Hai, Darl. Maaf karena telah melakukan yang tidak termaafkan padamu. Aku sungguh menyesal dan merutuk diriku sendiri saat sadar telah melakukan perbuatan keji itu kepadamu. Maafkan aku, aku memutuskan untuk tidak akan menemuimu lagi. Sampai jumpa, semoga kau mendapatkan orang yang lebih baik dariku. Salam hangat, Dae-Ho.”
Aisyah merinding begitu Rere menyebut nama pria itu. Ia meletakkan kembali paket berisi gaun indah di atas meja. Ia menatap Rere tidak percaya lalu mengambil kartu pesan dan membacanya sendiri.
Ia syok, menatap paket itu dan kartu pesan itu berulang kali. Hingga Aisyah menghela napas lalu kembali memasukkan pesan itu kedalam kotak dan menutupnya kembali.