Aisyah menyimpan paket itu di salah satu kursi kosong. Ia sama sekali tidak melirik benda itu walaupun berisi surat permintaan maaf dan gaun yang sangat mahal.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan tadi malam?” tanya Rere kepada Ezra.
Ezra memperlihatkan video yang berada di ponselnya kepada Aisyah dan Rere. Mereka memperhatikan video berdurasi singkat itu dengan serius.
“Perhatikan tubuh dua orang itu, tinggi dan proporsi tubuh mereka sangat berbeda.” Ucap Ezra. “…tetapi, setelah mengetahui isi paket ini. Aku jadi memikirkan jika orang yang berpapasan denganku adalah orang yang memberimu paket ini.”
Aisyah menggeleng lalu menatap tepat di kedua mata Ezra, “Tinggi orang yang berpapasan dengamu lebih pendek di bandingkan Dae-Ho.”
Seketika Aisyah merinding, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ia menjadi salah satu orang yang diteror seperti ini.
“Aisyah benar, berarti orang yang berpapasan denganmu adalah orang lain. Lihat! Paket itu belum ada di sana saat perempuan yang masuk ke rumah Aisyah datang, begitu juga saat pergi. Berarti paket itu baru saja ada di sana.” Ucap Rere.
Aisyah menghembuskan napas, berpikir sembari mengunyah makanan yang telah ia pesan. Tersadar jika Ezra belum memesan apapun, Aisyah memencet bel agar pramusaji datang ke meja mereka.
Setelah memesan makanan, merkea kembali fokus untuk berdiskusi.
“Za, apa kau punya rekaman setelah ini? Aku penasaran siapa yang menaruh paket itu.” Ucap Aisyah refleks menggunakan Bahasa Indonesia.
“Aku tidak punya rekaman itu. Nanti, sebaiknya kita minta di ruang pengawasan apartemen.” Jawab Ezra.
“Tapi, Bagaimana-”
Ucapan Aisyah terhenti ketika Rere mencubit pahanya.
“Masih ada orang aku yang tidak bisa berbicara Bahasa kalian. Apakah kalian mengusirku secara halus?” Rere menaik turunkan alisnya, memancing mereka berdua.
“Ah, sorry. Aku hanya bertanya kepada Ezra, apakah dia memiliki rekaman lain tetapi dia bilang tidak.” Terang Aisyah. “…tapi bagaimana kau mendapatkan rekaman ini? Bukankah sudah di sita oleh polisi?”
“Aku lebih dulu memintanya kepada petugas pengawasan yang ada di ruang CCTV.” Jawab Ezra.
Aisyah menatap Ezra tajam, “Aku tahu kau menggunakan sesuatu yang bisa membedakan dua perempuan ini secara akurat, Za. Katakan padaku, ini sesuatu yang ilegal, bukan?”
Rere meminum jus jeruk, gadis itu senang menatap Aisyah dan pria bernama Ezra itu semakin akrab. Apalagi ketika Aisyah memanggil dengan nama pendek, itu berarti mereka sudah semakin dekat.
Rere mengingat jabatan dan pekerjaan Ezra, pria itu adalah salah satu pewaris dari Elywn yang memiliki perusahaan terkemuka di Eropa dan merupakan jaringan yang saat ini sedan berada di punca kesuksesan.
“Baiklah, aku mengirim ini kepada salah satu orang yang sering membantuku untuk melakukan pekerjaan sambilan. Dia mendapatkan jika kedua perempuan ini sangat berbeda. Dari situlah aku sangat yakin dengan firasatku tadi malam.” terang Ezra.
“Sebaiknya hanya kita yang tahu, jika polisi itu melihat rekaman ini. Kau bisa di proses karena melakukan sesuatu yang ilegal. Semua orang memiliki hak privasi walaupun mereka adalah tersangka.”
Ezra menaikkan alisnya sebelah, “Lalu kenapa kau menyuruhku mengambil rekaman lagi?”
Aisyah tersedak saat minum jus alpukatnya, “Ya, melakukan sesuatu yang ilegal sekali tidak apa-apa selama kita tidak membahayakan orang lain.”
“Aku berharap jika Dae-Ho sendiri yang meletakkan paket itu di depan pintu apartemenmu agar masalah ini cepat selesai.” Ucap Rere.
Aisyah menyetujui ucapan Rere. Ini kejadian kedua yang membuat Aisyah sendiri terguncang. Walaupun terlihat biasa saja, ia tetap khwatir tentang keselamatannya setelah mengetahui jika kejahatan seperti diikuti seseorang itu menjadi kasus kematian cukup banyak di Korea.
Tiba-tiba ponsel Rere berbunyi, gadis itu menerima panggilan dan dari yang dapat Aisyah tangkap jika Rere diperlukan di kantor. Wajah Rere menekuk ketika mengakhiri panggilan.
“Ada apa?” tanya Aisyah.
Rere mengehela napas pelan lalu menghabiskan minuman dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Gadis itu beranjak berdiri, “Aku dibutuhkan tim editing. Banyak video yang perlu di edit hari ini, aku minta maaf tidak bisa berlama-lama.”
Dalam sekejap mata, Rere meninggalkan mereka berdua, di ruang private yang cukup sepi. Tiba-tiba, suasana berubah canggung. Aisyah menyelipkan rambutnya dibelakang telinga, pura-pura sibuk dengan ponsel.
“Apa kau baik-baik saja?”
Suara Ezra yang tiba-tiba membuat Aisyah kaget, ia tidak sengaja menjatuhkan ponselnya di bawah meja. Ezra dengan mudah mengambilnya setelah mengetahui arah jatuhnya tidak jauh dari kakinya.
“Apa?”
Ezra mengembalikan ponsel Aisyah, “…maksudku, apa kau baik-baik saja setelah kejadian ini? Apa kau sama sekali tidak trauma?”
“Kalau mau jujur, kejadian itu terus berputar dikepalaku dan bercampur saat mantan kekasihku memukulku. Aku sebenarnya baik-baik saja, tetapi mungkin terlalu memikirkannya hingga membuatku mungkin terlihat stres atau banyak pikiran.” jawab Aisyah.
Ezra memperbaiki posisi duduknya, “Sebenarnya aku tidak melihat tanda stres diwajahmu. Itu berarti kau sangat pandai menyembunyikannya hingga tidak ada yang tahu atau aku yang memang tidak bisa membaca ekspresi wajah.”
Aisyah tertawa kecil, “Semua orang pasti bisa membaca ekspresi. Tetapi, mengartikannya yang susah, apalagi jika baru saja saling mengenal. Rere mungkin tahu jika aku banyak pikiran tetapi dia tidak mau membicarakannya dan membuatku semakin tertekan.”
“…lagi pula siapa yang mau di teror seperti ini. Ada beberapa karyawan yang juga mengalamai hal yang sama, bahkan lebih parah karena stalker itu tahu nomor ponsel dan media sosial mereka. Jika itu terjadi kepadaku, mungkin setiap minggu aku akan konsultasi kepada seorang psikiater.”
Aisyah meringis ketika membayangkan itu terjadi kepadanya. Mereka mendengar ada beberapa orang mulai mengisi ruangan private di kiri dan kanan mereka.
“Jadi, apa yang kau lakukan kepada gaun itu?” tanya Ezra mengalihkan pembicaraan.
Aisyah mengangkat bahu, “Mungkin akan ku jual di toko online, atau ku simpan di dalam lemari.”
Ezra tertawa kecil, mereka menghabiskan setengah hari di kafe itu. Mengobrol dan saling menertawakan satu sama lain. Mungkin ini lah yang menyebabkan mereka cepat akrab, mereka sama-sama mudah bergaul dengan orang tanpa memandang apapun.
Sepulang dari kafe itu, mereka mampir sebentar ke ruangan tempat CCTV berada. Aisyah meminta rekaman dengan menyebutkan tanggal dan juga jamnya. Ketika berhasil menemuka apa yang Aisyah inginkan, petugas keamanan itu pergi meninggalkan Aisyah untuk melihat rekamannya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya mereka melihat seorang pemuda yang memakai kemeja berwarna navy berjalan ke arah apartemen dengan membawa goodie bag.
“Tidak salah lagi, itu memang Dae-Ho.”
Setelah memastikan dengan memperbesar wajah pria itu, Aisyah semakin yakin. Maka itu bukan paket berasal dari orang lain, melainkan benar-benar diberikan kepadanya dari mantan kekasihnya.
…
Proses hukum orang yang masuk secara paksa ke dalam apartemen Aisyah dan beberapa korban lain berjalan cukup tidak kondusif. Selain, pengacara terdakwa yang sangat pintar dan memiliki kredibilitas terpandang di antara pengacara lain membuat terdakwa hampir saja bebas.
Aisyah datang ke semua persidangan, ia juga menjadi korban sekaligus saksi. Ada juga korban yang memakai pakian rumah sakit karena trauma berat akibat perlakuan teror yang di alaminya.
Aisyah sempat bersyukur dalam hati ia tidak sampai merasakan trauma sebesar itu. Ketika proses sidang selesai dan hakim memutuskan hukuman yang sesuai, mereka sempat bertemu untuk saling bertegur sapa dan saling menguatkan.
Akibat kesibukan Aisyah menjelang akhir tahun, ia jarang bertemu dengan Ezra. Pria itu juga sibuk dengan perusahaannya yang sedang dibangun di pertengahan kota Seoul.
Ketika tidak sengaja bertemu saat di depan pintu apartemen, mereka akan bertegur sapa. Bahkan, Ezra berbaik hati mengatarnya walaupun jarak antara kantor dan perusahaan Ezra berlawanan arah.
“Kenapa kau terlihat lesu? Ini masih pagi dan besok weekend.” Ucap Ezra.
Aisyah menyandarkan kepalanya di kaca mobil, “Sepertinya aku akan berhenti bekerja.”
“Kenapa?” Ezra memelankan laju mobil.
“Entahlah, sepertinya aku jenuh dengan pekerjaanku.” Jawab Aisyah sembari melihat hujan yang jatuh di kaca depan mobil.
Ezra melirik Aisyah, “Ku pikir kau sangat menyukai pekerjaanmu selama ini? Berhubungan dengan laki-laki tampan yang memiliki penggemar hampir di seluruh dunia dan jangan lupakan gajinya, tentu sangat besar.”
Aisyah tertawa kecil, “Jika mengingat gajinya, memang sangat disayangkan. Tetapi, sepertinya aku tidak bisa mempertahankan pekerjaanku lagi.”
Aisyah membicarakan sedikit tentang pekerjaannya. Mereka berpisah saat Aisyah turun di depan lobi kantor, ia melambaikan tangan kepada Ezra yang sudah melaju di jalan raya.