Takdir Allah - When the First Snow Falls

1810 Kata
13 Desember 2019 Aisyah berjalan menyebeangi jalan raya, ia mengeratkan mantel tebal yang ia kenakan. Di Korea Selatan sudah mulai masuk musim dingin di bulan Desember. Aisyah meniup tangannya lalu memasukkannya ke dalam saku mantel untuk membiarkannya tetap hangat. Aisyah baru saja pulang dari pesta perpisahannya, ia sudah resmi mengundurkan diri dari agensi tempatnya bekerja tepat setelah empat tahun. Awalnya, Rere menyayangkan keputusan Aisyah untuk keluar tetapi akhirnya ia mendukung sahabatnya itu. Begitu juga rekan dan atasannya, melihat kinerja Aisyah yang jarang membuat kesalahan besar membuatnya di perhitungkan untuk naik jabatan tahun depan tetapi ia memilih mengundurkan diri. “Kalau butuh pekerjaan, datanglah ke kantor. Kami akan selalu menerimamu kapan saja.” Ucap salah satu atasannya. Aisyah menghela napas panjang sembari tersenyum, ia melanjutkan perjalanannya menyusururi jalan. Di sekitarnya juga banyak orang yang sedang berjalan kaki sama sepertinya. Aisyah melewati banyak minimarket, beberapa toko, dan juga banyak pedagang di pinggir jalan. Ia singgah di salah satu gerai untuk membeli teokkbokki serta kopi untuk menghangatkan tubuhnya. Di saat yang bersamaan, tak jauh dari tempatnya berdiri ada seorang pria yang memakai kemeja putih sedang memakan salah satu makanan yang juga di jual di pinggir jalan. “Ezra!” panggil Aisyah. Ezra langsung melihat Aisyah yang sedang bejalan menghampirinya. Ia tersenyum, menggeser tempat duduk untuk memberi Aisyah ruang. Gadis itu memegang dua buah wadah yang berisi kopi dan satunya berisi kue beras pedas. “Sedang apa di sini?” tanya Aisyah. Ezra memperbaiki posisi duduknya, ia mengambil wadah pelastik lain yang berisi kue olahan ikan yang sangat ia sukai. “Istirahat, aku baru saja pulang dari kantor.” Jawab Ezra. Aisyah menyeruput kopi instannya, “Sepertinya aku belum pernah melihatmu selama tiga hari di apartemen? Kau pindah??” “Tidak, aku bermalam di kantor. Banyak sekali yang harus diurus dan akhirnya, semua pekerjaan itu selesai. Aku baru bisa pulang sekarang.” Jawab Ezra. “Benarkah? Aku pikir kau sudah pindah atau pergi ke negara lain untuk mengurus pekerjaan.” Mereka mengobrol hingga makanan mereka habis. Ezra mengajak Aisyah untuk pulang bersamanya. Di dalam mobil, mereka sama-sama terdiam, sibuk memikirkan akan membicarakan topik apa. Aisyah mengalihkan perhatiannya, melihat ke luar jendela. Di luar banyak sekali toko yang menarik, ia tiba-tiba melihat toko yang tidak pernah ia kunjungi lagi sejak ia sangat sibuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor hingga mengundurkan diri. “Eh, Za. Bisakah kita singgah sebentar?” tanya Aisyah. Ezra memelankan mobil dan menepikan mobil  dengan aman. Aisyah langsung melepaskan seatbelt ketika Ezra sudah berhasil memarkirkan mobil. Yang ingin Aisyah kunjungi adalah salah satu toko yang menjual pakaian yang berasal dari Asia termasuk Indonesia. Aisyah membuka pintu dan langsung melihat-lihat isi toko itu. Sementara Ezra bingung kemana Aisyah pergi, ia lalu mencari Aisyah hingga gadis itu muncul di sebuah pintu toko dan memanggilnya. “Makanya jangan langsung hilang!” Ucap Ezra ketika masuk di toko itu. Aisyah tertawa kecil, Ezra memakai Bahasa Indonesia dengan logat Inggris yang sangat kental.  Mereka di sambut ramah oleh penjaga toko dan membiarkan mereka ruang untuk melihat-lihat. “Maaf, aku tidak sabar melihat toko ini.” Jawab Aisyah sembari memilah-milah pakaian. Ezra mengikuti gadis itu, ia sebenarnya sangat lelah karena kurang istirahat tetapi demi melihat wajah Aisyah lebih lama ia rela menemaninya untuk singgah. Ezra melepaskan dasinya lalu memasukkannya ke saku celana, membuka satu kancing kemejanya agar lebih leluasa bergerak. Aisyah memperhatikan beberapa orang yang juga sedang berbelanja di dalam toko melirik terpana tepat ke arah belakangnya. Aisyah berbalik dan mendapati Ezra sedang menggulung lengan kemejanya ke siku. “Wah, beruntung sekali perempuan itu memiliki suami tampan.” “Benar, pria itu sexy dan tampan sekali! Sayang sudah beristri.” Aisyah mendengar bisik-bisik pengunjung toko lain yang mungkin sedang membicarakan Ezra. “d**a dan punggungnya, sandarable dan pelukable banget! Kalau di peluk rasanya gimana ya? Mungkin perutnya kotak-kotak! Pasti enak.” Aisyah tersedak ludahnya sendiri ketika sedang melihat-lihat pakaian. Mereka betatapan dan saling menahan tawa. Itu adalah Bahasa yang mereka tahu, Aisyah melirik melalui cermin satu badan yang memperlihatkan dua orang perempuan yang sedang melihat mereka. Dari yang terlihat, mereka mungkin turis dari Indonesia yang sedang mengunjungi korea untuk liburan musim dingin. “Eh, tapi gimana kalau mereka ciuman ya? Istrinya cuma sebahu, pasti capek nunduk.” Gerakan Aisyah terhenti, ia seperti salah dengar. “Ngomongin siapa sih?” “Itu, perempuan yang pakai mantel abu-abu sama laki-laki di sebelahnya yang pake kemeja putih, wah sexy abis!” Aisyah melihat warna mantel yang ia pakai, berwarna abu-abu lalu melihat pengunjung lain. Apakah turis itu sedang membicarakan mereka? “Oh, yah gampang kalau mau ciuman. Tinggal di gendong atau di angkat di dinding, beres. Mereka serasi ya, istrinya cantik juga. Imut-imut gitu.” Aisyah menutup wajahnya yang memerah, niatnya untuk mencari pakaia malah terganggu dengan pembicaraan mereka. Sementara Ezra tidak bisa menahan senyum. Ia melirik Aisyah, wajah dan telinga gadis itu memerah. Ezra refleks mengacak rambut Aisyah, gemas. Membuat beberapa perempuan di belakang mereka histeris. “Ayo! Sepertinya baju ini bukan seleramu.” Ucap Ezra pelan lalu menggiring Aisyah menuju deretan baju yang sering ia pakai. Aisyah menatap Ezra dengan ekspresi pura-pura kesal, “Apa yang kau lakukan?” “Hanya membuatmu jauh dari mereka. Lihat? mereka tidak mengikuti kesini.” Jawab Ezra. Aisyah menghela napas, lalu meninju pelan bahu Ezra. Maksud perkataan Aisyah bukanlah kenapa pria itu menariknya ke tempat ini, tetapi saat pria itu mengacak rambutnya. Padahal seharusnya pria itu menghindar karena dibicarakan seperti itu, bukan malah semakin memperkeruh keadaan. Apalagi mereka bukan suami istri. Ia mengambil dua buah atasan berbunga yang cocok dipakai dengan mantel panjang. Aisyah juga mengambil dua buah mantel berwarna coklat dan mint yang cukup menutupi tubuhnya hingga betis. Ketika ingin membayar, ia tidak sengaja melihat pakaian yang dipajang di sudut toko dekat dengan kasir. Aisyah berbelok, ingin melihat dengan jelas. Ternyata benar, bukan hanya pakaian tetapi, mereka juga menjual satu set hingga terpisah pakaian muslim. Aisyah melihat lemari berisi jilbab yang sangat cantik. Ia melihat-lihat lalu menatap beberapa manikin setengah badan yang mengenakan jilbab dan baju muslim. Ia benar-benar terpesona dengan kecantikan jilbab itu. “Permisi, pakaian ini mungkin bukan yang anda cari. Ini adalah penutup kepala bagi orang muslim dan juga lengkap dengan atasan serta bawahannya. Mungkin yang anda cari berada di dekat pakaian musim dingin.” Ucap seorang penjaga toko kepada Aisyah. Aisyah menengok, ia tersenyum. “Saya tahu pakian ini.” Mereka berbicara dengan Bahasa Hangeul membuat Ezra tidak tahu apa yang mereka katakan. Hingga beberapa menit kemudian,  Aisyah memutuskan mengambil satu set pakaian berwarna pastel dengan perpaduan yang sangat cantik, serta beberapa helai kain berbentuk segi empat yang tidak Ezra mengerti untuk apa. Mereka berjalan menuju kasir untuk membayar, ketika Aisyah ingin mengeluarkan kartu untuk membayar. Itu dilakukan terlebih dahulu oleh Ezra, Aisyah berbalik terkejut melihat pria itu sukses memberikan kartu miliknya kepada kasir. “Untuk jaket coklat ini, kami memiliki satu pasang. Apa anda tidak ingin sekalian membelinya untuk suami anda?” tanya kasir itu, mengira mereka berdua pasangan suami istri. Ezra mencolek bahu Aisyah, “Apa yang mereka katakan?” “Mantel coklat itu dibuat sepasang, mereka menawarkan apa tidak ingin sekalian membelinya.” Jawab Aisyah. Ezra langsung bertanya dimana mantel itu berada, pria langsung saja mengatakan iya dan langsung memilih ukuran yang paling besar. Setelah Ezra mencobanya, pria itu memutuskan untuk membayarnya sekalian. “Ada diskon 20% untuk pasangan suami istri khusus hari ini. Atas nama siapa, Pak?” tanya kasir itu sembari melakukan proses transaksi. Sementara Aisyah hanya menunduk malu. Setelah selesai, mereka berjalan keluar dari toko itu dengan langkah panjang. Ezra hanya terkekeh, pria itu memasukkan belanjaan mereka ke kursi belakang. “Dasar menyebalkan.” Aisyah mengerucutkan bibir. Ezra kembali terkekeh, “Yah, tidak apa-apa lah. Diskonnya lumayan.” “Uangnya aku ganti ya, katakan nomor rekeningmu.” Ucap Aisyah sembarimengambil ponselnya. Ezra berdecak, ia menatap Aisyah yang sedang serius melihat layar ponsel. “Jangan, kali ini aku membelikan itu untukmu.” Jawab Ezra. “Eh?” “Anggap saja hadiah.” Ezra mengalihkan tatapannya ke jalan raya, fokus menyetir. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba setitik benda putih turun di kaca mobil. Aisyah terkisap, ia membuka kaca mobil lebar-lebar. Orang yang sedang berjalan di pinggir jalan juga berhenti, menengadahkan tangan. Aisyah ikut melakukannya, di saat yang sama Ezra menarik tubuh gadis itu masuk kembali ke dalam mobil. “Kau bisa tersambar kendaraan lain!” Ezra masih memegang lengan Aisyah. Ia melepaskannya ketika melihat gadis itu meringis.   Baru beberapa saat mengatakannya, tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi melambung mereka dari arah kanan, tempat Aisyah mengeluarkan kepala dan juga tangannya tadi membuat keduanya sama-sama terkejut. “Aku hanya ingin menangkap salju pertama.” Ezra menipiskan bibirnya, “Jangan melakukannya lagi. Itu sangat berbahaya, apapun alasannya.” Ezra menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk kedua kalinya. Mereka melihat salju turun dengan indah dari langit. Aisyah berhasil mengumpulkan beberapa di tangannya. Aisyah merasakan sensasi dinginnya lalu membiarkan benda kecil putih itu meleleh. Mereka hanya singgah sepuluh menit, malam sudah sangat larut ketika mereka sampai di apartemen. “Aku ingin menanyakan ini sejak tadi. Kau dari mana? Aku mencium bau alkohol dan daging dari pakaian yang kau pakai.” Tanya Ezra. Mereka sedang berjalan menuju lobi dari tempat parkir. Mereka masing-masing membawa tas belanjaan berisi pakaian yang dibelikan oleh Ezra. “Ah, aku dari merayakan pesta perpisahanku. Kau tahu, aku sudah tidak bekerja sejak hari ini.” Jawab Aisyah. Ezra memencet tombol lift, lalu berdiri di depannya sembari menunggunya terbuka. Pria itu menatap Aisyah kaget. Ternyata perkataan gadis itu beberapa bulan yang lalu benar-benar serius. “Serius?” Aisyah mengangguk, “Kau tahu, rasanya seperti aku mendapat kebebasan. Lega sekali.” “Benarkah, rasanya seperti itu?” Perkataan Ezra membuat Aisyah sukses tertawa, “Coba saja, lepaskan semua pekerjaan yang kau lakukan sekarang. Mencari hal baru, pengangguran bukanlah beban. Kita bisa hidup lebih bebas setelah bertahun-tahun melakukan hal yang sama setiap hari.” Ezra terdiam, ia menatap pantulan tubuhnya di pintu lift. Bukankah itu yang sedang ia lakukan? Bukankah ia mengundurkan diri dari jabtannya untuk mencari sesuatu yang bisa membuatnya lebih hidup? Tetapi selama ini, dia tetap bekerja, melakukan hal yang tidak jauh dari apa yang ia lakukan dulu. Tetetapi, lihatlah sekarang. Ia sangat lelah mengurus cabang perusahaan yang akan diresmikan satu bulan lagi. Pekerjaan yang ia lakukan karena tugas dari Ayahnya dan membuat usahanya selama dua tahun untuk mencari apa tujuan kehidupan yang sebenarnya hanya berjalan di tempat, sama sekali tidak ada kemajuan. “Kau tahu, aku juga sudah melakukannya. Tapi, sepertinya aku sedang tersesat sekarang. Melupakan apa tujuan aku bepergian keliling dunia.” Jawab Ezra. “Eh, kupikir kau ke sini memang untuk bekerja. Bukan?” Suara denting lift mengalihkan perhatian mereka, membuat Ezra tidak sempat menjawab pertanyaan Aisyah. Mereka berjalan menuju apartemen masing-masing. Ini kali kedua mereka berjalan bersama menuju apartemen mereka, Aisyah lebih dahulu tiba di depan pintu apartemennya. Ia memencet sandi pintunya yang sudah ia ganti sejak kejadian orang masuk ke apartemennya. “Aisyah!” panggil Ezra. “Besok mau jalan-jalan denganku?” Aisyah melebarkan matanya, ia terkejut atas ajakan Ezra. Namun, refleks mengangguk. Membuat pria itu tersenyum lebar, Aisyah hanya tertawa kecil. “Oke, kalau begitu sampai jumpa besok.” Aisyah mengangguk pelan lalu masuk ke apartemennya. Jantungnya berdesir saat Ezra berani mengajaknya pergi. Dulu, ia biasa menolak kalau di ajak pergi, apalagi jalan-jalan. Karena setiap kali ia di ajak pergi oleh pria, maka akan berakhir dengan meminum alkohol dan itu membuatnya sedikit ngeri karena pelecehan biasanya dilakukan ketika orang itu sudah mabuk. Aisyah menaruh tasnya di atas tempat tidur, membuka lemari meliha pakaiannya. Ada beberapa pakaian yang belum ia pakai tetapi tida cocok dengan cuaca yang mulai dingin. Aisyah kemudian melemaskan lehernya. Ia menutup lemari, membersihkan diri lalu berbaring di atas tempat tidur. Jantungnya tidak berhenti berdebar ketika memikirkan apa yang akan terjadi besok.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN