Takdir Allah 19 - Fisrt Date with Ezra

2062 Kata
Aisyah bangun lebih pagi, bukan akrena ingin memilih pakaian untuk digunakan. Tetapi, untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah Shalat, ia membaca Al-Qur’an. Aisyah mulai lancar karena sering mendengar murotal Al-Qur’an. Ia sedang menyelesaikan jus 30 akhirnya ia berhasil menamatkannya setelah sekitar dua bulan membacanya setiap selesai mengerjakan shalat lima waktu. Ia sejenak sempat ragu ketika memikirkan ingin keluar bersama, Ezra nanti siang. Tetapi, ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang membuat keraguan itu hilang. Aisyah akhirnya tidak jadi menolak ajakan Ezra yang seharusnya tidak boleh ia lakukan karena harus menjaga jarak dengan seorang pria. Aisyah masih dalam tahap perubahan sekarang, walaupun belum mengenakan jilbab tetapi pakaiannya sudah tertutup. Aisyah juga tidak pernah lagi menggunakan dress dan celana sepaha, celana jeans panjang dan baju ketat. Ia lebih sering memakai celana kain yang lebih longgar, serta kemeja atau hoodie extra size. Sejenak, Aisyah melihat jilbab yang ia simpan di dalam lemari. Jilbab siku yang ia beli kemarin. Aisyah berdiri, di depan lemari, mengambil salah satu jilbab itu. Dengan tangan bergetar ia membentuk segitiga, seperti yang ia lakukan saat masih bersekolah di Indoensia dulu. Aisyah melihat wajahnya di cermin sembari memakai jilbab, ia terpaku di tempatnya, wajahnya terlihat sangat berbeda sangat mengenakan jilbab. Aisyah seperti tidak percaya jika yang beada di pantulan cermin adalah wajahnya. “Wah.” Gumam Aisyah lalu mengambil peniti. Tidak hanya mencoba jilbab, Aisyah juga mencoba baju gamis sebetis dan juga celananya. Ia melihat pantulan dirinya di pantulan cermin. Ia menutup wajahnya, tersipu malu akibat melihat dirinya yang tampak sangat berbeda, sangat cantik dan anggun. Aisyah mengambil beberapa foto, untuk dikirim ke group chat keluarganya. Seketika langsung di balas pesan oleh Ayahnya. ‘Masyaallah, anak Ayah cantik banget.’ Aisyah tersenyum saat membacanya, ia senang dipuji ayahnya. Tiba-tiba, Ayahnya mengirim sebuah video yang memperlihatkan kedua orangtuanya sedang tersenyum bahagia. Mereka sedang, berada di dapur, video itu berdurasi beberapa detik dan berakhir begitu saja. ‘Paket data Ayah habis, Dek. Nanti siang baru beli, padahal Bunda pengen video call katanya. Kirim foto lagi, dong. Bunda masih mau lihat.’ Aisyah berfoto di cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya ia mengirimkan itu dan satu foto wajahnya yang sedang tersenyum.   ‘Cantik, Nak. Bunda berdoa semoga kamu mau istiqamah dan tidak melepaskannya lagi.’ Asiyah mengehembuskan napas panjang membaca pesan dari ibunya. Ia melihat pantulan wajahnya ke sekian kalinya di cermin, hati kecilnya berkata jika ia belum siap, walaupun sangat tergoda untuk tidak lagi melepaskan jilbabnya. “Semoga aku bisa memenuhi keingan Bunda.” Gumam Aisyah. Ia melepaskan pakaiannya, hingga tersisa celana pendek setengah paha dan baju kaos. Aisyah melipat pakaian yang ia gunakan tadi. Menyimpan pakaian itu di tengah-tengah, posisi yang akan selalu terlihat ketika ia membuka lemari. Aisyah membereskan kamarnya lalu membuat sarapan. Ketika selesai, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia membuka pintu balkon dan menghirup udara dalam-dalam. “Halo, Re.” jawab Aisyah langsung menekan airpods yang menempel di telinganya. “Kau tahu, dimana menyimpan data jadwal untuk tahun depan? Apakah kau sudah menyelesaikannya sebelum resign kemarin?” tanya Rere dengan terburu-buru. Aisyah mengerutkan kening, kenapa Rere menghubunginya untuk membicarakan tentang pekerjaan. Padahal ia sudah memberitahu, satu hari sebelum ia mengundurkan diri kepada orang yang akan menggantikan posisinya. “Aku sudah menyelesaikannya jauh-jauh hari, Re. Bukankah semua berkas ada di komputer yang aku tinggalkan? Di situ semua data saat orang yang sebelum aku bekerja sampai aku resign masih lengkap.” Jawab Aisyah. Terdengar Rere sedang membentak seseorang, Aisyah tidak tahu siapa yang dibentak oleh Rere tetapi jika orang itu sudah benar-benar menghabiskan kesahabaran sahabatnya itu maka tamatlah riwayatnya. “Aduh, Aisyah. Bisakah kau ke kantor nanti siang? Anak baru itu menghapus seluruh berkas yang ada di komputer, ia mereset komputernya.” Ucap Rere dengan nada setengah kesal. Aisyah melihat jam, jarum jam menunjukkan jam sembilan pagi. “Kau tahu, aku sudah tidak punya tanda pengenal. Bagaimana aku bisa masuk ke perusahaan tanpa itu?” tanya Aisyah. Rere menggeram, “Aku akan urus itu, lagipula kau baru saja resign kemarin. Tidak mungkin petugas pemeriksaan langsung tidak mengenalimu. Kali ini, aku sangat butuh bantuanmu, karena tim sudah tidak bisa menemukan berkas yang dihilangkan sedangkan laporannya akan dibahas nanti saat rapat bulanan.” “Baiklah, aku akan datang lima belas menit lagi.” Ucap Aisyah. Aisyah segera mengambil sepasang hoodie dan celana panjang  kebesaran di lemarinya. Ia  juga mengambil hardisk yang ia masukkan ke dalam tas kecil yang ia bawa beserta ponsel dan dompet. Ia sampai tepat sepuluh menit kemudian, ia lolos dari petugas pemeriksaan dengan beralasan melupakan barangnya. Aisyah melangkah panjang menuju bekas ruangannya. Di sana sudah banyak orang, termasuk Rere yang mondar-mandir di koridor. “Thanks.” Ucap Rere pelan. Mantan kepala divisinya juga berada di sana, tersenyum senang melihat kedatangan Aisyah. Sementara anak baru yang sudah training satu minggu sebelum resign menunduk lesu di sudut ruangan. Aisyah mengabaikan anak baru itu, menuju komputer yang ia gunakan selama bekerja dan mendapatkan komputer itu telah di reset sepenuhnya. Tangannya bergerak cepat bekerja di komputer, semua orang masuk ke ruangan sempit itu demi melihat berkas yang telah terhapus kembali. Setengah jam kemudian, ia berhasil mengembalikan komputer itu seperti semula. “Sebaiknya, cari orang yang lebih berkompeten untuk mengerjakan pekerjaan ini. Aku tidak akan bisa membantu kalian lagi jika keadaan seperti ini terulang kembali.” Ucap Aisyah tegas. Ia menoleh ketika mendengar isakan pelan, itu adalah seoarng gadis yang menggantikan posisinya. “Kau, sudah berapa lama bekerja di perusahaan?” “Dua tahun.” Jawab gadis itu hampir berbisik. Aiyah melangkah menuju perempuan itu, aura intimidasi miliknya terasa sangat kuat di ruangan itu. Bahkan, membuat Rere merinding. Beginilah jika orang yang tidak pernah marah bereaksi. “Dua tahun bekerja di perusahaan dan tidak sengaja mereset sebuah komputer yang berisi file sangat penting? Apa masuk akal?” Gadis itu tidak menjawab, ia semakin mendunduk. “Aku rasa gadis ini perlu diperiksa. Tidak mungkin seseorang yang bodoh bisa masuk kualifikasi untuk menggantikan ponsisi sebagai orang yang bertanggung jawab mengantur jadwal artis. Atau, bisa saja, HRD menerima seorang mata-mata.” Aisyah berhenti melangkah hingga menyisakan jarak satu jengkal di antara mereka. Aisyah berdecak lalu beranjak dari tempat itu. “Aku pulang. Re, sebaiknya kau urus dia.” Aisyah membuka pintu lalu keluar dari ruangan itu. Samar-samar ia mendengar ucapan terimakasih Rere. Aisyah melihat jam di ponselnya, hampir jam sembilan. “Aduh, sepertinya aku terlambat.” Gumam Aisyah lalu memberhentikan taxi. … Mata Aisyah membesar ketika mendapati Ezra berdiri di depan pintu apartemennya ingin memencet bel. Pandangan mereka bertemu, Ezra menunjukkan ekspresi bertanya-tanya kenapa Aisyah bisa berada di luar. “Hei, sorry. Aku dari kantor, ada sedikit permasalahan di sana. Kau sudah siap?”  tanya Aisyah. “Seperti yang kau lihat.” Jawab Ezra. Ezra terlihat segar dengan rambut basah. Ia memakai kemeja berwarna biru navy lengkap dengan celana panjang berwarna hitam. Aisyah tertawa kecil, ia sangat berkeringat dan belum mandi. “Mau masuk dulu? Aku tidak akan lama.” Ucap Aisyah. Mereka masuk ke apartemen Aisyah. Ini kali kedua Ezra masuk ke tempat tinggal Aisyah. Apartemen itu terlihat sangat terlihat benar-benar seperti rumah dengan prabotan sederhana dan rata-rata berwarna pastel. Aisyah memeberikan Ezra jus apel dan juga beberapa makanan kecil. “Aku janji tidak akan lama.” Ucap Aisyah sebelum masuk ke dalam kamar meninggalkan Ezra mengamati ruang tengahnya. Aisyah mengunci kamarnya lalu buru-buru masuk ke kamar mandi. Jantungnya berdebar kencang saat membayangkan jika ia benar-benar akan pergi bersama Ezra. Aisyah mengenakan pakaian yang simple, baju croptop dan  celana kain panjang berwarna coklat muda lalu mengambil mantel yang ia beli kemarin. Setelah selesai, Aisyah memakai sepatu yang nyaman. Butuh waktu 20 menit untuk Aisyah selesai berpakaian. Ketika membuka pintu kama, ia mendapati Ezra sedang menonton siaran tv. Ketika melihat Aisyah, Ezra langsung menghabiskan jus apelnya dan mematikan tv. “You look beautiful.” Puji Ezra. Aisyah hanya tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. Mereka sama-sama berjalan menaiki lift untuk turun ke lantai bawah. Entah kenapa, Aisyah terus memegang tasnya gelisah. Ia gugup sekali, padahal ini bukan kali pertamanya pergi berdua dengan seorang pria. “Hari ini kita mau kemana?” tanya Aisyah. Ezra yang sedang menyalakan mesin mobil menoleh menatap gadis itu. “Sebenarnya aku bingung mau ngajak kamu kemana. Aku baru beberapa bulan di sini yang cuma tahu jalanan ke kantor dan apartemen. Apa kamu punya tempat yang ingin dikunjungi?” Aisyah berpikir, “Ada, aku sangat ingin mencobanya sejak pertama kali datang ke sini tapi tidak pernah sempat. Buckhon Hanok Village, tapi itu tujuan kedua. Sebaiknya kita makan siang dulu, sebelum berkeliling. Bagaimana dengan restoran seafood?” Ezra setuju, ia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran itu. Restoran yang berada di tengah-tengah kota Seoul dengan menghidangkan masakan seafood yang sangat lezat. “Biasanya kalau weekend kamu ngapain?” tanya Ezra memulai obrolan. Mereka sudah sampai di restoran dan telah selesai memesan makanan. Karena mereka sangat suka dengan makanan seafood, maka jumlah makanan yang mereka pesan cukup banyak. “Baring-baring, atau marathon nonton film atau drama.” Aisyah memberikan Jogae Gui di piring Ezra. Pria itu langsung mencobanya dan memberikan ekspresi yang tidak mengejutkan Aisyah. Kerang panggang itu memang sangat enak. Setelah itu, Aisyah juga mengambil untuk dirinya sendiri. “Kalau kamu?” “Mungkin tidur kalau lagi nggak ada kerjaan, atau baca laporan perkembangan pembangunan. Malamnya mungkin olahraga biasa, lari keliling taman.” Jawab Ezra. “Kenapa kamu suka olahraga malam?” tanya Aisyah. “Kenapa nggak pagi-pagi?” “Olahraga malam itu lebih efektif, selain bisa membuat tidur lebih nyenyak. Olahraga di malam hari juga bisa mendapatkan hasil yang lebih cepat dan bisa  menurunkan tekanan darah.” Jawab Ezra. “…udara malam juga lebih sejuk dari pada pagi.” “Aku mana sempat, olahraga. Berangkat kadang pagi-pagi banget, pulang juga sering tengah malam. Paling sering pulang jam 11 atau kalau kemalaman bahkan nginap di kantor.” “Sesering itu kamu pulang malam? Memangnya kamu kerja apa sampai pulang larut malam seperti itu?” tanya Ezra yang langsung di jawab anggukan oleh Aisyah. Ezra mengambil Ojingeo-bokkeum (Cumi tumis) dengan sendok, menaruh setengah di piringnya. Pria itu masih belum bisa menggunakan sumpit seperti Aisyah, jadi ia mengambilnya dengan sendok atau garpu. “Aku bekerja sebagai social media marketing yang mengatur semua jadwal artis baik itu online maupun offline, semua tanpa terkecuali termasuk iklan. Setiap hari jadwalnya bisa berubah atau di tambahkan jadi akulah yang harus mengaturnya agar tidak saling bertabrakan. Padahal dulu cita-citaku bukan kerja kantoran, mau bisnis di rumah aja.” Terang Aisyah. “Terus kenapa nggak jadi?” tanya Ezra. “Ya, karena dulu aku terinspirasi sama Ayahku yang sekarang jadi seorang pengusaha yang sukses. Tapi, setelah aku dapat beasiswa kuliah di sini, cita-citaku berubah.” “Tapi, karir kamu terbilang sangat sukses sekarang. Apalagi kamu sangat cantik, cocok kerja di sebuah agensi yang menaungi banyak artis dan penyanyi.” Aisyah tersenyum kecil, ini kedua kali Ezra menyebutnya cantik. “Pikiran aku dulu itu, yang penting bisa kerja dulu. Aku termasuk beruntung karena langsung diterima, jadi bisa kasih orangtua sedikit walaupun nggak kekurangan. Tanda aku sudah bisa bekerja dan menghasilkan.” Ezra terdiam mendengar ucapan Aisyah, ia takjub mendengar jawaban gadis itu. Jarang sekali bisa mengenal perempuan yang berpikiran seperti itu. “Kamu mandiri, ya. Jangan banget perempuan sukses bisa mikir kasih orangtua separuh dari gajinya, kebanyakan apsti sudah mengoleksi barang mahal. Kamu bahkan tidak punya mobil.” Aisyah kembali tersenyum, “Aku nggak bisa nyetir. Untuk apa beli mobil, mending naik taxi atau bus.” Ezra ikut tersenyum, “Tapi, aku serius, Aisyah. Pikiran kamu sangat berbeda dengan orang lain.” Sangat berbeda sampai membuat Ezra terpesona dan membuatnya ingin mengenal Aisyah lebih jauh. “Biasa aja. Masih banyak orang yang perjuangan hidupnya lebih keras dari pada aku. Eh, setelah ini kita  mau kemana?” Aisyah baru saja mengetahui jika tempat yang ingin ia kunjungi harus membuat janji terlebih dahulu karena sangat banyak turis yang ingin ke sana. “Sebenarnya aku tadi malam sudah mencari beberapa tempat, aku penasaran ke,” Ezra memperlihatkan tempatnya kepada Aisyah karena tidak bisa menyebutkan namanya. “Ah, Gyeongbokgung Palace atau Istana terbesar di Seoul. Boleh, aku juga belum pernah ke sana.” Ucap Aisyah setuju, ia mendahului Ezra untuk pergi membayar makanan. Kali ini ia yang membayar makanan mereka. Gyeongbokgung Palace adalah istana yang terletak di sebelah utara kota Seoul, Korea Selatan. Istana ini termasuk dari lima istana besar dan merupakan istana terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon. Bangunan Gyeongbokgung Palace sangat megah dan cantik. Apalagi jika datang saat musim gugur atau musim sakura. Turis lokal atau internasional juga dapat memakai hanbok (Pakaian tradisional masyarakat korea). Di tengah perjalanan, ponsel Aisyah bergetar. Ia terkisap dan membuat Ezra terkaget. “Ada apa?” tanya Ezra memelankan laju mobil secara mendadak. Aisyah menjilat bibirnya, ia baru saja menerima notifikasi jika waktu shalat duhur telah masuk. Ia segera mencari masjid terdekat, lalu melirik Ezra sebentar. Aisyah berpikir sejenak, apakah ia menyuruh Ezra untuk melanjutkan perjalanan atau mengubah arah sedikit untuk mengantarnya ke masjid untuk Shalat duhur. Aisyah menemukan satu masjid bernama, Masjid Iteon yang berada di Hannam-dong, Yeongsan-gu yang cukup dekat dari tempat mereka berada sekarang. “Eh, bisakah kau mengatarku lebih dahulu ke suatu tempat? Tidak akan lama.” Tanya Aisyah. Ezra setuju, lima menit kemudian mereka sampai. Pria itu memarkir mobil tepat di bagian belakang masjid, ia menunggu Aisyah sembari melihat-lihat sekitar, Ezra melihat bangunan yang cukup besar dan luas di depannya, bangunan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN