e n a m

4043 Kata
"Saya kebanyakan nanya ya, Kak? Udah cocok jadi wartawan kayaknya. Hehe." Bagus tertawa renyah. Tanpa sadar, dia mengangkat tangan kirinya dari setir, ingin meraih tangan Windy yang menganggur di atas tote bag. Hampir. Tangan cowok itu berakhir mengambang di udara. Hingga Bagus meletakkannya kembali ke setir mobil. SUV putih yang membawa Windy menuju restoran khas Timur Tengah tersebut mengambil jalur keluar dari tol menuju Kuningan. Mengarah ke Gatot Subroto yang hari ini macetnya minta ampun. Padahal mereka hanya perlu melewati jalan raya tersebut sekitar tiga ratus meter sebelum berbelok ke kiri dan memasuki Kapten Tendean. Dan kini mereka harus mengikuti alur tersebut sebelum dapat berbelok dan keluar dari belenggu heavy traffic. "Kalau macet gini rasanya saya pengen turun aja. Jalan kaki lebih cepat. Mana sebentar lagi adzan maghrib," keluh Windy. Bagus menyandarkan kepalanya pada lengan kanan yang bertopang ke pintu di sampingnya. Memiringkan tubuhnya ke kiri agar dapat menatap Windy lebih leluasa. Entah mengapa keluhan Windy justru membuat hati Bagus terasa lebih tentram dan nyaman. Sumringahnya semakin lebar saat melihat Windy yang menghela napas. Tiba-tiba ponsel cewek itu berdering. Bersamaan dengan mobil Bagus yang lagi-lagi berhenti karena mobil di depan mereka melakukan hal yang sama. Membuat cewek itu kelimpungan hingga harus memegang d**a seolah jantungnya hampir melompat dari tempatnya. Bagus setengah mati menahan tawa. Dia membuang senyumnya ke jendela dan tertawa tanpa suara di sana. Ah, Windiana lucu sekali! "Iya, Mas?" Bagus kembali menoleh dan menatap Windy. Mendengarkan obrolan cewek itu dengan kakaknya. "Di jalan nih. Macet banget. Parah. Mas Ardi udah nyampe?" Bagus memperhatikan bagaimana gerak-gerik cewek itu. Dari gerakan bibir tipisnya, bulu mata lentik, hingga helaian anakan rambut yang menjuntai karena tidak terikat rapi. Cantik. "Umm... Sama teman." Teman? Oh, jadi sekarang Windy menganggap Bagus sebagai teman? Jujur saja, Bagus merasa sedikit keberatan. "Nggak jadi?!" Tiiiiiin!! Bunyi klakson dari mobil di belakang mereka menyadarkan Bagus. Cowok itu segera menurunkan rem tangan dan menginjak pedal kopling. Memindah persneling dan menjalankan SUV putihnya. Beruntung, kali ini mobil dapat bergerak perlahan hingga dia bisa terus memasuki jalan Kapten Tendean. Bebas dari kemacetan parah. Walaupun jalan masih sedikit padat, namun cukup longgar untuk dapat bernapas lebih nyaman dan lega. "Yaaah... Mas, aku bentar lagi nyampe. Kok malah nggak jadi sih?" rengek Windy. Diam-diam, Bagus mengembuskan napas dari hidung. Jujur saja, rasanya dia juga agak sedikit kesal. Mereka sudah hampir tiba di tujuan dan ternyata makan malam yang perjalanannya penuh rintangan tersebut dibatalkan begitu saja. Kendati demikian, ada keuntungan tersendiri bagi Bagus. Jika kakak sulung Windy tidak mengajak adik-adiknya untuk makan malam, mungkin Bagus tidak akan bertemu dengan Windy. Bahkan berkesempatan duduk berdua dalam mobil dan mengobrol hingga mereka merasa nyaman satu sama lain di sepanjang jalan. Dan rasa senang Bagus semakin membesar saat mendengar percakapan Windy dengan kakak sulungnya. "Iya sih... Lagian kasian Mas Ferdi mobilnya tadi nggak bisa nyala. ... Ya udah deh, aku langsung pulang aja. ... Iya, sampai ketemu di rumah." Kemudian Windy memutuskan sambungan telepon. Dia menghela napas sejenak. Berat dan penuh beban. Lalu setelah merasa sedikit lebih tenang, cewek itu menghadap pada Bagus yang berpura-pura fokus menyetir. "Kak Bagus," panggilnya pelan. Sungkan. "Hm?" sahut Bagus dengan suara berat khasnya. Dia menoleh pada Windy yang sibuk mengatur keberaniannya untuk bicara pada Bagus. "Kakak jangan marah ya... Kata Mas Ardi makan malamnya batal, soalnya sampai sekarang mobil Kak Ferdi masih belum beres juga," jelas Windy meringis. "Jadi, mau langsung pulang?" Windy mengangguk takut-takut. Duh, jangan bilang cowok ini akan merasa dongkol dan berakhir kesal. Cewek itu tahu, pasti Bagus sangat kelelahan sekarang. Perjuangan untuk lolos dari kemacetan kota Jakarta benar-benar sangatlah berat dan tidaklah mudah. "Iya, saya disuruh pulang sama Mas Ardi." Suara Windy terdengar sangat kecil. Sumpah, dia jadi benar-benar tak enak hati. "Umm... Saya turun di sini aja deh. Biar pulangnya naik taksi aja, Kak, nggak pa-pa." Windy menundukkan kepalanya. Tidak berani untuk menoleh dan menatap Bagus. Tidak berani untuk meminta tolong lebih dari ini. Windy sadar benar. Mereka baru saja saling mengenal. Secara teknis dan nyata. Dan rasanya tidak pantas kalau dia terus-terusan meminta tolong pada Bagus, bukan? Lagi pula Windy tahu, Bagus mempunyai image sebagai senior yang untouchable. Sulit untuk dijangkau karena sikapnya yang agak dingin. "Gitu? Emangnya rumah kamu di mana?" Bagus tidak serta merta menawarinya untuk tetap bersikeras mengantarkan Windy sampai rumahnya. Sebelum Windy berharap banyak, lebih baik dia berinisiatif pulang sendiri saja. "Jauh, Kak," sahut Windy pelan. "Jauhnya di mana?" "Pondok Gede." Bagus terkekeh. "Itu mah dekat, Win." "Dekat dari mana? Dari sini mah masih jauh, Kak. Banget." "Maksud aku, rumah kamu nggak terlalu jauh dari kostku." Mata Windy membulat. Seketika menoleh. "Kakak di sini ngekost?" Bagus mengangguk. "Iya, orang tuaku kan tinggal di Bandung." "Ooh, kirain Kak Bagus orang sini juga." Kali ini Bagus menggeleng. "Dulu tinggal di Jakarta juga kok, tapi sekarang orang tuaku menetap di Bandung. Makanya aku ngekost. KTP nunjukin kalau aku warga Bandung dan nggak menutup kemungkinan sih kalau aku bikin KTP sini lagi." Windy menatapnya bingung. "Ya mungkin aja kan pas lulus nanti aku dapet kerja di sini, terus dapat istri orang sini juga. Misalnya cewek yang lagi duduk di sebelahku...?" Kalimat yang diutarakan Bagus telah sukses membuat Windy melongo. Rasanya roh yang bersemayam di tubuh Windiana seolah-olah melayang hampir keluar dari jasadnya. Menyadari reaksi yang diberikan oleh perempuan yang duduk di sampingnya itu, Bagus tertawa. Nyaring. Suara berat dan maskulinnya menggema ke seluruh sudut ruang mobil SUV putihnya. Ekspresi Windy benar-benar membuat kedua tangan Bagus meremas kemudi dengan kuat. Saking gemasnya. "Hahahaha! Bercanda, Win!" kata Bagus di sela tawanya. Nggak, Win. Kalau beneran gua langsung sujud syukur di tengah aspal, sambung Bagus dalam hati. Windy ikut tertawa. Tawa canggung. "Hehe. Hehe, iya juga sih. Kak Bagus bercandanya bahaya. Bisa bikin orang baper," Windy menggaruk tengkuk yang tertutup helaian rambut halusnya, "untung saya udah kebal." Baper boleh, Kak? Ngarep kalau Kakak nggak cuman bercanda, boleh? batin Windy. Bagus sebisa mungkin tetap tertawa. Memaksakan dirinya seolah-olah dia memang benar-benar sedang bercanda. Gua justru berharap lu baper beneran, Win, kata Bagus di benaknya. "Wah, susah dong kalau mau modusin kamu?" Diam-diam, kedua tangan Windy meremas kuat sabuk pengaman yang mengunci tubuhnya. Duh, rasanya Windy akan melayang saat ini juga! Terlalu banyak hal tak terduga untuk hari ini. Dia takkan sanggup menampung lebih banyak lagi. Bisa-bisa cewek itu pingsan di tempat. Akan tetapi, rupanya Windy tak rela untuk melewatkan obrolan yang menjurus ke arah berbahaya ini. Berbahaya untuk hatinya. Berbahaya untuk mereka berdua lebih tepatnya. karena Bagus pun tak ingin berhenti untuk terus membuat Windy terperangah karena candaannya. Candaan di mulut, namun penuh keseriusan di hati. "Bukannya susah, Kak. Saya nggak masalah. Cuma ya kadang udah kebaca aja, jadi anti baper deh." Bagus mengangguk-angguk. Senyum masih tertempel di wajahnya. Dia menoleh pada Windy sejenak. Menyetorkan sebuah cengiran nakal sebelum berkata, "Berarti sainganku banyak ya, Win? Soalnya banyak yang berani modusin kamu. Kamunya sampai hapal gitu." Windy tak ingin menelan mentah-mentah senyuman menggoda dari Bagus. Sekilas, dia mengankat kedua bahunya. Bertingkah seolah-olah cuek. Padahal, dari hatinya, Windy terus memohon dan mengemis agar Bagus berhenti membuatnya semakin terbuai oleh berbagai pancingan-pancingan tersebut. Gas pol ya, Mas. Congratulation, Muhammad Bagus Abqari. You've got my heart! batin Windy. Bagus menyalakan lampu sein sebelah kanan, bersiap mengambil kesempatan untuk berputar balik. Dia segera membuat gerakan U-Turn dan berbalik arah. Kembali melewati jalan Gatot Subroto yang masih saja padat. "Sabar ya, Win. Maklum jam orang pulang kerja. Di mana-mana pasti macet," kata Bagus setelah beberapa saat mereka terdiam. "Biar saya turun di depanㅡ" "By the way, KTP aku ada di tempat Mas Ferdi, Win," potong Bagus mengalihkan topik pembicaraan. Cowok itu sudah tahu. Sedari tadi Windy memintanya untuk menepi. Menurunkannya dan berpisah. Hal tersebut merupakan ide yang buruk. Sangat teramat buruk bagi Bagus. Dia takkan rela untuk mengakhiri perjalanan indahnya untuk hari ini. Katakan Bagus adalah laki-laki tak tahu diri yang dengan sangat kurang ajarnya mendekati gebetan sahabatnya sendiri. Dia tahu itu. Dia menyadarinya. Sejak hari pertama, dia melakukan tugasnya untuk memotret Windiana, dia telah jatuh hati pada gadis itu. Objeknya tersebut terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. t***l jika Bagus tak jatuh hati pada objeknya. Terlebih lagi dengan fakta bahwa Windy benar-benar mendekati kategori perempuan impiannya. Meskipun demikian, perasaan ini bukanlah kesalahan Bagus seratus persen. Dion juga bersalah. Sahabatnya itu terlalu percaya dan ceroboh dalam keputusannya untuk melibatkan Bagus ke rencana briliannya. Seharusnya Dion lebih bijaksana dalam bertindak. Mengapa cowok bertubuh setinggi seratus delapan puluhan itu tidak memikirkan kemungkinan negatif jika melibatkan orang lain dalam proses pendekatannya dengan Windiana? Kemungkinan untuk terjadinya kesalahan dan kekhilafan ini bisa terjadi pada siapa saja. Tidak hanya Bagus. Ini dapat terjadi pada siapapun. karena semua orang tahu, Windy adalah salah satu bunga yang paling mempesona di kampus Rajawali. "...bisa?! Kenapa Kakak kasih KTP ke Mas Ferdi?" Pikiran Bagus yang beberapa detik melanglang buana sontak kembali ke tempatnya ketika mendengar suara lembut Windy. "Hm?" gumam Bagus setelah sempat kehilangan fokusnya. "Hahaha. Aku juga nggak tau. Biar jadi jaminan supaya kamu selamat sampai tujuan mungkin." Windy memijit-mijit keningnya. Malu setengah mampus karena ulah kakaknya. "Nanti saya ambilin deh, Kak. Duh. Mas Ferdi norak banget. Memang rada ajaib sih orangnya. Maaf ya, Kak," kata Windy dengan ekspresi tak enak hati. "Udah kayak barang aja, pake jaminan KTP segala." Bagus terkekeh. "Nggak perlu, Win. Lagian, aku sama Mas Ferdi udah bikin janji juga. Biar nanti aku ambil sendiri kalau ketemu lagi." "Beneran, nggak pa-pa?" "Iyaaa." Entah mengapa Windy semakin tak enak hati. Duh, Ferdian benar-benar membuatnya malu! Bagaimana bisa kakaknya itu dengan seenak dengkul menyita tanda pengenal seniornya? Rasanya Windy ingin mengubur dirinya hidup-hidup saja. "Emangnya Kakak janjian apa sama Mas Ferdi?" tanya Windy penasaran. Bagus tersenyum miring sembari melirik gadis di sampingnya. "Anak cewek nggak boleh kepo. Urusan cowok." Otomatis, Windy mencibir. Huh! Tidak Ferdi, tidak Bagus. Mereka sama saja. Apakah makhluk berjenis kelamin laki-laki memang tercipta menyebalkan seperti itu? Mobil SUV keluaran Jepang berwarna putih milik Bagus tersebut kini mengambil jalur khusus untuk kembali memasuki Jakarta Inner Ring Road. Melaju lancar di sepanjang jalan tol Cikampek yang akan membawa mereka ke area timur kota Jakarta. Matahari sudah hampir hilang dari langit-langit ibukota. Menyisakan warna jingga kekuningan ke seluruh langit yang cerah dengan gerombolan awan tipis sebagai hiasannya. "Udah masuk waktu maghrib nih," kata Bagus mengingatkan. "Keluar tol nanti kita stop di Mesjid atau Mushalla dulu ya, Win?" Windy yang tadi terdiam mengangguk pelan. Tak bicara. Bingung ingin berkata apa karena yang Bagus sarankan adalah salah satu kehendaknya juga. ¤¤¤¤   Bagus menepikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna biru langit. Dia yakin, ini adalah rumah perempuan yang duduk di sampingnya. Angka dua nol delapan tertera di depan pagar yang tidak terlalu tinggi. Setelah berputar-putar dalam komplek sebanyak empat kali, Bagus yakin sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen bahwa rumah ini adalah rumah yang tepat. Cowok dengan potongan rambut undercut itu menarik rem tangan agar mobil tak bergerak ke mana-mana. Membuat mobil tersebut tersentak pelan dan membangunkan Windy dari kecerobohannya. Sebuah sikap ceroboh yang benar-benar menguji kesabaran Bagus. Dalam kepala cowok itu bermunculan berbagai pertanyaan yang menyiratkan rasa gemasnya terhadap Windy. Bagaimana bisa perempuan cantik ini dengan cerobohnya terlelap? Apakah dia tak sadar bahwa Bagus dan dirinya baru saja saling mengenal beberapa jam yang lalu? Setidaknya, bagi Bagus. Akan tetapi, apa jadinya jika orang yang mengantarkannya sekarang bukanlah Bagus? "Hm?" Tiba-tiba Windy membuka matanya saat merasakan gerakan mobil yang berhenti mendadak. "Udah sampai. Di sini, kan?" Dengan mata yang masih dihinggapi rasa kantuk, Windy menoleh pada Bagus. Matanya terbelalak lebar. Astaga! Apakah dia tertidur?! Ya ampun. Sempat-sempatnya dia terlelap di perjalanan padahal ada Bagus di sampingnya! Windy malu bukan main. Dia mengedarkan pandangan. Memperhatikan lingkungan sekitar di mana mobil berhenti. Benar, ini rumahnya. Tepat di depan pagar. "I-iya, Kak," sahut Windy grogi. Tengsin sudah kepergok molor. Matanya mengerjap-ngerjap. Melihat ekspresi lucu Windy, Bagus tak dapat mengindahkan sifat jahil dan usilnya. Dia pun melepas sabuk pengaman yang mengurung tubuh, lalu mendekatkan dirinya pada cewek yang kini membeku karena pergerakan Bagus yang tak terduga itu. Cowok dengan alis tak terlalu tebal namun tidak pula tipis itu mengangkat jari telunjuk kanannya. Menyentuhkan ujung jarinya tersebut ke pipi kiri Windy. Deg! "Ada iler tuh," gumam Bagus dengan suara beratnya. "Hah?" Windy sontak menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya. Menyapu lokasi di mana Bagus menyentuhkan jarinya tadi. Malu setengah mampus. "Astaghfirullah!" "Hahahahahaha!" Rasanya Windy hampir menangis karena malu. Ditambah lagi suara tawa Bagus yang menggelegar. Cowok itu sampai memegangi perutnya karena telah terbahak. Windy tak tahu harus berbuat apa. Yang dia lakukan hanyalah menutupi wajahnya. Menyembunyikan diri dari rasa malu yang seolah-olah mulai membunuhnya perlahan. Tak perlu memakan waktu lebih dari lima detik, Bagus tersadar. Apa yang dilakukannya memang agak sedikit keterlaluan. Dia menghentikan tawanya secara instan. "Windy?" Cewek itu tak bergeming. Diam. "Win," panggil Bagus lagi. Baiklah, dia mulai khawatir. Apakah cewek yang kini mencuri hatinya ini menangis karena candaan garingnya?? "Haaaa! Kak Bagus jahat! Aku nggak ngiler! Nggak ada nih! Nih! Nggak ada iler! Masa cewek secantik aku tidurnya ngiler?! Ih! Fitnah!" Aku?! Apakah Bagus tidak salah dengar? Windy menyebut dirinya dengan kata aku dan hal tersebut membuat gadis itu semakin manis. Padahal sebelumnya dia menyebutkan diri dengan kata saya. Bagus tersentak sejenak. Lalu lagi-lagi dia terbahak. Ada rasa syukur saat mendengar reaksi heboh dari Windy. Untung saja Windy tidak menangis atau tersinggung seperti yang dia kira beberapa detik lalu. "Hahahaha! Iya, Win. Iya, becanda. Hahahaha! Maaf." "Nggak pake maaf!" Windy membuang muka. Bagus masih tak dapat menghentikan kelakarnya. "Maafin aku, Win. Kamu lucu banget sih, sampe aku nggak tahan buat nggak jahilin kamu." Windy bersedekap. Memasang wajah cemberutnya dan masih tak sudi menoleh pada Bagus. Tak sadar dengan kelakuannya yang sangat manja. "Windy..." Bagus yang sedari tadi duduk miring menghadap pada Windy mengangkat tangannya. Mengambil tangan kiri Windy yang berada di atas lengan kanannya. Kontak kulit itu sontak membuat cewek itu menoleh. Terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bagus. Windy terbelalak. Walaupun mobil tempat mereka berada terasa remang karena penerangan yang hanya dibantu oleh lampu jalanan, Bagus dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Windy yang terkejut setengah mampus. Tak pernah menyangka jika Bagus akan... Tok! Tok! "Astaghfirullah!" "AAA!!" Bagus kaget bukan main. Dan Windy? Jangan ditanya. Rasanya jantung cewek itu hampir melompat dari rongga dadanya. Mereka sontak menoleh ke jendela yang dipunggungi oleh Windy. Bagus menghembuskan udara yang tersimpan di dadanya. Menghilangkan rasa kagetnya. Ferdi berdiri di luar mobil. Sebuah taksi berlalu di belakangnya. Lelaki itu tersenyum penuh arti sembari memberi isyarat agar Bagus membuka central lock mobil SUVnya. Bagus pun segera melaksanakan permintaan Ferdi. Dan pria yang masih berbalut kemeja putih dengan dua kancing teratasnya yang terbuka itu segera menarik handle pintu, membuat pintu yang berada tepat di samping Windy. "Kenapa masih di sini, Win? Bagusnya nggak diajak masuk?" tanya Ferdi menyelidik. Windy segera melepas sabuk pengaman. "Minggir," bisik cewek it, mengusir kakak sulungnya. Ferdi menggeser tubuhnya sehingga Windy dapat dengan leluasa bergerak keluar dari mobil. Menyaksikan pergerakan Windy, Bagus ikut membuka pintu di sampingnya. Keluar dari mobil dan bergerak cepat untuk menghampiri dua beradik dari keluarga mendiang Bapak almarhum Bapak Soehendra itu. "Gimana mobilnya, Mas?" tanya Bagus basa-basi. Ferdi terkekeh. "Ya gitu, ujung-ujungnya nginap. Terpaksa naik taksi." Windy diam-diam memperhatikan dua laki-laki yang tengah berinteraksi dengan sangat akrab tersebut dari jejauhan. Pernahkah Windy menyangka suatu hari nanti Ferdian dan Bagus akan terlihat sangat dekat seperi ini? Tidak. Tidak pernah sekalipun. "Oh iya!" Ferdi menyerahkan jas dan tas tangannya pada Windy. Membuat gadis itu merengut. Lalu ia merogoh saku belakang celananya dan mengambil dompet. "Ini, KTP lu." Bagus tertawa ramah. "Eh, iya." Dia menyambut tanda pengenalnya yang sudah menjadi jaminan dalam ekspedisi pengantaran Windiana. "Makasih udah nganterin adek gua dengan selamat sampai tujuan dan sehat wal afiat." "No prob, Mas." "Berapa nomer lu? Biar entar gua enak ngabarin lu buat janjian ketemu Gilang." "Ada di Windy kok, Mas," sahut Bagus seraya tersenyum simpul pada adik perempuan Ferdi. Windy melongo. Oh, ya! Memang benar. Nomor ponsel Bagus ada pada daftar panggilan masuk di ponsel Windy. karena Ferdi sempat meminjam ponsel Bagus untuk menelpon adiknya. Ferdi berdeham. Memberi kode atas upaya Bagus yang mencoba menggoda adik perempuannya. Dia merasa seakan mendapatkan partner in crime dalam mengusili cewek itu. Windy semakin salah tingkah saat menyaksikan bagaimana Bagus tersenyum padanya dan kerlingan mata Ferdian yang membuatnya semakin jenuh atas kejahilan abangnya itu. Cewek dengan rambut hitam agak kecoklatan itu tanpa sadar memeluk tas dan jas kakak laki-lakinya. Tercium semerbak parfum yang selalu digunakan Ferdi. Windy berupaya menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kendati cahaya dari lampu penerang jalan pada komplek tempat tinggal keluarga Bapak almarhum Bapak Soehendra hanya sebatas bias remang, tetap saja Windy tak ingin wajahnya yang memanas terlihat oleh dua lelaki itu. "Kayaknya Mas Ardi udah di dalam rumah, Windy masuk duluan deh." Salah tingkah, dia menghadap pada Bagus. "Kak, maaf banget udah ngerepotin Kakak hari ini. Sampe ribet nganter ke rumah gini. Makasih banget ya, Kak." Bagus tersenyum lembut. "Nggak pa-pa, Win. Aku malah seneng kalau direpotin sama kamu. Sering-sering aja bikin aku repot ya?" "Pffft!" Ferdi sudah tak mampu menahan tawanya. "Ngegas ya, Gus?" Celetukan Ferdi semakin membuat Windy tengsing. Malunya kebangetan! Bisa-bisa wajah cewek itu hangus sekarang saking kepanasan. "Windy masuk dulu," pamit Windy lalu benar-benar beranjak dari tempatnya berdiri dan masuk ke pekarangan rumahnya. Meninggalkan Bagus dan Ferdi yang setengah menahan tawa.   ¤¤¤¤ Selvania Gimana kencannya? Dion udah nembak belom?   Windy menarik napas dalam-dalam saat membaca balasan pesan obrolan dari sahabat karibnya. Kedua jempolnya terasa kaku. Cewek itu mengacak-acak rambutnya yang setengah kering. Ponsel baru pemberian dari Ferdi itu ia lepas begitu saja. Memantul dari kasur ke bantal. Beruntung tidak terlempar dan mendarat di lantai dan berakhir mengenaskan. Setelah mendapatkan tanggapan heboh Selva, Windy menjadi ragu. Saking senangnya, dia hampir lupa kalau temannya itu adalah biang gosip Kampus Rajawali. Niatnya ingin berbagi kesenangan, eh, terhalangi oleh rasa kurang percaya. Teringat bagaimana track record Selva yang memang punya teman di mana-mana dan bisa saja suatu saat apa yang tengah dia alami ini akan menjadi bahan perbincangan dengan teman-teman hitsnya. Adik bungsunga Ardian itu pun beralih ke ruang obrolan bersama Airin.  Responnya kurang cepat. Tidak seperti Selva yang memang selalu standby dengan ponselnya. Selama tujuh menit menunggu, Windy mencoba kembali mengirimkan pesan. Dan pada percobaan kedua, Airin baru membalaskan pesannya.         Airin Sbb win, gw baru nyampe rumah nih Kenapa zheyenk   Windiana P.S Gue mau cerita Tapi jangan ember ya   Airin Iyaaa ih tenang aja Sama gw ini Kenapa kenapa? Cerita ayo   Hmm. Tidak apa-apa, Windy. Coba saja ceritakan pada Airin. Sulit sekali menyimpan kebahagiaan sekaligus kebimbangan yang kamu alami.  Dalam sekali tarikan napas panjang, Windy pun membiarkan kedua jempolnya menari di permukaan layar handphone.   Windiana P.S. Tadi sore gue ketemu bagus rin Trus dianter pulang sama dia          Akhirnya... Tertulis juga. Dan reaksi Airin sesuai dengan ekspektasi.   Airin WHATTTT HOOOWWWW TELPON. GW. SEKARANG.         Windy kembali bimbang. Apakah dia harus menghubungi Airin sekarang juga? Sebersit penyesalan tumbuh di salah satu titik di hatinya.  Apa sih yang Windy harapkan dari peristiwa yang dia alami hari ini bersama Bagus? Semua hanyalah pertemuan sesaat dan di kemudian hari, semuanya pasti akan berlalu begitu saja. Sadarlah, Windiana. Bagus hanya mengantarkanmu pulang, tidak lebih. Besok-besok juga cowok itu pasti akan lupa padamu. Seperti yang dulu. Dan memang begitulah Bagus. Windiana mematikan ponselnya. Tidak pula membalas pesan Airin. Dia bahkan menolak panggilan dari sahabatnya yang cantik seperti dewi dari timur dan selalu menjadi pujaan para mahasiswa. Airin adalah adik kelasnya Bagus. Mereka berada di bawah naungan program studi dan jurusan yang sama. Rasanya sangat memalukan jika Airin nekat menagih konfirmasi kepada kakak kelasnya perihal kejadian hari ini. Namun, jika mengingat cara Airin bersikap, cewek itu tidak seberingas Selva yang suka blak-blakan. Tidak mungkin, bukan? Airin belum segila itu untuk mendatangi Bagus. Apalagi Bagus adalah tipikal senior yang sulit digapai. Dia hanya dekat dengan beberapa junior, tetapi namanya selalu disebut-sebut oleh para mahasiswa muda di bawah tingkatannya. Jadi, jika Airin atau Selva nekat mencegat Bagus, hal itu sama saja dengan bunuh diri. Bikin malu diri sendiri. Aduh, berasumsi macam-macam membuat Windy pening saja! Dari pelipis yang berdenyut, berujung hati yang mulai cenat-cenut karena berbagai kemungkinan negatif yang terus membayangi angannya. Pengalaman sebelumnya sudah sukses bikin hati Windy senewen berkepanjangan. Jika harus menghadapi hal yang sama, sepertinya Windy takkan sanggup. Berbahagia sesaat atas sebuah peristiwa yang membutakan mata terhadap realita. Besok hari, kejadian ini akan berlalu dan kembali terlupakan. Persis sebelumnya. Dia yang akan terus mengingat canda dan tawa itu, lalu dia juga yang akan menelan pahitnya menjadi yang dilupakan. Lelah mengemban rasa yang hanya dia pendam sendiri. Menyedihkan.   ¤¤¤¤   "Mikum!" Bagus menoleh. "Waalaikumsalam. Ucap salam yang bener!" sahutnya pada teman yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar kost. Orang yang barusan membuka pintu kamar Bagus itu masuk. Nyelonong. Haikal melepas kaos jersey yang melekat lembab di kulitnya. Sepertinya laki-laki itu baru selesai bermain futsal. Bau keringat semerbak, namun tak Bagus hiraukan. Cowok kelahiran bulan maret itu memang tidak pernah mengunci pintu jika sedang berada di dalam kamar. Bagus kembali mengalihkan pandangan ke layar laptopnya. Mengeklik mice yang tak pernah lepas dari tangannya. "Masha Allah. Panas bener!" Haikal mengambil remote AC yang tergeletak tanpa dosa di lantai. Mengatur pendingin ruangan tersebut ke suhu minimum agar memberi efek sejuk pada kamar Bagus. Berharap tubuh dan kaosnya cepat kering dari keringat yang membasahinya. "Ngapain? Serius amat," tanya cowok yang lebih muda satu tahun dari Bagus itu. "Ngedit," sahut Bagus sekenanya. Terkesan malas seperti biasa jika bersama sahabat satu kostnya. Haikal melirik ke layar yang sedari tadi menjadi pusat perhatian dan fokus Bagus. Dan ketika dia melihat gambar apa yang sedang diutak-atik oleh Bagus, cowok itu mulai memberikan reaksi yang agak heboh dan sedikit mengganggu. "Waaah! Kayaknya gua tau ini siapa!" serunya sembari menunjuk-nunjuk foto yang sedang Bagus edit dengan telaten. Foto Windy. Siapa lagi? Bagus diam saja. Menatap temannya curiga. Dari mana dia mengenal Windiana? "Lu kenal?" Cowok dengan panggilan Kal untuk Haikal itu menggeleng. "Nggak kenal sih, tapi Dion pernah kasih lihat akun i********: cewek ini ke gua." Bagus kembali memberikan sentuhan agar hasil jepretannya terlihat lebih indah. Tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Haikal. Sudah tak heran jika Dion bercerita pada cowok itu. Haikal adalah salah satu teman terdekat Dion. Bahkan sebelum Dion mengenal Bagus. "Tapi kok lu punya foto dia, Bang?" tanya Haikal akhirnya. Penasaran level sepuluh. "Objek gua." Kening Haikal berkerut. Berpikir keras. Seperti sedang mengingat sesuatu. Beberapa detik jeda setelah kalimat yang diucapkan oleh Bagus, Haikal berseru. Membuat keributan baru di kamar Bagus yang senyap dan tenang. "Si t***l," makinya. Bagus melirik ke arah Haikal. Dia tahu, makian itu bukan untuknya. "Dion somplak! Dia nyuruh lu motret ini cewek, kan!?" Kali ini giliran kening Bagus yang mengernyit. Dari mana Haikal mengetahui hal ini? Dari Dion? Seakan dapat membaca pertanyaan yang bermunculan di kepala Bagus, Haikal berkata, "Ide itu gua yang punya, Bang. Astaga! Nggak nyangka kalau tuh anak bener-bener ngelakuin apa yang gua bilang." "Emangnya kenapa?" tanya Bagus setelah rasa penasarannya yang kian lama kian memenuhi kepalanya. Haikal menggeleng sembari berdecak. Berlagak tak habis pikir dengan cara berpikir sahabatnya. Dia mendaratkan bokongnya ke tepian kasur. Lalu menggaruk kepalanya yang memang agak gatal. Maklum belum keramas. "Ya nggak pa-pa. Kali aja gara-gara motretin itu cewek lu malah ikutan naksir. Hahahaha!" Bagus membisu, menatap Haikal dengan ekspresi datar. Tak ingin berkata apapun karena lelucon yang Haikal ucapkan padanya memang sudah kejadian. Haikal tidak bodoh. Tawanya yang menggelegar, nyaring dan menggugah kita untuk ikut terbahak bersamanya itu perlahan mereda. Seiringan dengan kesadaran atas apa yang kemungkinan terjadi pada Bagus karena foto tersebut. "Astajim!" seru Haikal lagi ketika sadar dengan bagaimana reaksi yang diberikan Bagus padanya. "Banggus, jangan bilang luㅡ" "Gua apa?" kekeh Bagus. Terpampang sebuah senyuman aneh pada wajahnya. Haikal meneguk liur yang terkumpul di mulutnya. Membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa sangat kering kerontang. Tidak! Ini tidak mungkin terjadi, bukan?! "E-elu nggak b-beneran lagi naksir gebetannya Dion, kan, Bang?" tanya Haikal terbata-bata. Bagus melengos. Tak ingin menjawab pertanyaan dari Haikal yang kini benar-benar akan menjebaknya. Dia lebih memilih diam daripada mencoba menyangkal atau lebih gilanya lagi justru mengakuinya. Biarlah Haikal sendiri yang menjawab pertanyaannya dari analisis dan spekulasi cowok itu. "Njing! Really, Gus!?" Bagus menulikan telinganya. Dia terus memberi sentuhan untuk foto Windy yang baginya bagaikan bidadari dari surgawi tersebut. Namun saat dia akan menyelesaikan proses editing itu, gerakan jari telunjuk dan tangan Bagus berhenti tatkala mendengar pertanyaan gila dari Haikal. "Serius nanya. Lu nggak ada niat buat nikung, kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN