l i m a

4218 Kata
"Maaf, Win." Awkward. Cewek itu tersenyum canggung. Dia baru saja tersadar bahwa Dion telah memegang punggung tangannya. Tak dapat dipungkiri, kini wajah Windy memanas. Pipinya merona. Semburat merah mewarnai kulit wajahnya, memberikan kesan manis dan cantik. Dion juga ikut salah tingkah karenanya. Sumpah, demi bumi yang terus berputar tanpa henti, Dion tak pernah merasakan hal yang seperti ini. Sangat manis dan membuat dadanya bergetar hebat hanya karena menyentuh punggung tangan cewek itu saja. Dion tak habis pikir. Bagaimana bisa ia merasakan hal seperti ini padahal dia sudah terbiasa untuk menggenggam tangan perempuan, tidak hanya menyentuh saja. Semua yang berputar di kepala mereka berdua buyar ketika mendengar suara ponsel yang bergetar di atas meja. Ponsel Windy. Si empunya segera mengambil smartphone tersebut dan menerima panggilan masuk. "Iya, Mas?" Terdengar suara Ferdian. "Masih di MOI, kan? Gua udah di parkiran nih." Mata Windy membulat, membuat Dion bingung. "Hah? Ngapain?" "Mas Ardi udah balik dari Malang. Doi ngajak dinner di luar. Dadakan. Kayak nggak tau dia aja. Turun gihㅡ" Sambungan tiba-tiba terputus. "Halo? Mas? Mas Ferdi?!" Windy menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layar yang menampilkan foto dirinya bersama mendiang orang tua dan dua saudaranya. Sambungan benar-benar terputus. Buktinya, sekarang yang terpampang pada layar hanya wallpaper saja. "Dari siapa, Win?" tanya Dion penasaran. Windy otomatis menatap Dion. Saat melihat wajah cowok itu, dia pun baru bisa mencerna apa yang Ferdi katakan lewat telepon. "Bentar ya, Dion." Windy mencoba menghubungi Ferdi kembali, namun sepertinya kakaknya itu tidak aktif. Dan hal tersebut membuat Windy gelisah dan cemas. "Nggak aktif," gumam Windy sembari terus mencoba menghubungi kakaknya. Dion masih menunggu dengan sabar. Tak ingin mendesak jawaban atas pertanyaannya pada Windy. Cewek itu terlihat sedikit panik. Windy akhirnya menyerah juga. Dia menghela napas berat. Bahunya menurun. Wajahnya terlihat sendu namun tak menghilangkan kecantikannya sedikitpun. "Barusan Mas Ferdi nelpon. Dia bilang mau jemput aku dan sekarang udah di parkiran," jelas Windy. "Eh? Ke sini?" tanya Dion tak percaya. "Jemput kamu?" Windy mengangguk pelan. Tak enak hati. "Mas Ardi di Jakarta, terus tiba-tiba ngajak dinner, makanya dia jemputnya mendadak gini. Kayaknya hape Mas Ferdi low-batt juga, telponnya tiba-tiba mati aja. Duh, gimana ya?" Dion harus mengerti. Terpaksa mengerti. Sudah resiko punya gebetan anak bungsu yang dua kakak laki-laki sangat protektif. Dia pun mengangguk-angguk pelan. "Ya udah, nggak pa-pa, Win. Santai aja." Mana mungkin Dion bisa marah pada Windy? Cewek itu tidak salah sama sekali. Hanya keadaan saja yang tak mendukungnya hari ini. Lagipula tidak mungkin dia terpancing emosi. Mereka masih dalam masa pendekatan. Walaupun tak dapat ditampik adanya rasa kecewa yang membelenggu hati Dion, namun apa mau dikata? Dion pun tersenyum maklum. Bibirnya yang agak penuh dan terkesan seksi itu melengkung. Menampilkan lesung pipi yang membuatnya terlihat lebih menarik dan mempesona. Windy masih tak enak hati. Dia meringis dan berkata, "Next time aku traktir makan siang deh! Tapi nggak pa-pa kan kalau cuma McD? Dompetku tipis, hehehe. Nggak bisa traktir yang mahal-mahal." Cowok itu tertawa renyah. Dia menggeleng. "Duh, pecel lele kantin kampus juga diembat, Win, kalau kamu yang traktir." "Kalau gitu aku tambah cendol depan Mesjid kampus juga deh," tambah Windy. Tanpa membuang waktu sedetikpun, Dion berkata, "Janji ya? Deal!" Dia bergerak dan menyodorkan tangan kanannya. Bermaksud untuk menjabat tangan cewek yang duduk tepat di seberangnya. Windy terkikik geli. Ikut menyodorkan tangan kanannya dan menjabat tangan Dion. Tangan mungil milik Windy otomatis tenggelam dalam genggaman cowok itu. Dan ketika Windy hendak menyetujui perjanjian di antara mereka, ponselnya kembali berdering. Refleks dia menarik tangan yang digenggam oleh Dion dan mengambil ponsel tersebut. Dari nomor asing. Kening Windy berkerut. Mengira-ngira siapa si penelpon tersebut. Dan setelah dia membuang rasa ragunya, Windy memilih untuk mengangkat telpon tersebut. "Halo?" sapa Windy. Suaranya terdengar sangat lembut, membuat Dion yang duduk di seberang menatapnya lekat. "Di mana, Dek?" Ini suara... "Mas Ferdi? Ini nomer siapa?" "Hape gua baterainya abis. Ini pinjam hape orang." Wah, pantas saja koneksi mereka beberapa menit yang lalu terputus. "Mas beneran udah di parkiran? Serius Mas Ardi ngajak dinner?" Pasti sekarang Ferdi sedang mengangguk tak sabar. "Iya, buruan." Windy reflek berdiri dari tempat duduknya. Dion menjauhkan ponselnya dari telinga, menatap Dion penuh sesal. "Maaf ya, Dion. Mas Ferdi udah jemput. Aku duluan ya," pamitnya. "Aku anterin ya?" tawar Dion. Setidaknya, dia berusaha agar lebih berlama-lama bersama Windy. Windy menggeleng. "Nggak usah, nggak pa-pa. Dah, Dion." Kemudian dia berjalan keluar dari coffee shop tersebut dan menempelkan kembali ponsel yang ia genggam ke telinga. "Iya, Mas. Ini aku mau ke parkiran. Mas di mana?" "Gua di depan mobil. Di Section G, dua belas. Emang lu di mana?" "Masih di depan Starbucks. Mau ke parkiran. Eh, aku nggak tau section G di mana, Mas," keluh Windy. "Coba tanya security kek, mobil gua mogok nih. Sekarang nunggu service." "Hah?! Mogok?! Ih, pake mogok segala! Bukannya itu mobil baru? Mas pake mobil sendiri apa mobil kantor sih?" "Nggak usah bawel, buruan ke sini." Sambungan terputus. "Ih, tumben!" sungut Windy. Dia bergerak, sedikit terburu-buru. "Permisi, Pak. Parkiran section G di mana ya?" tanya Windy pada salah satu petugas keamanan mall. Cewek dengan tas tote kanvas itu kembali melangkahkan kakinya dengan cepat setelah mendapatkan lokasi di mana kakaknya berada. Dan ketika dia tiba di area parkir, Windy segera mencari angka G12. Tak perlu membuang waktu lama, Windy menepukan mobil jenis sedan milik Ferdian. Ah, itu dia! Windy tentu saja mengenali kakaknya yang tinggi dan berperawakan atletis itu. Dengan balutan kemeja putih rapi dan licin, celana berwarna gelap dan sepatu pantofel yang memberi kesan eksekutif. "Mas!!" seru Windy. Kaki mungil dan jauh dari kata jenjangnya berlari kecil. Melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Windy kesal bukan main. Napasnya sedikit memburu. Tentu saja dia merasa dirugikan oleh kedatangan kakaknya yang tanpa ada angin dan hujan itu. Tidak ada pemberitahuan sama sekali. Dan Ferdi benar-benar berhasil merusak acara kencannya dengan Dion hari ini. Akan tetapi, langkah Windy melambat ketika dia sudah berjarak lima meter dari tempat kakaknya berdiri. Dia baru saja menyadari bahwa Ferdi sedang tidak sendirian. Dia bersama seorang laki-laki. Seseorang yang sangat dia kenali. Mata Windy terbelalak. Mulutnya terbuka sedikit dan napasnya tercekat. Bagaimana bisa?! Orang itu adalah Muhammad Bagus Abqari. Cowok yang selama ini dia taksir dan idamkan. Cowok yang telah menolongnya satu tahun lalu saat dia sedang dalam keadaan berbahaya. Cowok yang berhasil memikat hatinya hingga Windy tak pernah menghiraukan keberadaan orang lain yang mencoba mencari perhatiannya. Ya, cowok yang kemarin menanamkan kembali harapan semu. Harapan yang telah dia kubur dalam-dalam namun kini tumbuh kembali hanya karena sebuah interaksi aneh dan singkat. Bagus menatap Windy tak kalah kagetnya. Cowok itu seolah-olah berubah jadi patung. Keduanya tersadar saat mendengar Ferdi bersuara, "Gimana, Gus? Kinclong, kan?" Windy masih terdiam, sedangkan Bagus tertawa canggung. "Hahaha, iya, Mas. Cantik." Jelas saja Windy mendengar apa yang dikatakan Bagus. Suara berat dan ngebass cowok itu. Sudah lama sekali Windy tak pernah mendengar suaranya. Satu tahun lamanya. Dan satu hal lagi, Bagus mengucapkan kata cantik. Apakah itu juga untuknya? Cewek itu memberanikan diri untuk berjalan mendekati Bagus dan Ferdi. Mengubur dalam-dalam rasa segan dan canggungnya. Mengusir kenangan dan angan yang selama ini menjadi nyanyian sebelum tidurnya. Berlagak seolah-olah dia tak pernah bertemu dengan Bagus sebelumnya. Cowok itu sudah melupakanmu. Ikuti saja permainannya, Windy! "Mas ngapain jemput mendadak? Aku kan lagi asik ngopi sama teman! Ah, ngerusak acara Windy!" omelnya pada Ferdi. Sengaja tak menghiraukan keberadaan Bagus. Lebih tepatnya terlalu takut untuk menatap cowok itu. Takut terjatuh lagi. "Gua harus bilang berapa kali sih, De? Mas Ardi tiba-tiba pulang dan ngajak dinner. Lu kayak nggak tau dia aja. Sukanya dadakan. Gua sampai kelimpungan, langsung banting setir ke sini." "Lagian, Mas tau dari mana kalau aku lagi jalan ke sini? Aku kan cuman izin ke Mas Ardi aja." Ferdi bersedekap. "Ya dari dia lah. Siapa lagi? Duh!" Windy menghela napas, lelah. "Emang mau makan di mana?" "Abunawas, Kemang." Windy mengeluh lagi. "Jauh banget." Ah, kakak sulung mereka yang super-duper penyayang itu memang tiada duanya. Semua yang terjadi di kehidupan Ferdian dan Windiana memang selalu terdapat campur tangan Ardian semenjak orang tua mereka tiada. "Oh, iya, De. Kenalin, ini Bagus." Ferdi tiba-tiba memperkenalkan cowok yang berdiri di sampingnya itu pada Windy. Cowok yang jelas-jelas sudah dia kenali. Dan Windy yakin, Ferdi juga pasti masih ingat dengan Bagus. Tidak mungkin bukan kalau Ferdi lupa dengan cowok berkulit putih bersih itu? Mengapa dia berperilaku seolah-olah baru pertama kali bertemu? Apa yang sedang Ferdi rencanakan sekarang? "Gus, kenalin. Ini adik gua. Namanya Windy." Windy kagok. Gugup bukan main. Apalagi setelah tahu bahwa sedari tadi Bagus telah menatapnya tanpa henti. Memperhatikan dan mengamati apa yang Windy lakukan dan ucapkan. Duh, mimpi apa Windy semalam sampai bisa bertemu dengan Bagus di sini? Ah, mimpi apa Bagus semalam sampai bisa berada sedekat ini dengan Windy? Tanpa melupakan sopan santunnya, Bagus berinisiatif menjadi gentleman dengan menyodorkan tangan kanannya terlebih dahulu. "Bagus," ucapnya. "Kita pernah ketemu di kampus." Ya iyalah! Kamu itu seniorku!! teriak batin Windy. Namun, yang keluar dari mulut Windy hanyalah; "Oh. Saya Windy." Bagus menyebutkan segala sumpah serapah dan berbagai jenis binatang di dalam hati ketika dia merasakan lembut dan halusnya tangan Windiana. Tak pernah menyangka dirinya akan bersentuhan dengan cewek itu. Bagaimana bisa dia melihat senyuman indah milik cewek itu dari jarak yang sangat dekat seperti ini? Ini nyata! Bukan mimpi atau fantasinya. Bukan gambaran yang terpampang di jendela bilik kameranya! "Kita juga pernah ketemu di kantin." Ya, dan kamu motret aku, batin Windy. Dia takkan pernah mampu mengucapkan isi hatinya. Apalagi di depan Bagus. "Oh, ya?" kata Windy berpura-pura terkejut tanpa menghilangkan senyumnya. "Wah, lu kenal adik gua, Gus? Satu kampus?" tanya Ferdi sok polos. Bagus mengangguk dan tertawa renyah. Suara beratnya itu membuat pipi dan tubuh Windy memanas seketika. Apalagi cowok itu masih belum mempunyai niat untuk melepas genggaman tangannya. Rasanya Windy ingin meleleh saja. "Ehem!" Dehaman Ferdi menyadarkan Bagus untuk berhenti menggenggam tangan Windy. Benar, tidak hanya menjabat, melainkan menggenggamnya. Dia sontak tersadar dan melepaskannya, walaupun sesungguhnya dia tak rela. "Eh, maaf," gumam Bagus. Windy membalasnya dengan anggukan kaku. Berupaya untuk setenang mungkin padahal hatinya sudah cenat-cenut. Interaksi di antara mereka bertiga tiba-tiba terinterupsi. Pelayanan service mobil yang dipanggil oleh Ferdi tiba. Pria tinggi atletis itu segera menyambut petugas service yang akan memperbaiki mobilnya. Windy deg-degan bukan main ketika Ferdi menjauh dan berkonsultasi tentang mobil barunya yang tiba-tiba mogok. Meninggalkan Windy dan Bagus yang berdiri canggung berduaan di depan mobil SUV putih milik cowok itu. Cewek dengan rambut digelung tinggi itu diam-diam menautkan jemarinya. Dua jempolnya beradu. Telapak tangan mendingin dan berkeringat. Salah tingkah. Apalagi saat dia diam-diam melirik Bagus yang ternyata justru menatap lekat dirinya. Ada sesuatu yang aneh tentang Bagus. Belakangan ini, ada yang berbeda dari cowok itu. Dulu, saat pertama kali bertemu, Bagus selalu bersikap dingin. Walau hanya berpapasan beberapa kali di kantin kampus. Wajar saja, namanya juga tak saling mengenal. Akan tetapi, mengapa Bagus tampak sangat berbeda? Bagi Windy, Bagus sudah seperti orang lain. Yang dia tahu, Bagus adalah cowok yang dingin dan teramat cuek. Tapi mengapa sekarang dia tersenyum seperti itu...? "De," panggil Ferdi. Windy dan Bagus menoleh bersamaan. Ferdi melepas simpul dasi dan kancing teratas kemeja putihnya. "Lu duluan aja ya? Takutnya Mas Ardi udah nyampe sana dan nunggu kelamaan. Gua nyusul. Servicenya bakal lama kayaknya." Windy merengut. Dia menyodorkan telapak tangan kanannya pada Ferdi. "Apaan?" Ferdi mengernyit. "Ongkos takol," pinta Windy. Bibirnya mengerucut lucu. Manja. Ferdi melengos. "Ngapain pakai taksi? Tuh, sama Bagus." "Hah?" Mata Windy terbelalak tak percaya. "Gus, lu bisa kan nganterin adik gua--ffpp!" Belum selesai Ferdi bicara, Windy sudah membekap mulut kakaknya dan menarik pria itu menjauh dari Bagus. Setelah dirasa lumayan jauh, Windy pun mulai menyerang Ferdi. "Mas udah gila?!" bisik Windy panik. Baru kali ini Windiana menuduh Ferdian gila seperti itu. Bukannya marah, sang kakak justru tertawa kecil. "Gila apanya?" Windy memukul d**a Ferdi dengan gemas. "Mas lupa?! Itu Si Bagus! Cowok yangㅡ" "Iya, itu cowok yang pernah nolongin lu dulu. Gua masih ingatkok, Win," kata Ferdi santai. Windy speechless untuk beberapa saat. Mulutnya terbuka lalu terkatup kembali. Seperti ikan yang sedang bernapas di aquarium. Rupanya Ferdi memang masih mengingat cowok itu. "Terus, kenapa Mas nyuruh aku pergi sama dia?" Ferdian menyunggingkan sebuah senyuman nakal. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Dua alisnya naik-turun, menggoda Windy. "Biar lu bisa jalan sama dia. Kapan lagi, Win?" Mulut Windy megap-megap lagi. "Mas nggak salah makan atau kenapa-kenapa, kan? Emangnya Mas percaya sama dia? Dia kanㅡ" "Percaya. Dia baik, De. Dia udah pernah nolongin lu dulu. Tanpa pamrih. Dia juga nolongin gua barusan," potong Ferdi, lalu menghela napas. "Lagian, nggak ada waktu nih. Emangnya lu mau bikin Mas Ardi nunggu lebih lama lagi?" Kini Windy tak bisa berkata-kata lagi. "Udah lah. Itu pangerannya udah nungguin." Ferdi menarik adiknya yang terdiam membisu. Kembali mendekati Bagus yang sedari tadi diam mengamati mereka. "Bisa anterin adik gua ke Kemang, Gus? Jauh sih. Soalnya mobil gua baru selesai dibenerin sekitar satu-dua jam lagi, kayaknya." Bagus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Dia ragu. Pasalnya, dari Boulevard ke Kemang itu... Sangat luar biasa. Belum lagi rute pulang menuju kost-nya yang berada di Kalimalang. Good luck, Bagus! Siap-siap saja mengelilingi jalan padat kota Jakarta. Kendati demikian, walaupun jika dibayangkan akan terasa sangat jauh dan menguras tenaga, Bagus tak serta-merta menolak. "Bisa." Bagus menyanggupinya. Tak sadar dan telah lupa tentang fakta siapa cewek yang akan duduk di kursi penumpang SUV-nya tersebut. Windy diam saja. Tak tahu harus berkata apa. Hingga akhirnya Ferdian yang mendesaknya untuk segera berangkat. "Sana, nebeng Bagus dulu, Win. Jangan nungguin gua, masih lama." Bagus membukakan pintu penumpang untuk Windy. Cewek itu menatap Ferdi seolah-olah sedang meminta ampunannya. Namun, pria dewasa itu hanya tersenyum penuh arti. Memberi isyarat pada adiknya agar mawas diri dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Ah, seandainya Ferdi tahu bagaimana image seorang Bagus yang dingin dan sedikit angkuh jika sedang di lingkungan kampus. Mungkin kakaknya itu tidak akan sudi menyuruh Windy untuk menghabiskan waktu bersama Bagus. Kendati demikian, apa mau dikata jika Windy sendiri sudah terpaut hatinya pada cowok itu? Sudah terlanjur. Sulit untuk melupakan dan membuang rasa tersebut begitu saja. Walaupun mata Windy sudah terbuka atas sifat dan sikap Bagus selama ini. Meskipun Windy sadar bahwa cowok itu telah melupakan kejadian tahun lalu, namun apa mau dinyana jika Windy terlanjur kagum padanya? Maka, dengan paksaan dan desakan Ferdi serta Bagus yang menunggu di depan pintu mobil, Windy pun perlahan berjalan mendekati SUV putih milik cowok itu. Dia tak berani untuk mengangkat wajahnya. Masih teringat jelas pengalamannya yang lalu, kala Windy mencoba menyapa Bagus dan cowok itu tidak menghiraukannya sama sekali. Kejadian itu membuat Windy benar-benar ciut. Dan hingga sekarang dia tak pernah berani menegur cowok itu lagi "Seatbeltnya," kata Bagus dengan suara beratnya. Windy segera bergerak untuk menarik sabuk pengaman. Setelah Bagus mendengar suara 'klik' pada pengait sabuk pengaman yang menahan tubuh Windy, baru dia menutup pintu. Lalu cowok itu berjalan cepat memutari mobilnya. Ketika Bagus melewati Ferdian, cowok itu bertanya, "Yakin saya yang anter adiknya, Mas?" Mendengar pertanyaan Bagus, Ferdi berkacak pinggang. "Kalau adik gua hilang, tinggal lapor polisi. Kalau adik gua kenapa-napa, lu tinggal gua habisin. Gampang." Bagus terbahak. Ngeri juga mendengar ancaman kedua yang dilontarkan Ferdi. "Aman, Mas, kalau sama saya." Ferdi mengangguk-angguk. Namun ketika Bagus hendak melangkah, dia mencegatnya. "Bentar dulu." "Kenapa, Mas?" Bagus menghampiri pria itu. "Sini, KTP lu." Bagus bingung setengah mampus. "KTP saya? Buat apa ya?" tanya Bagus seraya tetap mengambil dompet yang tersimpan di kantong belakang jeans belelnya. "Buat jaminan," sahut Ferdi seadanya. Permintaan itu tidaklah serius. Dia hanya ingin terlihat meyakinkan di depan Bagus. Bagus syok untuk sepersekian detik sebelum tertawa sembari mencomot KTP dari dompet dan menyerahkannya pada Ferdi. Dia mengerti. Mana mungkin pria itu akan percaya begitu saja padanya yang notabene baru bertemu dengannya hari ini. "Hahaha. Oke, nggak pa-pa deh saya kasih KTP. Hitung-hitung biar bisa nagih janji Mas buat temuin saya sama Mas Gilang." Sekalian ketemu Windy lagi kalau bisa, sambung Bagus dalam benaknya. Ferdi ikut tertawa. Dia mengedipkan mata kanannya seraya berkata, "Bisa diatur!" "Sip. Saya berangkat dulu." Ferdi mengacungkan jempolnya sebagai balasan. Dari dalam mobil, Windy yang sedari tadi sibuk mengatur napas dan menetralkan detak jantungnya kembali kaku saat Bagus membuka pintu. Windy mengangguk sopan. Tersenyum pada Bagus. Dibalas Bagus dengan hal yang sama. Tak lebih dan tak kurang. Mobil pun beranjak dari area parkir. Kemudian hening. Tak ada yang memecahkan keheningan di antara mereka. Rasa canggung menyelimuti udara yang mereka hirup. Windy menautkan kesepuluh jarinya. Atmosfer yang ia rasakan kini sama persis seperti kejadian tahun lalu. Sepi dan dingin. Entah ke mana perginya cowok yang terlihat ramah beberapa menit lalu. Rasanya Windy ingin sekali melompat dari mobil yang ia tumpangi karena suasana sepi layaknya kuburan ini. Namun apa mau dikata? Windy hanya bisa mengedarkan pandangannya ke jendela di sampingnya. Menonton aktivitas petang jalan raya Boulevard. Langit masih terang. Jalan raya kota Jakarta yang selalu padat memperparah keadaan. Sudah lebih dari lima belas menit mereka membisu. Hanya bunyi mesin mobil yang bergerak membawa mereka ke arah tujuan serta hingar-bingar aktivitas jalan ibukota yang mengisi indra pendengaran. Bagus berpura-pura sedang berkonsentrasi mengemudi. Padahal dalam dadanya tengah berkecamuk berbagai rasa. Jujur saja, sebenarnya Bagus benar-benar ingin mendengar suara Windy. Suara lembut dan manis ketika cewek itu berbicara. "Ehem." Bagus berdeham. Refleks Windy menolehkan kepalanya. Cewek itu tersenyum canggung. "Maaf ya, malah ngerepotin," kata Windy dengan volume suara terkecil. Dia tak tahu harus memulai obrolan dari mana. Tanpa mengalihkan pandangan matanya dari jalan raya, Bagus menyahut, "Santai aja. Aku juga sekalian mau pulang kok." Aku? Apakah Windy tak salah dengar? Dia menggunakan kata aku untuk menunjuk dirinya pada Windy. Memberi kesan yang membuat detak jantung Windy semakin cepat dan kuat. Tanpa sadar tangan cewek itu meremas sabuk pengaman yang menahan tubuhnya. Padahal, setahu Windy, Bagus bukanlah tipe cowok sesopan itu meskipun berhadapan dengan kaum hawa. Cewek dengan rambut yang diikat dan digelung tinggi itu membasahi tenggorokannya dengan paksa. Masih betah untuk tersenyum meski canggung. "Ooh, jadi Kakak tinggal di daerah Kemang?" Bagus menggeleng. "Kalimalang." Mata Windy terbuka lebar. "Jauh banget. Duh, saya pesan taksi aja deh! Ini sih namanya bener-bener ngerepotin." Bagus tertawa kecil. Ia menatap Windy sejenak lalu berkata, "Biasa aja. Sekalian jalan-jalan." Mendengar tawa dari suara berat Bagus, otomatis Windy juga ikut terbawa suasana yang mencair. Tak pernah menyangka bahwa ia dapat mengobrol seenteng dan senyaman ini dengan Bagus. "Tapi kan saya yang nggak enak." Bagus menatap Windy tepat di manik mata. Membuat jantung cewek itu berhenti berdetak beberapa saat. Sekilas namun memberikan makna yang benar-benar.... "Buang aja yang nggak enak, kasih ke kucing biar nggak mubazir." Windy ngeblank. Dan sedetik kemudian ia tersadar. Cowok yang pernah menolongnya satu tahun lalu itu sedang mengajaknya bercanda. Benarkah ini nyata? Apakah ia sedang bermimpi? Jika iya, mimpi ini sangat teramat indah. "Emangnya makanan, bisa dikasih ke kucing," Windy terkikik geli. "Biasanya kalau nggak suka dan nggak enak saya kasih ke Mas Ferdi." "Jadi Mas kamu itu sebenarnya kucing?" Tawa Windy semakin parah. Dia sampai menangkup kedua tangannya dan menutup sebagian wajahnya. Tak dapat dielakkan lagi bahwa pipi Windy memerah seperti kepiting rebus. Pernahkah Bagus menyangka bahwa ia akan berada sedekat ini dengan cewek yang selama beberapa hari ini menjadi objek kameranya? Tidak pernah. Bahkan tertawa karena candaan garingnya. Windiana terlalu jauh baginya. Cewek cantik yang sudah menjadi target sahabatnya itu sulit untuk dijangkau. Ya, Bagus memang telah tergiur untuk menampakkan diri di hadapan cewek itu. Dia telah mengenyampingkan label gebetan yang Dion berikan pada Windy. Ketika Bagus mengetahui siapa adik dari pria yang ia tolong, detik itu juga dirinya memutuskan untuk memperjuangkan dan menjadi egois demi memenuhi hasratnya. Hasrat untuk menggapai Windy. Dan pernahkah Windy menyangka bahwa dirinya akan duduk tepat di samping Bagus, di mobil SUV putih, sama persis seperti saat kejadian tahun lalu? Tidak. Ini seperti mimpi. Siapa yang dapat menduga situasi di mana Windy tertawa bersama senior yang selama ini menjadi pusat perhatiannya. Bagus pun juga terlalu jauh baginya. Cowok cuek itu terlalu sulit untuk dijangkau. Jangankan untuk meraihnya, Windy sadar selama ini keberadaannya tidak pernah diketahui oleh cowok itu, bahkan ia sudah terlupakan. Namun jika dipikir-pikir, ada baiknya pula kalu Bagus melupakan kejadian itu. Hal tersebut membuktikan bahwa Bagus memang mempunyai niat tulus. Hanya sekedar membantu dirinya saja. Tanpa maksud dan tujuan apapun. Bayangkan saja jika semuanya berbanding terbalik. Cewek yang ditolong Bagus itu bukanlah Windy dan dia akan mengingat orang tersebut, maka semua ini akan berbeda. Tak akan ada kisah di antara mereka berdua. Semua itu terus berputar-putar dalam kepala Windy. Keinginan untuk mengingatkan Bagus tentang kejadian tahun lalu itu terus mendesaknya. Akan tetapi cewek itu terlalu malu untuk mengungkapkan padanya. Lagipula, bagaimana cara mengungkapkan dan kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Bagus? Windy terlalu bingung. Sedangkan Bagus sendiri masih memutar otaknya agar terus mempertahankan atmosfer yang nyaman di antara dirinya dan Windy. Diam-diam, Bagus meliriknya. Cewek itu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Menautkan jemari mungil nan lentik yang mampu menggugah Bagus untuk menggenggamnya. Senyum atas candaan dan banyolan yang Bagus layangkan masih tersisa. Dan cowok itu semakin rakus untuk menyaksikan senyumannya. Mobil SUV putih yang dikemudikan oleh Bagus memasuki jalur Jakarta Inner Ring Road. Otomatis, Bagus menambahkan laju kecepatan mobilnya. Jam digital pada dashboard menunjukkan pukul enam petang dan perjalanan mereka masih memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit lagi jika tidak ada hambatan. Macet, misalnya. "Umm, Kak Bagus," gumam Windy, memanggil cowok yang sibuk memikirkan cara untuk mengajaknya mengobrol. Bagus mengutuk dirinya sendiri. Mengapa bukan dia yang mendahului obrolan dengan Windy? Eits! Tunggu dulu! Barusan Bagus tidak salah dengar, bukan? Windy memanggilnya dengan sebutan apa? Kakak? Ada sedikit perasaan janggal saat mendengar sebutan itu. Dia merasa tak nyaman. Katakan dirinya bodoh dan t***l karena Bagus menginginkan lebih. Tidak tahu diri. "Jangan panggil kakak, Windy. Panggil Bagus aja." Uuhh. Cara Bagus menyebutkan namanya membuat Windy merinding. Hatinya bergetar. Seperti sedang tersengat aliran listrik. "Tapi kan Kakak senior saya di kampus." Bagus senang setengah mampus. Apakah Windy mengetahui identitas dirinya? "Hm, tau darimana kalau aku seniormu?" pancing Bagus dengan senyum miring di bibirnya. Windy menahan napas saat melihat senyuman itu. Ah, sudah keceplosan, teruskan saja. Lagipula, Windy tidak pandai mencari-cari alasan atau menutupi sesuatu. "Hehehe, Kakak kan termasuk senior yang ngehits banget di kampus. Kapten Tim Basket Rajawali, siapa yang nggak kenal?" Ah, b******k Si Dion! Mengapa dia harus menjadikan cewek cantik nan manis ini sebagai targetnya?! Sungguh, Bagus semakin lama semakin tak rela. "Ooh, jadi kamu kenal aku, tapi malah pura-pura nggak tau, gitu?" Bagus semakin menyukai setiap proses perubahan dari ekspresi yang Windy berikan padanya. Beberapa detik lalu ia bebicara dengan lembut, tersenyum manis, kemudian kini cewek itu kembali tersentak karena pertanyaan Bagus. Lucu sekali. Windy refleks menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu. "Masa saya sok kenal sama Kakak sih?" "Kalau kamu yang nyapa, walopun kita nggak saling kenal, aku pasti ikutan SKSD kok," sahut Bagus. Ngegombal? Modus?! Mendengar apa yang diucapkan oleh Bagus benar-benar berhasil membuat Windy ingin melengos. Omong kosong! "Ah, dulu saya pernah nyapa Kakak. Kak Bagus nggak bales tuh." Apa?! Windy pernah menyapanya?! Bagus refleks mengalihkan pandangannya. Menatap Windy dengan mata terbuka lebar. "Masa sih? Kapan? Mungkin aku nggak dengar, Win." "Dulu." Windy menghela napas. "Dulu kan Kak Bagus pernah nolongin saya, tapi kayaknya Kakak udah lupa." Benarkah? Kapan? Bagus memaksa kepalanya untuk memutar kembali berbagai memori yang tersimpan di dalam kotak kenangannya. Pernahkah ia bertemu dengan Windy sebelumnya? Jika memang pernah, maka Bagus sangatlah bodoh. Bodoh karena telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Windy lebih awal. Seakan mendengar pertanyaan yang terucap di benak Bagus, Windy menjawabnya perlahan. Mengungkapkan siapa dirinya pada Bagus. Mungkin bagi cowok itu kejadian tersebut tidaklah penting untuk diingat, namun bagi Windy kejadian itu sangatlah penting. Apa yang Bagus lakukan untuknya benar-benar menyelamatkan masa depan cewek itu. "Mungkin Kakak lupa udah pernah nolongin saya tahun lalu. Waktu itu ospek hari terakhir. Saya nungguin Mas Ferdi di halte depan kampus. Mas Ferdi telat jemputnya, macet banjir. Dan kebetulan sore itu hujan lebat banget." Windy menoleh pada Bagus, tersenyum lembut pada cowok itu. "Terus ada preman gangguin saya. Kakak nolongin saya," sambungnya. Semua yang dituturkan Windy perlahan mulai tergambar kembali di kepala Bagus. Benarkah? Benarkah sebelumnya Bagus pernah menolong Windy? Dalam sekejap Bagus mengingatnya. Sekelebat memori itu muncul. Ya, dia pernah menolong mahasiswa baru. Hujan-hujanan. Di halte bis yang berada tepat di depan Universitas Rajawali. Bagus tak pernah menyangka bahwa perempuan cantik yang ia tolong itu adalah Windy! "Itu kamu?!" Windy mengangguk. Terasa gelenyar pedih di relung hati ketika mendapati bukti bahwa Bagus memang benar-benar melupakannya. Namun, kini semua itu tidaklah penting. Setidaknya Windy dapat berterima kasih atas kebaikan cowok bermobil SUV putih yang telah mau membantunya sehingga luput dari gangguan kejahatan. Bagus terdiam. Tak tahu harus berkata apa karena ini merupakan kesalahannya. Dan hening kembali menyerang. "Sekali lagi, makasih banget ya, Kak Bagus. Kalau nggak ada Kakak waktu itu, mungkin sayaㅡ" "Windy," Bagus memotong kalimat yang menuju ke arah negatif itu. Suara baritonnya berhasil membuat cewek itu bungkam. "Hehehe. Pokoknya saya seneng banget bisa ketemu Kakak lagi." Cowok itu mengangguk setuju. "Aku juga, Win." Mereka bertukar senyum. Ah, rasanya lega sekali. "Oh iya, Kak. Kemaren itu Kak Bagus memotret saya buat apa?" Waduh! Mampus! Ayo, Bagus! Cari alasan yang tepat! "Iya, umm, nggak sengaja motret kamu buat project bareng temen-temen. Themenya kayak aktivitas di kampus gitu. Nggak marah kan kalau kamu masuk kamera?" Windy mencerna apa yang dikatakan oleh Bagus. Kemudian dia mengangguk-angguk dengan bibir mengerucut. Menahan diri agar tidak mengembangkan sebuah senyuman. "Iya, Kak. Nggak pa-pa kok." Untunglah... Sementara waktu, Bagus dapat bernapas lega.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN