e m p a t

4238 Kata
"Oke, sekarang lu ceritain semuanya. Se-mu-a-nya!" Windy menahan senyum saat Airin dan Selva mulai menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Apa lagi kalau bukan tentang acara makan siangnya bersama Dion? Dua cewek nan ceriwis itu sudah menagih dan mewanti-wanti Windy agar menceritakan pengalamannya berkencan dengan Dion sejak kemarin malam. "Cerita apaan?" tanya Windy sok polos. "Nggak usah muter-muter deh, Win. Kemarin gimana ama Dion?" Windy tersenyum penuh arti. Semburat tipis berwarna merah muda menghiasi pipi cewek itu, pertanda Windy sedang tersipu. "Gimana apanya? Biasa aja. Nggak ada yang spesial, Rin," jawab Windy seadanya. "To the point aja, Win. Udah penasaran banget dari tadi malam," desak Selva. "Biasa aja, Sel. Beneran. Cuma makan siang bareng, muter-muter mall sebentar, terus dianter balik. Udah, gitu aja." Airin melengos, tidak puas. "Nggak mungkin. Masa cuma gitu doang? Nggak percaya. Dari berbagai info yang gue tau, Dion itu cowok yang romantis dan nggak pernah pelit. Masa jalannya biasa aja?" Windy mengangguk mantap. "Gue harus cerita apa lagi? Cuma makan siang doang. Terus ngobrol-ngobrol santai." "Dia nggak beliin lu apa kek gitu?" cecar Selva. "Hmm," gumam Windy membuat dua temannya makin penasaran. "Apa?" tanya Airin dan Selva hampir bersamaan. Windy menggeleng dan menahan tawanya saat melihat ekspresi dua temannya yang heboh itu. Kemudian dia menjawab, "Nggak ada." Jawaban Windy sukses membuat Airin dan Selva bengong sesaat. Tidak ada?! Yang benar saja?! "Ngeselin banget, nggak sih?" "Tobat deh gue! Astaghfirullah. Temen lu, Sel! Ogeb bener, dah!" Kini giliran Windy yang bengong karena baru saja menerima berbagai cacian dari Selva dan Airin. Ada apa? Apakah ada yang salah jika Dion tidak membelikannya sesuatu? "Harusnya lu minta beliin hape baru. iPad kek, Mac kek, iPhone baru kek, atau jam tangan yang mahal-mahal gitu!" "Betul. Kapan lagi, coba?" "Atau jalan-jalan sore pake helikopter bokapnya sekalian." "Anak tajir disia-siain!" Windy takjub mendengar saran-saran gila yang diucapkan Selva dan Airin. Ia segera melontarkan protesnya dengan berkata, "Emangnya gue siapa jadi minta beliin ini-itu?! Gini-gini, gue bukan cewek matre." "Bukannya matre, Win. Tapi memanfaatkan kapasitas dompet gebetan!" kilah Airin. "Sama aja! Apa bedanya?!" "Ih, beda tau. Dion itu kalau ngajak cewek jalan emang selalu beliin hadiah yang mahal-mahal. Nggak pernah biarin si cewek pulang dengan tangan kosong. Harusnya lu kasih kode keras buat dikasih kode lebih istimewa," sanggah Selva. Apa yang dijelaskan temannya itu membuat Windy memutar bola matanya. "Sama aja kali, Sel. Nggak ah, gue nggak mau. Takut kemakan jasa orang lain, entar susah balas budinya." Airin dan Selva lagi-lagi bengong. Tak habis pikir dengan bagaimana cara Windy berpikir yang sedikit old fashioned. "Sebenarnya, Dion sempat ngajak gue ke toko kamera gitu. Dia beli dan mesan lensa apa gitu gue nggak ngerti. Terus, dia nawarin gue kamera lomo, blablabla. Gue tolak aja, soalnya gue ngerasa nggak butuh. Hehe." Selva menepuk jidatnya, sedangkan Airin tertawa sendiri. Benar-benar heran dengan semua yang berjalan di kepala Windy. Dipikir-pikir, pantas saja selama ini dia jomblo dan cowok yang mendekatinya selalu berakhir minder. Windy adalah cewek yang terlalu baik dan terlalu polos. Seperti anak kecil yang manja. Sesuai dengan karakter putri bungsunya. Melihat reaksi kedua temannya, Windy hanya bisa tersenyum manis sebagai balasan. Cewek bersurai indah itu mengangkat kedua bahunya. Pertanda obrolan mereka tentang Dion memang sudah harus diakhiri. Kemudian, Windy membuka aplikasi i********: yang sudah lumayan lama tak dia kunjungi. Tenggelam dengan dunia ponselnya. Tak berbeda jauh dengan Selva yang mulai serius dengan alat komunikasi itu. Obrolan mereka pun rehat sejenak, menunggu pesanan makan siang yang belum datang juga. Airin mulai tak sabar menunggu. Perutnya sudah mengadakan konser metal sedari tadi. Cewek berambut panjang bergelombang agak kecoklatan itu celingukan. Mencari sosok Bu Yuni yang seharusnya membawakan ayam goreng rica-rica pesanannya. Akan tetapi, bukannya menemukan tanda-tanda kedatangan menu favoritnya itu, Airin justru melihat sesuatu yang membuatnya terpana. Pemandangan mengejutkan yang sama persis dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Sebuah kamera tertuju padanya. Tepatnya pada cewek yang duduk di sampingnya. Muhammad Bagus Abqari, dengan sebuah kamera menutup sebagian wajahnya sedang sibuk memotret. Tubuh, wajah, dan lensa kameranya mengarah ke meja tempat Airin berada. Kali ini, ia benar-benar yakin bahwa cowok itu memang sedang memotret Windy. Airin pun berinisiatif untuk memberi tahu Selva. Cewek manis berambut pendek itu segera menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh sahabatnya. Sama seperti saat ia memergoki cowok itu beberapa hari yang lalu, tak diragukan lagi bahwa Bagus memang menaruh perhatian pada Windy. "Windy," panggil Airin. "Hm? Apa?" sahut yang punya nama. "Coba lu senyum deh. Yang lebar yang cantik ke gue," kata Selva. Windy bingung mendengar apa yang diinginkan oleh temannya itu. Namun ia tetap melakukannya. "Kenapa? Senyum yang cantik kayak gini?" Windy mengerling-ngerlingkan kedua matanya. Lalu tertawa sendiri karena permintaan Selva yang random itu. Selva mengangguk cepat. "Nah, iya, senyum aja terus. Jangan berenti!" Windy makin kebingungan. "Kenapa sih?" Senyumnya masih belum hilang. Ia justru tertawa sendiri melihat dua temannya yang agak aneh. Cewek itu menatap kedua temannya dengan mata penuh kecurigaan. Airin benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang. Semakin Windy tersenyum dan tertawa, semakin rakus pula Bagus memotret cewek itu. Airin dengan sangat jelas dan kentara melihat bibir Bagus yang ikut melengkung. Walaupun sebagian wajah cowok itu masih tertutup kamera. "Astaga, Sel. Nggak salah lagi. Mata gue belum rusak, Sel!" kata Airin heboh sembari mengguncang-guncang lengan Selva. Sohib mereka, Windiana yang selama ini menyukai cowok bernama Bagus itu ternyata tidak tahu bahwa sedang diperhatikan oleh cemcemannya sendiri. Ya, diperhatikan oleh cowok yang telah ditaksirnya selama satu tahun itu. Bahkan sampai difoto seperti sekarang. Maka dari itu, Airin dengan tenang menunjuk keberadaan Bagus dengan jari lentiknya. Dia berkata, "Tetap senyum ya, Win. Coba lu lihat meja seberang sana, depan soto Pak Yono. Siapa yang lagi motret lu sekarang?" Mata Windy otomatis mengikuti arah ke mana jari telunjuk Airin tertuju. Deg! Windy melihat dengan jelas. Di seberang sana, Bagus duduk di salah satu meja pada kafetaria Universitas yang agak senggang, menodongkan lensa kamera kepada dirinya. Memotretnya. Senyuman manis Windy perlahan lenyap. Berubah dengan ekspresi terkejutnya atas fakta yang ia temui detik itu. Matanya yang mengerucut lucu mulai membulat. Bibir tipisnya yang mengembangkan sebuah keindahan perlahan terbuka sedikit. Tak percaya dengan apa yang ia tangkap dengan kedua indra penglihatannya sendiri. Di detik yang bersamaan, Bagus yang asyik menikmati senyuman dari objeknya itu membeku. Menjadi batu. s**l, dia ketahuan. Kepergok. Mampuslah dia! Perlahan, Bagus menurunkan kamera yang menutupi sebagian wajahnya. Seolah terhipnotis oleh tatapan Windy yang terfokus padanya. Tersedot dalam manik yang menatapnya takjub. Walaupun mereka terpisah oleh delapan buah meja, Windy dan Bagus seolah-olah sedang bertatapan secara langsung dengan jarak yang sangat dekat. Beberapa detik saling bertatapan seperti itu saja. Hingga akhirnya jantung Bagus terpompa semakin cepat dan keras. Degupan di dadanya semakin menyiksa tatkala Windy tersenyum simpul padanya. Ya, tersenyum kepadanya. Bagus tak sadar bahwa sebagian dari dalam dirinya terasa ingin meledak karena pemandangan itu. Yang dia lihat sekarang adalah nyata. Bukan senyuman indah di balik jendela bilik kameranya. Bagus menerimanya secara langsung. Keelokan yang selalu terbayang semalaman suntuk. Nuansa yang selama ini hanya ia imajinasikan dari layar laptop dan kamera saja. Rasanya cowok itu ingin segera berlari menghampiri pemilik kecantikan itu. Namun sayang sekali, akal sehat Bagus masih berkerja dengan sangat baik. Windy sendiri ikut terpana saat menerima sebuah balasan dari cowok yang telah berhasil menyita sebagian hatinya itu. Bagus membalas senyumnya. Sebuah lekukan bibir sederhana yang mampu membuatnya lupa bahwa tadi malam ia telah memutuskan untuk menghilangkan cowok itu dari kenangannya. Tanpa sadar, mereka saling menikmati momen itu. Momen di mana seolah-olah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Kala di mana seakan-akan hanya ada mereka yang ada di tempat itu. Ah, sudah kepalang basah, mandi saja sekalian! Sadar bahwa dirinya ketahuan telah memotret Windy secara diam-diam, Bagus mengangkat kembali kameranya. Namun sebelum ia menutup sebagian wajahnya dengan benda itu, Bagus berkata; "Senyum." Ckrek! Ckrek! Ckrek! Ckrek! Tiga dari empat foto yang Bagus ambil, semua menampilkan wajah bingung Windy. Akan tetapi, pada foto terakhir berhasil membuat mulut Bagus terasa kering. Gugup dan salah tingkah. Foto yang menggambarkan Windy sedang tersenyum sangat manis. Lurus ke lensa kameranya. Foto yang menggambarkan seakan-akan Windy tengah menatapnya, menembus ke mata hati. Menandakan bahwa dia mengerti dengan apa yang Bagus inginkan. Bagus menghela napas. Lelah. Ia harus menjadi lebih kuat agar dapat menolak godaan dan meneruskan pekerjaan sampingannya ini. Meskipun ia tak dapat berdusta bahwa dirinya sedikit tidak rela. Namun ia rasa sudah cukup untuk hari ini. Bisa-bisa jantungnya akan melemah jika berlama-lama bertatapan dengan cewek itu secara terus-menerus. Maka dari itu, Bagus pun meraih ransel yang tergeletak di atas meja. Berdiri dari tempat duduknya, tanpa melepas kontak mata dengan Windy yang memang sudah berlangsung lumayan lama. Ia memberi senyumnya sekali lagi pada Windy sebelum beranjak berjalan keluar dari kafetaria. Windy diam saja saat Bagus tersenyum untuk yang terakhir kali sebagai tanda pamitnya. Ketika cowok itu sudah menghilang dari pandangannya, Windy, Selva dan Airin terkesiap. "Sel, barusan gue nggak salah lihat, kan?" tanya Airin pada Selva yang masih mengumpulkan kesadarannya. Selva mengangguk-angguk seperti orang t***l. "Nggak deh kayaknya, Rin. Barusan itu beneran Si Bagus, kan? Barusan dia senyam-senyum ke Windy, kan?!" Airin mengangguk-angguk sampai kepalanya terasa melayang. Tak pernah menyangka bahwa ia akan menonton interaksi yang terjadi di antara Bagus dan Windy dengan mata kepalanya sendiri. Berbeda dengan dua temannya yang heboh, Windy hanya dapat termangu. Diam membisu. Segala emosi berkecamuk di dadanya. Rasa senang dan bahagia mendominasi dirinya. Namun tak dapat ditampik bahwasanya terdapat gelenyar kekecewaan di balik kejadian itu. Bagus benar-benar sudah lupa padanya. Selama ini, hanya dirinya yang mengingat kejadian itu. Sudah dapat dipastikan. Sudah terbukti. Windy diam-diam menghela napas. Berat. Ia sendiri bingung harus bagaimana menyalurkan perasaan yang berbaur di dalam hatinya. "Wow!" Windy menangkup wajahnya yang memanas, lalu memekik tertahan, "Lu berdua lihat? Aaaaa!! Gue nggak mimpi, kan?! Gue nggak mimpi!!" Pada waktu yang bersamaan, Bagus mengerakkan kakinya keluar dari kafetaria dengan terburu-buru. Tangan kanannya bergetar saat merogoh kunci mobil pada saku celana jeans belelnya. Napasnya agak berat dan bertempo lebih cepat. Terburu-buru, Bagus mematikan alarm mobil. Ketika mobilnya berbunyi, ia segera membuka pintu kemudi dengan agak kasar. Melempar ransel yang sedari tadi bergantung longgar di bahu ke kursi penumpang. Untung saja ia masih menahan diri untuk tidak ikut melempar dan merusak kameranya. Jika tidak, ia bisa gila saat itu juga. Lalu, Bagus duduk di belakang setir dan menutup pintu dengan kencang. "Aaaaaargh!!!!" teriaknya. Geram pada diri sendiri. Marah pada kebodohannya. "Goblooooook!" makinya. Bagus dengan gusar memukul-mukul setir mobil SUV putihnya hingga mengakibatkan klakson berbunyi nyaring di parkiran. Setelah suara bising itu terjadi, Bagus pun berhenti memukul-mukul setir mobil yang malang karena tanpa dosa telah menjadi objek k*******n pemiliknya. Cowok itu mengacak-acak rambut hitam berpotongan undercutnya. Menggeram dengan suara beratnya yang sesungguhnya mampu membuat cewek-cewek meleleh. Sumpah demi apapun, Bagus tak dapat menenangkan dan menrtralkan detak jantungnya. Memang tak secepat dan sekeras saat ia bermain basket selama empat quarter non stop. Namun hali ini justru berhasil membuatnya merasa tak sehat dan tak nyaman. Ini benar-benar sangat mengganggu. Bagus memejamkan matanya. Masih saja terbayang senyuman Windiana di sana. Bahkan saat ia tak melihat dalam gelap dan cahaya sekalipun, cewek itu masih terlukis di angan-angan. She's still there. Painted on his mind. Carved on his heart. Ini buruk. Sungguh! Bagus sudah merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi sejak awal. Sejak ia mengetahui siapa cewek yang harus menjadi objek kamera dan pusat fokus dari lensanya. Ia sudah merasa takut jika akan terjadi hal aneh seperti ini. Firasatnya pun tak berbohong. Pada titik ini, Bagus mulai menumpuk penyesalannya. Setiap detik, setiap menit, setiap saat. Penyesalan mengapa dengan bodohnya ia menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Dion. Padahal sebelum Dion memberi tahukannya perihal pekerjaan ini, Bagus memang agak tertarik pada cewek itu ketika ia mencuci tangannya setelah makan di siang itu. Sial. Lebih parahnya lagi, ia harus memotret senyuman memukau milik Windiana. Sejak hari pertama, di saat Bagus harus memotret cewek itu untuk yang pertama kali, ia sudah merasakan hal asing menjajahnya. Ditambah lagi dengan kewajibannya untuk memoles tiap foto yang ia ambil dan mau tak mau Bagus memperhatikan tiap detail wajah cantik Windy. Dia sudah mewanti-wanti dan mengingatkan dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati. Apa yang dilakukannya benar-benar rawan. Bagus sudah menyangka suatu saat nanti ia akan ketahuan. Namun, ia tak pernah mengira akan dipergoki dalam waktu sesingkat ini. Apakah Windy diam-diam memperhatikannya hingga cewek itu tahu di mana keberadaan Bagus yang curi-curi memotretnya? Jika memang cewek itu tidak memperhatikannya, bagaimana bisa Windy tahu bahwa Bagus sedang mengambil fotonya? Hmm. Habislah sudah, Bagus. Kau benar-benar terjebak. "Oh, shit." Ingat, Bagus. Dia adalah gebetan sahabatmu sendiri. Apalagi, cowok yang sedang mendekatinya adalah Dion. Rasanya tidak mungkin jika cewek yang menjadi target Dion adalah tipe perempuan yang tulus. Sungguh langka.   ¤¤¤¤ "Nih." Bagus menyerahkan tiga foto yang sudah tercetak. Hasilnya berburu selama tiga hari. Lalu ia menghempaskan tubuhnya kembali ke kasur, memejamkan matanya yang digantungi rasa kantuk. "Ukurannya kok kecil?" tanya Dion. Bagus menutup mata dan dahi dengan lengan kanannya. Dengan mata yang masih tertutup, ia menghembuskan seluruh oksigen yang ada di rongga d**a. "Gua cuma punya yang ukuran tujuh. Segede kartu kredit itu. Lagian, semua foto udah gua email juga. Edited. Terserah lu mau nyetak dengan ukuran gimana." Dion mengangguk-angguk. Dia tersenyum puas dengan hasil jepretan Bagus. "As expected, foto-foto lu pasti bakal keren banget," pujinya. Dion mengacungkan jempol kanannya pada Bagus. Bagus diam saja. Masih tak bergerak dari posisinya. Sibuk dengan segala yang terus berkecamuk di benaknya. Sesuatu yang memenuhi sistem kerja otaknya. "Sisa tujuh belas lagi, kan?" gumam Bagus tanpa ada niat untuk membuka matanya. Dion mengangguk. "Lu nggak ketauan, kan?" tanyanya balik. Pertanyaan itu sontak membuat Bagus berhenti bernapas sejenak. Namun, cowok itu segera menggeleng di balik lengannya yang menutupi sebagian wajahnya. "Tenang aja. Lu terima hasil." "Kali aja ketauan. Gagal dong gue bikin surprisenya." Dion memasukkan tiga foto itu ke saku bomber jacketnya. "Bisa-bisa entar ada yang salah paham, malah ngira elu yang naksir Windy. Hahahaha!" Bagus terkekeh. Terdengar santai namun sesungguhnya terasa sangat miris. Apa yang dikatakan Dion benar-benar sukses menghujamnya. "Bang," panggil Dion. Dibalas Bagus dengan sebuah gumaman. "Siap-siap, gih. Gua mau jalan sama Windy." Bagus menghela napas. "Malas. Ngapain juga gua ikutan?" "Buat motret Windy lah, Bang." Cowok berkulit putih dengan rambut hitam legam itu melengos. "Kalau gua ikut, ya jelas ketauan lah, Yon." Dion menggaruk kepalanya yang agak gatal. "Ya sembunyi, Bang. Kayak kemaren." Bagus menggeleng sembari kembali memejamkan matanya. "Nggak, Yon. Males gua. Lu yang ngedate, kok gua yang repot?" "Nggak terima alasan. Buruan siap-siap. Pokoknya, first destination, gua ajak dia ke MOI." Kemudian Dion berjalan menuju cermin besar yang ada di kamar Bagus. Mematut dirinya dan membenarkan posisi bomber jacket-nya. Tersenyum puas dengan penampilannya hari ini. "Ganteng banget, Yon. Gimana Windy nggak klepek-klepek coba?" pujinya pada pantulan dirinya di cermin. Lalu cowok dengan tinggi badan seratus delapan puluh tiga centimeter itu berbalik lagi pada pemilik kamar kost tempatnya berada. Bagus masih memejamkan matanya. Tak bergerak sedikitpun. Dion berdecak. "Gua mau jemput kesayangan dulu. Entar kalau lu udah nyampe, kasih tau gua." Kala Dion keluar dari kamarnya, Bagus menghela napas yang sedari tadi tertahan. Rahangnya terkatup keras. Menahan rasa kesalnya. Terbayang berbagai adegan yang kemungkinan akan berlangsung antara Dion dan Windy di pelupuk matanya. "Anjir," makinya. Bagus tertawa sendiri. Miris.   ¤¤¤¤ "Hmm, Green tea latte aja. Extra whip cream." Dion lagi-lagi memamerkan lesung pipinya. Cowok itu mengacungkan jempolnya pada Windy dan pergi memesan minuman. Setelah Dion menjauh, Windy menghela napas. Membuka kembali ponselnya dan membalas berbagai pesan yang berdatanga masuk dari teman-temannya. Selva dan Airin. Siapa lagi? Dua teman ceriwisnya itu masih memenuhi chat room, membuat ponsel Windy terus-terusan bergetar. Apa saja isi obrolan mereka? Entahlah, Windy belum ada niat untuk membukanya. Tak lama kemudian, Dion kembali dan duduk di kursi yang berada tepat berseberangan dengan Windy. Cowok yang mengenakan kemeja Flannel berwarna navy itu menyapa dengan suara khasnya. "Habis ini, gimana kalau kita nonton?" ajak Dion. Sekalian memecah keheningan yang membuat mereka merasa canggung. Windy melirik jam tangannya. "Hmm, kayaknya nggak bisa deh, Dion. Takutnya nanti kemalaman. Kamu kan tau kalau aku nggak bisa jalan sampe malam." Dion mengangguk-angguk. Terpaksa harus mengerti. "Maaf ya, Yon. Aku nggak bisa jalan lama-lama kayak temen-temen kamu yang lain. Masku orangnya emang agak protektif. Maklum, aku kan anak bungsu." Bagaimana Dion bisa lupa bahwa Windy berbeda dengan cewek-cewek yang selama ini ia dekati? Cewek ini spesial. Tidak sama dengan yang lain. Kalau dengan cewek-cewek yang lain, Dion pasti sudah menghabiskan waktu dengan mereka hampir seharian. Bahkan sampai cowok itu bosan sendiri. Berbeda dengan Windy yang mempunyai tantangan tersendiri bagi Dion. "Iya, nggak pa-pa, Win. Bisa jalan sama kamu juga udah seneng banget." Windy tersenyum lembut. Bersyukur. Tiba-tiba, nama Dion dipanggil. Cowok itu segera mengambil pesanannya dan kembali dengan dua gelas minuman dingin. "Satu Ice green tea latte untuk Nona Windy dan satu Ice Americano untuk Tuan Dion." Windy sumringah. Dion memang pandai untuk mencairkan suasana. Cowok ini sangat friendly. Jujur saja, Windy merasa nyaman dengannya. "Diminum, Win. Jangan dipelototin doang. Nggak aku kasih sianida kok. Tenang aja." Mata Windy seketika membulat. Sedotan yang urung menyentuh bibir tipisnya tatkala mendengar kalimat yang Dion ucapkan. Terbayang bagaimana nasib na'asnya jika Green tea latte-nya benar-benar mengandung racun pembunuh yang disebutkan oleh Dion sepersekian detik lalu. Ekspresi terkejut dari cewek yang duduk di seberangnya itu menggelitik kotak tertawanya. Dion tertawa pelan dan bergumam, "Imut banget." Tentu saja gumaman di bawah napas dan tawanya itu tak terdengar oleh Windy. Cewek itu menatap Dion dengan mata yang menyiratkan kegelisahan. "Jangan becanda gitu deh, Yon. Ih!" omel Windy. Dion menggeleng. "Nggak kok. Ya ampun, Win. Mana mungkin aku kasih kamu sianida? Kalau aku kasih pelet sih mungkin-mungkin aja." Napas Windy tercekat. Mulutnya terbuka lebar. "Hahaha! Nggak, Win. Canda doang." Secara natural Dion mengangkat tangannya dan mengelus punggung tangan milik Windy yang menganggur di atas meja. Cewek itu pun juga tak sadar bahwa Dion sedang melakukan skinship dengannya. Keduanya terlalu larut dalam senda gurau. Tak menyadari bahwa interaksi mereka telah mengganggu dan mengusik perasaan orang lain. Di waktu yang bersamaan, Bagus diam-diam menurunkan kameranya. Rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menangkap momen yang ia saksikan dari jendela bilik kameranya. Tak perlu diragukan, senyuman Windy selalu berhasil membuat hatinya bergetar. Namun setelah mengetahui penyebab berkembangnya keindahan atas suasana hati gadis itu membuat rahangnya terkatup rapat. Lambat laun, Bagus menyadari satu hal. Dia sudah terpikat. Windiana terlampau cantik untuk dilewatkan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa hari mengamati perempuan itu, bayang-bayang keindahannya terus berputar di benak dan angannya. Bagus memutuskan untuk menyudahi sesi pemotretannya hari ini. Cukup dengan lima kali jepret saja, Bagus yakin telah mendapatkan senyuman Windy. Senyum yang ia peroleh tanpa sepengetahuan cewek itu. Senyum yang jelas-jelas bukan untuknya. Melainkan untuk Dion, sahabatnya sendiri. Cowok dengan golongan darah O itu mematikan kamera dan memasukkannya ke dalam tas. Kakinya perlahan melangkah, meninggalkan tempatnya berdiri. Tak lebih dari sepuluh menit, Bagus tiba di salah satu area parkir pusat perbelanjaan tersebut. Namun, ketika ia hendak mengambil kunci mobil, langkah kakinya melambat. Tepat di sebelah mobilnya, berdiri seorang pria yang membelakanginya. Ada apaan? batin Bagus. Tak ingin berpikiran buruk, Bagus segera menghampiri dua orang tersebut. Setelah dilihat dari dekat, rupanya mobil jenis sedan yang terparkir di samping SUV miliknya. Takut ada kecelakaan yang bisa saja melukai mobilnya atau niat buruk terhadap si putih, Bagus pun berinisiatif menghampiri. "Permisi, Mas. Ada apa ya?" tanya Bagus. Pria dengan kemeja rapi dan licin serta dasi yang tersimpul longgar di kerahnya berbalik. Bagus tersenyum ramah pada orang tersebut. "Oh, iya nih. Mobil saya mogok. Nggak bisa nyala. Mungkin akinya drop." Bagus mengamati pria yang jelas lebih tua darinya tersebut. Entah mengapa, ia merasa sangat familiar dengannya. Pria yang Bagus cermati itu juga tersenyum ramah. "Boleh saya pinjam hapenya? Pinjam pulsa sedikit. Kebetulan hape saya mati. Batrenya abis," kata lelaki itu. "Oh, boleh." Bagus merogoh kantung celana jeans belelnya, lalu menyerahkan ponselnya. "Saya pinjem pulsanya dua kali ya?" Pria itu mengambil dompet dari saku belakang celana. "Ini, saya ganti deh pulsanya." Bagus cepat-cepat menggeleng. "Nggak, Mas. Pake aja, nggak pa-pa," tolak Bagus. Lelaki itu tersenyum lagi. Dia menuliskan rentetan nomor di ponsel Bagus. Rupanya, pria itu menelpon pelayanan service mobil. Setelah sambungan diputuskan. Pria itu menoleh pada Bagus. "Oh, iya, di mana sopan santun saya? Saya Ferdi," kata pria dengan tinggi seratus delapan puluhan itu pada Bagus. Bagus menyambut uluran tangan Ferdi dan menjabatnya. "Saya Bagus." Lelaki itu mengamati Bagus sekali lagi. Selang dua detik, dia berkata, "Kayaknya situ kurang lebih seumuran adek saya ya, umur berapa?" "Dua-tiga, Mas." Setelah mendengar angka tersebut, Ferdi lantas menghilangkan kesan kakunya. "Ah, cuma beda tiga tahun sama adek gua." Bagus hanya tertawa renyah. "Bagus, hapenya gua pinjem sekali lagi ya? Kebetulan gua ke sini lagi jemput adik. Mungkin dia lagi bingung nyariin gua di mana kalau nggak ditelpon." "Iya, Mas, pake aja nggak pa-pa. Asal hapenya nggak dibawa lari, nggak masalah kok." Ferdi tertawa lagi. Kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Namun, tawanya terhenti saat sambungan pada ponsel yang ia genggam terhubung. "Di mana, De? ... Hape gua batrenya abis. Ini pinjem hape orang. ... Iya, buruan. ... Gua di depan mobil. Di section G, dua belas. ... Emang lu di mana? ... Coba tanya security kek, mobil gua mogok nih. Sekarang nunggu service datang. ... Nggak usah bawel, buruan ke sini." Kemudian sambungan diputuskan. Ferdi mengembalikan ponsel yang ia pinjam kepada pemiliknya. "Makasih, Gus." "Sama-sama, Mas." Bagus tersenyum ramah. Lalu ia mematikan alarm mobilnya dan membuka pintu kemudi. Mata Ferdi tertuju pada tas kamera yang bergantung di bahu cowok yang terlihat sangat tidak asing baginya itu. Apakah cowok ini akan segera pergi? Sepertinya begitu. Akan tetapi, entah mengapa Ferdi merasa tidak ingin cowok ini pergi terlebih dulu. Ada sebuah rasa yang membuatnya tak karuan. Hati kecil Ferdi berkata bahwa ia pernah bertemu dengan cowok ini sebelumnya. Dia takut salah orang. Takut kalau cowok itu bukanlah orang yang menyelamatkan adiknya dulu. Maka, untuk memastikan jawaban atas keraguannya, Ferdi berbasa-basi bertanya, "Suka fotografi?" Bagus sontak menoleh dan urung untuk meletakkan tas kameranya ke kursi penumpang. Ia menatap Ferdi yang nyengir kuda. "Iya, Mas. Hobi. Masih amatiran." Alis Ferdi terangkat. "Gua punya teman yang punya toko t***k-bengek fotografi. Tau sama Gilang Tunggal?" Mata Bagus membulat. Wah, siapa yang tidak tahu dengan Gilang Tunggal? Tentu saja Bagus mengenal orang itu! Dia selalu membeli semua alat fotografinya pada pria bernama Gilang tersebut karena diskon yang luar biasa. "Tau banget, Mas! Saya ngefans banget sama dia. Saya juga langganan beli tools di tokonya," sahut Bagus penuh semangat. Ferdi terkekeh. "Wah, salah satu fansnya Gilang Nungging ternyata." Nungging? Rupanya pria ini teman dekat dari orang yang Bagus kagumi dalam dunia fotografi. Mata Bagus berbinar-binar. "Mas kenal sama Kang Gilang?" Ferdi mengangguk. "Teman kuliah gua dulu. Satu jurusan." Bagus ikut tertawa. Bahkan lebih ramah dari sebelumnya. "Mas mau ke mana? Saya anterin deh. Tapi, sampein salam saya buat Kang Gilang ya?" Ferdi mengangkat kedua alisnya. Kesempatan emas. Mumpung ada yang menawarkan tumpangan gratis, kenapa tidak? "Beneran nih? Baik banget lu, Gus." Ferdi tak dapat menahan kegembiraannya. "Jangankan salam, gue bantu lo buat ketemu sama dia deh! Save nomer gua gih. Entar gua bikinin janji ketemu Gilang." Bagus makin senang. Dalam sekejap, ia lupa dengan kejadian yang sukses membuat moodnya hancur beberapa menit yang lalu. "Siap, Mas!" Bagus siap dengan ponselnya. Ia segera menyimpan nomor yang disebutkan oleh Ferdi. "Saved. Saya serius lho, Mas, mau ketemu sama Kang Gilang," kata Bagus sungguh-sungguh. "Tenang aja. Lu anaknya baik sih, jadi sebagai balas budi, gua bantu juga buat ketemu sama dia." "Hahaha, nggak gitu juga, Mas. Saya sih bantunya nggak pilih kasih," sahut Bagus. Terdengar sok akrab hanya karena mendapat pujian dari Ferdi. "Cowok, cewek, atau banci juga tetep saya tolongin. Asal jangan ngejar-ngejar saya nantinya." Ferdi terbahak. "Mayan juga lu! Mau nggak, gua jodohin sama adik gua? Mumpung itu anak lagi jomblo. Cantik lho!" candanya. "Kalau Mas yang ngomong, kayaknya adik Mas beneran cantik. Kalau gitu saya mau deh! Mumpung saya juga lagi single. Hahahaha." Obrolan tidak penting mereka terpotong saat ponsel yang ada di tangan Bagus berdering. Telepon dari Dion. Kening cowok itu mengerut namun tanpa pikir panjang mengangkat sambungan tersebut. "Apa?" tanya Bagus tanpa basa-basi. "Lu di mana?" Mengapa Dion menanyakan keberadaannya? Bukankah ia sedang bersama Windy? Seharusnya Dion merahasiakan Bagus dari cewek itu. "On the way balik. Gua udah dapet fotonya. Kenapa?" Terdengar Dion menghela napas berat dari seberang sana. "Doi dah balik. Dijemput abangnya." Hah? "Lha, bukannya lagi jalan sama lu?" tanya Bagus penasaran. "Tau deh!" Suara Dion menyiratkan kekesalan. "Tiba-tiba abangnya nelpon dan jemput doi. Bangke. Sini gih temenin gua ngopi." Bagus tertawa. Mendengar berita itu membuat Bagus merasa sedikit senang. Kurang ajar memang, namun ia tak peduli. "Hahaha. Rezeki lu cuma sampe segitu, Yon. Males ah, makasih. Gua balik aja. Ngantuk!" "Ngebo aja kerjaan lu--" Bagus segera memutuskan sambungan telepon tanpa menghiraukan cacian Dion. Lalu ia tersenyum pada Ferdi. "Gua denger tadi lu bilang lagi ngantuk. Jadi nebengin gua sama adik gua nggak?" goda Ferdi. Bagus tertawa. "Jadi dong, Mas. Itu alesan saya aja biar nggak dipaksa nyamperin temen. Hehe." Belum sempat Ferdi membalas candaan itu, suara adik bungsunya yang ia tunggu-tunggu terdengar. "Mas!" Sontak Ferdi menoleh ke belakang. "Nah, ini dia adik gua yang paling cantik sejagad raya datang!" Cewek bertubuh mungil itu berlari kecil menghampiri kakaknya yang berdiri di depan SUV berwarna putih. Wajahnya ditekuk karena kesal. Terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Betapa terkejutnya Bagus saat ikut menoleh dan menyadari siapa cewek yang datang menghampiri mereka. Windiana. Gebetan Dion yang berhasil membuatnya tak menentu selama beberapa hari ini. "Gimana, Gus? Kinclong, kan?" Tak dapat dipungkiri. Tak dapat didustakan. Bagus membeku. Benar, Mas Ferdi, adik lu benar-benar cantik. Pake banget, batin Bagus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN