t i g a

4041 Kata
"Nggak, gue yakin banget kalau barusan dia motret elu, Win!" kata Selva bersikeras. "Gue yakin seratus persen, cuy!" timpal Airin. Windy tak habis pikir. Teman-temannya ini pandai sekali membuatnya tersipu. "Ah, ngaco kalian. Nggak mungkin lah," elak Windy. Cewek itu benar-benar salah tingkah. Wajahnya memerah, memanas. Tak terbayangkan jika Bagus benar-benar memotretnya. Ah, rasanya dia ingin berteriak histeris. Akan tetapi, sebisa mungkin Windy mengontrol emosinya. Walaupun hatinya sudah bergejolak bahagia dan tak dapat membendung rasa senangnya. Bayangkan saja, dalam dua hari berturut-turut, cewek itu berada dan bernapas di tempat yang sama dengan Muhammad Bagus Abqari. Ini benar-benar langka. Selama dua semester dia lewati di Universitas Rajawali, kedatangan Bagus ke kafetaria utama kampus ini dapat dihitung dengan jari. Jarang sekali. Rasanya Windy dijatuhi jackpot karena pertemuan itu. Hal yang tak biasa ini benar-benar mengejutkan bagi Windy. Sepertinya tak cukup dengan apa yang dia alami kemarin, siang ini pun teman-temannya berkata bahwa cowok itu memperhatikan Windy. Bahkan memotretnya. Namun, Windiana tidak ingin besar kepala. Cewek itu tahu benar bahwa Bagus tak pernah mengingatnya. Jika cowok pujaan hatinya itu mengenalinya, mana mungkin Bagus tak menyapa dirinya saat berpapasan atau bertatapan dengannya seperti kemarin? Jadi, Windy tetap percaya pada prasangka bahwa Bagus benar-benar telah lupa dengan kejadian itu. Windy tentu saja kecewa. Dia tak dapat mengindahkan rasa itu. Bagaimana bisa cowok itu dengan mudah melupakan aksi heroiknya untuk menyelamatkan Windy? Sedangkan Windy sendiri takkan pernah dapat menghapuskan memori itu. Sampai kapanpun. Kejadian itu bisa saja menghancurkan masa depannya jika Bagus tak muncul. Lagi-lagi, apa yang dikatakan Airin dan Selva adalah kebenaran. Yang Windy rasakan hanyalah sepihak saja. Kasihan sekali. Maka dari itu, Windy lebih memilih menjadi orang yang denial. Menghindari kenyataan yang ada, walaupun akan menimbulkan rasa sedih di hati. Daripada dia menjadi orang yang terlalu menggantung angan setinggi langit. Windy lebih memilih untuk menolak semuanya meski tak dapat memungkiri bahwa hatinya terlanjur berbunga-bunga. Apalagi Selva dan Airin benar-benar meyakinkan Windy bahwa cowok itu memberi perhatian padanya. Walaupun tak ada bukti konkret. "Gue yakin, seyakin-yakinnya kalau itu cowok barusan motret elu!" Selva memamerkan dua jarinya menjadi huruf V pada Windy. "Idem! Gue juga!" Airin tak kalah yakin. Windy masih menggelengkan kepalanya. Rambutnya yang terurai indah bergoyang-goyang mengikuti gerakannya. Diam-diam, Windy melirik ke arah cowok yang duduk di seberang sana. Cowok yang dituduh teman-temannya telah memotret dirinya. Cowok bernama Bagus itu masih di sana. Mengotak-atik kameranya. Wajahnya nampak sangat serius. Entah ke mana perginya senyuman beberapa saat lalu. Tanpa sadar, Windy menghela napas. Ah, menyerah sajalah. Jangan dengarkan omong-kosong yang diteriakkan oleh Selva dan Airin tentang cowok itu. Semua tidak terbukti. Semua tidak benar. "Win, lewat, Win! Dia keluar, Win!" Selva dengan semangat membenturkan sikunya pada lengan Windy. Cewek itu refleks menoleh pada Selva, lalu mengikuti arah mata dua sahabatnya itu tertuju. Benar saja, Bagus dengan tas kamera yang menggantung di bahunya itu pun lewat di hadapannya. Berjalan santai tanpa beban. Menuju ke arah parkiran, tak peduli beberapa mata memperhatikannya. Windy terkekeh. Menertawakan kebodohannya. Untuk apa terbawa perasaan hanya karena mendengar spekulasi aneh dua temannya tentang Bagus? Jika memang benar dia memotret dan menaruh perhatian pada Windy, setidaknya cowok itu akan tersenyum atau menyapanya. Mungkin sebuah senyuman ramah akan memberikan efek manis. Akan tetapi, semua itu tidak pernah terjadi. Jangan harap Bagus menyapanya, melihat keberadaan Windy saja tidak. Menyedihkan sekali. Cewek bersurai panjang bergelombang itu tersenyum pahit. Dalam hati, dia menertawakan harapannya yang lagi-lagi setinggi langit. Percuma saja, Windiana! Untuk apa mendengarkan omong kosong dari Selva dan Airin? Kau sudah tahu pasti jawabannya. Windy membuang rasa aneh yang menyerang hatinya itu dengan memejamkan mata. Meresapi rasa perih akan runtuhnya angan-angan yang takkan pernah terwujud. Lamunan Windy buyar. Ada SMS masuk. Bigbro Ardian Udah sholat dzuhur de? Sudah waktu sholat dzuhur rupanya. Mereka sedari tadi mengobrol hampir satu jam lebih di sana. Santapan makan siang pun sudah raib menjejali perut mereka. Windy hampir lupa untuk melaksanakan kewajibannya. "ke mana?" tanya Airin saat melihat Windy berdiri dari kursinya dan menggantung tasnya di bahu. Windiana tak menjawab. Hanya tersenyum lebar sembari menunjuk langit. Isyarat bahwa dia harus melaksanakan kewajibannya.   ¤¤¤¤   Dribble. Lay up. Shoot. Scoring. Dua poin untuk Bagus. Teeeeet! Alarm untuk quarter terakhir sudah berbunyi. Bagus mengatur napasnya. Masih melangkahkan kakinya, berjalan-jalan santai di tengah lapangan. Keringat membanjiri tubuhnya. Rambut hitam berpotongan undercut-nya pun terasa agak lembab. Namanya juga olahraga. Saat laju degup jantungnya mulai turun ke parameter normal, Bagus menghampiri teman-temannya yang duduk santai di tribun terbawah. Mereka asyik mengobrol dan menertawakan sesuatu. Entahlah, Bagus agak penasaran juga. "... tadi malam ke kamarnya Arka. Itu anak lagi nugas. Mumpung lagi serius, diam-diam gua ambil aja hardisk item yang biasa dia simpen di bawah ranjang." Mata Damar lantas terbuka lebar mendengar cerita Radit. Sangat antusias. "Hardisk yang itu?!" Radit tertawa sembari mengangguk. "Gila lu, Dit!" Damar ikut terbahak. "Kalau tuh anak sadar, bisa jadi sate kambing lu!" "Kapan lagi? Mumpung ada kesempatan, mending gua manfaatin dulu lah." "Udah lu copy?" tanya Damar penuh semangat. Radit mengangguk bangga. "Udah, Cuy! Aman." "Asooooy!" Mendengar asyiknya obrolan mereka, Bagus pun ikut nimbrung. Berdiri di antara Damar dan Radit. "Ada apaan?" tanya Bagus. Suara beratnya membuat dua temannya mendongak. "Ini, Bang. Si Radit nyolong hardisk-nya Arka," jawab Damar. "Hardisk yang mana? Yang dia simpen di bawah ranjang itu?" tanya Bagus sembari mengambil handuk kecil, mengelap keringat dari pori-pori wajah dan rambutnya. Radit menjentikkan jarinya. Bangga. "Yoyoi!" "Orang gila," kekeh Bagus. Dasar sesat. Dua teman yang lebih muda dua tahun darinya ini memang agak kurang waras. Maklum saja, darah muda. Apalagi laki-laki. Rasa ingin tahunya memang sangat-sangatlah besar dan tak terbendung. Terutama video-video tentang ilmu yang tak jauh dari biologi. Mereka akan sangat semangat membahas masalah itu. If you know what it means. "Lengkap, Bang!" Radit mengacungkan jempol kanannya. "Mau?" Bagus menggeleng seraya tertawa. Tanda bahwa dia menolak dengan halus tawaran Radit. "Nggak, Dit. Lagi nggak butuh." Damar pun mencibir. "Entar kalau perlu dia bisa download sendiri, Dit." Radit terkekeh. Ketika Bagus hendak meluncurkan aksi pembelaan dirinya, tiba-tiba terdengar seruan. "Gus, Dit, Dam, kita duluan dikit nih!" pamit teman satu tim mereka yang lain. Latihan sparring memang sudah selesai dan masa sewa lapangan indoor itu telah habis. Ketiganya membalas pamit teman-teman dengan mengangkat tangan. "Yoooo!" sahut Radit. "Ati-ati kalau nikung! Jangan asal nikung, entar ditilang om polisi!" timpal Damar yang berhasil mendapatkan tawa keras dari teman-temannya. Bagus hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Mengukir seringai di wajahnya yang tampan. "Bang," panggil Damar. Bagus menoleh. "Lu langsung balik kost?" Bagus menjawab, "Yo-ay." Tangannya sibuk melepas sepatu Air Jordan-nya. "Kenapa?" "Nebeng. Ini bocah nggak langsung balik soalnya," kata Damar seraya menutup tasnya. "Iya nih, gua ada urusan dikit," sahut Radit beralasan. "Alah, sok sibuk. Bilang aja mau ngapel!" cibir Damar. "Sok-sokan bilang ada urusan." Radit nyengir. "Urusan hati, namanya." "Ya udah sekarang aja. Udah maghrib juga." Bagus mengganti alas kakinya dengan sepasang sendal jepit. Dia mengambil kunci mobilnya dari kantong depan ransel. Kemudian mereka pun berjalan keluar dari gedung olahraga itu. Setelah Radit pamit dan menaiki mobilnya lebih dulu, Bagus dan Damar terus berjalan melewati parkiran yang memang agak luas. Sampai di dekat mobil, Bagus mematikan alarm kendaraan roda empatnya itu seperti biasa. Damar memutari mobil SUV putih itu dan membuka pintu depan penumpang. "Weh, Bang, ini apaan naroh kamera sembarangan? Untung gue belum sempet duduk," kata Damar. "Ya jangan didudukin juga, Nyet. Masa iya kamera gue bau e'ek?" Damar terbahak. "Anjㅡ dikata gue nggak cebokan! Bangke!" Dia mengambil kamera Pentax kesayangan Bagus terlebih dahulu. Kemudian duduk rileks. Bagus mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya. Membelah jalan raya kota Jakarta yang sudah sangat padat. Jam digital pada dashboard sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Jelas saja jalanan akan macet setengah mampus. Akan memakan waktu lebih lama hingga mereka tiba ke kost. "Habis hunting, Bang?" tanya Damar basa-basi. Bagus menoleh. "Oh, nggak. Kebetulan ada job nih. Lumayan lah." "Motret?" Bagus mengangguk. Masih fokus mengemudi. Damar yang memang tak bisa mengendalikan rasa penasarannya, tanpa meminta izin, langsung menyalakan kamera itu. Dia segera membuka hasil jepretan Bagus. "Waaah, cewek cakep!" Bagus tertawa kecil mendengar pujian yang Damar lontarkan. Dia setuju dengan pendapat teman satu kost-nya itu. "Cewek lu, Bang?" Bagus diam sejenak. Kemudian menggeleng. "Hahaha, sayangnya nggak." "Kalau bukan, kenapa lu fotoin? Tumben nggak motoin batu atau kodok. Mana cakep banget lagi! Anak mana, Bang?" "Adek tingkat di kampus gua," sahut Bagus seadanya. Damar tak bersuara. Jempolnya tak berhenti untuk terus menekan tombol kiri dan kanan untuk melihat hasil foto-foto yang diambil oleh Bagus. Matanya tak berkedip. Keningnya berkerut. Ekspresi wajahnya menunjukkan sebuah keseriusan. "Kayaknya gua pernah lihat ini cewek deh," gumam Damar. Bagus berdeham. "Di mana?" Entah mengapa, Bagus merasa tak nyaman. Agak salah tingkah. Tangannya mulai menyentuh ujung hidung. Seolah-olah indra penciumannya tersebut sedang gatal dan alergi. Kebiasaannya jika sedang merasakan hal aneh seperti itu. "Nggak tau. Lupa gua." Damar tertawa. "Emang dia siapa sih?" Bagus mengangkat kedua bahunya. Ah, jawab saja seadanya. "Itu cewek taksirannya Dion," ungkap Bagus. Damar kontan menjentikkan jarinya. "Nah, iya bener! Dion pernah pamer i********: cewek ini ke gua!" Namun tiba-tiba jidat Damar mengernyit. "Lha, sasarannya Dion, kok lu yang motret?" Bagus melengos. "Ya coba lo tanya tuh anak deh. Dia sendiri yang minta gue buat motret gebetannya." "Hah?!" Damar makin bingung. "Ini apaan dah? Kok otak gua nggak nyampe? Nggak ngerti gua." "Otak lu kan mikirnya pendek, mana pernah nyampe, Dam." "Ah, bangke!" Mereka tertawa. Kemudian hening lagi. Sejenak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bagus mengemudikan mobilnya dengan santai. Damar masih melihat-lihat hasil karya seni dari kamera teman di sampingnya. "Cantik, Bang. Banget. Sumpah. Tapi sayang, bukan tipe gue sih." Bagus diam saja. Enggan menyetujui pengakuan Damar tentang keindahan dari cewek yang menjadi objek lensa kameranya. "Kalau gue di posisi lu, mungkin sekarang ini cewek udah gue embat duluan. Hahahaha," canda Damar. Bagus ikut tertawa. Tanpa sadar genggaman tangannya pada setir mulai menguat. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam dadanya. Bagus sendiri pun tak mengerti. "Gila lu, gebetan temen sendiri!" Damar menggeleng. "Ah, kalau ada yang cakep di depan mata, gua sih nggak peduli. Baru digebet juga kan? Belum jadi hak milik." Bagus menggeleng-gelengkan kepalanya. "s***p!" Teman satu kost-nya itu mencibir. "Lagian Si Dion b**o. Ngapain juga nyuruh orang buat motret cewek yang ditaksir? Nggak takut ditebas apa?" "Lu kata rumput apa, main tebas." Kedua bahu Bagus naik turun karena tawanya. "Ya lu pikir aja, orang t***l mana yang nyuruh temen sendiri buat motret gebetan? Nggak bisa disalahin dong kalau sampe disosor duluan." "Bisanya main sosor aja lu, Dam." Bagus memutar setirnya ke kanan. Tanpa mengalihkan pandangan matanya, dia meneruskan, "Gua nggak suka ngambil punya orang, Nyet. Kayak nggak ada yang lain aja." "Hahahahahaha!" Damar tertawa keras. Sangat keras sampai-sampai Bagus harus menutup telinga kirinya. "Gua pegang ya kata-kata lu! Kalau sampe gua tau lu naksir ini cewek, lo harus bayarin sewa kost gua tiga bulan!" tantang Damar. Kini giliran Bagus yang tertawa. Ngakak lebih tepatnya. "Anjing. Mana ada yang kayak begitu!" "Takut kalah, atau lu udah naksir cewek itu?" Bagus terdiam sejenak. Naksir? Apakah dia telah tertarik pada cewek itu? Apakah dia sudah terperangkap oleh kecantikan dan eloknya senyuman dari seorang cewek bernama Windiana? Tidak. Jangan! Itu tidak boleh terjadi. Hal tersebut sangatlah tidak profesional. Bagaimana bisa dia menaruh perhatian pada cewek yang menjadi objeknya? Sedangkan cewek itu adalah tambatan hati sahabatnya sendiri. Hal-hal seperti itu adalah sebuah kekeliruan. "Bacot lu! Makan aja tuh bokepnya Arka!" "Hahahahaha! Salting?" "t*i!" "Oke, tiga bulan ya, Bang?" "Bodo."   ¤¤¤¤           Windy tersenyum sendiri membaca pesan dari Dion. Ah, makin lama cowok itu semakin manis saja. Baru kali ini Windy didekati oleh cowok seperhatian dan sebaik Dion. Kalau boleh jujur, Windy menyukai hal-hal manis seperti ini. Membaca pesan terakhir Dion perihal ajakan makan siang untuk besok, Windy jadi teringat akan kejadian tadi siang. Perdebatan dirinya melawan Selva dan Airin tentang cowok super cuek dengan kamera di tangannya itu. Duh, seketika suasana hatinya berubah menjadi agak sendu. Gelenyar rasa aneh mendesir di d**a. Terasa memilukan. Hmm... Seandainya saja yang mengiriminya pesan ini adalah cowok itu. s**l, hal tersebut hanyalah angan semata. Windy hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Menerima kenyataan yang ada bahwa khayalannya itu takkan terjadi. Miris sekali, Windiana. Lupakan, lupakan! Menyerah saja. Lihat dan fokuslah pada kenyataan yang ada di depanmu! Ada Dion, dan jelas sekali cowok itu nyata. Bukan sekedar imajinasi saja. Windy menetapkan hatinya, lalu dia mulai menuliskan balasan untuk ajakan Dion.   Dion Devano Lunch, my treat I’ll pick u up K, sweetheart?         Yeah, sweetheart. He said. ¤¤¤¤   "Ada apa, Win?" "Umm, Mas Ardi lagi sibuk, nggak?" tanya Windy. Cewek dengan rambut dikucir tinggi itu berjalan menyusuri koridor gedung Fakultas MIPA Universitas Rajawali. Ponsel yang tertempel di telinga kanannya baru saja tersambung pada kakak sulungnya. "Ah, buat adiknya Mas yang paling cantik, sesibuk-sibuknya pasti bilang nggak sibuk." Abang bucin. Mendengar tawa ceria dari Sang Kakak, Windy ikut terkikik. "Ih, Mas makin menjadi-jadi aja gombalnya. Geli tau." "Iya, nih. Ketularan sinetron bocil balap-balapan di TV kali ya?" Windy cuma bisa geleng-geleng kepala. "Tuh, kan, Windy bilang juga apa. Jangan keseringan nonton gituan." Ardian tertawa lagi. "Iya deh, kalau Windy nggak suka, nanti Mas nggak nonton sinetron gitu lagi. Tapi kalau bisa bujuk Nana ganti channel sih." "Windy angkat tangan deh! Mana berani. Hehehe." "Huuu, dasar kamu." "Mas udah makan siang? Ini udah jam makan siang lho," kata Windy tiba-tiba. "Tumben kamu ngingetin Mas buat makan siang. Ada apaan, hayooo?" Windy tersenyum sendiri. Kakaknya ini memang paling tahu kalau ada sesuatu yang aneh dan dia inginkan. Jelas saja, Windy yang biasanya manja itu tiba-tiba berubah menjadi lebih perhatian pada Ardian. Pasti ada maksud dibalik semuanya. "Hehehe, ketebak ya, Mas?" cengir Windy. Pelan-pelan, dia menuruni tangga gedung kampusnya. Menebar senyum pada mahasiswa-mahasiswi sesama penghuni Fakultas MIPA yang berpapasan dengannya. Suasana hatinya sangat baik hari ini. "Ayo, bilang mau apa." "Aku izin pulang agak telat ya, Mas? Soalnya tadi malam udah janjian mau jalan sama teman," kata Windy dengan nada yang sangat manis. "Sama siapa? Selva dan Airin? Boleh aja, asal pulangnya nggak kemalaman." Windy menggeleng seolah-olah kakaknya dapat melihat apa yang sedang dia lakukan. "Bukan, Mas, sama Selva atau Airin." "Terus sama siapa?" Belum menyebut nama yang mengajaknya kencan saja Windy sudah tersipu sendiri. Maklum, ini pertama kalinya ada cowok yang berani mengajaknya untuk makan siang di luar selain Ferdian dan Ardian. Sekali lagi, kasihan wajah cantik Windy yang tercipta sia-sia. Cewek ini terlalu minder. "Sama temanku, Mas. Namanya Dion." "Cowok?!" tanya Ardian lagi. Terdengar antusias. Windy mengangguk dan menjawab, "Iya. Boleh ya, Mas?" Tentu saja suara memelas dan manja Windy berhasil menggetarkan hati si sulung. Namun yang menjadi jawabannya hanyalah gumaman yang meragukan. "Hmm." "Hm? Boleh kan, Mas? Boleh dong, Mas," bujuknya. "Iya, boleh. Tapi ingat, sebelum adzan maghrib sudah pulang di rumah." Windy sumringah lebar. "Sir, yes, Sir!" sahutnya girang. "Love you, Mas." Mas Ardi membalas dengan kalimat yang sama. Lalu sambungan pun diputuskan. Seiringan dengan langkah Windy yang semakin dekat dengan parkiran halaman depan gedung fakultasnya. Ketika Windy menginjakkan kaki di area parkiran, cewek itu melihat dengan jelas seorang cowok yang menatapnya. Dion dan senyuman menawannya. Berdiri dengan kedua tangan yang bersemayam dalam saku celana jeans. Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam metalik berada di belakang punggungnya. Ternyata cowok itu sudah menunggunya di parkiran. Windy segera menghampirinya. Senyum yang terkesan malu-malu menghiasi wajah cantiknya. Memberi kesan manis yang bisa saja membuat tiap lelaki terpukau karenanya. Terutama cowok yang berdiri sekitar dua meter di hadapannya itu. "Hai," sapa Windy agak canggung. "Hai, Win," balas Dion. Masih tersenyum seperti orang t***l. Giginya bisa terasa kering jika lama-lama sumringah. "Nunggu lama ya? Maaf, tadi perlu nelpon Mas Ardi dulu. Minta izin," kata Windy tak enak hati. Dion menghela lesu. "Lama banget. Tiga jam aku nunggunya." Wajahnya sangat serius. Windy semakin merasa bersalah. Dia segera meminta maaf lagi. "Duuh, maaf banget ya, Dion. Beneran kamu nungguin sampai tiga jam? Ya ampun, maaf." "Hahaha." Dion tertawa renyah. "Nggak kok, Win. Baru juga nyampe," candanya. "Tapi dibolehin kan?" Windy sempat bengong selama satu detik sebelum dia ikut tertawa. Ya Tuhan, mengapa dia bodoh sekali! Sempat-sempatnya dia percaya dengan candaan cowok jangkung di depannya ini! "Hehehe, boleh kok. Tapi sebelum maghrib aku udah harus sampai rumah. Nggak pa-pa, kan?" Dion mengangguk tanpa protes. Dalam benak, dia berpikir bahwa ternyata memang terasa berbeda jika mengajak kencan cewek baik-baik seperti Windy. Banyak ketentuan yang harus dipenuhi. Tidak masalah, Dion menyukainya. "Nggak masalah. Seharusnya, aku yang minta izin langsung ke Mas kamu ya?" kata Dion. Kedua alisnya terangkat. Senyum itu muncul lagi. Rasanya, lama-lama Windy bisa tersedot dalam lesung pipi Dion. Setiap kali cowok itu tersenyum, segala fokus Windy jadi buyar karena pesonanya. "Nggak perlu." Windy tertawa renyah. "Kamu nggak harus minta izin langsung. Santai aja." Ah, Dion sangat menyukai tawa dari suara lembut gebetannya. Rasanya, dia ingin sekali mencubit kedua pipi Windy yang lucu itu. Tahan dirimu, Dion! "Ehem," deham Dion salah tingkah. "Ya udah, yuk!" Dia memutar tubuhnya dan membukakan pintu mobil untuk Windy. "Udah lapar, kan?" ¤¤¤¤   Bagus termangu setelah mobil hitam metalik milik Dion menjauh dari parkiran gedung Fakultas MIPA Universitas Rajawali. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya untuk memotret Windy. Beberapa saat yang lalu, dia telah mendapatkan pesan dari Dion bahwa dia akan menjemput Windy di lobby C Kampus Rajawali Dion menginfokan bahwa hari ini merupakan kencan pertamanya dengan Windy setelah beberapa minggu saling mengenal. Foto yang perlu diambil hari ini adalah saat Dion menjemput Windy. Bagus tentu harus mendapatkan wajah ceria cewek itu. Tanpa perlu diragukan lagi, jelas saja cowok itu mendapatkannya dengan mudah. Lagipula, ada Dion yang sudah membuat cewek itu tersenyum. "Yang ini lumayan," gumam Bagus ketika melihat satu foto di mana Windy sedang tertawa. Seperti biasa, cewek itu akan menutup sebagian mulutnya. Matanya menyipit dan terlihat sangat lucu. Pipinya membulat karena ujung bibir yang menyudut. Tanpa Bagus sadari, dia juga ikut tersenyum karena foto itu. "k*****t," makinya pada diri sendiri. Ya, Bagus sadar. Dia mengakui bahwa dirinya sangat menikmati kegiatan barunya ini. Objek yang menjadi fokus lensa kameranya ini sangat indah. Melebihi keindahan langit di kala senja maupun pelangi yang muncul setelah langit menyirami bumi. Bagus harus mengakui bahwa Windianaㅡcewek yang ditaksir dan digebet oleh sahabatnya itu memang cantik. Hatinya selalu bergetar saat melihat senyuman dan tawa cewek itu dari jendela bilik kameranya. Terdapat secuil rasa ingin terus-menerus medapatkan ekspresi atas kebahagiaan dari cewek itu. Fakta itu membuatnya sedikit terganggu. Baru dua hari memotret, Bagus sudah terpikat padanya. Ataukah dirinya memang sudah merasa tertarik saat Dion menunjuk siapa gebetannya itu? Menepis rasa itu, dia pun sekali lagi mengangkat kameranya. Dia memfokuskan indra penglihatan. Mencari-cari objek lain untuk dipotret sebagai upaya pembuktian diri. Pembuktian bahwa dia akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dirinya rasakan saat memotret Windy. Dia mengarahkan fokusnya pada segerombolan mahasiswi yang berjalan keluar dari gedung fakultas. Bersenda gurau, sama persis dengan apa yang Windy lakukan bersama teman-temannya. Bagus memotret ekspresi tiap cewek. Dari yang biasa-biasa saja sampai yang tercantik di antara mereka. Ckrek! Ckrek! Ckrek! Ckrek! Ckrek! Tidak ada. Tidak ada perasaan seperti itu. Biasa saja. Sungguh, Bagus tidak merasakan getaran itu. Rasa yang membuat hatinya bergejolak dan terombang-ambing itu tidak muncul sama sekali. Rasa yang menggerus asanya saat memotret Windiana. Bagus sampai mengezoom wajah cewek yang paling cantik di kameranya. Tidak ada rasa itu. Pada detik itu, dia tersadar. "Hahaha... Bangke, Gus! Gebetan temen masa lu taksir juga!" kelakarnya. Menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan betapa Tololnya seorang Muhammad Bagus Abqari. "Masa gua harus bayarin kost-nya Damar tiga bulan? Kan Tolol." Bagus tertawa sendiri. Menertawakan monolognya. Kemudian, dia menghela napas. "Maaf, Yon. Kayaknya gua nggak bisa."   ¤¤¤¤   "Makasih banyak ya, Dion, buat hari ini." Dion mengangguk. "Sama-sama, Win. Makasih juga udah nemenin aku makan siang. Nggak capek kan jalan sama aku?" Windy tersenyum manis sembari menggeleng. "Hehehe, nggak kok." "Nanti kalau aku ajak jalan lagi, kamu mau, kan?" Windy terdiam sebentar. Apakah ia tidak salah dengar? Seorang Dion Devano Utama akan mengajaknya berkencan untuk yang kedua kalinya? Cewek itu mengangguk pelan seraya menjawab dengan kalem, "Boleh aja." Dion sempat terhanyut oleh suara lembut Windy. Dia sampai tidak sadar kalau cewek itu sudah melepas sabuk pengamannya. "Udah hampir maghrib. Aku masuk ya? Kamu juga mendingan cepat balik. Takutnya nanti kamu kejebak macet parah." Ya Tuhan, perhatian yang diberikan oleh cewek ini benar-benar menyejukkan hati Dion. Ada sesuatu dari Windy yang membuatnya terlihat spesial di matanya. Dia sungguh berbeda dengan cewek-cewek yang biasa dia kenal dan ajak jalan. Entah mengapa Dion jadi semakin menginginkan cewek itu. Windy menoleh sekali lagi pada Dion untuk memberikan senyum tertulusnya sebelum membuka pintu mobil. Dibalas Dion dengan hal yang sama. Ketika Windy dan Dion turun dari mobil, mereka mendengar suara klakson dari belakang. Ternyata Ferdi. "Wah, darimana, Win?" tanya kakaknya. Windy meringis. Menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Habislah dia! Ferdi akan bersekongkol dengan si sulung untuk menyerang Windy malam ini. Dion menatap Windy penuh tanya. Cewek itu berjalan mendatangi Ferdian dan menggandeng lengan kakaknya. Mengerti dengan ekspresi wajah Dion yang kebingungan, Windy pun memperkenalkan Dion pada kakaknya. "Dion, kenalin ini Ferdi. Kakak kedua aku." Sebagai tanda kesopanan, Dion menghampiri Ferdian yang berdiri di samping mobil kerjanya. Menyodorkan tangan kanannya seraya berkata, "Dion Devano Utama." "Ferdian," balas kakaknya singkat. Tak lupa untuk tersenyum simpul sebagai penghargaan atas keramahan dan sopan santun yang Dion miliki. Mereka terdiam sejenak. Hingga terdengar adzan maghrib berkumandang. Diin pun segera pamit pada Ferdi dan Windy. "Udah adzan maghrib, saya pulang dulu." Ferdi juga bersikap sopan dengan menawari Dion untuk bersinggah ke rumahnya. "Nggak mampir dulu?" Dion menolak dengan halus. "Lain kali aja, Mas. Saya juga udah ada janji sama teman." "Ooh, gitu. Ya udah. Hati-hati ya. Jakarta jam segini lagi macet-macetnya." "Hehehe, iya, Mas." Lalu Dion berkata pada Windy, "Aku balik ya, Win. Sampai ketemu besok." "Dah, Dion..." Windy melambaikan tangan kanannya pada cowok dengan tinggi seratus delapan puluh tiga centimeter itu. Tak lama kemudian mobil sport hitam metalik milik Dion pun melesat meninggalkan pekarangan kediaman keluarga mendiang Bapak almarhum Bapak Soehendra. Sepeninggal cowok itu, Ferdian dengan usil menowel pipi adiknya. "Centil banget jadi cewek!" katanya usil. "Ih, apaan sih, Mas! Siapa juga yang kecentilan?!" omel Windy. "Terus, apa barusan? Dadah-dadah sok manis sok imut gitu?" Windy melengos. "Aku kan emang manis, emang imut!" Ferdi dengan gemas mencubit pipi kanan adiknya. Sukses membuat Windy meringis kesakitan. "Aduh! Aduh! Sakit, Mas!!" ringisnya. Puas mencubiti pipi adiknya, Ferdi menangkupkan kedua telapak tangan lebarnya ke wajah Windy. Menekan-nekan pipi cewek itu. Bibir Windy mengerucut lucu. "Ih, ini mah namanya ka-de-er-te! k*******n dalam rumah tangga! Aku harus laporin ke Om Seto! Mas udah nyakitin adik bungsu yang imut-imut unyu kayak aku!" "Idih! Imut-imut unyu apaan?! Umur udah hampir dua puluh gitu masih mau dibilang unyu?!" Windy Si Bungsu mendengus kesal. Bibirnya mengerucut menandakan kekesalannya. "Tega!" pekiknya. Ferdian terbahak saat melihat adik gadisnya yang manja itu berjalan menghentakkan kakinya menjauh. Menuju ke pintu utama rumah mereka. Dengan tawa yang masih keluar dari mulut dan menggetarkan kedua bahunya. "Yaaah, ngambek nih?" goda Ferdian sembari mengiringi langkah Windy. Windy tak acuh. Pura-pura tidak mendengar. "Masa yang baru pulang nge-date ambekan gini? Nggak malu sama gebetan?" Ferdi masih meluncurkan godaannya. "Nggak!" ketus Windy. "Idih, malu-maluin amat!" Windy terus berjalan hingga depan teras. Lalu melepas sepatu flat-nya terlebih dahulu sebelum menginjakkan kaki di teras rumahnya yang bersih mencilang. Ketika Windy hendak membuka pintu rumah, gerakannya terhenti saat mendengar Ferdi berkata, "Kirain tadi yang nganter lu pulang cowok yang nolongin lu itu, Win. Siapa namanya? Bagus?" Deg! Nama cowok itu lagi. Seketika gelenyar rasa aneh dan terkesan menyedihkan itu kembali menyerang hati Windy. Cewek itu tak serta merta membalikkan badannya dan menjawab pertanyaan Ferdian. Entah mengapa, Windiana merasakan hatinya menjadi hancur berkeping-keping jika nama itu disebut. Padahal dia dan cowok itu tidak pernah mempunyai hubungan apa-apa. Katakanlah, Windy patah hati sebelum pernah menjalani apapun. Kasihan sekali. Setelah menghela napas sejenak, Windy memutar tubuhnya dan berhadapan dengan punggung Ferdi yang sibuk melepas sepatu pantofelnya di lantai teras. "Nggak. Hehehe. Kak Bagus kayaknya udah lupa sama aku, Mas." Selesai melepas sepatu dan kaos kakinya, Ferdi bangun dari duduknya. Menghampiri adiknya yang terlihat lebih sendu. "Ya udah kalau dia udah lupa, lupain juga. Toh, gebetan lu yang sekarang juga nggak kalah cakep. Walaupun tetep gua yang paling ganteng dari semua cowokㅡ" Windy seketika terbahak mendengar candaan kakaknya. "Idih, level pede Mas itu ngalahin pedenya Mang Ujang tukang bubur komplek sebelah tau nggak! Udah tingkat dewa! Pantesan dulu Mas Ardi suka jitakin jidatnya Mas Ferdi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN