d u a p u l u h e m p a t

3974 Kata

"Nggak dibales?"   Windy membasahi tenggorokannya. Kegelisahan menggerogoti hatinya. Sungguh, rasa bersalah mulai memenuhi diri.   Dan dengan bodohnya Windy justru balik bertanya, "A-aku... Harus bales apa, Kak?"   Bagus menyandarkan bokongnya ke wastafel seraya tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Cowok itu diam-diam menyimpan dan mencoba untuk memadamkan api cemburu yang mulai membara saat membaca pesan dari temannya itu. Ia tak ingin menampakkan sisi buruknya di depan Windy. Ia juga tak mau terlihat seperti ABG yang tak dapat mengendalikan rasa cemburu.   Mata Windy mengerjap-ngerjap ketika tangan Bagus mulai memanjakannya dengan cara mengelus rambut panjangnya. Tatapannya terlihat sangat tajam. Menyimpan kemurkaan namun terhalangkan oleh kasih sayang.   "Aku juga nggak tau. Ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN