Embun membenamkan wajahnya di balik selimut. Dia malu. Sungguh dia nekat mengatakan hal itu kepada Badai. Entah mendapat keberanian darimana dia akhirnya mengucapkan itu. Dan sekarang Badai terus mengejeknya. Sejak dari café dan saat ini sudah meringkuk di atas kasur, pria itu masih saja terus ribut ingin dia mengulangi ucapannya. “Ndut.” Genduuuuuttt sayang.” Tentu saja Embun jadi merasa makin malu dengan cecaran Badai. Embun langsung membuka selimutnya dan kini melihat Badai sudah menyeringai lebar saat melihatnya. “Berisik tahu Dai.” Embun berusaha bangun dan turun dari kasur. Membuat Badai juga ikut bangun dan kini mengekori Embun keluar dari kamar. “Eh anak mamah. Sini temenin mamah nonton sinetron. Habisnya papa kalian lembur nih. Si Aya juga gak nginep si

