Karet Rambut

1397 Kata
Allana tampak menata hasil jepretannya tadi siang. Ya, foto Athalla. Allana menggantungnya dengan wooden clip lalu ia jepitkan pada tumblr lamp warm whitenya. Allana tersenyum saat melihat foto Athalla bercampur dengan fotonya dan juga foto Lisa. Allana sendiri tidak tahu, kenapa ia ingin sekali memajang foto Athalla dikamarnya. Tiba-tiba pintu kamar Allana pun terbuka dan mendapati Lisa disana. Lisa berjalan masuk begitu saja, tanpa meminta izin terlebih dahulu dari sang pemilik kamar. Allana yang melihat pun terkejut sekaligus panik, karena ia telah menggantung foto Athalla disana. “ALLANA, GUE LAGI SENANG NIH.” Teriak Lisa dengan berlari untuk memeluk Allana. Allana yang hendak mencopot foto Athalla pun tidak bisa, karena tubuhnya sudah dipeluk erat oleh Lisa. “LO TAHU? REZA SWEET BANGET ORANGNYA.” Lanjut Lisa dengan teriakannya. Allana pun tertawa dan berusaha untuk melepas pelukan Lisa. Tetapi Lisa malah semakin memeluknya erat. “Lis, gue sesak nafas.” Ucap Allana berbohong. Lisa pun melepaskan pelukan Allana. Lisa menatap Allana dengan raut bingung, karena Allana tidak biasanya seperti ini. Walaupun Lisa memeluknya sangat erat, Allana tidak akan meminta untuk dilepaskan. “Maaf.” Ucap Lisa merasa bersalah. Allana mengangguk sembari tersenyum. Lisa juga mulai curiga dengan Allana karena wajah Allana tampak begitu panik saat ia mulai memasuki kamar Allana. “Lo kenapa sih?” tanya Lisa dengan melihat ke sekitar kamar Allana. Allana pun segera menutupi bagian tumblr lampnya. Dan itu semakin membuat Lisa penasaran dengan itu. Lisa berjalan naik keatas kasur Allana, ia berusaha untuk melihat bagian yang ditutupi oleh Allana. “ASTAGA ALLANA.” Teriak Lisa terkejut. Ya, mata Lisa memang sangat tajam walaupun dibagian redup sekalipun. Allana menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Ia sangat malu. “KENAPA LO GAK NGOMONG KE GUE SIH?!” Ucap Lisa yang masih dengan teriakannya. “Gue harus ngomong apa?” tanya Allana kebingungan. Lisa menepuk keningnya pelan, tidak habis pikir dengan sahabatnya yang sudah terlalu lama menjomblo. “Aduh Al, lo b**o juga ternyata.” Ucap Lisa gemas. “Lagian gue ngga tahu juga harus ngapain, Lisa.” Jawab Allana dengan wajah polos dan datarnya. Lisa menghela nafas, mungkin ini salah satu alasan Allana menolak beberapa cowok, karena dia memang tidak memiliki pengalaman dalam hal berpacaran. “Sejak kapan lo mulai suka Athalla?” tanya Lisa dengan wajah seriusnya sembari menatap kedua mata Allana. Allana menggeleng. “Gue gak suka sama dia.” Jawab Allana. “Apa? Lo gak suka dia, tapi kenapa lo pasang mukanya di kamar lo?” tanya Lisa kebingungan. “Menurut lo, apa gue bisa suka sama orang yang bahkan buat gue kesal setiap ketemu sama dia?” tanya Allana balik kepada Lisa. Lisa menggeleng, “terus kenapa lo pasang fotonya? Why Allana?” “Gue kemakan sama kata-kata manisnya.” Lirih Allana dengan menatap kedua mata Lisa. Lisa tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Allana. Asal kalian tahu, hanya Athalla yang berhasil membuat Allana termakan oleh kata-kata manisnya. Sebenarnya tidak hanya Athalla yang memberikan kata-kata manis untuk Allana, hanya saja Allana selalu menolak dan tidak ada yang berhasil kecuali Athalla. Mendakak, suara teriakan terdengar jelas dari luar kamar Allana. “Al mama minta tolong dong, anterin makanannya ke tetangga depan rumah.” Teriak wanita paruh baya. Allana pun keluar dan segera turun menuju dapur untuk menemui mamanya, dan Lisa masih berada di dalam kamar Allana. “Kenapa ngga mama sendiri sih?” Ucap Allana. “Mama masih harus siapin makanan, tapi mama juga udah pernah ketemu sama mereka kok. Mama juga lupa kalau Cuma tetangga depan rumah yang belum mama kasih makanan.” Jawab wanita dengan rambutnya yang dicepol keatas. Mama Allana, Keisha Afifah wanita karir yang tidak lupa dengan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Walaupun Afifah sibuk, ia akan menyempatkan diri untuk memasak dan meluangkan waktunya untuk Allana. “Kenapa juga kita masih mereka makanan?” tanya Allana dengan melihat mamanya yang sibuk memasukkan makanan masakannya ke dalam mangkuk. “Kan kita baru pindahan, jadi kita harus menyapa tetangga baru supaya kenal. Dan kalau kita mau minta bantuan pun mereka mau bantuin karena udah kenal sama kita.” Jelas Afifah pada anak gadisnya sembari memberika semangkuk cap cai dan sepiring ayam goreng. Allana pun menerimanya dan mulai keluar rumah. Memang benar, baru dua hari yang lalu Allana dan keluarganya pindah rumah. Selain lebih dekat dengan tempat kerja kedua orang tuanya, Allana juga sedikit lebih dekat dengan sekolahnya. Allana pun mulai memencet bel tetangga baru depan rumahnya, tanpa melihat penampilannya terlebih dahulu. Rambut dicepol keatas dengan training hitam dan kaos putih polos yang melekat pada tubuhnya. Itu saja menurutnya sudah cukup sopan, karena tidak terbuka sama sekali. Allana kembali memencet karena sang penghuninya tidak kunjung keluar. Allana pun bosan karena orang yang berada di dalam rumah tidak kunjung keluar, ingin Allana pergi dan pulang. Tapi, ini adalah titipan mamanya. Allana pun menoleh kebelakang sembari menunggu pemilik rumah keluar. Saat Allana mendengar pintu terbuka, dan Allana segera membalikkan badannya kembali untuk melihat pemilik rumah tersebut. Betapa terkejutnya Allana saat melihat pemilik rumah tersenyum kearahnya sambil melipat tangannya di d**a. Mata Allana membulat terkejut saat mengetahui bahwa anak tetangganya adalah, Athalla Onesimo. “Ngapain lo kesini? Pengin ketemu sama gue kan?” tanya Athalla saat melihat ada Allana di hadapannya. Allana menggeleng, ia segera memberikan mangkuk beserta piring yang ia bawa untuk keluarga Athalla. “Dari mama gue, katanya belum sempat kasih buah tangan buat keluarga lo.” Ucap Allana. Athalla pun menerima dan kembali tersenyum, “Perhatian banget sih.” Balas Athalla. “Yaudah gue pulang.” Ucap Allana dengan gugup. Saat Allana berbalik dan hendak pulang, langkahnya terhenti saat rambutnya kembali terurai begitu saja. Allana berbalik dan melihat Athalla tersenyum sambil memegangi karet rambut pinknya. “Gue udah bilang ke lo.” Peringat Athalla. Allana menatap Athalla dengan kesal. Bagaimana bisa ia bertamu dan mendapatkan perlakuan seperti ini. “Bodo!” jawab Allana dengan kesal lalu pergi begitu saja. Lagi, langkah Allana kembali berhenti saat tangannya ditarik oleh Athalla. Athalla mendekatkan dirinya ke telinga Allana. “Gue janji akan balikin karet rambut lo di waktu yang tepat.” Bisik Athalla. *** Allana pun kembali ke rumahnya dengan raut wajah kesalnya. Afifah yang sedang menunggu anaknya untuk makan bersama pun merasa kebingangan. “Loh Al, kamu kenapa? Bukannya tadi rambut kamu ikat ya? Kok sekarang di urai.” Tanya Afifah sembari menuangkan air kedalam gelas. Allana pun duduk dengan kesalnya di samping Lisa. “Mama kok gak bilang kalau tetangga depan rumah punya anak cowok?” tanya Allana dengan meraih gelas yang di penuhi dengan air. “Mama lupa bilang. Tapi mama juga belum tahu persis gimana anaknya.” Jawab Afifah dengan memberikan sepiring nasi pada Allana. Allana pun mendengus kesal sembari mengambil piring nasi dari tangan mamanya, Afifah. Keluarga kecil Allana pun makan dengan damai, dan setelahnya Allana membantu mamanya sebentar sebelum akhirnya kembali menuju kamar untuk bercerita ke Lisa yang sudah menunggunya di kamar. Allana duduk di samping Lisa yang saat sedang asik dengan ponsel genggamnya. “Lo tahu siapa yang gue temuin tadi?” ucap Allana yang menurut Lisa lebih seperti bertanya padanya. “Mana gue tahu,” Jawab Lisa dengan mengedikkan bahunya. “Athalla, Lisa.” Ucap Allana dengan menatap Lisa dari samping. Lisa terkejut dengan apa yang dikatakan Allana. Itu berarti Athalla adalah tetangga Allana bukan? Lisa mengubah posisi duduknya untuk menghadap Allana, Lisa menatap kedua bola mata Allana dengan terkejut. “Lo yakin?” tanya Lisa karena masih tidak percaya. Allana mengangguk percaya dengan apa yang dikatakannya tadi. Sedangkan Lisa masih terkejut dengan perkataan Allana barusan. “Lo tahu kan waktu itu rambut gue kuncir , Athalla langsung ambil karet rambut gue. Dan tadi, lo juga tahu kenapa rambut gue tiba-tiba ke urai waktu gue balik ke rumah, padahal sebelumnya gue cepol asal-asalan.” Ucap Allana yang sedikit memberi bukti supaya Lisa percaya. Lisa tampak berpikir untuk mengigat waktu dimana Athalla mengambil karet rambut Allana. Lisa membelalakkan matanya saat mengingat kejadian itu. “Dan kenapa alasan rambut lo ke urai saat ini, adalah karena ulah Athalla yang udah ambil karet rambut lo lagi?” jawab Lisa yang mencoba untuk menggali jawaban. Allana mengangguk dan membuat Lisa bertepuk tangan. “Gue yakin sekarang, dia pasti ada maksud di balik ini semua.” Ucap Lisa dengan menatap Allana serius. Allana mengangguk, karena Allana juga sempat berpikir hal yang sama seperi Lisa. Tapi ia sendiri tidak begitu yakin dengan pemikirannya. Jadi ia membuang jauh-jauh pemikirannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN