Selamat membaca~
-
Allana masuk kedalam kamarnya setelah memastikan bahwa dirumahnya tidak ada orang. Mama dan Papanya memang sibuk bekerja, tetapi ia bersyukur bahwa kedua orang tuanya tidak melupakan atau mencampakkannya sama sekali.
Ia membantingkan tubuhnya diatas ranjang begitu saja. Allana memegang pipinya yang masih panas dan ujung bibirnya yang terasa nyeri.
"Hidup gini banget ya," Ucap Allana dengan melepas kancing seragamnya satu persatu.
Allana mulai melepas baju seragamnya, dan kini hanya menampilkan tanktop putih yang masih melekat pada tubuh atasnya. Allana menghempaskan tubuhnya diatas ranjang miliknya begitu saja.
Allana menutup matanya sesaat setelah melihat langit-langit kamarnya. Hari ini adalah hari yang paling melelahkan untuknya.
Drrtttt....
Suara dari efek getaran terdengar jelas di telinga Allana. Allana meraba kasurnya, dan mencari dimana keberadaan bajunya tadi. Setelah menemukannya, Allana pun mengeluarkan ponselnya dari saku baju miliknya.
"Bisa kerumah sekarang?"
Allana mengernyitkan dahinya saat membaca pesan yang ia tidak mengerti maksudnya.
Athalla mengiriminya pesan seperti ini? Gunanya untuk apa?
Allana pun membiarkannya begitu saja dan kembali menutup matanya.
Drrtttt......
Getaran itu kembali dirasakan Allana karena ponselnya yang bergetar. Allana pun duduk dan berjalan kearah balkon sembari memegang ponselnya.
"Gue mohon."
Allana melihat lurus kearah balkon depan. Karena itu adalah kamar Athalla.
Lampu menyala terang di sebrang sana, tampak juga seseorang yang sedang berdiri dengan melihat kearah ponsel yang digenggamnya.
Allana pun segera kembali menuju ranjangnya dan mengabaikan pesan dari Athalla.
****
Athalla melihat ponselnya yang terus mengeluarkan bunyi. Ternyata ada pesan masuk dari Sofyan. Tetapi aneh, dia terus saja mengirimkan gambar padanya saat itu.
Saat itu, Athalla hanya berpikir jika Sofyan mengirimkan gambar supaya Athalla mengetahui kondisi kelas dan tugas apa saja hari ini yang dilewatkannya
Tapi, Athalla sangat terkejut ketika melihat ada tiga gadis yang sedang memojokkan satu gadis tidak bersalah. Athalla semakin terkejut saat dapat melihat siapa gadis yang dipojokkan oleh ketiga gadis itu.
Dia, Allana. Luka lebam di sekitar bibirnya itu tercetak jelas di kamera Sofyan. Saat itu juga Athalla memikirkan bagaimana keadaan Allana. Ditambah mereka juga sedang tidak akur.
Athalla berusaha mengirimkan pesan pada Allana berkali - kali tetapi tidak kunjung dibalas. Athalla menghkawatirkan keadaannya sekarang. Athalla berjalan menuju balkon, melihat adanya Allana disana. Namun nihil, tidak ada Allana sama sekali.
"Gue gak bisa diam gini terus." Ucapnya sambil menentukan keputusannya untuk menghampiri Allana dirumahnya.
*****
ALLANA POV
Aku mendengar suara bell sangat keras dari dalam kamar ku. Siapa yang ingin bertamu menjelang maghrib seperti ini.
Aku mengambil kaos polos putih ku yang berada di dalam almari. Aku mengenakannya sembari berjalan menuruni anak tangga.
Terdengar lagi suara bell dari dalam rumah.
"Sebentar," ucapku.
Aku pun bergegas menuju pintu dan membuka pintu guna melihat siapa yang bertamu.
Aku terkejut saat mendapati seorang lelaki berdiri dibantu dengan tongkat ketiak yang di dekapnya disebelah kiri.
Sekejap kami bertemu pandang, saling tatap hanya dalam beberapa meter. Ya, kini aku dapat melihat dengan jelas ekspresi wajahnya yang terkejut. Spontan ia langsung mengarahkan tangan kanannya untuk memegang wajahku.
"Bilang siapa yang lakuin ini, Na?!" tanyanya dengan suara tinggi namun terdengar deep.
Aku menepisnya tangannya, "Apa peduli lo!" jawab ku ketus.
Aku pun berniat menutup pintu karena aku tidak ingin melihat ataupun bertemu Athalla untuk saat ini.
Aku memundurkan langkahku dan menutup pintu dengan keras.
Akhh...
Aku terkejut saat mendengar suara rintihan seseorang. Dengan cepat aku kembali membuka pintu untuk memastikan keadaan Athalla.
Aku semakin merasa bersalah saat melihat Athalla terduduk di lantai. Aku mengampirinya dan membantunya untuk berdiri.
Aku menuntunnya untuk masuk kerumah dan mendudukkannya diatas sofa ruang tamu.
"Lo gapapa?" Tanyaku dengan wajah khawatir.
Aku mendongak keatas, menatap wajah Athalla saat tak kunjung ada jawaban.
Aku terdiam saat ia tersenyum kearahku. Ia menatap lekat kedua manik mataku, seakan aku akan pergi jauh.
"Gue ambil es batu dulu buat kompres kaki lo," ucapku sembari mengalihkan pandanganku darinya.
Saat aku hendak bangun untuk beranjak ke dapur, tangan kananku ditariknya begitu saja hingga aku kembali terduduk tepat disamping Athalla.
Aku memejamkan kedua mataku, mengatur napas. Aku dapat merasakan tangannya yang menyurai lembut rambutku.
"Gue khawatir sama lo, Na." Ucapnya sungguh pelan dan halus.
Sial.
Kenapa mataku tiba-tiba terasa panas?
Kenapa hatiku terasa sakit?
Aku kembali membuka mataku, mendongak dan menatapnya. Wajah tampannya memang jelas mengisyaratkan kekhawatiran saat ini.
Lagi, mata kami saling bertemu pandang. Tapi aneh, saat aku mengedipkan mata ada air mengalir begitu saja membasahi pipiku.
Hatiku semakin sakit saat ia merengkuh tubuhku untuk didekapnya. Ia menepuk pelan punggungku guna menenangkanku.
Ini salahnya,
Kenapa ia bertingkah seperti ini?
"Setelah gue sembuh, gue akan ekstra jagain lo biar Alina gak usik hidup lo lagi, Na." Bisiknya tepat pada telingaku.
Aku mengangguk setuju dalam pelukannya. Air mataku terus keluar, rasanya memang berat hari ini untuk ku.
Bertengkar dengan Lisa, dan Athalla sudah membuatku hancur, ditambah dengan Alina yang mencari masalah denganku hari ini.
Aku butuh sandaran seperti ini.
Athalla merenggangkan pelukan kami saat isakanku perlahan mereda. Ia menangkup wajahku menggunakan kedua tangannya.
Ibu jarinya ia gunakan untuk menghapus sisa air mataku yang masih tinggal.
Ia tersenyum sembari menatapku, "Gue minta maaf untuk kejadian kemarin. Mulai sekarang gue gak akan paksa lo untuk cerita, tapi yang pasti gue akan selalu ada untuk lo berbagi cerita," ucapnya lembut.
Aku membalas senyumnya walau tipis, karena ujung bibirku masih terasa sakit akibat ulah Alina tadi.
"Thanks, Tha." Jawabku tulus.
Ia mengangguk dan kembali membawa tubuh kecilku untuk masuk ke pelukannya.
Ia mengusap kepalaku halus, sehingga aku merasa aman saat di dekatnya.
"Gue sayang sama lo, Ana."
Aku yakin Athalla berucap, tapi terdengar samar samar di telingaku.