Selamat membaca~
-
Allana menuruni anak tangga rumahnya, setelah bersiap untuk pergi kesekolah. Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia menyapa mama dan papanya sebelum ikut duduk bersama papanya yang sedang meminum kopi.
“Pa, hari ini Allana ke sekolah bareng papa ya.” Ucap Allana yang mengarah jika ia ingin diantar oleh papanya kesekolah.
“Iya.” Jawab papanya dengan senyum yang diberikannya kearah anak semata wayangnya.
Afifah duduk sembari mengambilkan nasi untuk suaminya.
“Emang Lisa kemana?” tanya Afifah kepada Allana.
“Berangkat sama Reza.” Jawab Allana dengan asik meminum jus yang sudah dibuatkan mamanya.
“Siapa itu? Pacarnya?” tanya Afifah penasaran, pasalnya Lisa atau Allana tidak bercerita padanya.
“Masih PDKT sih.” Jawab Allana seadanya.
Sembari menunggu istrinya mengambilkan porsi makan, papa Allana pun ikut masuk kedalam pembicaraan yang membuat Allana diam seketika.
“Kalau anak papa, siapa yang lagi dekatin?”
Allana diam, Afifah sadar jika anaknya tidak baik-baik saja saat diberi pertanyaan seperti itu oleh papanya.
“Hm... Athalla gimana keadaannya sayang?” tanya Afifah yang mencoba mencairkan suasana hati Allana.
“Baik.” Jawab Allana seadanya.
Allana pun mulai memakan makanannya dengan damai. Berbeda dengan Afifah yang sedang mengkode-kode suaminya, karena ucapannya yang tadi.
****
Allana saat ini sedang berjalan menuju kelasnya seorang diri setelah diantarkan oleh papanya tadi. Keadaan didalam mobil, sudah tidak secanggung saat sarapan, karena papa Allana sudah meminta maaf padanya atas ucapannya tadi.
Hari ini, Allana terlihat sangat lesu. Bahkan tidak mood untuk melakukan aktivitas. Saat Allana berjalan, entah mengapa kakinya tiba-tiba berhenti saat melihat orang yang berdiri dihadapannya.
Memang sedikit jauh jarak antara Allana dan orang yang berdiri dihadapan Allana. Tapi itu membuat Allana ingin berhenti, bahkan berputar balik.
“Al.” Sapa seorang lelaki yang tak asing bagi Allana. Yaitu Rifky.
Entah apa yang dilakukan Rifky, tapi sepertinya ia sedang menunggu Allana di lobby sekolah. Allana pun mulai melangkah mundur saat Rifky mencoba untuk mendekatinya.
“Al aku mau jelasin semuanya ke kamu.” Ucap Rifky sambil berjalan terus mendekati Allana.
Allana terus melangkah mundur, dan tatapannya pun tidak mengarah pada Rifky yang sedang menatapnya serius. Sepertinya Allana takut saat ini.
“Kamu salah paham waktu itu. Yang kamu li--”
“STOP!” teriak Allana saat Rifky mulai berbicara hal-hal yang tidak ia inginkan.
Allana pun mulai memberanikan diri untuk menatap Rifky yang sedari tadi menatapnya.
“Apa semudah itu buat lo kembali? Apa semudah itu buat lo minta maaf? Dan, apa semudah itu buat lo jelasin kejadian yang terjadi setahun yang lalu?” ucap Allana dengan wajah serius.
Rifky menjadi diam seketika saat mendengar ucapan yang dilontarkan Allana untuknya. Memang benar, baginya semua hal yang akan diucapkannya pada Allana akan sia-sia. Karena sudah terlambat.
Allana kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas saat Rifky hanya diam dan tidak berkutip sedikitpun. Allana tidak tahu, baru saja hidupnya merasa tenang. Tetapi kembali diusik oleh, Athalla. Kemudian Rifky. Selanjutnya, siapa lagi?
Allana memasuki kelas dengan wajah masam. Lisa yang sedang fokus membaca buku merasa terganggu dengan Allana yang tiba-tiba duduk disampingnya dengan tidak santai.
“Lo apaan sih?” ucap Lisa juga tidak santai karena fokusnya terbagi menjadi dua.
Allana menatap Lisa dengan wajah masam, ditambah lagi Lisa yang nada bicaranya tidak santai membuat Allana semakin kesal.
Allana pun bangkit dan beralih duduk disisi paling belakang. Allana duduk dipojokan, dengan kesal.
****
Teetttt.....
“Semua lembar jawaban langsung dikumpulkan ke depan.” Ucap bu Yunita, guru Bahasa Indonesia yang tadi melangsungkan ulangan harian.
Memang, tidak terasa dipenghujung tahun. Allana akan naik ke kelas XII. Dan sebentar lagi, ia akan lulus dan kuliah di negara impiannya.
Semua maju untuk mengumpulkan lembar jawaban, dan setelahnya mereka pergi menuju kantin.
Allana memang sengaja meninggalkan Lisa terlebih dahulu, karena ia masih sakit hati dengan Lisa yang tidak bisa mengerti perasaannya.
Allana berjalan menuju satu kedai, untuk membeli sebotol air mineral. Moodnya hari ini sudah hancur. Tidak ada semangat di dalam dirinya hari ini.
Setelah membayar, Allana memutuskan untuk kembali ke kelas. Allana berjalan dengan gontai. Tetapi, tiba-tiba ada yang menariknya menuju sisi belakang kantin.
Kedua tangan Allana di pegang dengan sangat kuat, dan ia sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk melawan.
“Allana. Kita pernah ketemu kan? Bahkan makan satu meja.” Ucap gadis berambut panjang, yang tidak lain adalah Alina.
Suara tawa Alina terdengar jelas saat melihat Allana kesakitan karena ulah tangannya.
“Gue cuma mau kasih peringatan aja sih ke lo, kalau Athalla itu punya gue.” Lanjut Alina dengan tangannya yang masih bermain dengan rambut Allana.
Sangat jelas teriakan kesakitan yang dilontarkan Allana. Tetapi apa boleh buat, ia tidak bisa melarikan diri. Dua orang yang sedang mengapitnya sangatlah besar.
“Dan lo tahu kan harus berbuat apa?” ucap Alina dengan menekankan setiap katanya.
Allana tersenyum miring, memang raganya tersiksa, tetapi jiwanya tidak.
“Lo cantik, tapi sayang,” ucap Allana yang sengaja ia gantungkan.
“Hati lo BUSUK!” tegas Allana dengan kedua matanya menatap tajam Alina.
Tidak lama terdengar suara tamparan. Ya, Alina menampar Allana dengan sangat keras.
“Ternyata bukan hanya hati, tapi perilaku lo juga. Mirip SETAN!” tambah Allana yang membuat Alina terpancing emosi.
Alina kembali menampar Allana di pipi yang sama. Tamparan itu tidak hanya menghasilkan bekas merah, tetapi juga bercak darah disudut bibir Allana karena tamparan yang terlalu keras.
Allana tertawa kemenangan. Allana berusaha melepaskan diri dari dua orang yang sudah mengapitnya tadi, dan berhasil dengan cara menginjak keras kakinya. Allana berjalan mendekati Alina, sambil berbisik. “Gue tahu harus berbuat apa. Karena Athalla milik gue, bukan milik lo. Dan sebaiknya, lo bangun dari mimpi lo yang berkepanjangan itu.”
Allana pun berjalan pergi meninggalkan Alina yang sedari tadi memanggil namanya dengan sangat keras. Allana tidak memperdulikannya sama sekali, malah menganggapnya seperti angin yang lewat.
“GUE GAK AKAN TINGGAL DIAM ALLANA!”
****
Allana membersihkan lukanya di dalam kamar mandi. Ia sesekali merintih kesakitan karena merasa perih dibagian sudut bibirnya. Hidupnya benar-benar berubah sejak masuk di SMA pilihannya sendiri. Mulai dari tahun pertama masuk, hingga tahun kedua. Dan selanjutnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Setelah membersihkan lukanya, Allana memutuskan untuk kembali ke kelas dengan sebotol air mineral ditangannya.
Allana masuk dengan arah pandangan kebawah, karena ia tidak mau ada seseorang yang melihat wajahnya kali ini.
Allana berjalan melewati Lisa begitu saja, dan tidak menghiraukan Lisa yang menyapanya. Allana terus berjalan sampai pada bangkunya yang paling belakang.
Allana membuka tasnya dan mengambil masker untuk menutupi wajahnya. Setelah itu, ia menaruh kedua tangannya untuk bantalan kepalanya tidur diatas meja.
Wajah Allana menghadap kearah tembok. Ia tidak mau dilihat siapapun.
“Al gue minta maaf. Gue gak bermaksud buat marah ke lo tadi. Tapi tadi itu gue lagi fokus belajar.” Ucap Lisa dengan menatap ubun-ubun kepala Allana.
“Dimaafin.” Jawab Allana singkat tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun.
Lisa merasa kecewa dengan Allana, karena menurutnya permintaan maafnya tidak diterima oleh Allana. Allana juga tiak sopan karena tidak berbalik saat menjawab ucapan Lisa.
“Al lo kenapa? Gue udah minta maaf.” Ucap Lisa saat Allana tidak kunjung menatapnya.
Allana menggeleng dengan sikap yang sama. “Gue gapapa.”
Lisa tidak tinggal diam, ia memegang pundak Allana dan hendak menggoyangkannya. Tetapi telat, karena guru sudah datang.