Binar keluar dari kamarnya untuk menikmati udara pagi yang menyenangkan. Dia memejamkan mata, membiarkan angin pagi menerpa wajah cantiknya tanpa mengkhawatirkan apapun. Entah mengapa meskipun dia selalu menemukan kebahagiaan pada tiap-tap kehidupannya, Binar merasa hidupnya yang sekarang adalah puncak dari segala bahagianya.
“Menyenangkan,” gumamnya, berbisik kepada dirinya sendiri dengan mata yang masih terpejam dan kedua tangan yang memeluk dirinya sendiri. “Entah mengapa semua ini sangat menyenangkan.”
Sudah lama sekali dia tidak melihat wajah Hannah dan juga tabib istana tetapi semesta kembali menunjukkan wajah mereka melalui mimpi seperti menjawab keluhan rindunya. Tidak hanya itu, dia bisa kembali melihat bagaimana dia di masa lalu, bagaimana penampilannya dan bagaimana rasanya pertama kali jatuh cinta.
Debaran jantungnya yang tidak karuan bahkan ketika dia hanya mendengar nama Langit Arifan digaungkan. Senyumnya yang tidak bisa ditahan ketika dia membayangkan wajah Langit yang sangat tampan, serta keinginannya untuk bisa melihat Langit dari dekat dan berbincang bersama yang tidak tertahankan … Binar masih mengingat semua itu dengan jelas.
“Kamu akan terus berdiri di sana sampai matahari naik?”
Suara yang sangat dikenalnya! Binar membuka matanya dan menoleh ke belakang hanya untuk mendapati Langit dengan pakaian santainya sedang berdiri memandanginya. Laki-laki itu memakai celana panjang berbahan kaos, kaos putih polos dan juga jaket. Binar akui, laki-laki itu memang sangat tampan dan keren.
“Selamat pagi, Tuan tidak konsisten!” sapa Binar. Dia mensenyapkan mode fangirlingnya.
Langit tersenyum. “Selamat pagi, Tuan putri.”
“Apa ada kabar baik?” tanya Binar, dia sudah sepenuhnya menghadap Langit dan bahkan berjalan mendekati laki-laki itu. “Mungkinkah ada satu hal yang membuatmu merasa sangat sampai-sampai tersenyum lebih lebar dari biasanya?”
“Ah, saya baru saja melihat pemandangan yang sangat indah,” katanya menjawab, dia kembali tersenyum. “Mungkin karena itu suasana hati saya membaik.”
“Pemandangan yang sangat indah?” Binar memiringkan kepalanya. “Apa itu? Kenapa tidak berbagi denganku? Aku juga ingin melihat pemandangan yang sangat indah yang bisa membuat seorang Langit tersenyum lebar.”
“Kamu bisa melihatnya di kaca.”
“Hm?” Binar tidak mengerti. “Apa ada sesuatu yang ajaib jika aku menatap kaca?”
Langit semakin melebarkan senyumnya ketika melihat kepolosan gadis di hadapannya. Suasana hatinya memang semakin membaik akhir-akhir ini, terima kasih kepada Binar yang sudah membuatnya dirinya menyadari keindahan dunia melalui diri gadis itu sendiri.
“Kau aneh, senyummu semakin lebar!” tunjuk Binar ke arah wajah Langit. “Aku tidak pernah melihatmu tersenyum selebar ini sebelumnya, bahkan di kehidupan pertamamu. Kau sakit—maksudku, kau sangat tampan saat tersenyum, ketampananmu bertambah berkali-kali lipat tetapi kau juga terlihat sangat aneh.” Binar mengatakan yang sebenarnya, sangat jujur sekali. “Kau membuatku semakin penasaran. Apa pemandangan itu benar-benar sangat indah?”
“Binar Rinanjala Gisa—“
“Oh, stop!” Binar langsung berseru, dia mulai gelisah. “Kenapa kau malah menyebut nama lengkapku di saat-saat seperti ini? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Ish, jika kau tidak ingin menunjukkan pemandangannya padaku maka katakan saja, jangan membuatku gelisah.”
“Hauh, matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri tetapi kamu sudah mengeluarkan seluruh energimu dengan berbicara panjang lebar.” Langit terkekeh pelan. “Lagipula saya hanya menyebut nama lengkap kamu karena saya suka.”
“Hah?” Otak Binar tidak bisa langsung menerjemahkan kalimat terakhir Langit. “Kau suka apa?”
“Menyebut nama lengkap kamu. Lagipula bukankah kamu pernah mengatakan ini di kehidupan pertama kita? Kamu mengatakan bahwa kamu tidak suka semua orang memanggilmu tuan putri seakan-akan kamu tidak memiliki nama. Begitu juga sekarang, kamu bosan mendengar semua orang memanggil kamu dengan sebutan ‘Nona’ atau ‘Nona Binar’ alih-alih langsung menyapa kamu dengan nama panggilanmu, bukan?”
Binar mengerjapkan matanya, terkejut karena Langit juga memiliki ingatan tentang hari itu. “Ya, aku pernah mengatakannya tetapi bagaimana kau bisa mengingatnya?” tanya Binar. “Lagi, kau juga berbicara panjang lebar di pagi hari.”
“Itu karena saya tidak tidur semalaman, jadi tidak ada masalah saya berbicara panjang lebar.”
“Bohong.”
“Saya berkata jujur. “ Langit melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepada Binar tanpa canggung. Dia bahkan meminta Binar untuk merentangkan tangannya yang langsung dituruti oleh gadis itu. “Saya belum tidur semalaman jadi saya sangat mengantuk sekarang. Tetapi tadi ketika saya hendak tidur di sofa, saya melihat kamu membuka pintu samping dan membuat cahaya masuk sehingga saya tidak bisa tidur begitu saja.”
“Benarkah?” Binar hanya bisa menjawab satu kata karena dia tiba-tiba menahan napasnya ketika Langit menarik resliting jaket ke atas dan membuat tatapan mereka bertemu.
“Sepertinya saya harus kembali ke kamar saya karena di sini sudah terlalu banyak cahaya.” Sekali lagi Langit memberi senyum manisnya kepada Binar. “Jangan terbiasa keluar hanya dengan memakai baju tidur seperti itu. Sekarang ini musim hujan, kamu bisa masuk angin.”
“Cih ….” Binar melipat kedua tangannya di depan d**a, mengabaikan fakta bahwa tangannya tenggelam di lengan jaket milik Langit sehingga ada banyak bagian yang lebih. “Kau ini mau tidur sampai kapan sebenarnya sampai-sampai tidak mau diganggu oleh cahaya?”
“Setidaknya sampai jam sepuluh.”
“Kau gila? Aku akan ke rumah sakit jam setengah sepuluh nanti!” seru Binar, dia memasang ekspresi penuh kekesalan. “Jam sembilan kau sudah harus bangun atau aku akan menyirammu dengan air dan mengarahkan lampu senter ke wajahmu!”
“Binar, ini sudah hampir jam setengah enam. Jahat sekali kamu hanya memperbolehkan saya tidur tiga jam setelah seharian kemarin saya bekerja keras mencari bukti tentang keberadaan Fathan.”
“Sudah delapan hari sejak Ibu berhasil diselamatkan tetapi kau bahkan tidak bisa menemukan bukti apapun tentang keberadaan Fathan!” Binar memicingkan matanya. “Padahal aku sudah memberimu banyak sekali petunjuk tentang pria itu.”
“Sulit menangkapnya karena dia mengingat kita semua.”
“Kau bisa memakai cara licik.”
Langit terkekeh geli. “Binar, kita belum bertemu Fathan di kehidupan kali ini dan jika kita memang pernah bertatapan langsung dengan laki-laki itu, dia pasti sudah akan merubah penampilannya. Kamu pikir otak penjahat itu tidak bekerja dengan baik?”
“Menyebalkan sekali. Kalau begitu kau mulai lakukan pencarian dari—“
Ucapan Binar langsung terpotong ketika Langit menariknya ke dalam pelukan pria itu setelah kedatangan bahaya terdeteksi oleh kemampuan Langit yang luar biasa. Benar saja, sebuah anak panah membuat vas bunga gantung pecah dan berjatuhan ke lantai baru saja dilesatkan ke arah Binar. Beruntung saja kemampuan Langit selalu bisa membuat Binar terhindar dari bahaya.
“Berlari ke arah jam enam, laki-laki dengan tinggi kurang lebih 170cm.” Langit memberi informasi kepada rekan-rekannya melalui alat yang biasa digunakan oleh mereka. “Bukan ke arah pintu keluar, dia berlari ke arah hutan mini di belakang rumah.”
Tiga orang pengawal kelas dua muncul di hadapan Langit dan Binar, mereka memberi sapaan hormat kepada keduanya.
“Kalian jaga Nona Binar, kalau perlu hubungi yang lainnya!” perintah Langit yang langsung diiyakan tanpa adanya protes sedikitpun. Tatapannya yang tajam itu berubah menghangat ketika tatapannya bertemu dengan Binar yang masih terlihat terkejut. “Nona akan baik-baik saja.”
Setelah mengatakan itu Langit langsung berlari, bergabung bersama rekan timnya yang sudah melakukan pengejaran dan pencarian.
“Bagaimana keadaan Nona Binar?” tanya Kelvin, dia bukan anggota tim utama tetapi dia juga mendengar apa yang Langit sampaikan melalui saluran komunikasi umum mereka. Kebetulan saja dia bertemu Langit yang sedang berlari, hendak menuju ke arah hutan mini.
“Hubungi Joni dan juga Tuan Q. Untuk sementara Nona aman tetapi kita tidak tahu ada berapa penyusup yang berhasil masuk!” Langit menepuk pundak Kelvin sebelum kembali berlari.
Kelvin yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya, menggertakkan gigi sebelum kembali ke dalam kamarnya.
***