“Menurutku Fathan sudah menunjukkan dirinya sejak lama. Hanya saja kita tidak menyadarinya,” ujar Corn ketika dia melihat Binar kembali ke dalam kamar dengan tiga orang pengawal yang berjaga di depan pintu dan dua lainnya yang berdiri di balkon kamar.
“Menurutmu seperti itu?” Binar duduk di atas sofa empuk di dalam kamarnya. “Ya … bagaimanapun juga dia bisa saja mengingat semuanya dan memiliki dendam terselubung padaku. Tetapi bukankah menurutmu dia akan pergi menemui Diana terlebih dahulu? Satu-satunya orang yang akan mendukung dia adalah Diana.”
“Belum tentu juga. Fathan jelas bereinkarnasi sebanyak dirimu—kita semua mengetahui hal itu. Reinkarnasinya ditentukan oleh keinginanmu untuk menjalani hidup dan menurutmu setelah lima kali kehidupan dia akan tetap bertindak gegabah? Dia mungkin tidak bisa menemukanmu di masa lalu sebab pemicu dari segala pertemuan kalian adalah kedatangan Langit. Dia pasti sudah mempersiapkan diri dan menunggu hari ini tiba.” Corn berkata bijak, mengingatkan Binar akan hukum semesta yang ditetapkan tepat ketika dia mengajukan permohonan reinkarnasi.
Binar diam, dia berusaha mengingat perjanjiannya dengan semesta yang sempat dilupakannya. Dia benar-benar melupakan timpaan hukuman yang akan diberikan kepada Fathan dan juga Diana, tentang bagaimana mereka akan hidup kembali mengikuti takdirnya sebab keduanya juga sama seperti Binar, belum pernah menyentuh neraka ataupun surga. Tidak seperti Langit, Binar dan kedua orang tadi terikat hukum dengan semesta.
“Kau tidak melupakannya bukan, Tuan putri?” sindir Corn. “Kau tidak lupa bagaimana Diana dan Fathan akan selalu menerima hukuman atas perbuatan mereka mereka selama kau masih menginginkan kehidupan kembali, ‘kan? Kau tidak lupa bagaimana mereka berdua akan ikut meninggal setelah seminggu sejak kau disemayamkan, bukan?”
“Tentu saja aku tidak lupa—“
“Tidak, kau sudah mulai melupakan itu sejak kehidupan ketigamu,” potong Corn tajam. “Itu kuncimu, Tuan putri. Mereka berdua mungkin tidak mengetahui alasan mereka melakukan reinkarnasi sampai lima kali—apalagi Fathan yang memiliki 80% ingatan dari kehidupan pertamanya. Jadi sudah pasti Fathan akan terus menyimpan dendam padamu sebab karena keinginanmu, dia harus menanggung penderitaan dalam waktu yang lama.”
“Karena keegoisanku?”
Corn melata pelan, dia memperlihatkan sisik cantiknya kepada Binar sebelum menjawab. “Orang itu mengatakan bahwa keinginanmu bukanlah keegoisan. Lagipula, mereka juga mengambil untung darimu, bukan? Selama kau menjadi tahanan waktu, mereka sebenarnya juga menjadikanmu sebagai sebuah ‘alat’ alias percobaan, bukan? Itu sebanding dengan keinginanmu jadi kau tidak egois sama sekali.”
“Tetapi aku melakukan itu semua karena aku ingin bertemu Langit sekali lagi—“
“Kau bilang kau akan merasa bahagia setelah bertemu dengannya sekali lagi. Kau bilang kau akan baik-baik saja setelah berbicara dengannya dan membangun hubungan romansa meskipun itu hanya akan terjadi dalam waktu yang singkat. Kau bilang kau akan baik-baik saja, karena itu kau mengorbankan segalanya untuk bisa kembali hidup. Bukankah begitu?” Corn emosi. “Kita sudah memprediksi kekacauan ini akan terjadi. Sekarang kita fokus pada pencarian Fathan saja. Ah, kau membuatku emosi padahal aku baru saja berganti kulit!”
Binar mendengus. “Kau marah karena aku tidak memuji kecantikan kulit barumu, bukan?” celetuknya tepat sasaran. “Dasar!”
“Ya! Seharusnya kau memuji betapa cantiknya kulit baruku!” Corn tambah kesal. “Jika aku manusia, aku ingin sekali mencubitmu sekali saja. Aku jadi merindukan Hannah, orang yang selalu tersenyum cantik itu … kira-kira dia bereinkarnasi atau sudah hidup baik di atas sana?”
“Anak itu tidak akan memilih untuk bereinkarnasi meskipun ditawarkan. Katanya hidup sekali saja sudah sangat cukup.” Binar melipat tangan di depan d**a. “Seharusnya aku juga memiliki prinsip yang sama dengannya. Hah, kacau sekali.”
“Kau akan melepaskan Langit kalau begitu?” Corn meledek. “Kau bahkan bisa berdo’a sekarang dan semesta akan langsung mengabulkannya jika itu tentang hidup dan matimu.”
“Aku tidak mau mati sekarang.”
“Kalau begitu tunggu tiga tahun lagi. Biasanya itu adalah batas waktu usiamu hidup di dunia ini, bukan?”
“Mulutmu itu mudah sekali berbicara.”
“Tentu saja, ini adalah akhir dari segala akhir. Kita tidak akan menjalani kehidupan keenam dan menjadi tahanan waktu lagi.” Corn berbicara tentang penantian mereka berdua. “Kau bertemu dengan Langit, berbincang dengannya, menjadi lebih dekat dan jatuh cinta. Kisah yang sangat menarik untuk diceritakan kepada semesta.”
“Benar.” Binar merenung, mencoba tidak peduli sama sekali dengan situasi di luar sana. “Kita tidak akan menjadi tahanan waktu lagi, Corn. Setelah ini kita berdua … bebas.”
Hening. Baik Corn dan Binar tidak ada yang berbicara lagi setelahnya sampai kemudian terdengar ketokan dari arah pintu yang membuat Binar langsung berdiri.
“Ya?” tanyanya kepada pengawal yang berjaga di depan pintunya. “Kenapa?”
“Tuan besar menelepon, Nona.” Dia memberikan ponselnya kepada Binar. “Tuan mengatakan bahwa Nona tidak mengangkat panggilannya jadi Tuan sangat khawatir.”
“Ah!” Binar menoleh ke belakang, menatap kasihan kepada ponselnya yang tergeletak di atas kasurnya. Dia lupa mengaktifkan nada dering di ponselnya. “Terima kasih.”
Binar membawa ponsel pengawalnya ke dalam untuk menerima panggilan dari Ayahnya. “Halo, Ayah?”
“Ayah sudah hampir sampai. Binar baik-baik saja, Nak? Ayah dengar kamu hampir terluka, benar?” Gibran Rinanjala langsung memborbardir putrinya dengan pertanyaan bernada khawatir. “Seharusnya Ayah langsung pulang tadi malam.”
“Aku baik-baik saja, Ayah,” jawab Binar. “Aku sedang berada di kamar sekarang dan semua orang menjagaku. Langit sebagai pengawalku juga melakukan tugasnya dengan baik sehingga aku selalu aman di sini. Ayah jangan khawatir.”
“Bagaimana Ayah tidak khawatir? Kamu bahkan tidak mengangkat panggilan telepon dari Ayah.”
“Itu, aku lupa mengaktifkan nada dering jadi aku tidak tahu Ayah menelepon.”
“Ayah sudah sampai,” katanya. “Tunggu Ayah di sana.”
Sambungan langsung terputus begitu saja. Binar sendiri memberikan senyumnya kepada pengawal yang berjaga di depan pintu sebelum mengembalikan ponsel pengawal itu. “Terima kasih,” ucapnya sekali lagi yang dibalas dengan anggukan sopan.
“Ayahmu sangat khawatir, seperti biasa.” Corn menyeletuk. “Kau benar-benar sangat dimanja oleh semua Ayahmu dan syukurlah karena mereka semua juga menyayangiku seperti bagaimana Raja dahulu. Hal yang sangat aku sukai dari orang itu.”
Binar duduk di atas kasurnya. “Kenapa kau selalu menyebutnya dengan orang itu?” tanyanya, dia mengambil ponselnya dan menelan ludah melihat berapa banyaknya panggilan tidak terjawab dari Ayahnya.
“Daripada aku menyebutnya dengan ‘semesta’ setiap waktu.” Corn membalas lagi. “Lagipula orang itu hanya penjaga perbatasan.”
“Dia akan marah ketika kita bertemu nanti—“
“Binar!”
Perkataan Binar terpotong oleh seruan ayahnya yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Binar dan menarik putrinya ke dalam pelukan.
“Maaf. Maaf karena Ayah sering meninggalkan Binar akhir-akhir ini.”
Binar membalas pelukan Ayahnya. Sebenarnya dia juga sangat merindukan Ayahnya, mereka juga sudah lama tidak berpelukan padahal Binar sangat manja dan Gibran selalu menganggap putrinya sebagai anak kecil yang sangat berharga, harta karunnya, kelemahannya dan juga penyelamat hidupnya.
“Ayah, Ibu sendiri di rumah sakit?”
“Tidak. Tuan Q ada di sana, sayang.” Gibran Rinanjala menatap wajah putrinya dan menghela napas lega. “Anak panah itu benar-benar tidak melukaimu sama sekali, bukan?”
Binar mengacungkan jempolnya. “Aku baik-baik saja. Sehat sempurna. Tidak ada luka gores atau apapun. Anak Ayah ini sangat mulus sampai ke tulang-tulang.”
“Jangan bercanda!” Gibran Rinanjala mencubit pelan pipi putrinya. “Kamu ini suka sekali bercanda dengan Ayah padahal Ayah sudah hampir tidak bisa melakukan apapun karena khawatir.”
“Sudah aku bilang kalau Ayah tidak perlu mengkhawatirkanku.”
“Bagaimana tidak? Kamu anak Ayah satu-satunya, kesayangan Ayah.”
Binar terkekeh. “Jadi rindu dulu waktu kecil.”
Gibran akhirnya tersenyum. Dia juga merindukan masa kecil putrinya. Bukan apa-apa, Gibran tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dan karena dia sudah mengetahui bahwa putrinya masih bertahan di sampingnya sampai gadis itu menginjak usia remaja, Gibran jadi ingin mengulang masa lalu agar supaya mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama.
“Hah, tidak masalah mengulang waktu jika Binar selalu ada di dalam kehidupan Ayah,” ungkap Gibran jujur. “Ayah tidak keberatan harus menanggung penderitaan apapun selama kamu selalu berada di dekat Ayah--.”
--Karena kamu malaikat tidak bersayap Ayah, dan selamanya akan selalu menjadi seperti itu.
***