BEKAS

1399 Kata
“Jadi Binar baik-baik saja kan, Nak?” Salsabila Rinanjala yang belum diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit hanya bisa menghubungi putrinya melalui panggilan video. Dia belum bangun ketika suaminya terburu-buru pergi setelah mendapatkan kabar dari para pengawal di rumah mereka. “Ibu khawatir sekali setelah Tuan Q memberitahu bahwa ada penyusup di rumah.” “Aku baik-baik saja, Ibu.” Binar mulai kembali berbaring di kasurnya, dua pengawal yang berada di balkon sudah pergi dan hanya ada Langit di dalam kamarnya jadi dia bisa santai. “Penyusupnya sudah ditangkap dan sekarang Ayah sedang menginterogasi mereka.” “Mereka? Ada lebih dari satu orang, sayang?” “Hm, ada dua orang!” Binar menunjukkan dua jarinya. “Ibu tidak perlu khawatir seperti Ayah, aku baik-baik saja dan Langit selalu menjagaku. Ibu sangat percaya pada Langit, ‘kan?” Melirik ke arah Langit yang berdiri di dekat jendela kamarnya, Binar tersenyum kecil. “Ya, Ibu percaya Langit tetapi kamu … hah, seharusnya hal-hal seperti ini tidak dialami anak-anak seusia kamu. Ibu tahu kamu sudah mengalami yang seperti ini sejak kecil tetapi Ibu tidak mau kamu terbiasa,” kata Salsabila, dia merasa tidak nyaman jika putrinya harus merasakan semua itu. “Seharusnya kamu menikmati hidup, bebas bermain dan berjalan-jalan tanpa harus dikawal banyak pengawal.” “Tidak apa-apa, Ibu. Rasanya aku hidup sebagai anggota keluarga kerajaan!” Langit mendengus geli mendengar itu sampai-sampai Binar menghadiahinya dengan lirikan tajam. “Tetap saja itu berbahaya,” lanjut Salsabila. “Ibu akan cepat-cepat membaik dan pulang untuk menjaga kamu jadi janji sama Ibu kalau Binar akan selalu baik-baik saja, ya?” “Hm, janji.” Setelah melambaikan tangannya ke arah ponsel dan memberikan senyum lebar kepada Ibunya agar tidak terlalu khawatir, Binar kemudian fokus menatap Langit yang sejak tadi hanya diam saja dan mendengarkan percakapan antara dia dan ibunya. “Bagaimana kalian menangkap dua penyusup itu?” tanya Binar. “Apakah salah satu dari mereka benar-benar bernama Fathan?” “Bukan bernama Fathan, hanya saja mereka berdua diberi pekerjaan oleh orang yang mengaku bernama Fathan melalui telepon. Mereka juga mengaku bahwa Fathan yang memberitahu mereka jalan masuk paling mudah dan terhindar dari kamera pengawas, katanya mereka dijamin selamat asalkan bisa membunuh kamu.” Langit memberikan penjelasan paling mudah. “Jadi Fathan benar-benar mengerti denah rumah ini—maksudku sampai posisi kamera pengawas?” Binar duduk tegak, dia terkejut. “Dia benar-benar ada di rumah ini, bukan? Lalu bagaimana? Apa mereka bisa mengenali suara Fathan sehingga kita bisa membuat mereka mendengarkan suara orang-orang yang berada di sini satu per satu—“ “Tuan putri,” potong Langit yang membuat Binar menghentikan ucapannya. “Kita tidak lagi bisa melakukan itu.” Ada jeda sejenak dan ketika Binar memberikan ekspresi penuh tanya, Langit menjawab dengan serius. “Keduanya sudah meninggal.” “APA?” Binar berseru terkejut. Dia kemudian menutup mulutnya dan melirik ke arah pintu sebelum kemudian berbisik kepada Langit. “Bagaimana itu bisa terjadi? Lalu apa yang Ayah lakukan di sana—Oh Tuhan, jangan katakan padaku bahwa Ayahku yang melakukannya?” Binar menatap Langit penuh harap, takut apa yang diduganya adalah benar. “Ada seseorang yang menembak mereka dari tempat yang tidak kami ketahui dan aku yakin itu bukan Tuan Gibran atau para pengawal yang ikut melakukan pencarian. Kenapa? Karena aku mengawasi mereka satu per satu selagi ketua tim satu memberikan pertanyaan.” Langit menutup gorden. “Selain tiga orang di depan, yang lain sama sekali tidak menodongkan senjatanya dan lagi suara tembakan itu … aku pernah mendengar suara tembakan seperti itu sebelumnya.” “Apa maksudmu?” “Sniper.” Langit mengangkat bahunya. “Tuan Gibran dan anggota tim satu sedang memeriksa tiap-tiap kamar para pengawal karena kami yakin orang yang melakukan penembakan itu ada di tempat ini. Entah dia adalah Fathan itu sendiri atau juga orang suruhan dari laki-laki itu, kami sedang mencari tahu.” “Kalau begitu ini masalah yang sangat serius, bukan?” Binar mengingit kukunya. “Kita tidak bisa diam seperti ini. Jika Fathan dengan ingatan masa lalunya yang masih hidup itu berkeliaran demi membalaskan dendam, kita berdua tidak akan baik-baik saja.” “Dia mengincarmu. Kamu tahu itu, bukan?” Langit menghidupkan lampu kamar sebab dia menutup semua gorden. “Jangan biarkan gorden kamar ini terbuka mulai dari sekarang. Kita tidak tahu dari mana Fathan mengawasi kamu atau aku selama ini.” “Tetapi Langit, aku yakin dari sekian banyak orang yang aku temui … Fathan tidak ada di sana.” “Jika dia tidak kehilangan ingatannya maka mungkin saja dia sudah merubah penampilan—“ Langit melebarkan matanya, dia menatap Binar yang juga menunjukkan ekspresi yang sama. “Dia mungkin sudah merubah penampilannya agar kita berdua tidak bisa mengenalinya!” lanjut Langit kemudian. “Kalau itu benar, maka kita tidak akan pernah bisa mengetahui siapa dia sekarang jika dia memilih tetap berpura-pura.” Binar berdecak, dia benar-benar panik sekarang. “Jika aku tidak salah ingat, mungkin usianya sekarang sudah hampir menginjak usia empat puluh tahun dan ada banyak dari pengawal kita yang sudah hampir mencapai usia itu.” “Dia bisa saja mengubah penampilannya menjadi lebih muda atau lebih tua, kita tidak akan pernah tahu.” Langit mendengus. Dia memang sudah melalui banyak kejadian yang langsung melibatkannya dengan komplotan penjahat kelas kakap tetapi yang seperti ini … orang yang sudah hidup berkali-kali dengan ingatan kehidupan pertamanya yang masih tetap hidup adalah yang paling menyeramkan. “Itu bisa menjadi masalah yang lebih serius lagi.” “Kau tidak ingat bahwa Fathan memiliki luka di bagian dadanya, Tuan putri?” Corn yang sejak tadi mendengarkan percakapan Binar dan Langit itu menyeletuk. “Raja sendiri yang melukai Fathan sebelum dia dieksekusi waktu itu, bukan?” “Luka di d**a?” gumam Binar yang langsung menarik perhatian Langit. “Maksudmu … sabetan pedang Raja yang melukai d**a Fathan itu?” Binar mengerjapkan matanya. Demi Tuhan, bagaimana dia bisa melupakan petunjuk sepenting itu? “Ada apa?” tanya Langit. Dia tahu Binar sedang berbicara dengan Corn karena keduanya saling bertatapan, tetapi tetap saja dia tidak bisa mendengar apa yang dikatan oleh ular peliharaan Binar itu. “Luka di d**a apa?” “Kau ingat bekas lukamu di lenganmu, bukan?” Binar menunjuk bekas luka Langit yang tidak lagi disembunyikan di hadapannya itu. “Semua yang menyangkut peristiwa kematianku akan selamanya berbekas—yah, tetapi aku juga tidak bisa menyimpulkannya seperti itu.” Binar bergumam di akhir kalimatnya dan kembali menatap Corn. “Tetapi bekas luka Langit berhubungan langsung dengan kematianku, itu berbeda dengan luka Fathan.” Corn tidak setuju. “Kenapa harus berbeda? Itu bisa saja terjadi, Tuan putri.” “Jika itu memang bisa terjadi, aku yakin akan ada bekas tali di leher Langit dan juga Diana karena ketiganya dihukum gantung!” bantah Binar. “Tetapi leher Langit bersih dan aku tidak melihat bekas itu juga di leher Diana.” “Mungkin karena itu bukan pedang,” sela Langit, dia berjalan mendekati Binar. “Semuanya berkaitan dengan pedang, bukan? Maksudku … orang gila di masa lalu itu membunuh kamu dengan pedang, jadi mungkin saja luka dari senjata tajam yang sama bagi orang-orang yang berkaitan dengan peristiwa itu juga ikut membekas. Kita juga tidak tahu masalah itu, bukan?” Binar meringis. “Itu benar tetapi … orang itu tidak mengatakan apapun tentang ini,” gumamnya. “Orang itu?” Langit mengerutkan keningnya. “Siapa?” “Yang bertanggungjawab atas reinkarnasi,” jawab Binar, tidak ingin menjelaskan lebih. “Ini gila. Aku pikir aku akan menemukan hidup yang damai tetapi orang-orang itu malah mendekat.” “Sepertinya ini semua terjadi karena aku bertemu denganmu, ya?” “Huh?” Binar mengerjapkan matanya, dia menatap Langit. Setelah berpikir sejenak, Binar langsung mengelak. “Ey … tidak mungkin seperti itu.” “Kamu sudah pernah mengatakannya.” Gadis itu terkejut. “Iyakah? “Ceritakan saja semua konsekuensi dari pertemuan kalian ini kepada Langit,” ujar Corn. “Biarkan dia mengetahui semuanya karena akan lebih baik jika kalian berjuang bersama. Kau tidak mau meninggal sebelum bisa memulai hubungan yang baik dengannya, bukan? Segera selesaikan masalah ini dan hiduplah dengan nyaman bersama orang-orang yang kau cintai.” Binar mendengarkan Corn sambil sesekali melirik Langit. “Lebih baik kita cepat selesaikan masalah ini,” ujar Langit yang sedikit banyak sama dengan apa yang Corn katakan. “Kamu tidak berhal selalu berada di posisi seperti ini.” Dan Binar merasa bahwa tujuan romansanya berjalan dengan sangat sempurna. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN