MASALAH

1362 Kata
Binar berdiri di depan pintu—lebih tepatnya dia sedang menguping apa yang dibicarakan oleh Gibran dan para ketua dari tim pengawalnya. Ada cukup banyak tim pengawal dari Rinanjala dan dari ketiganya dibagi lagi menjadi tim utama yang selalu turun untuk menyelesaikan masalah, tim yang bertugas untuk menjaga senjata, tim yang ditugaskan untuk menjadi pengawal di rumah, tim yang bertugas menjaga kamera cctv serta tim yang ditugaskan untuk melatih para anggota baru. Binar akui, dari kelima ayahnya, Gibran adalah orang kedua terkaya setelah ayah pertamanya yang merupakan seorang raja. Selain itu Gibran juga memiliki sifat yang paling mendekati ayah pada kehidupan pertamanya. “Nona? Hei, apa yang Nona lakukan di sini?” Kelvin menyentuh pundak Binar, membuat gadis itu terlompat karena terkejut. “Ah, maaf.” “Oh Tuhan, kakak ini mengagetkanku saja!” Binar menyentuh dadanya, berusaha untuk meredakan jantungnya yang berdetak cepat. “Nona sedang melakukan sesuatu yang aneh memangnya sampai harus seterkejut itu?” Kelvin terkekeh pelan. Dia melirik pintu di mana Binar menempelkan telinganya itu dan tersenyum sambil menunjuk Nonanya itu. “Nona sedang menguping, ya?” ledeknya tepat sasaran. “Siapa yang menguping? Tidak, aku tidak melakukan apapun!” elak Binar tidak tahu diri, padahal dia sudah ketahuan. “Kakak sendiri sedang apa di sini? Bukankah anggota tim Kakak sedang berlatih semua hari ini?” Binar bertanya balik karena dia sudah terlanjur malu. “Kakak datang untuk menemui Langit,” katanya. “Tetapi sepertinya dia tidak ada di sini. Apa dia ada di dalam?” tanyanya. “Tidak, Langit tidak ada di sini,” jawab Binar. Dia berdehem. “Dia sedang berlatih mandiri di belakang—apa bukan, ya? Entahlah, aku tidak tahu apa yang dia lakukan di tempat itu.” “Di belakang?” “Eum, di ruang penyimpanan senjata. Dia sudah mendapat izin dari Tuan Kiran untuk itu.” “Ah.” Kelvin mengangguk-angguk. “Kalau begitu saya akan pergi ke sana saja, Nona. Terima kasih.” Binar menatap kepergian Kelvin sebelum kemudian menghela napas lega. “Aku hanya menguping dan sudah sepanik ini,” gumamnya. “Apa aku menguping lagi saja, ya? Tetapi apapun itu … telingaku tidak bisa menangkap suara apapun.” Kreekk Terkejut karena pintu ruang kerja ayahnya terbuka dari dalam, Binar langsung berlari ke arah dapur. Dia benar-benar takut ketahuan meskipun sebenarnya Kelvin sudah menangkap basah dirinya. Akibat dari perbuatannya itu, Binar hampir menabrak dua pelayan yang akan menyiapkan makan siang untuk dia dan ayahnya. “Nona, jangan lari-larian seperti itu!” tegur pelayan rumahnya yang saat itu sedang membawa kuah panas untuk diletakkan di atas meja. “Bagaimana jika kuah panasnya tumpah dan mengenai Nona? Bibi tidak mau Nona terluka nantinya dan apa itu di pundak Nona? Kenapa bisa ada tanah— Lili, tolong bersihkan pundak Nona Binar! Aku tidak bisa melakukannya karena aku sedang memegang sesuatu.” Lili, pelayan yang baru berusia dua puluh tahun itu langsung menghampiri Binar dan membersihkan tanah yang menempel di baju Binar. “Nona tadi bermain di taman atau bagaimana? Kenapa bisa ada tanah yang menempel di sini?” “Tidak, aku tidak bermain ke luar sama sekali,” aku Binar jujur. “Aku hanya bermain di dalam kamarku lalu pergi ke ruang kerja Ayah karena melihat para ketua pengawal—oh?” Binar mengingat bahwa dia bertemu dengan Kelvin dan laki-laki itu menyentuh pundaknya. “Aku tahu! Tadi Kak Kelvin datang dan menyentuh pundakku. Dia pasti baru saja selesai berlatih jadi tangannya sedikit kotor.” “Haduh, kenapa Tuan Kelvin melakukan itu di baju mahal seperti ini?” Lili bergumam. “Sudah bersih, Nona.” “Oh ya. Terima kasih, Lili.” Lili tersenyum dan pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Binar yang selalu ceria langsung duduk di meja makan tanpa disuruh. Dia awalnya sudah akan membantu para pelayannya tetapi semua orang menyuruhnya untuk duduk saja dan menikmati makanan yang sudah disediakan. “Loh, anak Ayah tumben sekali sudah ada di sini.” Gibran yang baru saja datang langsung mengelus kepala Binar sebelum menarik kursi dan duduk di tempatnya seperti biasa. “Langit ke mana, sayang? Biasanya dia selalu bersama dengan kamu.” “Langit ada di ruang penyimpanan senjata,” jawab Binar. Dia mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sudah menyiapkan makan siangnya. “Ada yang ingin dia cari katanya, Binar juga tidak mengerti.” “Ah, dia rupanya tidak menyerah.” Gibran tersenyum tipis. “Sudah tiga hari semenjak kejadian itu tetapi sepertinya Langit tidak akan puas sebelum menemukan keberadaan penembak jitu yang membunuh kedua penyusup itu.” Binar hanya tersenyum, dia tahu Langit melakukannya agar mereka semua keadaan kembali tenang dan supaya mereka berdua bisa bersantai tanpa memikirkan siapakah Fathan dan apa sebenarnya yang terjadi dengan laki-laki itu. “Sayang, dokter bilang besok Ibu kamu sudah boleh pulang.” Gibran tiba-tiba memberi kabar bahagia yang membuat Binar langsung melebarkan mata dan senyumnya. “Benar, Ayah? Ayah tidak bohong, ‘kan?” Gibran terkekeh melihat reaksi putrinya yang menggemaskan. “Untuk apa Ayah berbohong? Besok pagi Ayah akan menjemput Ibu. Binar juga tahu kalau Ibu sudah jauh lebih sehat daripada sebelumnya, bukan? Ibu juga sudah bisa berjalan dan berbicara dengan lebih baik. Binar tahu? Pemulihan Ibu termasuk cepat, lho. Ibu bilang itu karena Binar.” “Iya? YEAY!” seru Binar senang. “Besok Binar mau ikut, dong!” Binar selalu menyebut dirinya sendiri dengan nama jika menginginkan sesuatu dari Ayahnya. Sangat licik sekali memang. “Jangan,” tolak Gibran langsung. “Binar istirahat saja di sini, oke? Ayah jemput Ibu juga tidak lama. Setelah selesai mengurus semuanya Ayah janji akan langsung pulang, Nak.” Langsung cemberut adalah senjata Binar, dia benar-benar pintar dalam memanfaatkan kelemahan ayahnya sendiri. “Tapi sudah lama sekali sejak Binar keluar dari rumah. Ya? Besok Binar ikut Ayah, ya?” “Tidak boleh!” tegas Gibran. “Kamu di sini bersama dengan Langit. Ayah tidak mau menanggung resiko apapun karena setidaknya Langit lebih bisa menjaga kamu di sini. Perjalanan ke rumah sakit cukup jauh dan orang dengan nama yang pernah kamu sebutkan itu juga masih belum bisa ditemukan di manapun.” “Yak arena dia tidak mau menampakkan diri saja,” balas Binar, membicarakan Fathan seperti laki-laki itu adalah sesosok hantu yang bisa menampakkan diri dan juga bisa menghilang. “Dia tidak akan mau menunjukkan dirinya jika bukan saatnya dan mungkin dia memang akan melakukan apapun untuk membunuh aku—“ “Berhenti di sana!” Gibran tidak mau mendengar lebih jauh. “Tidak ada yang boleh menyakiti putri Ayah. Ayah akan segera menemukan orang itu sebelum dia sempat melakukan apapun.” Binar terkekeh. “Ayah tidak perlu khawatir, dia tidak akan bisa membunuh putri Ayah ini atau melakukan apapun—“ karena pembunuh putri ayah yang sebenarnya adalah orang yang sangat ayah percayai. Binar melanjutkannya di dalam hati. “Sudah, kamu habiskan makanan kamu lebih dulu terus minum vitamin—sudah berapa lama dokter Via tidak ke sini? Kamu selalu menolak diperiksa akhir-akhir ini, nakal sekali.” “Ayah, tiga hari lalu juga Tante dokter ke sini,” ucap Binar mengingatkan. “Tante dokter bahkan terus memantau Binar. Ayah tidak tahu kalau Binar selalu ditelepon sehari dua kali, ya? Bahkan minum vitaminnya juga harus laporan.” “Karena itu harus.” Gibran menganggukkan kepalanya. “Kamu ini anak nakal, wajar saya kalau dokter Via tidak percaya. Dulu kamu soalnya bilang sudah padahal belum minum obat sama vitaminnya.” “Itu dulu, ih!” Binar mencebikkan bibirnya. “Ayah suka sekali mengungkit masa lalu.” “Mengungkit masa lalu apa, anak Ayah ini sering sekali melakukan itu, ‘kan?” “Sudah tidak, kok. Ayah tahu sendiri kalau Langit juga ketat sekali, dia bahkan sangat hafal jadwal aku harus minum obat, cek kesehatan atau minum vitamin.” “Kalau begitu Langit harus kerja lebih lama lagi di sini.” “Ih, Ayah ….” “Sudah, habiskan makanannya atau kamu mau Bibi marah karena kamu makan sedikit?” Ancaman yang selalu manjur. Binar melirik kepala pelayan yang menatap mereka dalam jarak sepuluh meter dan bergedik ngeri. Dia pernah sekali hanya makan sesuap padahal kondisinya sedang baik-baik saja dan dia diceramahi panjang lebar tanpa pembelaan dari ayahnya. Oh, masa suram— “Tuan! Nona!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN