INSIDEN

1392 Kata
“Tuan! Nona!” Gibran dan Binar langsung menoleh ketika seorang pengawal yang Binar kenal bertugas di bagian persenjataan mendekati mereka. Wajahnya terlihat panik sekaligus terkejut dan lagi, dia datang seorang diri. Melihat itu, Binar tidak bisa untuk tidak penasaran. “Ada apa?” tanya Gibran. “Kenapa kamu berlarian seperti itu?” “Tuan, Langit ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di ruang persenjataan!” Begitu saja dan Binar langsung meninggalkan makanannya untuk berlari menuju ruang persenjataan. Dia tidak mempedulikan Gibran yang memanggil namanya berulang kali, yang Binar lakukan hanyalah berlari dan terus berlari sampai napasnya terengah-engah. “Nona!” Joni langsung menghalangi jalan Binar ketika dia melihat Nonanya itu berlari mendekat ke arah ruang persenjataan. “Nona, jangan ke sana!” “Lepas!” Tidak ada lagi ekspresi wajah menggemaskan di wajahnya. Binar hanya menatap Joni dengan tatapan dingin. “Aku bilang lepas!” Joni langsung melepaskan tangan Binar, sedikit terkejut melihat bagaimana tatapan sedingin es itu bisa muncul di wajah Binar. Bukan hanya itu, Joni bahkan masih terpaku ketika Binar menerobos beberapa pengawal yang memiliki tubuh tiga kali lebih besar darinya hanya untuk melihat keadaan Langit. “Nona Binar kenapa ada di sini?” Kepala tim pengawal persenjataan langsung berbicara kepada Binar. “Mana Langit?” tanya Binar langsung, dia hanya melihat cukup banyak darah di lantai tetapi dia sama sekali tidak melihat keberadaan Langit. “Kalian membawa dia ke mana?” Saat semua pengawal yang berada di dalam ruangan itu hanya menatap Binar dengan tatapan tidak mengerti, Binar langsung menaikkan nada suaranya. “Jawab!” “Ah ya, Langit ada di ruang kesehatan—Nona?! Nona Binar!” Lagi-lagi Binar tidak mendengarkan dan terus berlari. Dalam hatinya dia bergumam untuk keselamatan Langit sebab dia melihat banyak sekali darah di ruang persenjataan yang tadi dia kunjungi dan mendengar bahwa laki-laki sampai kehilangan kesadaran berarti lukanya sangat parah. SRAATTT Gorden yang persis sama seperti yang ada di rumah sakit itu Binar singkap satu per satu. Di ruang kesehatan yang cukup luas dan dibuat khusus untuk pengawal yang terluka atau sakit lainnya itu Binar benar-benar kalap. Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal negatif, prasangka yang buruk serta ketakutan yang hampir sama seperti apa yang terjadi di masa lalu. Binar tidak bisa menjawab pertanyaan dokter atau perawat yang ada di dalam ruangan itu. Dia hanya ingin melihat wajah Langit, itu saja. Karena itu, Binar terus berjalan dan menyingkap gorden-gorden dengan kalap. SRAATTT Binar tidak bisa menemukan Langit di manapun, bahkan setelah gorden terakhir yang ada di dalam ruangan itu dia singkap sekalipun, laki-laki itu tidak ada. Jatuh terduduk di atas lantai setelah pandangannya mengabur, Binar hanya bisa mengambil napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Otaknya masih berjalan, mencari keberadaan Langit tetapi tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Hal terakhir yang bisa Binar dengar hanyalah suara seruan dari para pengawal yang dirawat atau sedang melakukan cek kesehatan. Mereka semua menyerukan namanya dan dunia Binar menjadi gelap seketika. Ah, Langit … lihatlah bagaimana gadis yang menjadi tahanan waktu itu menyimpan rasa cintanya padamu. Lihatlah bagaimana dia lebih mementingkanmu daripada dirinya sendiri dan lihatlah bagaimana dia mencintaimu dengan sepenuh hati. *** Sementara itu Langit sedang menjalani operasi. Dia ditembak dua kali di bagian punggungnya—jenis tembakan yang terburu-buru seperti takut jika Langit mengetahui keberadaan penembaknya. “Dua peluru sudah berhasil kami angkat dan pasien berhasil selamat. Syukurlah karena peluru-peluru tersebut tidak sampai masuk ke dalam paru-parunya. Selain itu saya merasa bahwa sepertinya pasien masih sempat sadar bahkan setelah menerima dua tembakan.” Tuan Q yang baru kembali dari rumah sakit langsung bertanya. “Kalau begitu apakah kehilangan banyak darah yang menyebabkan Langit kehilangan kesadaran, Dok?” “Pukulan di kepala bagian belakangnya yang cukup kuat. Mengingat bagaimana pelaku menembak dari bagian belakang, maka kemungkinan pelaku panik karena pasien tidak langsung kehilangan kesadaran, karena itu sebelum pasien sempat menoleh … pelaku memukul kepalanya.” “Apakah parah?” “Tidak—mm, maaf, Tuan Q. Boleh saya menanyakan sesuatu?” dokter itu melirik ke arah asistennya yang langsung mengerti dan menjauh beberapa langkah dari mereka berdua. “Apakah pasien seorang tentara bayaran atau mungkin seseorang yang terbiasa berada di medan ‘perang’? Saya melihat ada beberapa bekas luka tembak dan juga banyaknya luka gores di bagian punggung dan perutnya.” “Ah,” Tuan Q tersenyum tipis. Dia tidak menjawab secara langsung tetapi senyumnya itu sudah berhasil membuat dokter khusus yang dipekerjakan oleh Gibran Rinanjala itu mengangguk paham. “Mungkin karena sudah terbiasa juga jadi tubuhnya tidak langsung memberikan sinyal kejut atau semacamnya.” Dokter itu mengangguk-angguk, dia bergumam kepada dirinya sendiri. Barulah setelah beberapa detik dia kembali menatap Tuan Q. “Ah, maaf, Tuan.” “Tidak apa-apa. Saya yakin semua orang memiliki reaksi yang sama apalagi hal seperti ini tidak umum terjadi di negara kita.” Tuan Q merespon tenang. “Jadi operasinya bisa dikatakan lancar, bukan? Kemungkinan kapan Langit akan sadar?” Dokter laki-laki yang berusia 40 tahun itu menoleh ke belakang, pada Langit yang terbaring setelah selesai menjalani operasi. “Paling cepat nanti malam, Tuan,” katanya menjawab. “Apakah dia akan baik-baik saja setelah sembuh?” “Kemungkinan besar iya, Tuan. Seperti yang saya sebutkan, peluru-peluru itu tidak mengenai organ vitalnya sehingga kemungkinan pasien akan kembali sehat seperti semula itu sangat besar.” Tuan Q mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah dokter tadi pamit untuk beganti pakaian, Tuan Q menatap keponakannya yang menunjukkan ekspresi wajah paling tenangnya. “Anak ini ternyata memang ditakdirkan untuk hidup setelah semuanya. Pantas saja sejak kecil dia selalu berkata bahwa dia tidak akan bisa mati jika semesta ini belum cukup menyiksanya.” Tuan Q yang memiliki nama asli Gerald itu memang sudah merawat Langit sejak kecil. Anak yang dididik dengan keras tetapi tidak pernah mengeluh … anak yang sangat hebat dengan kemampuan otak dan fisik yang seimbang. “Kau harus bangun dan kembali sehat. Kau dengar itu?” Tuan Q sedikit melantangkan suaranya. “Nona Binar sampai sakit karena mengkhawatirkanmu. Dia pikir pelakunya sengaja mengincarmu karena kau adalah pengawal pribadinya jadi cepatlah sadar dan katakan kalau itu bukan salahnya.” Tuan Q menghela napas, setelah menjeda ucapannya sendiri, nada suaranya yang semua lantang langsung terdengar lebih rendah dan hangat. “Dan cepatlah sadar sebelum aku kehilangan kesabaran, bocah.” *** Gibran Rinanjala duduk berhadapan dengan Tuan Q dan juga ketua tim lainnya. Dia baru saja mendapat laporan bahwa Kelvin menghilang setelah kamera cctv yang berada di luar ruang persenjataan menangkap keberadaan Kelvin yang masuk ke dalam ruang di mana insiden tembakan yang menjadikan Langit sebagai target sasaran itu terjadi. “Bagaimana dengan kamera cctv di dalam ruangan?” tanya Gibran. “Dimanipulasi, Tuan.” Ketua tim yang bertugas sebagai keamanan berbicara, bahkan membawa rekaman cctv dari lokasi kejadian. “Karena hanya ada Langit di dalam ruang persenjataan, kami tidak sadar bahwa videonya terus berulang-ulang sehingga semuanya tampak normal.” Gibran diam sejenak, dia kemudian menatap Tuan Q. “Kau yakin Kelvin pelakunya? Aku lihat dia sangat dekat dengan Langit, dia bahkan selalu menyapa di setiap kesempatan.” “Meskipun tidak ada bukti langsung bahwa Kelvin adalah pelakunya, dia adalah tersangka utama dengan rekaman dari kamera cctv yang menunjukkan bahwa dia sedang berjalan menuju ruang persenjataan dan sekarang … dia menghilang.” Tuan Q menjelaskan. “Tetapi Kelvin sangat ahli dalam tembak-menembak,” sanggah ketua dari tim pengawas latihan para pengawal. “Melihat dari bagaimana pelaku menembak Langit dengan sembrono … itu bukan Kelvin sekali. Anak itu bahkan bisa memperoleh nilai 9 meskipun matanya ditutup.” “Tetapi kita memang tidak memiliki tersangka lain,” ujar ketua tim bagian persenjataan. “Fakta bahwa Kelvin menghilang dan masih belum ditemukan sampai sekarang, kita juga tidak bisa mengabaikannya.” “Bagaimana jika pelaku aslinya menyembunyikan keberadaan Kelvin?” Apa yang diucapkan oleh ketua tim bagian keamanan rumah itu membuat semua mata menatapnya, mereka benar-benar serius. “Bukan hal yang aneh, bukan? Pelakunya bisa memanipulasi rekaman cctv secara langsung jadi kemungkinan besar dia sangat bagus dalam bidang hacking. Jika dia berhasil melumpuhkan Langit—meskipun tidak adil karena dia melakukannya dari belakang—tetapi bukankah akan lebih mudah melumpuhkan Kelvin setelahnya?” “Kita lihat dari hasil tes darah,” sahut Tuan Q. “Jika darah Kelvin ditemukan di sana, kita bisa berasumsi bahwa dia adalah pelakunya atau dia juga korban yang tidak kita ketahui keberadaannya.” Dan begitulah awal dari pencarian nyata dimulai. Menurut kalian, siapakah Fathan di kehidupan kelimanya ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN