HAMPIR MENCAPAI TITIK TERANG

1353 Kata
“Jadi Kak Kelvin adalah pelakunya?” Binar menutup mulutnya, lebih seperti berbisik ketika dia berbicara berdua dengan Langit di taman dengan beberapa pengawal yang menjaga mereka dalam jarak sepuluh meter. “Kenapa Kak Kelvin? Maksudku … bukankah Kak Kelvin sangat baik?” Langit menatap Binar datar. “Bukannya Nona sudah berjanji akan mendengarkan saya sampai selesai?” Binar langsung mendengus ketika laki-laki di hadapannya menatapnya datar seperti itu. Dia tidak suka Langit menatapnya datar meskipun sebenarnya saat mereka baru-baru bertemu pun ekspresi wajah Langit sudah seperti itu. Bagi Binar, Langit adalah favoritnya dan laki-laki itu tidak boleh hanya menganggap Binar sebagai Nona yang harus dia jaga, melainkan juga sebagai kekasih. “Jangan memanggilku dengan formal seperti itu. Tidak apa-apa jika kau mau menggunakan aku-kamu di manapun dan kapanpun karena aku yakin cepat atau lambat semua orang juga akan tahu bagaimana hubungan kita berdua!” Binar mulai menunjukkan keinginannya. “Kita tidak bisa melakukan itu di masa lalu—maksudku, belum sempat melakukan itu—jadi aku ingin melakukan itu semua sekarang.” “Orang-orang akan memandang Nona rendah jika saya melakukan itu,” jelas Langit. “Saya hanya akan berbicara dengan menggunakan aku-kamu saat hanya ada kita berdua. Bagaimanapun juga saya ada di sini sekarang adalah untuk bekerja sebagai pengawal pribadi Nona, ‘kan?” “Tetap saja.” Binar mencebikkan bibirnya, dia melirik empat pengawal yang menyebar untuk menjaganya padahal dia sedang berada di rumahnya sendiri itu untuk memberi isyarat agar mereka semua mengambil langkah mundur lagi. Tetapi ini sangat menyedihkan, bukan? Dijaga dengan sangat ketat di sebuah tempat yang kalian panggil rumah? Hahahaha. Ck, gara-gara Fathan! “Sudah, Nona jangan terus mengeluh hanya karena masalah seperti ini. Bukankah Corn juga menasihati Nona tentang ini? Kita sudah sepakat bahwa saya akan selalu bersikap seperti seorang pengawal untuk menjaga harga diri Nona.” Langit membersihkan kelopak-kelopak bunga yang jatuh dan menyangkut di rambut-rambut Binar dengan tenang. “Bukankah Nona merasa lebih nyaman jika tidak ada orang yang menaruh perhatian lebih kepada Nona?” “Kau tidak seperhatian ini denganku sebelumnya, bahkan di masa lalu kau bahkan berusaha menghindariku. Syukurlah aku adalah putri raja, kalau bukan mungkin kau akan mengabaikanku.” Binar berdehem untuk menahan senyumnya. “Sampai memperhatikan penampilanku seperti ini.” “Tahu dari mana?” Langit menyangkal. “Siapa yang tahu kalau Nona bukan seorang putri mahkota saat itu saya bisa saja langsung mengiyakan perasaan Nona? Lagipula dulu itu terjadi bukan karena saya benci melainkan karena perbedaan kasta diantara kita yang membuat saya kurang percaya diri.” Langit memberikan lima kelopak bunga yang dia ambil tadi kepada Binar. Dia yang sekarang berdiri di samping Binar berusaha menghalangi sinar matahari dengan tangannya agar tidak terlalu menyilaukan mata gadis itu. Langit memang sangat perhatian dan karena itu juga jantung Binar berdebar. “Cih, kau bahkan menghindari tatapanku. Pertama dan terakhir kalinya tatapan kita bertemu selama itu adalah saat dirimu di masa lalu menghunuskan pedangmu kepadaku.” Binar menghentak-hentakkan kakinya pelan, sedikit grogi karena dia merasa tidak perlu mengangkat masalah itu lagi karena Langit terlihat sekali merasa sangat bersalah. “Kau sangat manis di kehidupan kali ini sampai aku merasa bahwa pilihanku untuk terus bereinkarnasi untuk bertemu denganmu bukanlah hal yang bisa disesalkan. Aku sangat senang kita bisa bertemu kembali.” “Akan semakin menyenangkan jika kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan lebih cepat.” Langit menatap jauh, tatapannya seperti mencari-cari. “Nona selalu merasa bahwa Kelvin bukan pelakunya, ‘kan? Benar, dia bukan pelakunya tetapi dia mengetahui siapa pelakunya.” Binar langsung menatap Langit. Benar, mereka baru saja membicarakan hal itu sebelum kemudian Binar mengangkat topik lain. Kelvin … laki-laki yang sudah dia anggap kakak itu mengetahui siapa pelakunya? “Lalu di mana Kak Kelvin sekarang?” Binar ikut berdiri, dia berbisik. “Jika Kak Kelvin bukan pelakunya tetapi dia tahu siapa pelaku aslinya, bukankah itu berarti menghilangnya dia sekarang berhubungan dengan pelakunya? Apakah Kak Kelvin disakiti sehingga dia tidak bisa kembali ke sini.” “Sebenarnya ini hal yang umum terjadi jika salah satu kaki tangan dijadikan sebagai kambing hitam.” Langit tersenyum tipis. “Mereka jelas tidak ingin identitas asli mereka terbongkar dan sepertinya Kelvin juga tidak mengetahui kalau dia akan berakhir seperti itu.” “Apa … maksudmu? Kambing hitam?” Binar menaikkan kedua alisnya, tidak mengerti. “Kenapa Kak Kelvin merupakan kambing hitam? Siapa yang akan melakukan itu—tidak, kenapa dia melakukan itu? Sudah berapa lama dia menjadi kaki tangan pelaku sehingga dia harus dikhianati?” “Karena kaki tangan itu tidak hanya satu, Nona.” Langit menatap Binar sekilas. “Saya belum tahu apakah orang yang saya curigai sekarang adalah Fathan yang asli atau dia juga hanya kaki tangan. Tetapi yang pasti Kelvin sekarang sedang bersembunyi entah di mana. Dia adalah mantan mata-mata yang pernah terluka, oleh karena itu penyamaran dan tempat persembunyiannya tidak bisa ditembus begitu saja.” “Itu pasti sangat berat.” Binar bergumam. Dia kemudian menjadi heboh sendiri dan terus memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada Langit. “Jadi siapa orang yang memberi perintah? Siapa orang yang kau curigai? Apa Ayah sudah mengetahui tentang semua ini?” “Saya tidak akan mengatakannya kepada Nona jika Tuan Gibran belum mengetahuinya.” Langit mendengus geli, dia tersenyum ketika Binar menatapnya sambil memicingkan mata. “Beberapa hari yang lalu setelah Nona memberi tahu Tuan tentang hubungan saya dan Nona, bukankah setelahnya Nona mengatakan kepada saya untuk melakukan apa saja agar supaya Tuan Gibran bisa lebih setuju dengan hubungan ini? Karena itu saya memberikan informasi lebih karena meskipun Tuan Gibran adalah Ayah dari gadis yang saya sukai, beliau juga Bos yang saya hormati.” “Entah kenapa aku jadi merasa sangat cemburu kepada Ayah.” Binar menghela napas. “Baiklah, apapun itu. Jadi beritahu aku sekarang, siapa orang yang kau curigai itu? Nanti aku akan memberitahu Corn juga tentang hal ini jadi kami bisa bertukar pikiran seperti sebelum-sebelumnya.” Langit menatap Binar dalam-dalam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan gadis itu sampai Binar menginjak kakinya untuk membuat Langit sadar atas sikapnya. Sesaat setelah Binar melotot padanya, barulah Langit tersenyum dan mulai memberikan jawaban sesuai apa yang ditanyakan oleh gadis di hadapannya. Lagipula sebenarnya dia sadar dan hanya ingin mengagumi apa yang ada di hadapannya. “Apa pendapat Nona terkait kepala tim dari bagian persenjataan?” Langit memberikan isyarat kepada Binar agar gadis itu kembali duduk. “Saya menaruh cukup banyak kecurigaan karena seperti yang Nona tahu, bagian persenjataan biasanya dijaga dengan sangat ketat tetapi hari itu, hari di mana saya tertembak dua kali di bagian punggung, tidak ada seorangpun yang berjaga di sana dan karena itu saya kesulitan mencari saksi mata. Bukankah begitu?” Binar tercengang. “Wah … kenapa aku tidak bisa berpikir sampai ke sana?” Binar tampak takjub setelah mendengarkan apa yang Langit katakan. “Lalu siapa lagi? Siapa lagi orang yang kau curigai selain kepala tim bagian persenjataan dan juga Kak Kelvin yang kemungkinan besar adalah seorang kaki tangan yang dijadikan sebagai kambing hitam? Ayo, siapa?!” “Nona terdengar sangat bersemangat,” goda Langit. “Padahal baru beberapa hari yang lalu Nona menangis sampai sakit karena sangat khawatir dengan keadaan saya.” “Aku seharusnya memang tidak mengkhawatirkanmu.” Binar tersenyum lebar dan bahkan mengacungkan jempolnya untuk Langit. “Kau jauh lebih kuat daripada yang aku kira. Kau sangat hebat sampai hanya harus melakukan beberapa kali control untuk luka tembakmu.” “Sepertinya Joni juga ikut andil dalam masalah ini.” “APA?” Teriakan terkejut Binar berhasil menarik perhatian dari penjaga yang lain, bahkan dia membuat Langit menaikkan sebelah alisnya. “Hahahahaha.” Binar tertawa canggung. Dia berusaha tidak menarik perhatian tetapi dia semua reaksinya terlalu kuat sehingga akan selalu menarik perhatian dari sekitarnya, apalagi dengan teriakan terkejut seperti tadi. “Tidak apa-apa, tidak ada yang terjadi,” katanya kepada para pengawalnya yang lain. Langit terkekeh pelan melihat semua itu. Dia bahkan ingin sekali menarik Binar ke dalam pelukannya karena merasa bahwa gadis itu sangat menggemaskan. “Jadi kenapa Kak Joni?” Binar kembali menunjukkan ekspresi penuh rasa ingin tahunya. “Jelaskan alasanmu, aku akan mendengarkan dengan baik.” Dan Langit mulai menjelaskan asumsinya dengan sangat rinci yang didukung oleh beberapa bukti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN