SALING MENERIMA RASA

1403 Kata
Pada akhirnya Langit dan Binar disidang oleh Gibran dan Salsabila Rinanjala. Keduanya diminta untuk duduk dengan rapi sementara Tuan Q sebagai ‘wali’ dari Langit hanya bisa menghela napas akan tingkah keponakannya itu. Dia sebenarnya sudah menduganya tetapi dia tidak tahu akan secepat itu. “Jadi kalian berdua benar-benar menjalin hubungan lebih dari sekedar pengawal dan—“ “Iya, Ayah.” Binar menjawab cepat bahkan sebelum ayahnya selesai berbicara. “Aku tidak tahu kenapa kita harus berkumpul seperti ini hanya karena aku dan Langit menjalin sebuah hubungan yang bisa dikatakan lebih dekat daripada hubungan kami sebelumnya. Lagipula di sini yang jatuh cinta lebih dulu juga aku, aku juga yang mengejarnya dan aku juga yang selalu memeluknya lebih dulu.” “Oh, putri Ibu sangat berani, ya?” Salsabila Rinanjala tersenyum hangat kepada putrinya. “Ibu juga tidak tahu kenapa Ayah kamu terlihat sangat serius seperti itu tetapi kalian berdua sangat cocok. Bukankah begitu, Mas? Langit juga bisa melindungi Binar dari bahaya dan dia juga sangat hafal bagaimana kondisi putri kita termasuk kapan Binar harus mengkonsumsi obat dan vitaminnya. Iya ‘kan, sayang?” “Iya, Bu!” Binar langsung pindah tempat duduk, dia memeluk ibunya. “Ibu memang yang paling mengerti. Lagipula kami berdua belum melakukan apapun, kami hanya berbagi perasaan karena Binar rasa kami berdua juga sangat cocok untuk bersama.” “Binar …” “Bulan depan aku dan Langit juga akan segera wisuda setelah menyelesaikan pendidikan kami di bangku SMA. Yah, meskipun ini sudah kedua kalinya bagi Langit duduk di bangku SMA tetapi kami berdua sudah besar. Iya ‘kan, Ibu?” Binar mencari dukungan ibunya karena dia tahu ayahnya sulit dibujuk jika itu sudah menyangkut masalah kehidupannya. “Sudah lah, Mas,” Salsabila menyentuh lengan suaminya. “Binar benar, dia sudah besar. Lagipula Mas juga sudah mengenal Langit dengan sangat baik, bukan? Dia juga sudah menyelematkan aku dan menyelamatkan Binar berkali-kali. Selain itu Langit juga sopan dan tampan, apa lagi yang kurang?” Langit sendiri tidak tahu dia harus mengatakan apa karena ini yang pertama untuknya. Dia hanya melirik pamannya yang juga tidak tahu harus mengatakan apa karena Gerald juga belum memiliki anak yang akan melalui hal seperti yang terjadi kepada keponakannya sekarang. “Aku yang lebih dulu menyukai Langit, Ayah,” aku Binar jujur. “Aku sudah menyukainya sejak pertama kali kami bertemu. Bukankah Ayah harus mempertimbangkan itu? Ayah memangnya mau mematahkan hati putri Ayah sendiri dengan menentang hubungan kami?” “Kamu jangan membuat Ayah merasa bersalah seperti itu, dong.” Gibran menatap putrinya. “Ayah belum rela kamu—“ “Ssshhhttt!” Salsabila menutup mulut suaminya. “Sudah jangan dengarkan apa kata Ayah kamu karena Ibu setuju. Ayah kamu cuma posesif saja, itu bukan hal baru.” Mendengar itu Binar langsung menampilkan senyum cerianya. Dia benar-benar beruntung karena Salsabila Rinanjala berada di pihaknya karena meskipun akan menuruti semua keinginannya, Gibran tetap Gibran yang sekali membuat keputusan maka tidak ada yang boleh mengganggu gugat. Terima kasih kepada ibunya karena sudah kembali dan melindungi hubungan Binar di kehidupan ini. *** “Bukankah seharusnya orang yang baru saja selesai di operasi biasanya masih berbaring?” Joni mendekati Langit yang sedang berdiri sambil menatap ke arah ruang persenjataan dari jauh. “Bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik sekarang?” “Begitulah.” Langit tidak ingin menjelaskan lebih, dia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari ruangan di mana dia mengalami kejadian tidak menyenangkan. “Terus-menerus berbaring juga tidak enak sama sekali apalagi setelah apa yang terjadi. Bukankah semua terasa sangat mengganjal?” “Maksudmu tentang Kelvin yang menjadi tersangka?” Joni langsung membawa nama Kelvin. “Menurutku dia tidak mungkin melakukannya. Dia tidak akan tega melakukan itu kepada temannya sendiri karena apa, ya? Aku tidak pernah sekalipun melihat dia menatapmu rendah sejak pertama kali kau diperkenalkan sebagai anggota baru kami.” “Hanya itu?” “Ya?” “Hanya itu alasan yang membuat kamu merasa sangat yakin kalau Kelvin bukan pelakunya?” Langit memancing. “Kemarin saya sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang membuka pintu adalah seorang yang berniat untuk membunuh saya. Bahkan sebelum saya menoleh setelah menerima dua tembakan di punggung, pelaku itu langsung memukul kepala saya dengan pistol sebanyak tiga kali.” “Apa ini? Kau tidak langsung pingsan?” Joni terkejut. “Aku pikir shock akan membuatmu pingsan.” Langit tersenyum tipis, dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya dan hanya mengalihkan pembicaraan. Dia membahas banyak hal tanpa menyentuh topik yang bisa menuntun pada masalah kemarin karena Langit sudah menemukan potongan yang dia cari. Setelah selesai berbincang dengan Joni, Langit pamit dengan alasan bahwa Tuan Q memanggilnya. Dia berjalan dengan langkah tenang dan sangat santai setelah semuanya. Pada akhirnya Langit menemukan potongan yang sedang dia cari sejak kemarin. Semua tentang penghubung yang bisa melengkapi teka-teki yang sedang dia kerjakan untuk mencapai bentuk yang sempurna. “Bukankah kau terlalu santai?” Binar melambaikan tangannya dari atas balkon kamarnya ketika dia melihat Langit sedang berada di taman yang bisa terlihat dari balkon kamarnya. “Tuan Langit Priyanjani, apa yang kau lakukan di sana?” Langit yang melihat Binar hanya terkekeh ringan. Dia tidak membalas teriakan gadisnya itu dan hanya memberi isyarat untuk meminta Binar masuk ke dalam kamarnya karena dia yang akan menemui gadis itu. Syukurlah Binar langsung mendengarkannya karena Langit tidak mau kejadian yang menimpanya juga menimpa Binar. Dia akan sangat marah jika itu terjadi. “Penebusan dosa, ya?” gumam Langit. Dia melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah utama dan menjumpai gadis yang kini bisa dikatakan sebagai miliknya. Binar Rinanjala Gisa kini sudah menjadi milik Langit Prijanyani dan itu sudah disetujui. “Jika ini yang dinamakan penebusan dosa dan penyesalan, bukankah semuanya terlalu indah? Rasa yang tidak pernah aku ketahui ada di dalam diriku tiba-tiba muncul setiap kali aku mengingat wajah atau mendengar suaranya dari jauh. Aneh.” Langit mengangguk sopan kepada para pelayan yang bersinggungan dengannya. Dia kemudian menaiki lift untuk menuju kamar Binar. Semuanya dilakukan dengan sangat natural karena Langit sendiri memang sudah terbiasa melakukannya. Perlu diingat lagi bahwa pekerjaannya adalah sebagai seorang pengawal pribadi dari gadis itu dan dia sudah menjalaninya selama satu tahun lebih. Saat Langit sudah akan menyentuh kenop pintu setelah menyapa kedua pengawal yang berjaga di depan kamar Binar, tidak disangka-sangka Binar sudah membukanya dari dalam dan membuat ketiga orang di sana sedikit terkejut dengan kostum yang Nona rumah mereka pakai itu. “Nona … sedang apa?” tanya Langit, dia kembali berbicara formal karena ada dua pengawal di sana. “Kenapa memakai kostum aneh seperti itu?” “Kenapa?” Binar memperhatikan kostum yang dipakainya. “Bukankah ini sangat imut? Ibu mengatakan bahwa aku mirip seekor anak kucing jadi aku membeli kostum ini.” Langit menaikkan sebelah alisnya. “Lalu?” tanyanya. “Kau bantu aku berfoto-foto dengan kostum ini, oke?!” Binar menarik tangan Langit untuk masuk dan menutup pintu dari dalam. “Ibu, lihat!” Salsabila Rinanjala yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menoleh ketika putrinya memanggil. Saat itulah Langit sadar bahwa bukan hanya mereka berdua di ruangan itu tetapi juga ada Nyonya rumah. “Selamat sore, Nyonya!” sapa Langit sopan. “Selamat sore juga, Nak Langit,” balas Salsa ringan. Dia kemudian berjalan mendekati putrinya yang sibuk dengan kostum kucingnya. “Kamu pakainya yang rapi dong, Nak. Ini kenapa risletingnya belum dipakai?” Langit menatap Binar, dia benar-benar tidak menyangka bahwa ibu dari gadisnya juga ada di dalam kamar itu. Tidak, bukan apa-apa, hanya saja itu berarti saat Binar berteriak ketika melihatnya di bawah berarti Salsabila Rinanjala juga mendengarnya? “Ah, anak Ibu sudah semakin cantik saja.” “Tapi kata Langit ini aneh, Bu.” “Tidak, saya tidak pernah mengatakan seperti itu,” respon Langit cepat. “Iya, tadi kau mengatakan ‘Nona kenapa memakai kostum aneh seperti itu?’” Binar mengulangi ucapan Langit dengan intonasi yang sama. “Masih mau menyangkal?” Salsabila Rinanjala terkekeh. “Kalian ini jangan bertengkar terus, nanti kalau Ayah kamu tahu kalian berdua bisa kembali disidang, lho.” “Kalau begitu biar saya saja yang mengambil gambarnya, Nyonya.” “Boleh?” “Tentu saja boleh, Nyonya.” Tersenyum, Salsa mengambil kemera dan memberikannya kepada Langit. “Maaf merepotkan, ya. Terima kasih.” Langit mengangguk sopan, dia kemudian mengarahkan kamera ke arah Binar dan juga Salsa yang langsung berpose. Keduanya terlihat sangat mirip tetapi senyum lebar Binar sempat membuat Langit terpesona sehingga foto yang diambilnya tidak terlalu fokus. Hah, dasar jatuh cinta. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN