TUJUAN ROMANSA TERCAPAI

1381 Kata
Saat Binar bangun dari tidurnya, Langit sudah berdiri di sampingnya. Tanpa mengetahui apa yang terjadi, Binar yang masih setengah sadar hanya bisa menatap Langit dalam diam. Tatapannya terfokus kepada sosok yang berdiri sembari balik menatapnya itu, tidak teralihkan oleh apapun. Bagi Binar sosok yang dilihatnya adalah wujud bayangan dari rasa bersalahnya. Sampai kemudian sosok yang Binar anggap sebagai sebuah bayangan itu mulai menggerakkan bibirnya dan tersenyum tipis. “Bagaimana kabarmu, Nona?” Suara itu menembus telinga Binar seperti mengajak kesadaran gadis itu kembali. Karena itulah Binar langsung bangun dari tidurnya dan ikut berdiri. “Kau—kau baik-baik saja? Kapan kau sadar—tidak, bukan itu.” Binar tidak bisa menemukan kata yang tepat, dia masih sangat terkejut. “Kenapa kau bisa ada di sini? Kenapa kau berdiri dan bukannya berbaring saja? Bagaimana keadaanmu?” “Yang mana yang harus aku jawab lebih dulu?” Langit terkekeh, menikmati kekhawatirkan gadis di hadapannya. “Tidak ada orang di sini, kamu tidak mau memeluk—“ GREEPP “--Oh, tanpa diminta, ya.” Binar langsung memeluk Langit dengan erat, tangannya yang tidak sengaja menyentuh luka Langit karena dia tidak tahu di mana saja laki-laki itu terluka tidak juga berpindah, tetapi Langit membiarkannya. Binar menangis tanpa suara sambil menenggelamkan wajahnya di d**a Langit, dia tidak tahu harus mengatakan apa dan bagaimana harus bereaksi. “Aku dengar kemarin kamu berlari sampai pingsan?” Langit menepuk-nepuk punggung Binar pelan. “Kamu benar-benar sangat pintar dalam membuat siapapun menjadi khawatir, ya? Tetapi bukankah itu tidak adil karena kamu sangat tidak mau dikhawatirkan oleh siapapun?” “Kenapa kau banyak sekali berbicara padahal kemarin kau baru selesai di operasi?” “Itu bukan operasi besar karena lukanya tidak sedalam itu,” jelas Langit. “Lagipula aku tidak bisa berbaring dengan baik karena yang terkena tembakan adalah punggungku. Selain itu kepala belakangku juga terkena pukulan dan itu sangat tidak nyaman jika aku harus berbaring lama di tempat tidur.” “Punggung sebelah mana?” tanya Binar, dia melepaskan pelukannya sehingga Langit mau tidak mau juga harus menurunkan tangannya. Binar kemudian mengelilingi tubuh Langit untuk mencari-cari di mana letak lukanya. “Apa tadi tanganku mengenai lukamu? Kenapa kau tidak bereaksi sama sekali?” “Karena tidak sesakit itu—ah, sudahlah, lebih baik kamu kembali tidur saja, ini salahku karena sudah mengganggumu seperti ini.” Langit menarik tangan Binar pelan dan menatap mata sekelam malam itu. “Aku datang ke sini hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Sekarang aku masih perlu mengurus sesuatu karena jika sampai Tuan Q dan Tuan Gibran tahu aku ada di sini … mereka bisa menceramahiku karena tidak beristirahat.” “Kenapa kau malah mengkhawatirkan orang lain ketika kondisimu juga sama parahnya?” Binar menautkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran laki-laki di hadapannya. “Lagi, kau datang ke sini tanpa memberitahu siapapun? Bukankah di depan pintu kamarku ada dua pengawal yang sedang berjaga? Bagaimana kau bisa melewati mereka dengan mudah?” “Asalkan itu bukan Tuan Gibran dan Tuan Q, aku bisa masuk ke manapun sesukaku.” Langit tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Binar sebanyak tiga kali. “Jangan keluar dari dalam kamar ini hanya untuk menemuiku, oke? Aku akan kembali ke sini nanti malam.” “Tetapi kemarin malam Tante dokter yang menemaniku di sini, jadi malam ini mungkin saja Ibu yang menemaniku sampai besok pagi.” Binar menatap Langit. “Memangnya ada apa lagi? Kau jangan langsung bekerja atau mengurus sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan dulu dan istirahat saja.” “Aku sudah beristirahat sejak kemarin siang.” Langit mengangkat bahunya, dia tersenyum sangat lebar sampai-sampai Binar ingin memukul wajahnya. “Sekarang juga sudah hampir sore jadi aku sudah beristirahat selama 24 jam. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?” “Setidaknya tunggu sampai lukamu kering!” Binar berdecak namun tatapan matanya yang tadi menajam mulai melembut. Gadis itu kemudian mengusir Langit dari kamarnya. “Sudah sana kembali istirahat sebelum Tuan Q dan Ayah memergokimu berada di sini.” “Aku memang harus kabur sebelum mereka datang.” Langit sudah akan memutar kenop pintu ketika dia mendengar kedua pengawal yang menjaga di depan pintu mengucapkan salam hormat, itu artinya Tuan Gibran dan Tuan Q ingin masuk ke dalam kamar Binar. Tok Tok Tok “Sayang, kamu sudah bangun? Ayah boleh masuk?” Binar langsung melebarkan matanya. Dia yang sudah duduk di atas kasurnya langsung berdiri dan menyuruh Langit masuk ke dalam lemarinya dan tentu saja ditolak oleh laki-laki itu. Kesal, Binar akhirnya menyuruh Langit menunggu di balkon kamarnya dan meminta laki-laki itu untuk tidak banyak menimbulkan suara sampai dia membukakan pintu balkon. “Hah, rasanya aku memiliki kekasih rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun,” gumam Binar. Dia kemudian menutup semua gorden dan merapatkan pintu balkon ketika ayahnya membuka pintu kamarnya dan masuk dengan wajah penasaran. “Oh … Ayah!” sapa Binar, dia berlari kecil dan langsung memeluk ayahnya untuk menghilangkan kecurigaan. “Kamu sedang apa di balkon, sayang?” tanya Gibran Rinanjala ingin tahu, dia mengusap-usap punggung putrinya. “Ayah tadi mengetuk pintu kamu tetapi tidak ada sahutan. Ayah khawatir terjadi sesuatu jadi Ayah langsung membuka pintunya. Tidak apa-apa, ‘kan?” “Tidak apa-apa.” Binar tersenyum ceria, dia kemudian mengajak ayahnya untuk duduk di sofa sementara Tuan Q hanya berdiri di sebelah pintu. Gadis itu sebisa mungkin akan mengalihkan perhatian ayahnya dari balkon kamarnya. “Ibu ke mana, Ayah? Kenapa Ayah tidak mengajak Ibu ke kamarku?” “Ibu sedang istirahat,” jawab Gibran. Tetapi kemudian dia kembali mengingat bagaimana putrinya menutup pintu yang menuju ke balkon kamarnya. “Kamu tadi berada di balkon? Sedang apa?” “Mencari angin segar,” jawab Binar cepat tanpa ingin menimbulkan kecurigaan. “Ayah sendiri memangnya tidak ada pekerjaan sampai datang ke sini? Bukankah Ayah bilang hari ini ada rapat dengan para kepala tim? Apakah sudah selesai semua?” “Sudah.” Gibran merapikan rambut putrinya. “Kamu sudah minum setelah bangun tidur? Selalu ingat kalau kamu tidak boleh kurang minum, sayang.” “Iya, Ayah.” “Oh ya, Tuan Q tadi mengatakan kalau Langit sudah sadar dan keadaannya sangat baik. Kamu mau menjenguk Langit?” tawar Gibran yang mengetahui bagaimana khawatirnya putri cantiknya itu dengan keadaan pengawal pribadinya. “Tuan Q bilang kalau Langit bahkan bisa duduk dengan baik.” “Jelas. Dia bahkan bisa berjalan dan berlari dengan baik,” batin Binar. “Oh ya?” Memainkan perannya dengan baik, Binar pura-pura terkejut. Dia menolehkan kepalanya kepada Tuan Q yang hanya berdiri diam. “Langit benar sudah sadar, Tuan Q?” Tuan Q mengangguk dan tersenyum. “Sudah, Nona,” jawabnya. “Tetapi bukankah Nona sudah mengetahui itu?” “Huh?” Binar sedikit memiringkan kepalanya. “Sudah tahu apa?” “Anak itu ada di sana!” Tuan Q menunjuk ke arah balkon dan langsung berjalan dengan cepat untuk membuka pintunya. “Kenapa Nona menyembunyikan anak nakal ini di sini?” Saat wajah Langit bisa terlihat, Binar melirik ayahnya yang hanya diam dengan senyum seperti mengatakan bahwa ayahnya sudah menduga itu di bibirnya. Rasanya Binar ingin tenggelam saja, dia sangat malu sekali karena ternyata ayah dan ketua pengawal di rumahnya itu sudah mengetahui semuanya. Hah, Binar hanya pandai mempermalukan dirinya saja. “Kedua pengawal di luar sudah mengatakan kalau Langit menjenguk kamu,” ujar ayahnya tiba-tiba. “Ayah sebenarnya sudah menduga bahwa dia akan melakukan ini karena sama seperti kamu, dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan kamu.” “Aduh, Paman!” Langit mengaduh ketika Tuan Q menjewer telinganya. “Paman mau membuat telinga saya copot atau bagaimana? Paman!” Binar mengerjapkan matanya, dia bergumam. “Paman?” “Ya. Tuan Q itu paman Langit,” jawab ayahnya yang mendengar gumamannya. Gibran Rinanjala menepuk kepala putrinya sekali sebelum kemudian meminta Tuan Q untuk melepaskan tangannya dari telinga Langit. “Bukankah saya sudah meminta kamu untuk istirahat, Langit? Kenapa kamu malah berada di dalam kamar putri saya?” “Ayah—“ “Kalian berdua … memiliki hubungan yang tidak saya ketahui?” Sebenarnya itu hanya tebakan lelucon yang dibuat oleh Gibran untuk membuat suasana semakin menyenangkan tetapi ketika baik Langit maupun putrinya tidak mengeluarkan suara, senyum Gibran juga ikut menghilang. “Kenapa kalian berdua tidak menyangkal?” tanya Gibran. “Apa itu … benar?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN