SADAR

1317 Kata
Langit membuka matanya, dia terlihat sangat tenang saat melakukannya karena dia sebenarnya sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu. Hanya saja Langit sedang berusaha merangkai kejadian yang menimpanya, di mana saat dia sedang berusaha mencari senjata yang paling cocok dengan yang digunakan oleh pelaku penembakan di ruang persenjataan, tiba-tiba ditembak dari belakang. “Kepala tim bagian persenjataan,” gumam Langit sesaat setelah otaknya berusaha mencari siapa orang yang berhubungan dengan ‘kecelakaan’ yang menimpa dirinya. “Seharusnya ruang persenjataan adalah tempat yang memiliki penjagaan sangat ketat setelah Binar dan Tuan Gibran. Tetapi tidak ada satupun pengawal yang berjaga di sana ... there is something off here.” Langit sadar dia belum bisa bergerak bebas karena luka di punggung serta kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Hanya saja selagi otaknya masih bisa bekerja, dia akan melakukan apapun agar tidak membuang-buang waktunya yang berharga. “Itu artinya ada lebih dari satu orang yang bekerjasama untuk menyingkirkanku kemarin, entah mereka adalah komplotan Fathan atau bukan.” Langit menatap langit-langit kamar rawatnya, tiba-tiba bayangan Binar muncul di benaknya. “Dia baik-baik saja, bukan?” Suara pintu yang terbuka membuat Langit langsung menolehkan sedikit kepalanya, tangannya naik ke atas untuk menyapa ketika dia melihat pamannya masuk. “Kau sudah sadar?” Tuan Q berdiri di sebelah Langit yang masih terbaring. “Bagaimana keadaanmu?” “Sedikit pusing,” jawab Langit. Namun alih-alih menjelaskan keadaannya dengan rinci atau membahas tentang Fathan, Langit malah menanyakan hal lain. “Nona Binar … dia baik-baik saja, bukan?” tanyanya langsung sebab hanya nama itu yang tiba-tiba mengganggu pikirannya. “Pamanmu ini sangat mengkhawatirkanmu tetapi yang kau khawatirkan hanya Nona Binar,” ledek Tuan Q. “Tetapi sepertinya satu tahun bersama Nona Binar membuat instingmu lebih tajam jika menyangkut anak Bos kita itu. Nona Binar kemarin sangat terkejut ketika mendengar bahwa kau tidak sadarkan diri, dia berlari dari rumah ke ruang persenjataan sampai kemudian dia pingsan.” “Pingsan?” Langit mengulang perkataan Tuan Q dengan nada terkejut yang tidak dibuat-buat. “Hey, hey, hey!” Tuan Q menahan Langit yang hendak duduk tanpa berhati-hati. “Kau harus ingat lukamu lebih dulu sebelum melakukan apapun.” “Toh ini bukan yang pertama,” gumam Langit, dia tetap keukeuh untuk duduk. “Tetapi sekarang Nona Binar baik-baik saja, bukan?” “Semalam Nona baru bisa tidur tengah malam dan terbangun jam setengah empat pagi,” ujar Tuan Q memberitahu. “Sekarang Nona ikut ke rumah sakit untuk menjemput Nyonya Salsa.” “Bukankah Tuan tidak akan pernah membiarkan Nona ikut?” Langit menautkan keningnya. “Juga, kalau mereka ke rumah sakit, kenapa Paman ada di sini?” “Kau tidak perlu memikirkan tentang itu sekarang, pikirkan saja keadaanmu sendiri. Jika kau sekhawatir itu dengan Nona Binar dan juga Tuan Gibran, seharusnya kau bisa beristirahat dan lekas sembuh untuk kembali bisa mengawal Nona Binar—ah, kau membuat Pamanmu ini menjadi lebih banyak bicara,” Tuan Q berdecak. “Akan Paman panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu.” “Paman!” Langit menahan pamannya. “Ada sesuatu yang mengganjal dan harus saya katakan tetapi tidak di sini.” Tuan Q menatap keponakannya, sedikit memiringkan kepala. Barulah setelah Langit memberi kode bahwa di tempat itu terdapat kamera cctv, Tuan Q langsung mengerti dan menganggukkan kepala. Paman Langit itu menghela napas dan memencet tombol untuk memanggil dokter yang menangani Langit sejak kemarin. “Ada sesuatu juga yang harus kau tahu,” balas Tuan Q, dia memberi isyarat bahwa mereka harus membahas ‘sesuatu’ yang dimaksud itu karena kemungkinan itu yang sudah dinanti-nanti pelaku asli. “Ada suatu hal yang terjadi setelah kemarin kau mengalami kecelakaan itu. Salah satu dari pengawal kita menghilang dan dia menjadi tersangka pertama dari usaha pembunuhanmu.” “Benarkah?” Langit sedikit memejamkan matanya ketika ada rasa tidak nyaman menyerang punggungnya. “Tetapi aku tidak tertarik mendengar itu, Paman. Aku lebih tertarik mendengar cerita tentang Nona Binar. Paman tahu sendiri kalau aku biasanya selalu menjaganya setiap waktu, bukan?” Sejak tadi Langit sengaja memanggil Tuan Q dengan sebutan paman padahal dia tahu bahwa kemungkinan mereka dipantau itu sangat besar, dia sengaja ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya kepada siapapun yang sedang duduk di balik layar kamera pengawas. “Nona Binar menyalahkan dirinya—ah, kita bicarakan itu nanti saja.” Tuan Q memotong perkataannya sendiri setelah melihat dokter datang. Dia mundur setelah membalas sapaan dari dokter yang menangani keponakannya untuk mengawasi. Dokter itu juga menyapa Langit dengan hangat sebelum kemudian bertanya, “Apa yang Anda rasakan, Tuan Langit?” *** Sementara itu Binar yang sudah dalam perjalanan pulang dari rumah sakit hanya memeluk ibunya sejak masih di rumah sakit sampai di dalam mobil. Dia bahkan tidak berusaha melepaskan pelukannya dan Salsabila Rinanjala juga memanjakan putrinya. Ibu Binar itu mengelus-elus kepala putrinya dan berkali-kali mengecup pelipis Binar. “Sepertinya sama sekali tidak ada tempat untuk Ayah di sini, ya?” goda Gibran kepada putrinya. “Kamu dari kemarin tidak mau lepas dari Ayah tetapi hari ini Ayah diasingkan, ya?” Binar semakin mengeratkan pelukannya dan merengek kepada ibunya dengan mengatakan bahwa ayahnya sudah menganggunya. Dia memang sedang tidak dalam suasana hati yang baik sejak kemarin, apalagi belum ada kabar baik yang menyangkut Langit atau pernyataan positif seperti pelakunya sudah ditemukan atau semacamnya. Melotot kepada suaminya, Salsabila memberi isyarat agar suaminya itu tidak perlu mengganggu. “Hush!” Dia memukul pelan lengan Gibran. “Sudah ah, jangan ganggu anak kamu. Anak kamu sedang anteng-antengnya malah diganggu. Mas diam saja sudah, ih.” “Loh, memangnya Ayah ganggu Binar?” Gibran tidak menyerah, dia menyentuh lengan putrinya. “Gantian sini peluknya, sayang.” Bukannya langsung memeluk ayahnya, Binar langsung menangis sehingga bukan hanya Gibran yang panik melainkan juga Salsabila. Mereka berdua langsung menenangkan putri semata wayang mereka itu, bahkan Gibran sampai memanggil Via karena berpikir bahwa penyebab putrinya menangis adalah rasa sakit yang diakibatkan oleh penyakitnya. “Binar kenapa, sayang? Ada yang sakit atau—aduh!” “Kamu itu ganggu terus, ih.” Salsabila benar-benar memukul lengan suaminya dengan lebih keras. “Sudah dibilang jangan ganggu tetapi terus menggoda Binar seperti itu kenapa, sih? Anak kamu bukan sakit jadi jangan panggil Via, dia menangis karena Ayahnya terus menggodanya seperti tadi.” Menelan ludahnya karena sudah salah sangka, Gibran langsung meminta maaf kepada Binar. Dia bahkan mengelus-elus kepala putrinya dan menarik Binar ke dalam pelukannya dan terus meminta maaf sampai putrinya itu berhenti menangis. “Ayah minta maaf, ya?” Gibran menyeka air mata putrinya. Tanpa mengatakan apapun Binar hanya menyembunyikan wajahnya di d**a ayahnya. Dia sedang malas berbicara dan dia juga tidak menangis sejak kemarin. Bukan karena dia kesal dengan ayahnya, dia hanya mencari-cari alasan untuk menangis dan melepaskan rasa stresnya. “Binar capek, ya?” Gibran mengusap-usap punggung putrinya sementara Salsa membelai lembut kepala Binar. “Sudah tidur saja tidak apa-apa, nanti Ayah gendong sampai kamar.” Tidak ada yang tahu bahwa Binar sedang menahan tanginya. Dia sebenarnya sedang ketakutan dan gelisah itu terus menyelimuti hatinya. Binar takut kejadian di masa lalu terulang di mana dia harus melihat Langit hampir terbunuh di salah satu peperangan dan meskipun berhasil selamat, Langit harus berhenti menjadi ksatria sebab lukanya memang seserius itu. Hanya saja saat itu Binar menganggap kepergian Langit dari istana disebabkan oleh dirinya yang menyatakan cinta. Terasa seperti déjà vu, tanpa sadar kemungkinan dirinya yang mengirimkan pembunuh itu kepada Langit meskipun semua orang mengatakan tidak. Tetapi Kelvin … pengawal yang sudah dia anggap sebagai kakak tidak mungkin melakukan hal itu, kecuali kalau Kelvin adalah Fathan yang sebenarnya. Meskipun di dalam lubuk hati Binar ingin menyangkal, dia juga tidak bisa mengabaikan asumsi bahwa Kelvin adalah pelakunya. “Ayah …” panggilnya serak. “Ya, Nak? Kenapa?” Gibran langsung bereaksi sepersekian detik. “Ayah harus nemuin Kak Kelvin. Harus.” Karena jika bukan Kelvin pelakunya, hilangnya dia dari kediaman Rinanjala secara misterius juga patut dipertanyakan. Jika Kelvin bukan pelakunya, kemungkinan besar dia melihat siapa orang dibalik penembakan Langit di ruang persenjataan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN