Binar hanya menghela napas ketika Langit memberinya kabar bahwa Diana sudah berhasil melarikan diri. Mereka sudah tahu itu akan terjadi tetapi tidak menduga akan terjadi secepat itu.
“Kenapa dia berani sekali kabur di siang hari?” Binar duduk bersandar di bahu Langit. Mereka berdua sedang duduk di balkon kamar Binar. “Lalu bagaimana? Ayah sudah menerima kabar dan mulai khawatir. Kau tahu sendiri bahwa perpaduan antara Fathan dan Diana bisa sangat mematikan.”
“Biarkan saja.” Langit bergumam sambil terus mengusap-usap pelan tangan Binar yang berada dalam genggamannya. “Mereka juga tidak bisa melakukan apapun untuk sementara waktu.”
“Jadi kepala tim bagian persenjataan benar-benar Fathan Reynaldi yang kita kenal?” tanya Binar, dia sedikit mendongak untuk melihat wajah Langit. “Wajahnya sangat berbeda. Dia benar-benar sudah mengubah wajah dan bahkan nada suaranya sehingga aku tidak bisa mengenalinya.”
Langit tidak mengatakan apapun kepada Binar tentang Kelvin dan Joni. Dia tahu Binar akan sangat bahagia jika mengetahui tentang Kelvin yang sebenarnya baik-baik saja dan ternyata tetap berada di pihak mereka tetapi dia akan sangat sedih jika mengetahui tentang Joni. Karena itulah Langit memilih untuk merahasiakan semuanya, setidaknya sampai Joni menyadari kesalahannya.
“Bagaimana dengan lukamu?” tanya Binar. “Semuanya baik-baik saja, ‘kan? Maaf karena kau harus bekerja sekeras ini padahal kau memiliki dua luka tembak yang bahkan belum sepenuhnya kering.”
Menelan ludahnya, Langit mulai gelisah. Dia yakin Binar akan melotot dan memarahinya habis-habisan jika mengetahui kegilaan macam apa yang Langit dan Kelvin lakukan. Apalagi Langit yang menyuruh Kelvin untuk menembaknya dan bahkan memukul kepalanya.
“Binar, semuanya akan baik-baik saja.” Langit tersenyum. “Maksudku … jangan terlalu memikirkan masalah ini karena aku akan segera menyelesaikannya secepat yang aku bisa. Kita tidak mungkin menghabiskan masa muda kita memikirkan orang-orang jahat itu, bukan? Bukankah kamu selalu mengatakan kalau kita berdua tidak memiliki banyak waktu?”
“Benar.” Binar tersenyum. “Kita memang tidak memiliki banyak waktu. Aku tidak tahu kapan hidupku akan berakhir tetapi yang pasti aku tidak mau hidupku berakhir di tangan mereka. Aku juga tidak mau hidupku berakhir di tanganmu seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Di kehidupan kali ini … aku ingin tujuanku bisa sepenuhnya tercapai. Aku ingin menghabiskan waktu yang bahagia bersamamu.”
“Itu pasti akan terjadi.” Langit tersenyum. “Mari membuat Corn senang dengan terus menjalani hidup yang bahagia. Selain itu tentang keinginanmu … mari wujudkan itu sesegera mungkin.”
“Kita sudah memulainya.” Binar mengangkat tangannya yang sedang digenggam oleh Langit. “Kau tidak akan pernah tahu bagaimana aku sangat mendambakan ini di masa lalu. Aku sangat-sangat berharap bisa menyentuh tanganmu, bisa tertawa bersamamu dan bisa bersandar di bahumu seperti yang aku lakukan sekarang. Yah, meskipun bayarannya ternyata sangat mahal … aku benar-benar senang.”
“Memangnya selain dengan mengorbankan waktumu dan menungguku tanpa kepastian, apa tidak ada cara lain agar kita berdua bisa bertemu?” tanya Langit. “Kamu sudah melakukan banyak hal hanya untuk menemui orang yang sudah membunuhmu. Kamu sudah melalui berbagai macam kesulitan dan bahkan harus terus merasakan sakit alih-alih memilih hidup tenang di alam sana. Aku tahu kamu tidak menyesal tetapi memangnya kamu harus melakukan ini? Aku pembunuhmu.”
“Bukan. Kau bukan pembunuhku,” sanggah Binar. Dia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. “Lagipula aku tidak melakukan semua ini hanya untuk menemui pembunuhku, aku datang untuk bertemu dengan suamiku. Aku terus melakukan ini karena aku ingin menemui orang yang sangat aku cintai. Apa itu salah di matamu? Aku sangat senang bertemu denganmu.”
“Bukan salah. Hanya saja itu tidak masuk akal.” Langit mendengus. “Bisa mencintai seseorang tanpa pamrih seperti itu hanya bisa dilakukan oleh professional.”
Mendengar itu Binar langsung tertawa geli. “Hanya bisa dilakukan oleh professional? Kau sedang menyamakan aku dengan atlet atau semacamnya?” Dia bahkan duduk dengan tegak dan menatap Langit sambil tertawa.
“Benar.” Langit langsung mengakui. Laki-laki itu menggerakkan tangannya yang bebas untuk merapikan rambut Binar. “Wajahmu benar-benar tidak berubah sama sekali, ya? Selain itu kamu masih sangat cantik. Kamu yakin ‘orang itu’ menawarkan kehidupan kembali padamu hanya untuk menjadikanmu sebagai kelinci percobaan dan bukan karena kamu sangat cantik?”
“Hey!” Binar memukul lengan Langit, wajahnya sudah memerah karena malu tetapi Langit hanya tertawa melihat wajah Binar. “Dengan memberikan senyummu padaku saja kau sudah berhasil membuatku berdebar, jadi kau ingin membunuhku dengan cara memujiku seperti itu? Kau pikir itu sopan untuk hatiku? Kau pikir itu aman untuk jantungku? Dengar anak muda, meskipun ragaku masih berusia tujuh belas tahunan di kehidupan kali ini, tetapi jiwaku sudah berusia ratusan tahun!”
“Jadi nenek ini tidak bisa dipuji?”
“Benar, cucu.”
Entah di mana letak kelucuannya tetapi mereka berdua tertawa bersama tanpa menyadari bahwa Salsabila Rinanjala sudah memperhatikan mereka dari tempat tidur putrinya. Bahkan ibu Binar itu mengeluarkan ponselnya untuk mengaktifkan kamera dan mengenang momen penuh tawa antara Langit dan Binar itu dalam foto.
“Bagaimana bisa mereka berdua sangat cocok seperti itu?” gumam Salsabila. Sebenarnya dia datang untuk menemui putrinya karena takut Binar cemas akan kabar kaburnya Diana dari penjara, namun syukurlah putrinya itu baik-baik saja.
“Rambut aku mulai panjang, ‘kan?” Binar tiba-tiba berbicara tentang rambutnya. “Saat bertemu denganmu setahun lalu rambutku tidak sepanjang ini, bukan?”
“Eum, tetapi kamu sudah memotongnya beberapa bulan yang lalu. Cepat sekali panjangnya, ya?”
“Boleh aku potong lagi tidak? Bukankah ini terlalu panjang? Sebahu saja sudah cukup.”
“No, semuanya cantik.” Langit mengerutkan keningnya dan mengangguk untuk meyakinkan Binar bahwa rambut gadis itu sangat cantik. “Jika kamu ingin memotongnya maka lakukan saja tetapi begini saja sudah sangat cantik. Kita juga tidak perlu ke sekolah lagi, bukan? Sudah, biarkan seperti ini saja.”
Binar memperhatikan rambutnya sendiri. “Kau tidak terganggu memangnya? Dulu saat kita masih sekolah aku selalu melihat kau bereaksi tidak suka karena kau selalu terkena kibasan rambut panjangku. Sekarang kau tidak akan memasang ekspresi seperti itu lagi?”
“Apa aku mengatakan langsung kalau aku tidak suka?” tanya Langit, dia menyentuh rambut Binar. “Aku hanya terkejut karena saat itu tiba-tiba saja rambutmu mengenai mataku.”
“Sekarang sudah tidak?”
“Tidak.”
“Benar? Kau yakin?” Binar sengaja mengibas-ngibaskan rambutnya dan tertawa. “Hahaha, lihatlah ekspresimu!”
“Kamu sengaja?” Langit berniat untuk menggelitik Binar tetapi dia berhenti ketika telinganya tidak sengaja menangkap tawa lain yang datang dari arah dalam kamar. Tawa Salsabila Rinanjala.
“Kenapa?” tanya Binar yang masih belum sadar.
“Selamat siang menjelang sore, Nyonya.” Langit langsung berdiri dan menyapa ibu dari kekasihnya.
“Nyonya—Ibu?” Binar ikut berdiri, dia mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum tersenyum canggung. “Ibu kok di sini? Sejak kapan?”
“Sudah lama.” Salsabila Rinanjala membalas sapaan Langit terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan putrinya. “Jadinya Ibu ganggu, ya?”
“Tidak, Nyonya.” Langit langsung masuk ke dalam, diikuti Binar. “Saya permisi dulu.”
Tanpa mempedulikan reaksi Binar, Langit yang sudah terlanjur malu langsung pamit keluar begitu saja, meninggalkan Binar yang juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi ibunya.
***