RENCANA TERSEMBUNYI (2)

1254 Kata
Langit dengan terpaksa harus mendengar semua ceramah dari Kelvin. Laki-laki itu tidak mempercayai apa yang Langit katakan mengenai reinkarnasi yang dilakukan oleh Binar, Fathan, Diana dan juga dirinya. Kelvin terus-menerus menuduh bahwa Langit sedang membodohinya dan maksud Fathan kepada Diana bukanlah tentang kehidupan kembali. Tetapi apa yang bisa Langit katakan? Itu memang kenyataannya. “Kau gila?” umpat Kelvin yang entah sudah keberapa kalinya. “Kenapa kau membunuh Nona Binar? Jika semua yang kau katakan benar-benar terjadi, kenapa kau membunuh istrimu sendiri tanpa memikirkan resiko atau kesalahpahaman yang mungkin terjadi—wah, orang-orang ini gila sekali.” Setidaknya begitu reaksi Kelvin setelah Langit menunjukkan bukti berupa bekas luka di lengannya. Langit mengatakan bahwa dia mendapat luka itu setelah lengannya tidak sengaja tergores pedang sebelum benda tajam itu menusuk Binar dan menjadi media penyebab semuanya dimulai. “Jadi kau dan Nona Binar adalah suami istri dalam kehidupan pertama kalian?” ulang Kelvin, dia sudah lebih tenang dan mulai merangkai kembali apa yang Langit ceritakan. “Tetapi kau membunuhnya karena dendam. Kau berpikir kalau Nona adalah penyebab istri dan calon anakmu dibunuh di masa lalu dan yang membunuh istrimu itu … Fathan?” “Ya, begitulah.” Langit hanya berdehem. Dia tampak sangat tenang dan menikmati semua reaksi Kelvin. Jujur saja dia juga sangat terkejut ketika melihat kilatan ingatan masa lalu itu untuk pertama kalinya. “Sebenarnya menurut Nona Binar aku sudah selesai menjalani hukumanku dan seharusnya aku membusuk di neraka. Hanya saja aku berhasil hidup kembali atau ‘bereinkarnasi’ sebagai diriku yang mirip dengan aku di masa lalu … adalah karena permintaan Nona Binar.” “Dia mencintaimu sebesar itu?” Kelvin berseru, tidak terima sama sekali. “Dia mencintaimu sebesar itu dan bahkan masih sempat untuk mendo’akanmu padahal kau adalah orang yang sudah menghunuskan pedang padanya! Wah, aku tidak mengerti bagaimana orang-orang mengartikan cinta tetapi ini sangat luar biasa. Bagaimana bisa tidak ada dendam sedikitpun? Bagaimana bisa, huh?” “Aku juga menanyakan itu kepadanya,” ungkap Langit. “Tetapi aku tidak puas dengan jawabannya. Dia … sangat tulus mencintai Langit di kehidupan pertamanya, benar-benar sangat tulus. Dia bahkan mengatakan bahwa dia memohon agar aku bisa kembali bereinkarnasi sebagai manusia karena dia ingin membangun hubungan romansa bersamaku. Dia mengatakan kalau itu keiinginan terbesarnya.” “Bagaimana bisa ada orang setulus itu?” Kelvin bergumam. Dia menghela napas kemudian. “Lalu bagaimana dengan Fathan dan Diana? Kau tadi juga menyebutkan bahwa Diana adalah selir dari raja atau ayah dari Nona Binar. Jika ini adalah kehidupan kembali, kenapa Diana tidak menjadi istri dari Tuan Gibran? Lalu kenapa Fathan juga baru berhasil menyusup ke dalam lingkungan Rinanjala empat bulan yang lalu padahal dia memiliki lebih banyak waktu dan persiapan?” “Karena aku.” Langit yang awalnya menikmati pemandangan sambil mendengarkan celotehan Kelvin itu berdiri. Dia menaruh kedua tangannya pada masing-masing saku celananya. “Roda itu terus berputar tetapi roda kehidupan masa lalu itu hanya bisa berputar jika pemainnya sudah lengkap. Aku dan Nona Binar adalah pemeran utamanya tetapi aku baru hadir dan ikut berpartisipasi setahun yang lalu. Saat itu kemungkinan besar roda itu sudah kembali berputar dan Fathan serta Diana jelas tidak tinggal diam.” Kelvin sedikit memiringkan kepalanya. Kurang lebih dia mengerti apa yang dimaksud oleh Langit. Memang Fathan tidak bisa langsung menyusup begitu saja sementara untuk Diana … memang sebenarnya dia sudah mengambil perannya sejak dahulu dengan cara menculik Salsabila Rinanjala dan membuat keluarga Rinanjala menjadi sedikit berantakan saat itu. “Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Kelvin. “Kita tidak mungkin langsung menangkap Fathan begitu saja, itu akan sangat berbahaya. Kau tahu dari yang sudah aku selidiki … dia memiliki banyak pengikut di dalam Rinanjala yang sudah dibentuknya dalam empat bulan terakhir. Seperti katamu, dia bergerak dengan sangat cepat.” “Kita akan melakukan segala macam cara untuk membuatnya tunduk. Dia memiliki dendam kepada Nona Binar karena akibat dari perbuatan Nona Binar yang terus memutar waktu dan bereinkarnasi berkali-kali, alhasil Fathan dan Diana yang belum menerima hukuman karena di masa lalu mereka sama sekali tidak memiliki penyesalan sampai meninggal juga ikut terseret.” Langit menatap jauh danau yang tenang di hadapan matanya. “Tuan Q bisa melindungi Tuan Gibran dan Nyonya Salsa sementara kita bisa melindungi Nona Binar. Lakukan apapun asalkan Nona Binar tidak terluka.” Kelvin mendengus. “Kau sekarang sedang mengupayakan berbagai cara untuk menebus dosamu, ya?” tebaknya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ya, jika itu aku maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Tidak mungkin aku kembali mengkhianati cinta dari seseorang yang sangat tulus untuk kedua kalinya. Kau tahu … jika kali ini kau kembali mengkhianati Nona Binar dan gagal melindunginya—“ “Aku tahu. Aku tahu dan aku tidak akan melakukannya, jadi kau tenang saja.” Langit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu bagaimana dengan daftar pengawal yang menjadi pengikut Fathan di Rinanjala? Mereka tidak akan bisa langsung melukai Nona Binar tetapi aku juga harus memberi peringatan padanya untuk selalu berhati-hati. Kau tahu dia sangat mudah percaya.” “Daftarnya akan aku kirimkan kepadamu tetapi bagaimana dengan ponsel Joni?” Kelvin mengeluarkan ponsel Joni dari dalam saku celananya. “Aku sudah memeriksa dan mereka tidak menginstal aplikasi yang bisa digunakan untuk menyadap atau apapun itu. Aku juga tahu Fathan belum bisa bergerak sejauh itu atau dia akan membuat para pengikut barunya ragu.” Langit mengambil ponsel Joni dari genggaman Kelvin, sebelum kemudian melemparkan benda pipih itu begitu saja ke dalam danau di hadapan mereka. Tersenyum sambil menoleh kepada Kelvin yang melongo tidak percaya, Langit kemudian melangkah pergi. “Kembalilah dan bekerjalah dengan baik di tempat barumu!” Langit melambai-lambaikan tangannya, meninggalkan Kelvin seorang diri. “Aku akan menjemputmu tiga hari lagi.” “Bagaimana dengan mobil Joni?” teriak Kelvin karena Langit sudah mulai jauh. “Kita tidak bisa meninggalkannya di sini—hey! Hey, Langit—HEY!” Kelvin merasa sangat putus asa sekaligus kesal karena Langit sama sekali tidak berniat mendengarkannya. Pada akhirnya dia harus mengurus mobil pribadi Joni itu sebelum kembali ke penjara untuk melanjutkan pekerjaannya. Karena itulah Kelvin harus kembali memakai kacamata dan kumis palsunya meskipun dia sudah sangat kesal karena penyamaran itu menyembunyikan ketampanannya. “Langit benar-benar tidak memiliki niatan untuk membantuku sama sekali,” gerutunya. “Bagaimana bisa dia meninggalkan mobil ini di sini dan pergi begitu saja? Enak saja dia berpacaran sambil bekerja sementara aku harus melewati penyamaran yang tidak ada lucu-lucunya. Ck, sial sekali.” Kelvin terus mengeluh sepanjang perjalanan. Bahkan ketika dia sudah ada di dalam taksi yang mengantarnya menuju penjara dia juga berceloteh sampai kemudian dia melihat hal yang membuatnya menautkan keningnya dan meminta supir taksi untuk berhenti sementara. “Pak! Berhenti sebentar, Pak!” seru Kelvin, dia meminta supir taksi untuK menepikan taksinya. Dengan cepat mengambil ponselnya, Kelvin langsung menghubungi Langit. “Angkat cepat! Angka-- Hey, aku melihat Diana! Dia pasti sudah berhasil kabur dari penjara!” “Apa katamu?” Langit langsung menepikan mobil yang dikendarainya. “Sudah? Secepat ini?” “Dia menaiki sebuah mobil … aku sudah mengirimkan foto plat nomor mobil yang tadi membawa Diana. Kau memiliki orang yang bisa kau percayai untuk memberimu informasi tentang mobil itu, bukan?” “Tentu.” “Kalau begitu … apa aku masih perlu kembali ke penjara?” tanya Kelvin. Langit tidak menjawab tetapi dia menatap Kelvin melalui kamera ponselnya dengan datar. “Haish, kenapa kau selalu memintaku untuk membereskan kekacauan?” gumam Kelvin, kembali menggerutu. Setelah itu dia langsung berteriak. “Tiga hari! Aku akan keluar dari tempat itu dalam tiga hari!” Terkekeh, Langit mengangguk. “Aku akan menjemputmu.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN