YANG DISANGKA PERGI

1187 Kata
Siang itu Diana keluar dari rumahnya seperti biasa. Wanita itu tidak lupa mengunci pintu rumahnya sebelum kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menghilang di tikungan jalan. Saat itulah Langit yang awalnya hanya duduk di atas pohon langsung turun dan menyeberangi jalan dengan ekspresi datarnya. “Cctv satu,” gumamnya. Langit menatap cctv yang terletak di halaman rumah Diana dan tersenyum miring. Laki-laki itu tidak peduli sama sekali dengan adanya kamera pemantau itu dan malah dengan mudah membuka pintu rumah Diana yang terkunci tanpa perlu menimbulkan keributan atau kecurigaan. “Cctv dua,” gumamnya lagi. “Langit berjalan lurus ke arah tempat yang dia tuju. Tetapi setelah yakin bahwa dia sampai di tempat yang dia curigai, Langit tidak menemukan pintu masuk. “Hah, perancangnya sangat hebat,” pujinya tetapi tangannya beberapa kali menyentuh atau menggeser benda di rumah itu sampai kemudian suara seperti gesekan pintu berbunyi. Saat itulah lemari besar yang menutupi dinding terbuka dan menampilkan sebuah pintu. “Tetapi ini terlalu klasik,” komentar Langit. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekat ke arah pintu dan berniat untuk membukanya ketika dia mendengar suara mobil. Langit menoleh ke arah pintu dan menghela napas. “Hah, merusak niat baikku saja.” “Oh?” seruan terkejut terdengar tetapi Langit dengan santai malah bersembunyi di dalam ruangan yang tidak memiliki pintu. Laki-laki itu sangat tenang karena dia bisa melakukan apapun tanpa keraguan. Melupakan Langit, Diana sudah terlihat ketar-ketir ketika melihat lemari rahasianya terbuka. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan orang lain di dalam rumahnya sendiri. “SIAPA DI SANA?!” teriaknya nyaring yang membuat Langit langsung menutup telinganya. “AKU AKAN MELAPORKANMU KE POLISI JADI SIAPAPUN ITU KELUARLAH!” Langit tetap diam di tempatnya, dia tidak bergerak sama sekali—bukan karena takut, tetapi lebih kepada tidak peduli. Baginya sikap Diana bukan hanya sikap seseorang yang takut kalau rumahnya sedang dirampok melainkan karena takut rahasianya bocor. “KELUAR!” teriak Diana lagi. Melihat bayangan Diana yang tampak seperti orang bingung yang sedang mencari sesuatu, hanya perlu menunggu waktu sampai Langit keluar dari persembunyiannya untuk membuat Diana pingsan tanpa suara dan usaha lebih. “Merepotkan,” lirihnya. Langit membawa tubuh pingsan Diana ke sofa, laki-laki berusia 21 tahun itu kemudian langsung membuka pintu rahasia yang tersembunyi dibalik lemari besar di rumah itu. Saat pintu itu terbuka, aroma tidak nyaman langsung menusuk hidung Langit. Cahaya remang-remang memang cocok dengan matanya tetapi aroma itu sedikit menusuk hidungnya karena tercium seperti bau air kecil, makanan basi dan juga aroma besi tua. Langit melihat siluet itu, seseorang yang terduduk sambil bersandar di pojok ruangan. Seseorang dengan rambut pendeknya yang terlihat dipotong asal-asalan, seseorang yang menatap ke arah Langit tanpa kedipan atau seruan penasaran. Langit memperhatikan sekitar ruangan itu, mengedarkan pandangan hanya untuk melihat piring bekas makanan – makanan yang pernah Langit lihat waktu itu. Ah, jadi makanan itu benar untuk manusia? Perempuan yang berada di awal usia 40-an. Sebelah tangannya di rantai—sepertinya sudah dalam waktu yang lama sebab rantai itu menggores tangannya sampai benar-benar menimbulkan luka bernanah. Tetapi sepertinya Langit pernah melihat wajah itu. “Siapa?” tanya perempuan itu dengan suara lembut sekaligus serak. Langit semakin mendekat, dia mengabaikan bau tidak sedap yang diperparah oleh kelembaban ruangan itu. “Langit Priyanjani.” Langit memperkenalkan diri. “Saya datang untuk membawa Anda keluar dari sini.” “Diana?” tanyanya pelan. Mendengar dari nada suaranya, perempuan itu rupanya sering bersuara sehingga suara seraknya menghilang sehingga nada suaranya terdengar lembut dan jernih. “Dia tidak akan bisa melakukan apapun jadi mari keluar bersama saya.” “Apa ...” Mata perempuan itu yang awalnya tidak bercahaya sama sekali langsung mengeluarkan binar penuh harap. “Apa suami saya ... apa suami saya yang mengirimkan kamu ke sini?” Suami? Langit membatin di dalam hati. “Gibran Rinanjala,” sebutnya langsung dan seketika Langit sadar bahwa mirip dengan siapa wajah perempuan di hadapannya. “Apa dia yang meminta kamu datang?” “Benar,” jawab Langit. Hening. Langit menatap perempuan di hadapannya, dia terkejut meskipun ekspresinya tidak menunjukkan hal seperti itu. “Apa suami saya ... baik-baik saja?” Tidak langsung menjawab, Langit memilih diam. Pengawal pribadi Binar itu mencari benda yang bisa dia pakai untuk melepaskan rantai dari pergelangan tangan Ibu dari gadis yang kemarin kembali menyatakan perasaan padanya itu. “Apa ... apa kamu juga mengenal putri saya?” tanyanya dengan suara yang lebih bersemangat. “Dia sakit sejak kecil jadi ... apa dia baik-baik saja? Diana bilang kalau— oh? Mereka datang!” “Mereka?” ulang Langit. “Cepat pergi, Nak!” seru Ibu Binar itu, nada suaranya terdengar panik. “Diana banyak memiliki orang yang akan melakukan semua pekerjaan kotor jadi jangan libatkan dirimu dari masalah dan cepatlah pergi!” “Ah,” Langit menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, menunggu kedatangan orang-orang yang sedang menuju ruangan itu. “Nyonya tidak perlu khawatir, mereka tidak akan bisa melukai saya.” “Tidak, Nak, kamu masih terlalu muda—” Brakk “Apa ini? Anak kecil?” Tiga orang dengan tubuh tinggi besar datang. Sementara itu Diana tampak berdiri di belakang mereka dengan senyum miring. Dia pasti langsung menghubungi bawahannya sesaat setelah sadar. Hah, seharusnya Langit memukul lebih kuat. “Kau meminta kami membereskan anak kecil seperti ini?” Tipe yang sangat tidak disukai Langit, banyak bicara tetapi tidak setangguh penampilannya. Benar-benar tidak dibutuhkan dalam situasi genting. “Jangan sampai dia lolos dari sini,” perintah Diana. “Dia tidak boleh pergi dari sini dalam keadaan bernyawa. Mas Gibran tidak boleh tahu kalau wanita itu masih hidup dan ada di sini.” Langit tidak mengatakan apapun, dia hanya berdiri diam. “Lihat, dia ketakutan!” satu dari ketiganya tertawa melihat Langit hanya berdiri diam. “Kasihan sekali, masih kecil tetapi harus meregang nyawa di sini.” Hah, dasar tukang meremehkan. “Bunuh saja langsung atau buat mainan ... terserah kalian saja.” Si botak, laki-laki yang memiliki pisau di tangannya itu langsung maju. Awalnya dia hendak melayangkan tinjunya kepada Langit tetapi karena laki-laki itu menghindar dengan gesit, pukulannya meleset begitu saja sehingga si botak itu terlihat seperti orang bodoh. “Hah, dasar!” Emosi si botak mulai naik, dia menatap Langit tidak suka. “Hanya bisa menghindar, eh?” Berdecak, Langit langsung mengepalkan tinjunya dan tanpa basa-basi dia memukul wajah lawannya tepat di hidung sampai bunyi mengeluarkan bunyi yang cukup membuat merinding. Tidak hanya itu, Langit juga merebut pisau yang dimiliki si botak dan menendang lutut laki-laki yang lebih tua darinya itu sehingga si botak tidak memiliki tenaga dan terkapar dengan tangan yang menutupi wajahnya. “Berisik,” gumam Langit. Dia juga langsung melemparkan pisau di tangannya dan menancap tepat di bahu laki-laki yang tadi menertawakannya. Darah keluar deras dan Diana langsung berteriak ketakutan melihat keadaan berbalik bahkan sebelum orang-orangnya menyerang. “Berengsek!” Si ketua, laki-laki yang paling tenang mulai mengumpat ketika kedua temannya terkapar dengan luka masing-masing. Dia membuang puntung rokoknya ke sembarang tempat dan langsung maju untuk menyerang Langit. Siang itu Langit memiliki banyak pekerjaan tetapi setelah dia kembali ke rumah utama, semuanya terbayarkan sempurna ketika dia menerima senyuman lebar dari gadis yang sudah menggerakkan hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN