KELUARGA

1204 Kata
Langit membawa Salsabila Rinanjala keluar dari dalam ruangan yang selama belasan tahun dijadikan sebagai tempat pengurungan itu. Langit tidak menghubungi siapapun, dia menghajar semua orang yang menghalanginya seorang diri tanpa ragu, bahkan laki-laki itu mengurung Diana di dalam ruang bawah tanahnya bersama ketiga bawahannya yang sudah “Kita ke rumah sakit dulu, Nyonya.” Langit sudah memberikan jasnya kepada Salsabila. Dia datang ke tempat itu tanpa menimbulkan keributan sehingga jika dia menghubungi pihak keluarga besar Rinanjala, jelas akan terjadi kehebohan dan Langit tidak mau itu terjadi. “Apa tidak apa-apa? Saya ... kotor.” Langit tersenyum, menenangkan. “Nyonya, ini mobil Tuan besar.” Salsabila yang dituntun oleh Langit itu perlahan masuk dan duduk di kursi belakang mobil. Tubuhnya sangat kurus, ringkih. Salah satu tangannya yajg yang tergores rantai besi dalam waktu yang lama jelas akan selamanya meninggalkan bekas sekalipun sudah diobati karena lukanya sudah dalam sekali. “Apa yang kamu lakukan di dalam tadi?” tanya Salsabila. Dia memang terus melatih dirinya untuk selalu berbicara sehingga suaranya tidak akan terdengar serak jika waktu penyelamatannya tiba. Salsabila sangat optimis, dia yakin suaminya atau siapapun itu akan menyelamatkannya. “Menghapus rekaman cctv.” Langit yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan lokasi perumahan Diana itu menjawab. “Kamu sudah lama bekerja dengan suami saya? Kamu masih sangat muda.” Langit tersenyum. “Sudah satu tahun, Nyonya. Saya adalah pengawal pribadi Nona Binar.” “Kamu ... pengawal pribadi Binar?” sahutnya tidak percaya. “Kamu pengawal pribadi anak saya? Apa Binar sering terluka sampai dia harus dijaga oleh pengawal yang sangat hebat seperti kamu?” “Semua pengawal Rinanjala hebat, Nyonya.” Entah kenapa Langit selalu menjadi lebih banyak bicara setiap perempuan-perempuan Rinanjala itu mengajaknya membicarakan sesuatu. Dulunya Langit sangat kaku tetapi mungkin karena pengaruh Binar yang selalu bersamanya setiap waktu, Langit menjadi sedikit lebih baik. Salsabila hanya tersenyum, dia kemudian menatap ke arah jendela dan terus seperti itu dalam waktu yang lama. Langit sendiri tidak mau menginterupsi, dia tidak tahu hidup apa yang dilewati oleh Salsabila Rinanjala tetapi dia tahu bahwa itu sangatlah berat sehingga tetap sadar dan tidak secara langsung menunjukkan traumanya adalah hal yang hebat sekaligus menyedihkan. “Sudah banyak berubah, ya,” komentarnya dengan perasaan lega. “Rasanya sangat mendebarkan.” Mobil berbelok, Langit menuju ke arah rumah sakit yang sudah menjadi tempat bagi seorang Rinanjala. Rumah sakit besar yang berada di pusat kota. Langit membawa Salsabila Rinanjala ke rumah sakit itu dan menghubungi Tuan Q, pamannya. “Ya, ada apa?” Tuan Q tidak tahu kalau Langit secara diam-diam pergi ke rumah Diana untuk mengintai. “Kau ada di mana? Nona Binar mencarimu—" “Paman?” Langit menyela. “Kenapa? Kenapa nada suaramu terdengar serius? Kau ada di mana sebenarnya?” “Menurut Paman, apakah istri dari Tuan Gibran masih hidup?” Tidak langsung terdengar sahutan. “Kau menemukan sesuatu, bukan?” tebak Tuan Q langsung. “Kau sudah mengetahui posisi Nyonya besar?” “Paman, aku di rumah sakit biasa ... dan dia juga ada di sini.” “Dia?” “Salsabila Rinanjala.” **** Gibran Rinanjala berlari kecil menuju ruang VVIP di rumah sakit yang sebenarnya secara tidak langsung ikut dikelola olehnya itu. Dia membawa Binar, Gibran Rinanjala menggenggam erat tangan putrinya dan berhenti berlari tepat ketika mereka melihat Langit berdiri di luar ruangan dengan tegap. “Langit!” seru Binar. Dia menarik tangan Ayahnya untuk semakin mendekat ke arah Langit. “Langit, apa benar apa yang kau katakan? Ibu ... masih hidup? Ibu ada di dalam sini?” Langit hanya menatap Binar sejenak sebelum kemudian menatap Gibran Rinanjala yang hanya diam seakan-akan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Langit tidak tahu tetapi menurut pamannya, Gibran Rinanjala masih sangat mencintai istrinya dan menolak percaya bahwa Salsabila Rinanjala meninggalkannya. Gibran terus mencari istrinya selama sepuluh tahun sebelum kemudian menyerah karena tidak menemukan petunjuk apapun. “Nyonya ada di dalam, Tuan, Nona.” Gibran memejamkan matanya. “Oh Tuhan!” gumamnya. Dia memeluk putrinya sebelum kemudian memantapkan diri untuk membuka pintu kamar rawat itu. Namun sebelum pintu itu benar-benar terbuka, Gibran menoleh kepada Langit dan tersenyum. “Terima kasih,” ucapnya. Langit mengangguk. Dia hanya diam dan mempersilahkan kedua atasannya itu masuk ke dalam kamar rawat, namun sebelum itu Binar masih sempat menatapnya dan mengeluarkan senyum paling lebarnya kepada pengawal pribadinya itu seakan-akan mengatakan bahwa Langit sudah melakukan yang terbaik dan dia berterima kasih. *** “Hai,” sapa Salsabila kepada suami yang akhirnya berhasil dia temui lagi setelah enam belas tahun lamanya. “Bagaimana kabar Mas—” GREPP Gibran berhambur, dia memeluk erat tubuh kurus istrinya itu setelah belasan tahun. Laki-laki berusia 40-an itu tidak mengatakan apapun tetapi dia menangis tanpa suara. Air matanya itu membasahi baju rawat Salsabila. “Kenapa menangis seperti anak kecil, hm?” Dengan lembut Salsabila mengelus kepala suaminya. “Aku baik-baik saja, Mas.” “Ini kenapa?” Gibran menyentuh pergelangan tangan istrinya yang diperban tebal. “Dia melukaimu?” “Tenanglah, atau kau akan menakuti putri kita,” katanya. Kini tatapan teduh Salsabila beralih kepada Binar yang hanya berdiri diam di dekat pintu, memperhatikan kedua orang tuanya yang akhirnya kembali bertemu setelah belasan tahun lamanya. “Halo, sayang ...” sapa Salsabila. “Ini Ibu.” Gibran langsung menoleh ke belakang, merasa bersalah karena dia tanpa sadar lupa bahwa dia juga membawa Binar bersamanya dan putrinya itu tidak pernah mengenal Ibunya. “Binar, sini!” Gibran memanggilnya sehingga Binar dengan langkah pelan berjalan mendekat pada Ayahnya dan berdiri di belakang Gibran sambil menatap ragu-ragu ke arah Salsabila. “Kenapa bersembunyi seperti itu, hm?” Salsabila tersenyum, dia mengerti. “Ibu terlihat mengerikan, ya? Seharusnya Binar melihat Ibu yang sudah cantik.” Binar tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap Salsabila yang tersenyum lembut nan hangat padanya. “Binar sudah tumbuh besar, ya? Ayah kamu berhasil rupanya.” Gibran menarik lembut tangan Binar sehingga kini putrinya itu tidak lagi berdiri di belakangnya. Binar kini memeluk Gibran dari samping namun tatapan matanya tidak lepas dari Salsabila. “Dia juga tumbuh hebat dan pintar,” ujar Gibran bangga. “Iya, ‘kan, cantik?” Binar mengangguk. “Lucu sekali.” Salsabila berkomentar, dia mengamati putri yang bahkan hanya sempat dia peluk selama kurang dari satu tahun sejak dilahirkan itu. Air mata Salsabila menetes. “Jangan menangis!” Binar langsung menghapus air mata Salsabila sebelum kemudian kembali memeluk Ayahnya. Dia memang sudah berusia 17 tahun tetapi Binar sedikit gelisah, karena itu dia memeluk Ayahnya agar kegelisahan tidak terlalu terlihat. “Oh, Ibu tidak boleh menangis? Tapi tadi Ayah Binar sudah menangis.” “Ayah memang sering menangis.” Gibran terkekeh, dia mengacak rambut Binar. “Sudah berani, ya?” Salsabila menunggu sampai putrinya merasa lebih nyaman berada di sana. Karena itu ketika dia yakin Binar sudah lebih rileks, Salsabila merentangkan kedua tangannya. “Boleh kalau Ibu peluk Binar, Nak?” “Hm.” Binar mengangguk, dia mendekat dan langsung menenggelamkan diri di pelukan Ibunya. “Oh Tuhan!” Salsabila menghela napas lega. “Bayi kecil Ibu.” Sebenarnya ada yang menggangu Binar. Dia tidak pernah melihat Ibunya secara langsung sejak dia hidup dan ini baru terjadi sekarang, saat-saat ketika dia memeluk Ibu kandungnya ... karena itu Binar bertanya-tanya: Apa kehadiran Langit benar-benar bisa mengubah segalanya? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN