KELUARGA (2)

1169 Kata
Salsabila Rinanjala tidak mengatakan hal-hal jelek tentang Selaras Diana. Satu-satunya Ibu yang pernah Binar temui itu hanya mengatakan bahwa dia diculik dan dikurung selama belasan tahun, hanya itu, dia tidak mengatakan apapun lagi agar suaminya tetap tenang. Bukan hanya itu, Salsabila tidak menghasut Binar dan suaminya untuk membenci Diana. “Tetapi dia mengurungmu selama belasan tahun dan itu bukan tindakan yang bisa dimaafkan begitu saja, Salsa!” tegas Gibran. “Penjara bahkan terlalu bagus untuk orang seperti dia!” Binar sendiri tidak pernah melihat Ayahnya sangat marah sebelumnya, wajahnya bahkan merah padam. Ayahnya sangat menakutkan ketika marah tetapi Salsabila tidak menunjukkan raut wajah ketakutan sama sekali, dia malah menenangkan suaminya padahal Binar tahu kalau sebenarnya Salsabila tidak baik-baik saja. Akhirnya bisa melihat dunia luar setelah terkurung selama belasan tahun pasti sudah ada di dalam daftar teratas impiannya. Binar sendiri merasakan itu, dia merasakan bagaimana Salsabila menatapnya dan bahkan berbisik di telinganya hanya untuk meminta maaf karena tidak bisa berada di sisinya selama ini menunjukkan bahwa Ibunya adalah orang yang sangat baik. Sampai kemudian Binar kembali bertanya-tanya, apakah Ibu kandungnya di kehidupan pertamanya dulu sebenarnya dibunuh oleh selir Ayahnya? “Binar sudah makan, sayang?” tanya Salsabila lembut. “Kamu terlihat pucat. Binar sakit? Kamu kenapa membawa anak kita yang sedang ke sini?” Salsabila mulai menyalahkan suaminya. “Binar sakit, sayang?” Gibran juga terkejut. Dia menunduk dan memperhatikan wajah putrinya. “Ayah panggil dokter dulu, ya—” “Aku baik-baik saja!” Binar menahan tangan Ayahnya yang hendak menekan tombol darurat. “Binar baik-baik saja. Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir, oke? Kalian berdua bisa mengobrol, Binar keluar dulu sebentar.” “Binar mau ke mana?” tanya Salsabila. “Mau berbicara dengan Langit, Ibu.” “Langit?” “Anak yang membawa kamu ke sini,” sela Gibran. “Pengawal pribadi Binar. Namanya Langit Priyanjani.” “Ah ... anak tampan dan hebat itu namanya Langit?” Salsabila mengangguk. “Apa dia sudah memperkenalkan diri, ya? Aku lupa.” “Binar sangat dekat dengan Langit?” Binar hanya tersenyum, dia melambaikan tangannya dan membuka pintu tanpa menjawab pertanyaan Ibunya. Melihat itu Gibran hanya bisa tersenyum dan berkata. “Mereka sudah seperti teman dekat. Aku mempercayai Binar kepada Langit karena anak itu sangat hebat dan mereka mampu bergaul dengan baik meskipun dia lebih tua empat tahun dari Binar.” “Tidak aku sangka putri kita sudah sangat besar, ya,” lirih Salsabila. “Dia bahkan baru belajar berjalan saat terakhir kali aku melihatnya.” “Maafkan aku.” Salsabila langsung menatap suaminya. “Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu.” “Maaf karena tidak mencarimu lebih jauh—” “Kau sudah berusaha dan aku sama sekali tidak meragukan itu. Sudahlah, Mas, aku sudah selamat sekarang dan aku bisa berkumpul lagi bersama Mas dan putri kita. Itu sudah lebih dari cukup.” Gibran memeluk istrinya. “Tetapi kau benar-benar tidak pantas mendapatkan penderitaan seperti ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti keluarga kita selamat, sayang. Tidak akan pernah.” *** “Terima kasih sudah menyelamatkan Ibuku.” Binar menatap Langit. “Aku tidak pernah melihat Ayah sebahagia itu selama ini jadi aku merasa sangat berhutang budi padamu.” Langit menunduk, melirik Binar. “Kenapa kamu keluar dan bukannya tetap di dalam?” “Kenapa, ya? Jujur saja rasanya asing karena ini adalah kali pertamanya aku bertemu dengan orang yang melahirkanku ke dunia ini—yah, meskipun ini adalah kali kelimanya aku dilahirkan tetapi tetap saja rasanya sangat aneh. Aku tidak pernah memiliki seorangpun perempuan yang bisa aku panggil Ibu, bahkan kepada selir Ayahku di masa lalu saja aku menolak memanggil mereka Ibu.” Binar bercerita, dia duduk di dekat Langit yang tetap berdiri. “Lagipula Ayah dan Ibu perlu waktu berdua.” “Nona, Selaras Diana ... selir Ayah Nona di masa lalu itu adalah orang yang seperti apa?” “Licik. Sangat.” Binar menjawab tanpa ragu. “Dia sebenarnya juga mendapat hukuman setelah Fathan jujur bahwa dia diperintahkan oleh selir kerajaan untuk membunuh istri dan calon anakmu. Kau, Selaras Diana dan juga Fathan di eksekusi mati pada hari yang sama walaupun di tempat yang berbeda.” “Lalu apakah Nona sudah menemukan Fathan?” Binar menggeleng. “Tidak ada kejanggalan lagi di lingkungan rumah sejak insiden kelinci berdarah itu jadi aku yakin Fathan masih sibuk bersembunyi. Dia juga sepertinya tidak kehilangan ingatan masa lalunya sama sepertiku jadi kita harus ekstra hati-hati.” “Ini terlalu berbahaya untuk Nona.” “Kau akan terus memanggilku Nona meskipun kau mengetahui apa hubungan kita yang sebenarnya?” Binar mengalihkan pembicaraan. “Hei, setidaknya panggil aku dengan nama saja saat hanya ada kita berdua. Kau bisa melakukannya di sekolah jadi lakukan juga sekarang. Rasanya sudah lama kau tidak melakukannya.” “Di masa lalu saya saja tetap memanggil Nona dengan sebutan Tuan putri.” Langit membalas. “Lagipula saya bekerja untuk Nona dan kita tidak berada di lingkungan sekolah.” “Cih ... dasar tidak mau kalah.” Langit tersenyum mendengar rajukan Binar. Dia kemudian berkata. “Nona, saya serius sekarang, sepertinya Fathan benar-benar berbahaya. Jika dia benar-benar masih memiliki ingatan itu, bukankah berarti dia bisa bersembunyi dan muncul kapan saja tanpa kecerobohan?” “Benar.” “Jadi kalau begitu lebih baik kita mulai melakukan sesuatu di area sekitar rumah terutama di lingkungan yang sering Nona datangi, seperti halnya taman kemarin. Saya akan menginstal cctv secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun karena bisa saja dia kembali dalam waktu dekat setelah mengetahui bahwa Selaras Diana ditangkap.” “Itu memang bisa terjadi tetapi Langit?” Binar mendongak. “Jangan mengambil langkah pertama dulu, kita lihat saja bagaimana nantinya, oke?” “Tidak ada salahnya menyiapkan payung sebelum hujan, Nona.” Binar berdiri, dia memicingkan matanya mendengar kekeras kepalaan dari Langit. “Bisakah kau mematuhiku sekali saja? Bukankah kau merasa bersalah padaku?” “Ya, tetapi demi keamaan Nona—” “Jangan hanya memikirkan keamananku. Pikirkan saja keamananmu!” Binar berdecak. “Kau menyelamatkan Ibuku seorang diri—Langit, aku tahu kau sangat kuat bahkan di kehidupanmu yang sebelumnya kau juga tidak terkalahkan tetapi aku tidak suka melihat luka sedikitpun, entah itu luka gores atau bahkan luka memar. Aku tidak menyukai itu dan semua pengawal tahu.” “Nona—” “Langit!” Tuan Q yang baru saja datang setelah mengurus semuanya itu langsung memanggil Langit. “Maaf, Nona.” Tuan Q menunduk hormat. “Bukannya saya lancang menyela percakapan Nona dan Langit tetapi saya membutuhkan anak ini untuk suatu hal. Apa boleh saya membawa Langit pergi? Sebagai gantinya, Kelvin dan Jodi akan berjaga di sini.” “Ah ...” Binar mengangguk. “Silahkan.” Langit langsung dibawa pergi oleh Pamannya itu untuk membicarakan sesuatu. Sementara itu Kelvin dan Jodi langsung menyapa Binar dan bertanya apakah Binar baik-baik saja karena wajahnya terlihat pucat. “Aku baik-baik saja, Kak.” Binar tersenyum dan kembali duduk. “Aku hanya sedikit terkejut dan ... bahagia.” Begitu jawaban Binar meskipun sebenarnya dia tidak mengetahui alasan kenapa jantungnya berdebar-debar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN