ORANG-ORANG TERDEKAT

1091 Kata
“Nona terlihat pucat,” ujar Kelvin begitu melihat wajah gadis yang sudah dia kenal tujuh tahun lalu itu ketika Binar masih berusia sepuluh tahun. “Nona baik-baik saja? Sepertinya Nona butuh istirahat.” Binar menatap Kelvin dan Joni bergantian sebelum kemudian tersenyum manis dan berkata bahwa dia tidak apa-apa sehingga kedua pengawalnya itu tidak perlu mengkhawatirkannya. Binar tidak merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, dia tetap merasa wajah pucatnya adalah efek dari keterkejutannya. “Saya akan menghubungi petugas medis dan meminta agar Nona bisa beristirahat di kamar rawat sebelah.” Joni langsung mengeluarkan ponselnya, entah menghubungi siapa. “Benar, Nona. Lebih baik Nona beristirahat di dalam jika Nona bersikeras untuk tidak masuk ke dalam.” Kelvin menatap sopan kepada Binar. “Tidak ada gunanya tetap bersikap keras kepala, Nona. Ini hari bahagia sehingga Nona tidak boleh jatuh sakit. Bukankah sejak kecil Nona ingin sekali bertemu dengan Nyonya besar?” “Kenapa kau mengungkit masa lalu?” Binar mendengus, dia kemudian mengikuti langkah kaki Joni dan Kelvin yang mengarahkannya ke kamar rawat VVIP yang terletak tidak jauh dari kamar rawat Ibunya. “Kakak-kakak sekalian memangnya tidak berurusan dengan Tante jahat itu? Siapa yang memimpin di sana? Aku tidak mau Tante jahat itu kabur.” “Tuan Q sudah mengurusnya. Saya dengar mereka sudah ditaha, Nona.” Joni menyahut. Dia sebelumnya sudah mengecek apakah ada sesuatu yang aneh di dalam ruang rawat itu sebelum memperbolehkan Binar berbaring. Tidak hanya itu, ada dokter yang sudah menunggu untuk memeriksa kondisi Binar setelah kedua pengawalnya itu melakukan panggilan. “Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Kelvin kepada dokter yang bernama Rizky itu ketika beliau sudah selesai memeriksa kondisi Binar. “Apakah Nona kami harus melakukan istirahat penuh?” “Akan lebih baik jika menyediakan banyak air untuk Nona Binar supaya tubuhnya tetap terjaga dan tidak dehidrasi.” Dokter Rizky menatap Binar. Mereka memang baru bertemu tetapi Rizky adalah kolega Via sehingga secara tidak langsung dia mengetahui apa yang terjadi dengan putri dari keluarga Rinanjala itu. “Apakah Nona pusing? Jika Nona merasa ingin muntah, segera beritahu saya.” “Aku baik-baik saja.” Binar tersenyum kecil. “Aku memang butuh air tetapi aku baik-baik saja.” “Dengan istirahat kondisi Nona akan kembali pulih seperti semula.” Dokter Rizky masih berbicara dengan Kelvin sementara Joni mengambilkan air untuk Binar. Dia tidak tega melihat Nona rumahnya terbaring sakit meskipun selama ini kondisi Binar memang memprihatinkan. Dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan sehingga membuat aktivitasnya terbatas tidak seperti anak-anak lainnya terkadang menyakiti hati siapapun yang melihatnya. Bagaimanapun juga, Binar Rinanjala Gisa adalah matahari bagi siapapun yang mengenalnya. “Lihat, aku hanya kurang minum. Selebihnya aku baik-baik saja,” ucapnya songong kepada Kelvin yang sudah kembali berjalan mendekat ke arahnya. “Kakak berdua ini terkadang bisa sangat berlebihan, tahu. Kalian sudah seperti Ayah saja.” Kelvin menghela napas. “Bagaimana tidak? Nona rumah kami sangat nakal dan sering melewatkan proses perawatan hanya untuk melihat bunga mawar di taman. Jelas saja kami sangat khawatir, apa Nona tidak merasa kasihan kepada saya dan Joni?” “Tidak.” Binar menggeleng kejam. “Kakak berdua memang sedikit lebay, tidak seperti Langit.” “Memangnya bagaimana Langit?” tanya Joni. Mereka bisa sangat santai dengan Binar karena sejak pertama kali bertemu, tugas mereka adalah bermain dengan Nona Rinanjala itu. Binar tidak memiliki teman karena sangat jarang keluar rumah, jadilah bibi-bibi pelayan dan juga pengawal-pengawal yang dipekerjakan oleh Rinanjala yang menjadi teman-temannya. “Langit … bagaimana, ya? Terkadang dia bisa menjadi sangat menyebalkan tetapi terkadang juga tidak, sih.” Binar terlihat berpikir. “Dia jarang panik, bahkan ekspresinya nyaris tidak berubah meskipun aku hampir pingsan. Dia juga selalu menyediakan air—kakak tahu aku selalu lupa membawa air ke mana-mana dan ya, Langit yang bertanggungjawab atas itu. Aku tahu pada beberapa kesempatan dia bisa menjadi sangat khawatir tetapi nada suaranya tidak membuat siapapun panik.” “Dia memang sangat tenang.” Kelvin berbicara, mengakui. “Sejak pertama kali dia bergabung, dia adalah pria yang sangat tenang. Saya rasa Langit memang sangat cocok dengan Nona yang nakal ini.” Binar mendengus. “Dia tidak melotot tetapi jika aku tidak mematuhinya, aku rasa dia bisa membunuhku hanya dengan tatapan matanya yang meredup.” “Oh, itu pernah terjadi!” Joni menyela. “Saat melawan preman-preman dengan senjata tajam itu!” “Ah, sekitar setengah tahun yang lalu, ya?” Kelvin tampak berpikir. “Maksudmu … saat Langit melawan lebih dari tiga puluh orang preman bersenjata seorang diri, bukan?” “Benar!” Joni mengangguk. “Dia adalah seorang monster. Aku tidak mau dekat-dekat dengannya selama satu bulan karena masih merinding melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia bisa melumpukan tiga puluh orang dengan sangat mudah.” Mendengarkan, Binar membuka matanya lebar-lebar ketika pembicaraan terdengar semakin menarik. Dia sama sekali tidak menyela, dia fokus karena ingin mengetahui cerita Langit lebih banyak lagi sehingga dia tidak perlu menunggu Langit bercerita karena laki-laki itu memang tidak akan pernah mau. “Bukankah pada awalnya dia tidak menahan dirinya sama sekali meskipun dia hanya melakukan latihan dengan salah satu anggota tim pengawal kita?” Kelvin mengangkat bahunya. “Dengan cepat dia menjadi pengawal yang sangat dihormati ditambah posisinya yang membuat dia selalu berada di dalam rumah utama dan mengawal Nona Binar ke mana-mana.” “Memangnya kenapa? Apakah menjadi pengawalku adalah sesuatu yang diuntungkan?” Joni dan Kelvin saling bertatapan sebelum kemudian mengangguk cepat. “Apa untungnya?” “Atas perintah Tuan Gibran, pengawal pribadi Nona diharuskan memiliki pengalaman bertarung tinggi, cerdas dan sangat peka dalam setiap situasi.” “Tapi Kakak berdua tidak cerdas, tuh,” ledek Binar. “Sebenarnya baik saya ataupun Joni … kami tidak pernah benar-benar menjadi pengawal pribadi Nona. Malah bisa dibilang kalau kami berdua ini masih diragukan karena jika tidak, Tuan Gibran hanya akan mengirim satu orang untuk menjadi pengawal Nona sebagaimana Tuan Q mengawal Tuan Gibran. Satu orang cukup. Malah biasanya Tuan Q masih mengawal Nona, bukan?” Jika dipikir-pikir, itu memang benar. “Jadi melihat bagaimana Langit menjadi pengawal pribadi Nona—seorang diri—menandakan kualitas dirinya yang sangat jauh dibandingkan dengan kami.” Kelvin mengakui tetapi nada suaranya tidak terdengar seperti orang yang kekurangan kepercayaan diri. “Ah, kakak berdua juga yang terbaik, kok!” Binar mengacungkan jempol. “Lagipula memangnya apa yang akan terjadi padaku?” Hening. Keheningan yang membuat Binar bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan pertanyaan terakhirnya. “Banyak hal terjadi, Nona.” Joni bersuara, pelan. “Tetapi kami akan selalu memastikan bahwa Nona akan baik-baik saja.” Oke, apa yang sudah Binar lewatkan sebenarnya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN