Suara langkah kaki yang sangat pelan mengganggu tidur Binar. Langkah kaki itu terdengar seperti mengendap-endap tetapi Binar enggan untuk membuka matanya karena dia tahu siapapun pemilik langkah kaki itu bukanlah orang jahat. Binar tahu bahwa para pengawalnya tidak akan membiarkan sembarangan orang masuk ke dalam ruang rawatnya dan jika mereka teledor sekalipun, Binar hanya bermodal yakin saja kalau dia akan baik-baik saja.
“Ayah tadi mengabaikan kamu, ya?” suara lembut itu menembus telinga Binar bersamaan dengan telapak tangan yang mengelus rambutnya pelan. “Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah tidak sadar kalau Binar sedang sakit dan malah membawa kamu berlarian sepanjang koridor rumah sakit.”
Binar ingin membuka matanya tetapi terlalu berat, beberapa kali dia muntah di tengah perbincangan antara dirinya dan kedua pengawalnya sehingga sedikit kekacauan tercipta sampai kemudian dia kelelahan dan tertidur.
“Ayah terlalu senang mendapat kabar dari Langit kalau Ibu Binar sudah kembali sampai tidak sengaja mengabaikan penyelamat hidup Ayah,” katanya. Menurut Gibran putrinya itu adalah penyelamat hidupnya karena dia tidak yakin bisa bertahan setelah istrinya meninggalkannya tanpa pamit jika tidak ada Binar di sisinya. “Selama ini Ayah hanya terus memohon agar Binar tidak meninggalkan Ayah. Lalu ketika dokter menyatakan bahwa suatu keajaiban melihat Binar bisa dibilang membaik membuat Ayah berada di atas langit, Ayah terlalu bahagia sampai terkadang Ayah lupa kalau putri Ayah sedang sakit. Ayah egois, ya?”
Binar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia sudah melewati kejadian seperti hari ini dalam lima kali kehidupannya. Seorang raja sekaligus Ayah di kehidupan pertamanya juga mengatakan hal yang sama, begitu juga Ayah di kehidupan keduanya dan bahkan bertahan sampai Ayah di kehidupan kelimanya. Kelima laki-laki itu selalu bertanya apakah mereka egois karena terus memintanya tinggal padahal mereka belum memberikan cinta dan kasih sayang yang cukup untuknya.
“Ayah bersyukur kamu tetap memilih tinggal bersama Ayah tanpa mengeluh,” akunya jujur. “Dokter selalu mengingatkan bahwa kemungkinan terburuk itu akan terus menghantui, bahwa Ayah harus merelakan Binar suatu saat nanti tetapi Ayah tidak mau itu terjadi. Tuhan memang menitipkan kamu kepada Ayah dan Ibu tetapi Ayah … Ayah tidak bisa melihat Binar menghilang.”
Baiklah, sebenarnya apa yang dikatakan dokter kepada Ayahnya sampai-sampai Gibran Rinanjala kembali membicarakan kemungkinan terburuk ketika Binar sudah tidak mendengar kata-kata ‘perpisahan’ tadi selama tiga tahun? Apa kondisinya benar-benar memburuk?
“Ayah belum siap melihat Binar pergi. Jadi meskipun ini sangat egois, Ayah mohon dengan sangat. Bertahan ya, Nak.” Isak tangis pelan itu mulai mengganggu Binar, dia benar-benar tidak suka mendengar orang menangis. “Ibu sudah kembali, Binar. Binar sekarang bisa berbicara dengan Ibu jadi … jangan pergi.”
Seberapa parah kondisinya yang sebenarnya? Apa kehadiran orang-orang dari masa lalunya benar-benar menguras seluruh tenaganya? Tetapi bukankah dia sangat sehat saat akan bertemu dengan Langit?
“Binar tidak akan pergi ke mana-mana, Ayah.” Akhirnya Binar bisa membuka mulutnya, dia juga akhirnya bisa membuka matanya yang sangat berat itu dan menatap Gibran Rinanjala dengan tatapan hangat. “Kenapa Ayah menangis lagi, hm? Binar sudah bilang kalau Binar tidak suka melihat Ayah menangis, bukan?”
Gibran Rinanjala menghapus air matanya dan memberikan senyumnya kepada putri tercintanya. “Binar sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaan kamu, sayang? Ada yang sakit?”
“Kepala aku sedikit pusing tetapi sekarang sudah jauh membaik,” jawab Binar. “Ayah sudah berbicara dengan Ibu? Ayah bilang ada banyak yang akan Ayah ceritakan kepada Ibu kalau kalian dipertemukan lagi. Jadi bagaimana?” goda Binar, dia tersenyum cerah.
“Kenapa kamu selalu tersenyum seperti itu?” Gibran menatap putrinya.
“Hm?” Binar kebingungan. “Tersenyum seperti apa?”
“Sangat cerah seakan tidak terjadi apapun.” Gibran mengelus lembut kepala Binar. “Kamu selalu menularkan kecerian kepada orang lain sekalipun kamu sedang sakit.”
“Bukannya Ayah yang bilang untuk selalu menebarkan kebahagiaan untuk orang lain?”
“Iya, Ayah memang pernah mengatakan itu tetapi terkadang senyum ceria Binar membuat Ayah sakit,” ungkapnya jujur. “Ayah tidak rela jika Tuhan merebut senyuman itu dari hadapan Ayah. Bahkan memikirkannya saja sudah membuat Ayah sesak.”
Binar terkekeh. “Ayah tambah lebay saja setelah bertemu dengan Ibu,” goda Binar lagi, tidak mau menanggapi perkataan Ayahnya. “Oh iya, Ayah? Kapan Ibu bisa pulang?”
“Ibu masih harus menjalani terapi, Nak.” Gibran mengikuti alur yang dibuat oleh putrinya. “Ibu juga masih harus menambah energinya karena meskipun Ibu terlihat baik-baik saja, kita tidak bisa mengabaikan kesehatan mentalnya.”
“Nanti kalau Ibu sudah pulang ke rumah, Binar bisa memonopoli Ibu sesuka hati Binar, ‘kan?”
“Tentu saja.” Gibran mengangguk. “Tentu saja, sayang.”
“Hehehe.”
Gibran menatap putrinya. “Benar kata Ibu kamu, sekarang Binar sudah besar, ya?” katanya tiba-tiba. “Rasanya baru kemarin kamu menangis setiap kali Ayah harus berangkat bekerja.”
“Kalau Binar terus menangis, nanti Ayah kesulitan berangkat kerjanya.”
Senyum muncul di wajah Gibran, menambah nilai visualnya meskipun usianya tidak lagi bisa dibilang muda. “Kamu ini bisa saja.”
“Ayah semakin tampan kalau tersenyum, tahu!”
“Tentu saja. Ayah berhasil memikat Ibu kamu dengan senyuman ini, lho.” Gibran terkekeh pelan. “Binar belum makan, ‘kan? Mau makan apa, sayang? Nasi biasa atau—“
“Ayah?”
“Ya?” Gibran menatap mata putrinya, sama sekali tidak marah sekalipun Binar memotong perkataannya. “Kenapa, sayang?”
“Kenapa Ayah bisa sangat mencintai Ibu padahal kalian sudah tidak bertemu selama belasan tahun dan kesan terakhir yang diberikan Ibu adalah ‘pergi tanpa pamit meninggalkan suami dan anaknya’. Tetapi kenapa Ayah masih mencintai Ibu sebesar itu?”
“Kesan terakhir tidak penting selama kita mempercayai orang yang kita cinta, sayang.” Gibran Rinanjala mengetik sesuatu di ponselnya dengan cepat sebelum kembali fokus kepada putrinya. “Ayah selalu percaya bahwa Ibu kamu tidak meninggalkan kita berdua dengan sengaja.”
“Begitu?” Binar mengerjapkan matanya. “Ayah tahu? Aku pernah membaca satu cerita di mana perempuan ini tetap mencintai laki-laki yang sudah membunuhnya. Menurut Ayah perempuan itu bodoh atau bagaimana?”
“Siapa yang waras jika itu sudah berkaitan dengan cinta?” Gibran terkekeh. “Ayah tidak tahu kenapa putri Ayah tiba-tiba membicarakan tentang cinta tetapi Ayah akan menjawabnya dengan opini Ayah sendiri.”
Binar mengangguk.
“Mungkin apa yang dirasakan oleh perempuan itu sama dengan apa yang Ayah rasakan. Sekalipun orang yang dia cinta membunuhnya, dia masih memiliki keyakinan bahwa ada satu hal yang mendorong orang yang dicintainya melakukan hal itu. Dia yakin bahwa orang yang dicintainya tidak melakukan itu karena benci atau kehilangan rasa cinta, dia meyakini ada faktor luar yang membuat orang yang dia cinta ‘terpaksa’ melukainya. Mungkin seperti itu, sayang.”
“Sedikit bodoh tapi.”
Gibran kembali tertawa mendengar komentar putrinya. “Tentu saja, siapapun akan mengatakan hal yang sama tetapi bagi orang yang pernah mencintai sedalam itu … dia tahu apa yang dilakukannya adalah sebuah tindakan bodoh tetapi dia akan terus melakukannya untuk mempertahankan orang itu di sisinya.” Jeda, Gibran tersenyum. “Bodoh adalah nama tengah bagi siapapun yang sedang jatuh cinta, Nak.”
***