Fajar datang perlahan, seperti enggan menyentuh lembah Lauterbrunnen yang terperangkap dalam dingin yang kejam. Kabut masih menggantung rendah, menelan sebagian besar desa kecil itu dalam bayangan abu-abu. Tak ada suara burung. Tak ada tanda kehidupan. Hanya keheningan yang terasa … tidak wajar. Di dalam loteng toko roti keluarga Schmidt, Alma terbangun dengan napas tersengal. Dadanya naik turun cepat. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski suhu begitu rendah. Ia menatap kosong ke depan, mencoba mengusir bayangan mimpi buruk yang terasa terlalu nyata. “Marcel …” bisiknya lirih dengan jarinya mulai menyentuh bagian sensitif miliknya. Bayangan sang pejantan arogan liar dan nakal segera hadir di benak Alma. "Aku merindukanmu, Marcel. Hukum aku seperti engkau lakukan dulu. Aku milikm

