Udara di puncak pegunungan Alpen, tepatnya di pinggiran Lauterbrunnen, terasa seperti pisau es yang menyayat kulit. Kabut tipis menyelimuti lembah, memberikan nuansa mistis sekaligus mencekam. Di sebuah tebing tinggi yang menghadap langsung ke toko roti kecil milik keluarga Schmidt, Marcel Lion berdiri diam seperti patung dewa kematian. Ia mengenakan mantel bulu hitam panjang, yang kontras dengan salju putih di sekelilingnya. Di sampingnya, seorang penembak jitu dari tim tentara bayaran elit sedang menyesuaikan kekerapan lensa pada senapan laras panjang Accuracy International AXMC. "Target terlihat, Tuan," bisik si sniper. "Jarak 800 meter. Dia sedang menjemur kain di belakang pondok. Haruskah saya melepaskan tembakan di bagian kaki untuk melumpuhkannya?" Marcel mendekat, menggeser

