Tekanan dan Kepasrahan.
"Kau ingin memenjarakan ku secara legal agar Erik atau siapa pun tidak bisa membantuku lagi?" tanya Alma dengan air mata yang mulai menggenang.
"Tepat sekali. Jika kau mencoba lari lagi, aku tidak perlu mengejar mu dengan senapan. Aku cukup menelepon polisi dan melaporkanmu atas pencurian aset perusahaan dan pelanggaran kontrak miliaran rupiah. Kau akan membusuk di penjara, sementara ayahmu kehilangan sokongan medisnya dalam satu jam," Marcel menyodorkan pena itu lebih dekat ke tangan Alma.
Alma menatap pena itu seolah-olah itu adalah belati yang akan merobek jantungnya. Ia membayangkan wajah ayahnya yang bernapas dengan bantuan mesin. Ia membayangkan Erik yang terluka karena mencoba menolongnya.
"Tanda tangan, Alma. Jangan biarkan kesabaranku habis dan aku melakukan hal yang lebih kasar dari semalam," bisik Marcel, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Dengan tangis yang pecah tanpa suara, Alma menorehkan tanda tangannya di atas kertas putih itu. Alma Wijaya. Hitam di atas putih. Ia secara resmi telah menyerahkan jiwanya pada sang iblis.
***
Begitu pena itu diletakkan, Marcel langsung menarik kursi Alma dan memaksanya berdiri. Ia menyambar map itu dan melemparnya ke lantai, seolah-olah kertas itu sudah tidak penting lagi sekarang karena tujuannya telah tercapai.
"Sekarang, mari kita rayakan status barumu sebagai ... properti ku," geram Marcel.
Ia tidak membawa Alma ke kamar. Ia mengangkat tubuh Alma dan mendudukkannya di atas meja makan marmer yang dingin. Gaun tidur tipis yang dikenakan Alma disingkap ke atas hingga sebatas d**a.
"Marcel, jangan ... pengacaramu mungkin akan datang untuk mengambil berkas itu," rintih Alma.
"Dia tidak akan berani masuk tanpa izin dariku," Marcel membuka ritsleting celananya dengan gerakan kasar yang penuh kemenangan. Kejantanan miliknya yang sudah menegang maksimal tampak menuntut haknya.
Marcel memisahkan paha Alma lebar-lebar, hingga wanita itu terekspos sepenuhnya di bawah lampu gantung kristal yang mewah. Ia mulai menciumi paha dalam Alma dengan gigitan-gigitan kecil yang posesif.
"Kau milikku sekarang, Alma. Legal, fisik dan mental. Semuanya," bisik Marcel sebelum menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih terasa sensitif akibat kejadian semalam.
"Ahhhh! Marcel! Ahhh!" Alma memekik, kepalanya terdongak ke belakang, menatap langit-langit apartemen yang seolah berputar.
Penetrasi itu terasa sangat dalam, seolah Marcel ingin menembus hingga ke pusat eksistensi Alma untuk menanamkan segel kepemilikannya. Marmer yang dingin di bawah b****g Alma kontras dengan panas tubuh Marcel yang membakar. Marcel bergerak dengan tempo yang sangat dominan dan cepat, setiap hantamannya membuat gelas-gelas di atas meja berdenting nyaring.
"Katakan padaku, apa statusmu sekarang?!" tanya Marcel sambil meremas p******a Alma dengan tenaga yang kuat.
"Aku ... ahhh ... aku properti Lion Group... ahh, aku milikmu, Marcel!" jerit Alma dalam desahannya.
Marcel tidak puas. Ia membalikkan tubuh Alma di atas meja marmer itu, membuatnya menungging sementara tangannya mencengkeram pinggiran meja. Ia memasuki Alma kembali dari belakang dengan sudut yang sangat tajam, menyentuh titik paling sensitif Alma berulang kali.
"Ahhh! Ahhh! Marcel ... hancur ... aku akan hancur! Ahhh!"
Hentakan Marcel semakin menggila, napasnya memburu seperti singa yang baru saja mengklaim mangsa baru. Ia tidak memberi ampun, ia ingin Alma merasakan setiap inci dari "pemiliknya". Saat Alma mencapai puncak orgasmenya yang menghancurkan, Marcel menyusul dengan erangan keras, menyemburkan benihnya yang melimpah ke dalam diri Alma, menyegel kontrak mereka dengan cairan kehidupannya.
***
Sisa Gairah yang Pahit.
Beberapa menit setelah badai itu reda, Marcel tetap memeluk Alma dari belakang, membiarkan tubuh mereka yang bersimbah keringat tetap menyatu di atas meja makan itu. Ia mencium pundak Alma dengan lembut, namun kata-katanya tetaplah sebuah belenggu.
"Mulai hari ini, sopir pribadi akan menjemputmu dan mengantarmu ke kantor pusat Lion Group. Kau akan menempati ruangan di sebelah kantorku. Jangan pernah berpikir untuk pergi tanpa pengawal, Alma. Kau adalah aset yang sangat mahal."
Marcel bangkit, merapikan pakaiannya, dan mengambil map kontrak tadi dari lantai. Ia menatap Alma yang masih terbaring lemah di atas meja marmer dengan tatapan puas.
"Selamat bergabung di keluarga Lion, Sayang. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan di sangkar emas ini sebelum kau benar-benar kehilangan keinginan untuk terbang."
Marcel keluar menuju ruang kerjanya, meninggalkan Alma yang meringkuk di atas meja makan yang dingin. Alma menatap tanda tangan di kertas tadi yang kini dibawa Marcel. Ia menyadari satu hal yang pahit: secara hukum, ia bukan lagi seorang manusia dengan hak asasi. Ia adalah barang, sebuah aset, dan "Pejantan 21" itu baru saja mengunci rantainya selamanya.
***
Ruang kerja baru Alma di kantor pusat Lion Group terasa seperti akuarium kaca yang megah namun dingin. Ruangan ini terletak tepat di samping kantor CEO milik Marcel, dipisahkan oleh dinding kaca satu arah yang memungkinkan Marcel mengawasi setiap gerak-gerik Alma.
Pagi itu, pintu ruangan Alma terbuka tanpa ketukan. Metia masuk bersama Rasty yang berjalan dengan dagu terangkat. Di belakang mereka, Marcel mengikuti dengan langkah tenang, tangannya tenggelam di saku celana bahan mahalnya.
"Alma, hari ini kau mulai mengerjakan tugas pertamamu sebagai aset perusahaan," ucap Metia sambil melemparkan majalah mode ke meja Alma.
"Aku dan Rasty butuh gaun untuk pesta ulang tahun Lion Group bulan depan. Aku ingin bahan terbaik, dan kau harus mengerjakannya sendiri."
Rasty melirik Alma dengan tatapan jijik. "Kuharap selera pasarmu tidak terbawa ke sini, Alma. Aku tidak mau memakai baju yang terlihat seperti barang diskon dari pasar tekstil tempatmu berasal."
Alma menelan harga dirinya.
"Saya akan memberikan yang terbaik, Nona Rasty."
"Jangan hanya bicara. Sekarang, ambil pita ukurmu. Aku ingin kau melakukan fitting sekarang juga," perintah Rasty ketus.
***
Penghinaan di Depan Sang Singa
Alma mengambil pita ukur dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia berlutut di depan Rasty untuk mengukur lingkar pinggang dan pinggul wanita itu. Marcel duduk di sofa kulit di sudut ruangan, menyilangkan kaki dan memperhatikan adegan itu dalam diam. Matanya yang tajam tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
"Hati-hati dengan tanganmu, Alma. Kulitku sangat sensitif, aku tidak mau tertular kuman dari tangan orang yang terbiasa memegang kain murahan," ejek Rasty saat tangan Alma menyentuh pinggangnya.
"Maaf, Nona," bisik Alma parau.
"Marcel, Honey, lihatlah asisten mu ini," Rasty menoleh ke arah Marcel dengan tawa manja.
"Dia tampak begitu ahli saat berlutut. Sepertinya dia memang dilahirkan untuk berada di bawah kaki orang seperti kita, bukan?"
Marcel hanya menyesap kopinya, matanya tetap terkunci pada Alma yang kini sedang mengukur panjang kaki Rasty.
"Dia memang sangat penurut, Rasty. Itu sebabnya aku membelinya."
Kalimat Marcel seperti sembilu yang menyayat jantung Alma. Ia menengadah, menatap mata Marcel mencari sedikit saja pembelaan, namun pria itu justru menatapnya dengan pandangan kosong yang menantang. Marcel sengaja membiarkannya dihina, ingin melihat seberapa jauh Alma akan menyerah pada nasibnya.
"Dengar itu? 'Membelinya'," Rasty tertawa lebih keras.
"Kau hanyalah properti, Alma. Sama seperti mesin jahit itu. Bedanya, kau punya lubang yang bisa dipakai Marcel saat dia bosan."
Metia tersenyum puas melihat Alma yang nyaris menangis.
"Selesaikan ukurannya. Dan pastikan gaun itu sempurna, atau kau akan tahu konsekuensinya pada tagihan rumah sakit ayahmu."