Dalam suasana yang tegang, Alma berusaha meminta bantuan Erik.
"Tidak ada waktu, Erik. Aku harus mengeluarkan Ayah dari rumah sakit pusat malam ini juga. Marcel memantau semuanya, tapi aku punya celah jam dua pagi saat pergantian penjagaan. Bisa kau siapkan ambulans swasta?"
"Tentu, Alma. Apapun untukmu. Aku akan menunggumu di gerbang belakang rumah sakit. Setelah itu, kita langsung menuju pelabuhan. Aku sudah menyiapkan kapal kecil untuk ke pulau seberang."
"Terimakasih, Erik. Aku berutang nyawa padamu."
Alma mematikan ponsel itu dengan napas lega yang singkat. Ia tidak menyadari bahwa di apartemen lantai 45, sebuah layar monitor sedang menampilkan gelombang frekuensi suaranya secara real-time. Marcel Lion duduk di sana, menyesap whisky mahalnya dengan rahang yang mengeras hingga urat lehernya menonjol.
Alma melangkah masuk ke apartemen dengan hati-hati, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, saat lampu ruang tengah menyala secara otomatis, ia melihat Marcel berdiri di balkon, membelakanginya.
"Kau pulang terlambat lagi, Sayang," suara Marcel terdengar sangat rendah, tenang, namun mematikan.
"Banyak pesanan yang harus ku selesaikan, Marcel," jawab Alma, mencoba menyembunyikan getar di kakinya.
Marcel berbalik, melemparkan ponsel cadangan milik Alma yang seharusnya tersembunyi di butik ke atas meja kristal. Prak! Ponsel itu hancur berkeping-keping.
"Erik? Kapal kecil? Pelarian?" Marcel melangkah mendekat, auranya begitu mengancam hingga Alma mundur hingga terbentur pintu.
"Kau pikir aku sebodoh itu, Alma? Kau pikir aku membiarkanmu bernapas tanpa pengawasanku?"
"Marcel, tolong ... ibumu akan membunuh ayahku! Aku hanya ingin menyelamatkannya!" teriak Alma histeris.
"Dan kau pikir b******n seperti Erik bisa melindungi mu? Apakah dia lebih baik dariku?!" Marcel mencengkeram rahang Alma, matanya berkilat penuh amarah yang gelap.
"Kau butuh pelajaran tentang siapa pemilik mu yang sebenarnya."
***
Marcel menyeret Alma ke kamar utama. Ia tidak menggunakan kekerasan yang melukai, namun kekuatannya tak terbendung. Ia melempar Alma ke atas ranjang king size yang luas.
"Kau ingin pergi, kan? Kau ingin bebas?" Marcel mengambil sabuk sutra dari jubah mandinya dan dua dasi sutra hitam dari lemari.
"Marcel, apa yang kau lakukan? Jangan!"
Tanpa memedulikan rintihan Alma, Marcel menarik kedua tangan Alma ke atas kepala dan mengikat pergelangan tangannya pada pilar ranjang ukiran kayu itu dengan dasi sutra. Ikatannya kuat namun lembut agar tidak melukai kulit, namun cukup untuk membuat Alma sama sekali tidak bisa bergerak.
"Lepaskan aku, Marcel! Ini gila!"
"Ini bukan gila, Alma. Ini adalah konsekuensi," Marcel merobek pakaian Alma satu per satu hingga wanita itu telanjang bulat, terentang di atas sprei satin hitam. Marcel berdiri di ujung ranjang, membuka pakaiannya sendiri dengan perlahan, membiarkan Alma melihat kejantanannya yang sudah menegang maksimal, yang mengerikan namun selalu berhasil menjajah tubuh Alma.
"Kau akan tetap di sini, di bawahku, sampai kau lupa bagaimana cara menyebut nama Erik," desis Marcel.
Ia merangkak naik ke atas tubuh Alma, menciumi setiap inci kulit Alma dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah. Tangannya meraba keintiman Alma yang sudah basah karena rasa takut yang bercampur dengan gairah bawah sadar.
"Lihat dirimu, Alma. Kau gemetar, tapi kau basah untukku," bisik Marcel di telinga Alma.
Tanpa peringatan, ia menghujamkan miliknya ke dalam diri Alma dengan satu sentakan brutal yang membuat Alma menjerit dan tubuhnya melengkung, namun tangannya tertahan oleh ikatan dasi itu.
"Ahhhh! Marcel ... kau b******n ... ahh. Sialan kau Marcel. Ssshhh aaah!"
"Ini adalah penjara yang kau pilih, Alma! Rasakan setiap incinya!" Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang sangat liar. Karena tangan Alma terikat, ia tidak bisa memeluk atau mencakar Marcel, ia hanya bisa menerima setiap hantaman keras yang mengguncang seluruh tubuhnya.
Marcel terus menghujam titik terdalam Alma berkali-kali tanpa ampun. Ia mengangkat kaki Alma dan melilitkannya ke pinggangnya, membuat penetrasi itu semakin dalam hingga menyentuh rahim Alma.
"Katakan! Siapa pemilik pintu keluar ini?!" geram Marcel sambil mempercepat temponya.
"Kau ... ahhh ... kau, Marcel! Hanya kau! Ahhh, kumohon ... jangan berhenti!" Alma meracau, kepalanya bergerak liar ke kiri dan kanan, rambutnya berantakan di atas bantal. Rasa menyerah total pada d******i Marcel justru membawanya ke puncak o*****e yang paling dahsyat yang pernah ia rasakan.
Marcel menggeram seperti singa yang baru saja menaklukkan mangsanya. Ia menyemburkan seluruh benihnya ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang memenuhi kamar luas itu.
Setelah badai mereda, Marcel tidak langsung melepaskan ikatan Alma. Ia membiarkan Alma terengah-engah dengan tangan masih terbelenggu. Marcel mengambil ponselnya dan menelepon seseorang di depan Alma.
"Hancurkan ambulans itu. Dan pastikan Erik tidak bisa berjalan selama sebulan. Tapi jangan bunuh dia ... aku ingin dia melihat bagaimana Alma tetap menjadi milikku."
"Marcel, tidak! Jangan sakiti Erik!" tangis Alma pecah.
Marcel mematikan ponselnya, lalu mengusap air mata Alma dengan jempolnya. Ia mencium kening Alma dengan lembut, sebuah kontras yang mengerikan dari keganasan tadi.
"Tidurlah, Sayang. Besok pagi, kau akan bangun dengan kenyataan bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang bisa menyembunyikan mu dariku. Ikatan ini akan kulepaskan saat kau sudah berhenti bermimpi tentang pelarian."
Marcel berbaring di samping Alma, memeluk tubuh wanita yang masih terikat itu dengan erat, mengunci masa depannya dalam pelukan yang protektif sekaligus destruktif. Di lantai 45 itu, Alma menyadari bahwa ia benar-benar telah kehilangan segalanya, kecuali napas Marcel yang kini mendominasi setiap detak jantungnya.
***
Pagi di apartemen lantai 45 terasa begitu dingin, meski matahari Jakarta bersinar terik di luar sana. Alma duduk di meja makan marmer yang luas, tangannya masih terasa kaku setelah belenggu dasi sutra semalam dilepaskan. Di hadapannya, sebuah map kulit berwarna hitam tergeletak dengan angkuh, bersandingan dengan sebuah pena Montblanc berlapis emas.
Marcel Lion berdiri di dekat jendela, membelakangi Alma sembari menyesap kopi hitamnya. Ia sudah mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan otot lengan yang kokoh.
"Baca setiap poinnya, Alma. Aku tidak ingin kau merasa aku mencurangi kecerdasanmu," ucap Marcel tanpa menoleh.
Alma membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya menyusuri barisan kalimat hukum yang kaku.
PASAL 4 - EKSKLUSIVITAS DAN KONTROL WAKTU.
Pihak Kedua (Alma Wijaya) dilarang menerima pesanan dari pihak luar mana pun tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Kesatu (Marcel Lion). Seluruh waktu kerja, domisili, dan jadwal harian Pihak Kedua berada di bawah otoritas penuh Lion Group.
"Ini bukan kontrak kerja, Marcel," suara Alma serak, hampir hilang.
"Ini adalah akta jual beli manusia. Kau memaksaku menutup butikku secara permanen?"
Marcel berbalik, berjalan perlahan ke arah Alma, lalu membungkuk dan menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja, mengurung Alma dalam aromanya yang maskulin.
"Aku tidak memaksamu menutupnya. Aku hanya memindahkan kepemilikannya. Kau akan menjadi Desainer Eksklusif Lion Group. Kau hanya akan mendesain untuk ibuku, tunanganku, dan
... untuk kepuasan mataku sendiri."
"Bagaimana dengan Ayah?"
"Tagihan rumah sakitnya akan otomatis dibayar oleh sistem penggajian eksekutif ku. Tapi ingat, Alma," Marcel mengusap bibir Alma dengan jempolnya,"sekali kau tanda tangan, kau bukan lagi warga sipil bebas. Secara hukum, kau adalah aset perusahaan. Kau adalah 'properti' Lion.