2. DESAHAN DI ASTORIA

1240 Kata
BAB 2. DESAHAN DI ASTORIA ​Aroma kopi yang baru diseduh dan sisa parfum mahal bercampur dengan sisa gairah yang masih menggantung di udara. Pagi belum benar-benar datang, namun bagi Marcel dan Alma, waktu seolah berhenti berputar sejak semalam. ​Suara gemericik air dari shower di kamar mandi marmer yang luas itu menyamarkan suara lain, namun tidak mampu meredam suara Alma. Di bawah pancuran air hangat, tubuh keduanya kembali menyatu. Marcel menghimpit Alma ke dinding marmer yang dingin, kontras dengan suhu tubuh mereka yang memanas. ​"Marcel ... ahh, pelan sedikit ...," rintih Alma, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Marcel yang basah. ​Marcel tidak mendengarkan. Pria itu selalu dominan, seolah ingin menandai setiap inci kulit Alma sebagai miliknya. Bibirnya menjelajahi leher Alma, sementara tangannya menahan pinggang wanita itu dengan kuat. Suara Alma yang serak dan penuh g4irah memenuhi ruangan kedap suara itu, memantul di dinding kaca yang berembun. ​"Katakan namaku," bisik Marcel rendah, suaranya bergetar di telinga Alma. ​"Marcel ... Lion ...," Alma mendesah pasrah. Ia benci betapa mudahnya pria ini mengendalikan saraf-saraf tubuhnya. Meskipun ia tahu bagi Marcel ini mungkin hanya pelepasan, tetapi bagi Alma, setiap sentuhan ini adalah cara ia berkomunikasi dengan jiwa Marcel yang beku. ​Lelah dari kamar mandi, mereka tidak langsung kembali ke tempat tidur. Dengan hanya balutan jubah mandi sutra yang longgar, Alma melangkah ke area kitchen di sudut suite untuk mengambil air minum. Namun, Marcel mengikutinya dari belakang seperti belum puas dengan adegan yang mereka lakukan barusan. ​Saat Alma baru saja menuangkan air ke gelas, sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya. Marcel membalikkan tubuh Alma dengan cepat, mendudukkannya di atas meja counter granit yang dingin. ​"Marcel, aku haus …," rengek Alma sambil tersenyum manja. ​Kalimat Alma terpotong oleh ciuman liar Marcel. Gelas di tangan Alma terlepas, tumpah membasahi meja, namun tak ada yang peduli. Alma mulai membalas dengan gerakan menggoda. Kakinya melingkar erat di pinggang Marcel, menarik pria itu semakin dalam ke dalam dekapannya. ​"Kau selalu membuatku ingin lebih, Alma," gumam Marcel di sela ciumannya. ​"Kalau begitu, ambil semuanya," tantang Alma dengan tatapan sayu namun nakal. Wanita bermata indah itu tahu kelemahan Marcel adalah tantangan. ​Di atas meja dapur itu, di tengah kemewahan interior hotel bintang lima, suara Alma kembali pecah. Desahannya mengisi setiap sudut ruangan, menjadi melodi yang mengiringi gerakan liar mereka. Alma sengaja mengeraskan suaranya, ingin memastikan bahwa di dalam ruangan ini, hanya ada dia dan Marcel. Tidak ada bayang-bayang Lion Group, tidak ada kamera media, hanya mereka berdua. ​Setelah permainan kedua mereka selesai, Marcel membiarkan Alma bersandar di dadanya yang masih naik turun tidak teratur. Ia mengusap rambut Alma yang basah dengan lembut, sebuah gerakan langka yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. ​"Empat tahun, Alma. Kenapa kau masih di sini?" tanya Marcel tiba-tiba, suaranya kembali kaku. ​Alma terdiam. Ia menatap butiran air di meja dapur, menyembunyikan rasa sakit di matanya. ‘Karena aku mencintaimu, bodoh,’ batinnya. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah tawa kecil yang menggoda. ​"Karena tidak ada pria lain yang bisa menandingi Mr. Lion, bukan? Kau tahu itu," jawab Alma sambil mencolek hidung Marcel. ​Marcel menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang bisa membuat jutaan wanita pingsan. Namun bagi Alma, seringai itu adalah benteng yang mengingatkannya bahwa hubungan ini tetaplah sebuah rahasia tanpa status. ​"Kau satu-satunya wanita yang bisa bertahan dengan sifatku," ucap Marcel singkat. Ia berdiri, memakai kembali jubah mandinya, dan kembali menjadi sosok pria yang dingin. "Bersiaplah. Aku akan menyuruh supir mengantarmu pulang sebelum jam sembilan. Aku ada rapat penting." ​Alma hanya mengangguk pelan, senyumnya tetap bertahan meski hatinya sedikit mencelos. Ia adalah wanita pertama bagi Marcel secara emosional, dan Marcel adalah pria pertama yang menyentuhnya secara fisik. Ikatan itu begitu kuat, membuatnya terjebak dalam lingkaran setan yang ia sebut sebagai hubungan tanpa status paling mewah di dunia". ​Marcel berdiri di sudut ruangan, matanya yang tajam menatap Alma yang baru saja keluar dari ruang ganti. Wanita itu mengenakan gaun malam sutra hitam dengan potongan backless, mahakarya desainer ternama yang sengaja Marcel pesankan khusus untuknya. Gaun itu membalut lekuk tubuh Alma dengan sempurna, menonjolkan kulit sawo matangnya yang eksotis sebagai gadis Indonesia. ​Tanpa berkata-kata, Marcel melangkah maju. Aura dominannya menyergap. Ia menarik pinggang Alma dengan satu sentuhan kasar namun posesif, membawa tubuh mungil itu menempel pada dadanya yang bidang. ​"Kau terlalu cantik untuk dilepaskan malam ini," bisik Marcel serak sambil menatap lembut ke mata Alma. ​Alma mendongak, jemarinya merapikan kerah kemeja Marcel yang masih sedikit berantakan. Ia adalah seorang desainer berbakat di perusahaan milik keluarganya, wanita berpendidikan yang sebenarnya memiliki segalanya, kecuali hati pria di depannya ini secara utuh. Enam tahun mengenal, dan empat tahun terjebak dalam status yang tak berujung. _ ​Ingatan Alma melayang ke empat tahun lalu. Saat itu salju turun tipis di Paris dan sebuah kabar buruk dari Indonesia menghancurkan dunianya. Ayahnya sakit keras dan membutuhkan biaya operasi yang sangat besar dalam hitungan hari. Sebagai mahasiswa, Alma buntu. ​Marcel, teman kuliahnya yang kaya raya dan dingin, datang membawa kontrak "gelap". ​"Aku akan membiayai semuanya. Operasi, perawatan terbaik, hingga ayahmu sembuh total," ucap Marcel di sebuah kafe remang-remang. "Sebagai imbalannya, kau menjadi milikku. Tidak ada pria lain, hanya aku!" ​Alma yang putus asa menerima tawaran itu. Mereka pergi ke sebuah vila tersembunyi di pinggiran Paris. Malam itu, di tengah keheningan hutan pinus yang tertutup salju, segalanya berubah. ​Marcel tidak lembut. Ia adalah pria blasteran dengan fisik yang luar biasa besar dan kuat. Ketika mereka berada di atas ranjang kayu vila tersebut, Alma baru menyadari betapa berbahayanya Marcel. Pria itu memiliki kebanggaan fisik yang nyata, pusaka kejantanannya yang kokoh sepanjang 21 cm, sesuatu yang tampak mustahil namun nyata di depan mata Alma. ​Malam itu, di bawah temaram lampu lilin, kejantanan Marcel yang besar dan keras merobek mahkota kesucian Alma tanpa ampun. Alma merintih, air mata menetes bukan hanya karena rasa sakit fisik yang luar biasa, tapi karena ia tahu jiwanya baru saja terjual. Namun, Marcel tidak membiarkannya tenggelam dalam tangis. Dengan kekuatan dan stamina yang seolah tak terbatas, ia membawa Alma dalam pusaran gairah yang liar. ​Selama satu bulan pertama di Paris, Marcel seolah tidak memberikan waktu bagi Alma untuk bernapas. Setiap sudut vila, ranjang, sofa, hingga balkon yang dingin, menjadi saksi bisu bagaimana Marcel melatih tubuh Alma. Rasa sakit di awal perlahan berubah menjadi ketergantungan. Alma dipaksa terbiasa dengan ukuran dan kekuatan Marcel yang luar biasa. Ia dikondisikan untuk hanya mendesah di bawah kuasa pria itu, hingga akhirnya tubuhnya sendiri yang mencari keberadaan singa tersebut setiap kali mereka berjauhan. – Di hotel tersebut, sentuhan Marcel di pinggulnya menyentak Alma kembali ke masa kini. Kenangan bulan pertama di Paris itu selalu membuatnya merinding. ​"Apa yang kau pikirkan?" tanya Marcel, menyadari tatapan kosong Alma. ​"Hanya ... betapa aku sudah terbiasa denganmu," jawab Alma jujur, suaranya sedikit bergetar. ​Marcel menyeringai puas. Ia tahu persis bagaimana ia telah "membentuk" Alma menjadi satu-satunya wanita yang bisa menerima segala kegilaan dan kebutuhan fisiknya yang besar. Ia meraih dagu Alma, memaksa wanita itu menatap matanya. ​"Kau milikku, Alma dulu, sekarang, dan selamanya. Jangan pernah lupakan itu," tegas Marcel sebelum kembali membungkam bibir Alma dengan ciuman yang menuntut. ​Alma hanya bisa pasrah, melingkarkan lengannya di leher pria yang telah menghancurkan sekaligus menyelamatkan hidupnya itu. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia sudah kalah dan bukan hanya terikat karena uang yang dulu ia pinjam, tapi karena hatinya sudah terkunci pada sosok pria blesteran yang kaku ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN